Saturday, May 30, 2026

1061dur. Bahaya Buruk Sangka dan Ghibah: Penyakit Lisan yang Menghancurkan Amal

 63. KECAMAN TERHADAP SIFAT BURUK SANGKA DAN MENGGUNJING.

Dari sahabat Abu Hurairah ra., dari Nabi saw. bahwa Beliau bersabda :

Artinya : “Barangsiapa menggunjing satu kali sepanjang hidupnya, maka Allah akan menghukumnya dengan sepuluh hukuman : (1) Dia akan menjadi orang yang jauh dan rahmat Allah. (2) Para malaikat memutuskan persahabatan dengannya. (3) Pencabutan rohnya menjelang ajalnya akan diperberat. (4) Dia akan menjadi orang yang dekat kepada neraka. (5) Dia akan menjadi orang yang jauh dari surga. (6)  Siksaan kubur akan diperberat atasnya. (7) Amalnya akan dianggap batal. (8) Ruh Nabi saw. merasa terganggu karenanya. (9) Allah murka kepadanya. (10) Ketika amalnya ditimbang pada hari kiamat,akan menjadi orang yang bangkrut (yang tidak mempunyai amal apa-apa). (Zubdatul Wa’izhin)

.......

 

BULETIN TAUZIAH TASAWUF – TAZKIYATUN NUFŪS

Bahaya Buruk Sangka dan Ghibah: Penyakit Lisan yang Menghancurkan Amal

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"Barangsiapa menggunjing satu kali sepanjang hidupnya, maka Allah akan menghukumnya dengan sepuluh hukuman..." (dinukil dalam Zubdatul Wā‘izhīn).


1. Makna (Tafsir) Isi Redaksi

Hadits atau atsar yang dinukil dalam kitab Zubdatul Wā‘izhīn tersebut menjelaskan betapa besarnya dosa ghibah (menggunjing) dan buruk sangka. Walaupun para ulama hadis menilai riwayat seperti ini perlu diteliti sanadnya, namun kandungannya sejalan dengan banyak ayat dan hadis shahih yang mengharamkan ghibah.

Dalam perspektif tasawuf, ghibah bukan sekadar dosa lisan, tetapi cerminan hati yang belum bersih dari:

  • Hasad (iri hati).
  • Ujub (bangga diri).
  • Takabbur (merasa lebih baik).
  • Su'uzhan (buruk sangka).
  • Dengki dan kebencian.

Ghibah adalah buah dari hati yang sakit. Karena itu para sufi lebih sibuk memperbaiki diri daripada membicarakan aib orang lain.


2. Hukum (Ahkam)

Hukum Ghibah

Haram berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati?" (QS. Al-Hujurat: 12)

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tahukah kalian apa itu ghibah?" Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: "Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak suka." (HR. Muslim)

Hukum Buruk Sangka

Asal hukumnya haram apabila tanpa dasar yang dibenarkan syariat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta." (HR. Bukhari dan Muslim)


3. Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)

  1. Menjaga lisan lebih sulit daripada menjaga harta.
  2. Banyak amal ibadah hancur karena dosa lisan.
  3. Orang yang sibuk membicarakan aib orang lain biasanya lupa memperbaiki dirinya sendiri.
  4. Ghibah merusak ukhuwah dan keberkahan hidup.
  5. Keselamatan seorang mukmin banyak bergantung pada lisannya.

Seorang ulama salaf berkata:

"Jika engkau melihat seseorang sibuk mencari kesalahan orang lain, ketahuilah bahwa ia telah lalai dari kesalahan dirinya sendiri."


4. Dalil Al-Qur'an, Hadis, dan Hadis Qudsi

Al-Qur'an

QS. Al-Hujurat: 12

"Janganlah kalian menggunjing satu sama lain."

QS. Qaf: 18

"Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat yang mengawasi dan mencatat."

Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis Qudsi

Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian." (HR. Muslim)

Ghibah termasuk bentuk kezaliman terhadap kehormatan sesama muslim.


5. Analisis dan Argumentasi Tasawuf

Menurut para ahli tasawuf, ghibah muncul karena seseorang ingin meninggikan dirinya dengan cara merendahkan orang lain.

Padahal orang yang benar-benar mengenal dirinya akan sadar:

  • Dosanya sendiri belum tentu diampuni.
  • Akhir hidupnya belum tentu husnul khatimah.
  • Orang yang ia hina bisa jadi lebih mulia di sisi Allah.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ghibah adalah memindahkan pahala diri kepada orang yang digunjing. Jika pahala habis, dosa orang yang digunjing dipindahkan kepadanya.

Karena itu ghibah disebut sebagai "kebangkrutan spiritual."


6. Amalan (Implementasi)

Sebelum Berbicara

Tanyakan pada diri:

  1. Apakah ini benar?
  2. Apakah ini perlu?
  3. Apakah ini bermanfaat?
  4. Apakah Allah ridha jika aku mengucapkannya?

Jika Terjatuh dalam Ghibah

  1. Segera istighfar.
  2. Menyesali perbuatan.
  3. Berdoa untuk orang yang digunjing.
  4. Memuji kebaikannya di tempat yang sama.
  5. Jika memungkinkan, meminta maaf kepadanya.

Wirid Tazkiyatun Nufus

  • Istighfar 100 kali.
  • Shalawat 100 kali.
  • Membaca QS. Al-Hujurat ayat 12.
  • Muhasabah sebelum tidur.

7. Relevansi di Zaman Sekarang

Media Sosial

Sekali menulis fitnah atau ghibah:

  • Ribuan orang dapat membacanya.
  • Jejak digital sulit dihapus.
  • Dosanya terus mengalir selama dibaca dan disebarkan.

Teknologi Komunikasi

  • Grup WhatsApp.
  • Facebook.
  • TikTok.
  • Instagram.
  • Telegram.

Sering berubah menjadi majelis ghibah virtual.

Kehidupan Sosial

Budaya:

  • Gosip artis.
  • Membongkar aib orang.
  • Konten ujaran kebencian.
  • Komentar negatif.

Semua dapat menjadi ladang dosa yang sangat luas.

Kecanggihan Teknologi

Dahulu ghibah didengar beberapa orang.

Hari ini satu kalimat dapat didengar jutaan manusia dalam hitungan detik.

Karena itu dosa lisan di era digital bisa jauh lebih besar dampaknya.


8. Motivasi

Jagalah lisanmu.

Karena:

  • Surga tidak jauh dari orang yang menjaga lisannya.
  • Neraka tidak jauh dari orang yang meremehkan lisannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang ia anggap ringan, namun karenanya ia terjerumus ke dalam neraka." (HR. Bukhari)

Diam sering kali lebih selamat daripada berbicara yang tidak bermanfaat.


9. Muhasabah dan Caranya

Tanyakan setiap malam:

  • Berapa kali aku membicarakan aib orang hari ini?
  • Berapa kali aku berprasangka buruk?
  • Berapa kali aku menyakiti hati saudara muslim?
  • Berapa kali aku mendoakan orang lain?

Cara Muhasabah

  1. Duduk sendiri sebelum tidur.
  2. Mengingat seluruh ucapan hari itu.
  3. Menulis kesalahan yang terjadi.
  4. Beristighfar dengan sungguh-sungguh.
  5. Bertekad memperbaiki diri esok hari.

10. Kemuliaan dan Kehinaan yang Didapat

Di Dunia

Kemuliaan

  • Dicintai manusia.
  • Dipercaya masyarakat.
  • Hatinya tenang.

Kehinaan

  • Dijauhi orang.
  • Hilang wibawa.
  • Hatinya gelisah.

Di Alam Kubur

Kemuliaan

  • Mendapat ketenangan kubur.
  • Cahaya amal menerangi kubur.

Kehinaan

  • Penyesalan yang panjang.
  • Beratnya pertanggungjawaban lisan.

Di Hari Kiamat

Kemuliaan

  • Timbangan amal berat.
  • Mendapat syafaat.

Kehinaan

  • Bangkrut karena pahala berpindah kepada orang yang dizalimi.
  • Menyesal ketika semua rahasia dibuka.

Di Akhirat

Kemuliaan

  • Ridha Allah.
  • Surga yang penuh kenikmatan.

Kehinaan

  • Murka Allah.
  • Siksa yang pedih.

11. Doa

اللهم طهر ألسنتنا من الغيبة والنميمة، وطهر قلوبنا من الحسد والكبر وسوء الظن، واجعلنا من عبادك الصالحين المخلصين.

Artinya:

"Ya Allah, sucikan lisan kami dari ghibah dan adu domba, sucikan hati kami dari iri, sombong, dan buruk sangka. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh dan ikhlas."

آمين يا رب العالمين


12. Ucapan Terima Kasih

Terima kasih telah meluangkan waktu membaca buletin tauziah ini. Semoga Allah Ta'ala membersihkan hati, menjaga lisan, mengampuni dosa-dosa kita, serta menghimpun kita bersama Rasulullah ﷺ dan orang-orang saleh di surga-Nya.

"Sibukkanlah dirimu memperbaiki aib sendiri, maka engkau tidak akan sempat mencari aib orang lain."

والله أعلم بالصواب.

301dur.

 63. KECAMAN TERHADAP SIFAT BURUK SANGKA DAN MENGGUNJING.

Dan sabda Nabi saw. pula :

Artinya : “Ada tiga golongan manusia yang tidak akan melihat wajahku (pada hari kiamat nanti) : (1) orang yang durhaka kepada ibu-bapaknya, (2) orang yang meninggalkan sunnahku, (3) orang yang ketika aku disebut di sisinya, dia tidak bersalawat untukku.

Sungguh benarlah Nabi dengan sabdanya.

Konon, sebab turunnya ayat ini adalah berkaitan dengan dua orang sahabat Nabi saw., yaitu ketika Nabi saw. mengikutsertakan seorang laki-laki dari kalangan sahabat yang fakir miskin dalam suatu perjalanan kepada dua orang laki-laki kaya, supaya dia dapat ikut makan bersama dari makanan mereka, dan supaya dia mendahului mereka berdua turun di tempat persinggahan untuk menyiapkan tempat dan makanan bagi mereka berdua. Nabi mengikut-sertakan Salman Alfarisi kepada dua orang laki-laki tersebut. Pada suatu hari, Salman singgah di suatu tempat, tetapi dia tidak menyiapkan apa-apa untuk mereka berdua. Maka berkatalah kedua orang itu kepadanya : “Pergilah kepada Rasulullah, dan mintalah untuk kita sisa lauk-pauk”.

Ketika Salman telah pergi, salah seorang di antara mereka berdua berkata kepada sahabatnya, sementara Salman tidak ada : “Sesungguhnya, kalau Salman itu tiba di sumur Samihah (yakni sebuah sumur yang banyak airnya), pasti airnya akan surut”.

Setelah Salman sampai kepada Rasulullah dan menyampaikan pesan mereka kepada Beliau, Rasulullah saw. berkata : “Katakanlah kepada mereka berdua, sesungguhnya kalian telah memakan lauk-pauk itu”.

Saiman pun kembali menemui mereka, lalu menyampaikan apa yang diucapkan oleh Rasulullah saw. tadi. Maka mereka berdua lalu menemui Rasulullah dan berkata : “Kami belum memakan lauk-pauk itu, Ya Rasulullah”.

Rasulullah saw. menjawab : “Sesungguhnya aku benar-benar telah melihat daging yang merah pada mulutmu berdua, karena perbuatanmu menggunjing sahabatmu itu”.

Kemudian turunlah ayat di atas tadi.

......

jumat bada maghrib ust arsyaq

 Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Ibnu Mas'ud, serta diriwayatkan pula oleh Imam At-Tirmidzi.Berikut adalah matan hadis lengkapnya:“Barang siapa yang membuka untuk dirinya pintu meminta-minta (tanpa keperluan), maka Allah akan membukakan untuknya pintu kefakiran.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain dari sahabat Abu Kabasyah Al-Anmari, Rasulullah SAW bersabda:“Dan tidaklah seorang hamba membuka pintu untuk meminta-minta, kecuali Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran.” (HR. Ahmad).

Islam mengajarkan kita untuk menjaga kehormatan diri (iffah) dengan cara berusaha dan bertawakal, serta melarang keras mengemis atau meminta-minta jika tidak dalam kondisi darurat.

........

SEDEKAH MENJADI SEBAB ALLAH MEMBUKA PINTU REZEKI


Sedekah mengundang rahmat Allah dan menjadi sebab Allah buka pintu rezeki. Nabi s.a.w. bersabda kepada Zubair bin al-Awwam: “Hai Zubair, ketahuilah bahawa kunci rezeki hamba itu ditentang Arasy, yang dikirim oleh Allah SWT kepada setiap hamba sekadar nafkahnya. Maka siapa yang membanyakkan pemberian kepada orang lain, niscaya Allah membanyakkan baginya. Dan siapa yang menyedikitkan, niscaya Allah menyedikitkan baginya.” (H.R. ad-Daruquthni dari Anas r.a.)


Sedekah digandakan 700 kali ganda.


Fadhilah bagi orang yang bersedekah amat besar seperti mana terdapat keterangan di dalam al-Quran dan hadis. Jika kita amat amati ayat al-Quran berikut, kita akan dapat mengira bahawa sekurang-kurangnya setiap harta yang dikeluarkan ke jalan Allah akan dibalas dengan kiraan melebihi 700 kali ganda. Selain itu, mereka dijanjikan dengan kehidupan yang mudah:


Allah Ta’ala berfirman: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui” . (Al Baqarah (2) : 261)


Allah Lipat-gandakan Ganjaran orang yang Bersedekah.


“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al Hadid: 18)


Rezeki dimurahkan Allah SWT


Firman Allah SWT.: “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, pasti akan ditunjuki kepada mereka jalan keluar. Dan diberi rezeki kepada mereka daripada jalan yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi baginya”. (At-Talaq:2-3)


Di dunia, mereka yang bersedekah akan dimurahkan rezeki oleh Allah dalam kehidupannya. Faedah ini dijelaskan oleh Jabir Abdullah katanya: “Rasulullah berucap kepada kami, sabdanya: Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah sebelum kamu mati dan segeralah mengerjakan amal shalih sebelum kamu sibuk (dengan yang lain), dan jalinlah hubungan di antara kamu dengan Tuhan kamu dengan senantiasa mengingatinya (berzikir) dan banyakkan bersedekah secara bersembunyi atau terang-terangan, niscaya kamu diberi rezeki yang mewah, diberi kemenangan (terhadap musuh dan digantikan dengan apa yang kamu dermakan itu dengan balasan yang berganda-ganda.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)


Keberkatan Dalam Rezeki.


Kekayaan tidak membawa arti tanpa ada keberkatan. Dengan adanya  keberkatan, harta/rezeki yang sedikit akan dirasakan seolah-olah banyak dan mencukupi. Sebaliknya tanpa keberkatan akan dirasakan sempit dan susah meskipun banyak harta.


Dalam kisah Nabi, ada diceritakan Nabi Ayub ketika sedang mandi tiba-tiba Allah datangkan seekor belalang emas dan hinggap di lengannya. Baginda menepis-nepis dengan bajunya. Lantas Allah berfirman ‘Bukankah Aku lakukan begitu supaya kamu menjadi lebih kaya?’ Nabi Ayub mejawab ‘Ya benar, demi keagunganMu apalah makna kekayaan tanpa keberkatanMu’. Kisah ini menegaskan betapa pentingnya keberkatan dalam rezeki yang dikurniakan oleh Allah.


Kaya Jiwa


Kekayaan bukanlah sesuatu yang harus diidam-idamkan oleh seseorang Islam kerana kekayaan boleh membawa kerosakan kepada seseorang sekiranya tidak menurut jalan yang betul. Islam lebih melihat kekayaan dari segi kekayaan jiwa. Hadis Abu Hurairah r.a katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Kekayaan itu bukanlah kerana mempunyai banyak harta tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa. (Sahih Muslim.)


Dari aspek harta-benda, kekayaan jika disalurkan ke jalan yang betul akan memberi seseoang pahala yang banyak, terutamanya jika digunakan untuk bersedekah.


Berzikir dan Banyak Bersedekah dalam Sembunyi dan Terang


Hadis berikut ini pula menyeru kita agar rajin bersedekah kerana Allah akan memberi kita rezeki dan kesenangan melalui bersedekah. “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, sebelum kamu mati. Bersegeralah melakukan amalan amalan salih sebelum kamu kesibukan dan hubungilah antara kamu dengan Tuhan kamu dengan membanyakkan sebutan (zikir) kamu kepadaNya dan banyak bersedekah dalam bersembunyi dan terang-terangan, nanti kamu akan diberi rezeki, ditolong dan diberi kesenangan.” H.R Ibnu Majah.