🕌 KALIAN ADALAH SAKSI ALLAH DI BUMI-NYA

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Diriwayatkan dari Abdul Aziz bin Shuhaib bahwa ia berkata “Saya mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:
Suatu hari, orang-orang melewati jenazah. Kemudian mereka memuji kebaikan atas jenazah itu. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata, ‘Tetap baginya’. Kemudian orang-orang bertemu dengan jenazah lain. Kemudian mereka mencela keburukan atas jenazah itu. Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata,    ‘Tetap    baginya’. Kemudian Umar bin Khattab bertanya, ‘Apa yang tetap bagi masing-masing jenazah itu?’ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, ‘Jenazah ini yang kalian puji kebaikan atasnya maka tetap baginya surga. Sedangkan jenazah ini yang kalian cela keburukan atasnya maka tetap baginya neraka.’ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama melanjutkan, ‘Kalian adalah para saksi Allah di bumi-Nya’.


Ringkasan Redaksi Asli Hadis

Diriwayatkan dari Abdul Aziz bin Shuhaib, ia berkata: “Saya mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Suatu hari orang-orang melewati jenazah, lalu mereka memuji kebaikan jenazah itu. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tetap baginya.’ Kemudian mereka melewati jenazah lain dan mencela keburukannya. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tetap baginya.’ Umar bin Khattab bertanya, ‘Apa maksud tetap bagi keduanya?’ Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Jenazah yang kalian puji, tetap baginya surga. Jenazah yang kalian cela, tetap baginya neraka. Kalian adalah saksi Allah di bumi-Nya.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Maksud dan Hakekat Hadis

Hadis ini menunjukkan bahwa kesaksian masyarakat mukmin terhadap seseorang, baik dalam bentuk pujian maupun celaan, memiliki nilai di sisi Allah. Bila mayoritas kaum mukmin yang jujur memuji seseorang karena kebaikan dan amal salehnya, maka itu adalah isyarat rahmat Allah. Namun jika manusia yang beriman mencela seseorang karena kezaliman dan keburukannya, maka itu adalah peringatan adzab.

Hakekatnya, hati orang beriman tak akan bersatu memuji orang zalim, sebab cahaya iman tidak mungkin berkumpul dengan kegelapan dosa. Maka ucapan masyarakat mukmin menjadi penegas dari keputusan langit.


Tafsir dan Makna Judul

“Kalian adalah saksi Allah di bumi-Nya.”
Artinya, umat mukmin yang jujur dan bersih hati adalah saksi atas perilaku manusia di dunia. Mereka menjadi penilai moral yang menegaskan siapa yang hidup dalam ridha Allah dan siapa yang menolak-Nya.
Kesaksian ini bukan sekadar omongan duniawi, melainkan pantulan dari pengetahuan batin yang Allah tanamkan dalam hati orang beriman.


Tujuan dan Manfaat

  1. Mengingatkan umat agar hidup dengan amal saleh yang meninggalkan jejak baik di hati manusia.
  2. Menumbuhkan kesadaran bahwa pandangan orang beriman adalah cermin kehendak Allah.
  3. Melatih diri agar tidak mudah mencela, kecuali karena kebenaran dan keadilan.
  4. Mengajarkan bahwa pahala dan dosa tidak tersembunyi, karena masyarakat mukmin akan menjadi saksi di akhirat.

Latar Belakang di Zaman Rasulullah ﷺ

Pada masa itu, masyarakat Madinah hidup dalam kedekatan spiritual dengan Rasulullah ﷺ. Setiap kematian menjadi cermin kehidupan seseorang. Orang yang hidupnya jujur dan beramal baik akan dikenang dengan doa dan pujian, sedangkan yang menzhalimi akan ditinggalkan.
Rasulullah ﷺ menjadikan momen itu sebagai pendidikan sosial, bahwa reputasi seseorang di tengah kaum beriman adalah bayangan amalnya di sisi Allah.


Intisari Masalah

Kematian tidak hanya mengakhiri hidup, tetapi juga membuka tabir kebenaran amal. Ketika manusia meninggal, lidah-lidah yang jujur akan bersaksi — bukan karena fanatisme, melainkan karena nur iman yang menilai dengan adil. Maka, hidup yang baik adalah hidup yang meninggalkan aroma kebaikan setelah kematian.


Sebab Terjadinya Masalah

Banyak manusia hidup hanya mengejar pujian dunia, bukan ridha Allah. Maka ketika mati, masyarakat beriman dengan fitrah suci akan menilai dengan jujur — apakah ia hidup untuk Allah atau untuk nafsunya.
Hadis ini mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh sanjungan palsu, karena kesaksian sejati muncul dari hati orang-orang yang takut kepada Allah.


Dalil dari Al-Qur’an dan Hadis Lain

  1. QS. Al-Fajr [89]: 27–30

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
→ Ayat ini menegaskan balasan bagi jiwa yang disucikan dan dikenang kebaikannya.

  1. Hadis Rasulullah ﷺ:

“Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril mencintainya dan menyeru penduduk langit, lalu turunlah kecintaan itu ke bumi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Analisis dan Argumentasi

Kesaksian umat bukan ukuran hukum dunia, tetapi indikasi ruhani. Allah menjadikan suara hati umat beriman sebagai pantulan dari rahmat dan murka-Nya. Maka, jika seseorang dicintai oleh kaum saleh dan dihormati setelah wafat, itu pertanda hati mereka telah digerakkan Allah untuk memuliakannya.


Relevansi di Zaman Sekarang

Di zaman modern, banyak orang mengejar popularitas di media, bukan kemuliaan di sisi Allah. Hadis ini menjadi cermin: apakah kita meninggalkan nama harum karena ikhlas berbuat baik, atau karena pencitraan kosong?
Kehormatan sejati bukan karena viral, tapi karena dikenang kebaikannya oleh hati yang bersih.


Hikmah

  • Kebaikan sejati akan menyebar tanpa promosi.
  • Kesaksian orang mukmin adalah timbangan rahmat.
  • Hidup ini sementara, tetapi jejak amal akan kekal.

Muhasabah dan Caranya

  1. Setiap malam renungkan: “Jika aku mati malam ini, apakah orang-orang beriman akan mengenangku dengan doa atau keluhan?”
  2. Perbaiki hubungan dengan sesama, karena manusia menjadi saksi amal kita.
  3. Lakukan kebaikan yang meninggalkan manfaat setelah mati.

Doa

اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُثْنِي عَلَيْهِ النَّاسُ بِالْخَيْرِ، وَتَجْعَلُ ذٰلِكَ عَلامَةَ رِضَاكَ عَنَّا.
“Ya Allah, jadikanlah kami di antara orang yang disebut dengan kebaikan oleh manusia, dan jadikanlah itu tanda ridha-Mu kepada kami.”


Nasihat Para Sufi dan Ulama

  • Hasan al-Bashri: “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lain. Jika engkau ingin tahu siapa dirimu, lihatlah bagaimana orang saleh memandangmu.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Jangan berbuat baik agar disebut baik, tapi berbuatlah karena Allah, maka Dia akan menanamkan cinta di hati manusia.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Siapa yang mengenal Allah, ia akan dikenang walau tubuhnya telah hilang.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Keharuman amal seorang arif lebih kuat dari wangi kesturi setelah kematiannya.”
  • Al-Hallaj: “Manusia mati dua kali: ketika ruh keluar dan ketika namanya dilupakan.”
  • Imam al-Ghazali: “Bekerjalah agar disebut baik oleh penduduk langit, bukan oleh lidah manusia.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Allah menyingkapkan rahasia hamba di hati para wali-Nya; jika engkau jujur, mereka akan mencintaimu.”
  • Jalaluddin Rumi: “Setelah mati, jangan tangisi tubuhku. Dengarlah doa orang yang menyebut namaku, itulah tanda hidupku di hati mereka.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Hati orang beriman adalah cermin keputusan Allah.”
  • Ahmad al-Tijani: “Siapa yang hidup dengan ikhlas, Allah jadikan lidah umat beriman saksi atasnya tanpa ia minta.”

Daftar Pustaka

  1. Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jana’iz.
  2. Shahih Muslim, Kitab al-Birr.
  3. Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali.
  4. Futuh al-Ghaib, Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  5. Al-Risalah al-Qusyairiyyah, Abu al-Qasim al-Qusyairi.
  6. Mathnawi, Jalaluddin Rumi.
  7. Tadhkirat al-Auliya, Fariduddin Attar.
  8. Al-Futuhat al-Makkiyah, Ibnu ‘Arabi.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca yang masih menjaga hati agar tetap peka terhadap kebaikan. Semoga setiap ucapan kita menjadi saksi yang diridai Allah, bukan penyesalan di akhirat.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang sopan dan santai dari teks tersebut, dengan arti ayat Al-Qur'an dan hadits tetap dalam bahasa aslinya.


Judul: Lo Semua adalah Saksi-Saksi Allah di Bumi-Nya


Narasumber: M. Djoko Ekasanu


Dari Mana Info Ini? Cerita ini diceritain lagi dari Abdul Aziz bin Shuhaib,yang denger langsung dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Inti ceritanya:


Suatu hari, orang-orang lewat sama satu jenazah, terus mereka pada puji-puji almarhum karena baik banget. Rasulullah ﷺ langsung komentar, "Tetap baginya."


Trus, lewat lagi jenazah lain, nah yang ini malah dicela-cela karena jelek tingkahnya waktu hidup. Rasulullah ﷺ balik ngomong, "Tetap baginya."


Umar bin Khattab yang denger jadi bingung, nanya, "Ya Rasulullah, maksudnya 'tetap' buat kedua orang tuh apa sih?"


Rasulullah ﷺ pun jelasin: "Jenazah yang kalian puji, tetap baginya surga. Jenazah yang kalian cela, tetap baginya neraka. Kalian adalah saksi Allah di bumi-Nya." (HR. Bukhari dan Muslim)


---


Gue Jadi Ngeh, Ternyata...


Intinya, apa kata orang-orang beriman tentang kita itu ngaruh, guys. Banyak yang ngasih testimony bagus karena kita emang baik dan sering ngelakuin amal shaleh? Itu bisa jadi spoiler atau tanda kecil bahwa Allah sayang sama kita. Tapi kalo yang keluar cuma cerita-cerita buruk, ya itu warning sign buat kita buat introspeksi.


Alasannya, hati orang-orang yang imannya kuat tuh gak mungkin bakal kompak buat puji orang yang jelas-jelas zalim. Hati mereka kayak radar yang bisa nangkep sinar kebaikan dan kegelapan dosa. Jadi, omongan mereka tuh kayak konfirmasi dari langit.


Maksud Judulnya "Lo Semua adalah Saksi Allah di bumi-Nya" Artinya,kita-kita ini sebagai umat muslim yang jujur dan hatinya bersih, ditunjuk jadi saksi atas tingkah polah orang lain di dunia. Kita jadi juri moral yang nunjukkin siapa yang hidupnya bener-bener bikin Allah ridha dan siapa yang enggak. Kesaksian ini bukan sekadar gosip atau obrolan ngalor-ngidul, tapi lebih ke cerminan dari ilmu batin yang Allah tanemin di hati orang beriman.


Apa Sih Manfaatnya Buat Kita?


· Ngingetin kita buat hidup baik, biar dikenang sebagai good vibes aja.

· Ngerasain sendiri bahwa opini orang-orang shaleh itu seringkali nge-reflect kehendak Allah.

· Ngajarin kita buat gak gampang nyinyir atau nyela orang, kecuali emang buat ngejaga kebenaran dan keadilan.

· Nunjukkin bahwa pahala dan dosa tuh gak bisa disembunyiin, karena pada akhirnya, masyarakat muslim sendiri yang jadi saksi di akhirat nanti.


Kenapa Bisa Gimana? Masalahnya,banyak yang hidup cuma ngejar pujian sesaat doang, bukan beneran cari ridha Allah. Pas udah meninggal, orang-orang beriman dengan hati bersih akan ngevaluasi dengan jujur—dia tuh hidup buat Allah atau cuma buat nafsu sendiri aja. Hadits ini ngingetin biar kita gak ketipu sama pujian palsu, karena penilaian aslinya datang dari hati orang-orang yang takut sama Allah.


Dikuatin Sama Dalil Lain Nih


· QS. Al-Fajr [89]: 27–30 "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." → Ayat ini ngejamin hadiah buat jiwa-jiwa yang bersih dan selalu dikenang kebaikannya.

· Hadits Rasulullah ﷺ: "Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril mencintainya dan menyeru penduduk langit, lalu turunlah kecintaan itu ke bumi." (HR. Bukhari dan Muslim)


Pemikiran & Argumen Kesaksian umat beriman ini bukan buat dijadikan patokan hukum atau buat nyalah-nyalahin orang,tapi lebih ke indikator spiritual. Allah bikin suara hati umat-Nya sebagai cerminan dari cinta dan murka-Nya. Jadi, kalo ada orang yang dicintai sama orang-orang shaleh dan terus dihormati bahkan setelah meninggal, itu tandanya hati mereka udah digerakin sama Allah buat menghormati orang tersebut.


Masih Relevan Gak Sama Zaman Sekarang? BANGET.Di zaman yang serba medsos ini, banyak banget yang cuma ngejar popularitas dan likes, bukan kemuliaan di mata Allah. Hadits ini kayak pengingat: apa kita mau dikenang karena kebaikan yang ikhlas, atau cuma karena pencitraan doang? Kehormatan sejati tuh bukan karena viral, tapi karena dikenang kebaikannya sama orang-orang yang hatinya bersih.


Hikmah yang Bisa Diambil


· Kebaikan yang tulus bakal nyebar dengan sendirinya, tanpa perlu promosi.

· Penilaian orang beriman itu kayak alat ukur kasih sayang Allah.

· Hidup di dunia cuma sementara, tapi jejak amal kita yang bakal tetap hidup.


Tips Buat Muhasabah Diri


· Setiap mau tidur, coba tanya diri sendiri: "Kalo besok gue meninggal, apa orang-orang pada doain gue atau malah ngeluhin gue?"

· Perbaikin hubungan sama orang lain, karena mereka yang jadi saksi amal kita.

· Lakuin kebaikan yang manfaatnya masih bisa dirasain bahkan setelah kita meninggal.


Doa yang Bisa Dipanjatin


اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُثْنِي عَلَيْهِ النَّاسُ بِالْخَيْرِ، وَتَجْعَلُ ذٰلِكَ عَلامَةَ رِضَاكَ عَنَّا. "Ya Allah,jadikanlah kami di antara orang yang disebut dengan kebaikan oleh manusia, dan jadikanlah itu tanda ridha-Mu kepada kami."


Kata-Kata Motivasi Para Legenda


· Hasan al-Bashri: "Orang beriman tuh cermin buat sesamanya. Pengen tau diri lo kayak gimana? Lihat aja gimana orang shaleh memandang lo."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Jangan berbuat baik biar dibilang baik, tapi berbuatlah karena Allah, niscaya Dia akan tanamkan cinta di hati manusia."

· Abu Yazid al-Bistami: "Siapa yang kenal Allah, dia akan selalu dikenang meski jasadnya udah nggak ada."

· Junaid al-Baghdadi: "Wanginya amal orang shaleh itu lebih semerbak dari minyak kasturi, bahkan setelah dia meninggal."

· Al-Hallaj: "Manusia mati dua kali: saat ruhnya pergi, dan saat namanya dilupakan."

· Imam al-Ghazali: "Berusahalah biar disebut baik sama penghuni langit, bukan cuma sama mulut manusia."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Allah bakal buka rahasia hamba-Nya di hati para wali-Nya; kalo lo jujur, mereka bakal cinta sama lo."

· Jalaluddin Rumi: "Setelah mati, jangan tangisi jasad gue. Dengerin aja doa orang yang sebut nama gue, itu tandanya gue masih hidup di hati mereka."

· Ibnu ‘Arabi: "Hati orang beriman itu cermin dari keputusan Allah."

· Ahmad al-Tijani: "Siapa yang hidupnya ikhlas, Allah akan buat lidah umat beriman jadi saksi buatnya tanpa dia minta."


Daftar Buku Rujukan (Bacaan Lanjutan)


· Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jana'iz.

· Shahih Muslim, Kitab al-Birr.

· Ihya' Ulumiddin, Imam al-Ghazali.

· Futuh al-Ghaib, Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

· Al-Risalah al-Qusyairiyyah, Abu al-Qasim al-Qusyairi.

· Mathnawi, Jalaluddin Rumi.

· Tadhkirat al-Auliya, Fariduddin Attar.

· Al-Futuhat al-Makkiyah, Ibnu ‘Arabi.


Akhir Kata Makasih buat lo semua yang masih mau jaga hati buat tetap peka sama kebaikan.Semoga setiap kata-kata kita bisa jadi saksi yang bikin Allah ridha, bukan malah jadi penyesalan kita nanti di akhirat. Stay kind and keep the good vibes!