Wednesday, December 31, 2025

893. Maksiat Telinga di Zaman Kecanggihan: Menjaga Amanah Pendengaran



Maksiat Telinga.

Mendengarkan pembicaraan orang-orang yang sengaja dirahasiakan.

........

Maksiat Telinga di Zaman Kecanggihan: Menjaga Amanah Pendengaran

Mukadimah

Segala puji bagi Allah ﷻ yang menciptakan telinga bukan sekadar alat mendengar, tetapi amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban. Di zaman kecanggihan teknologi, telinga manusia diuji lebih berat dari zaman mana pun sebelumnya. Suara tidak lagi harus hadir secara fisik; ia menembus ruang lewat gawai, rekaman, CCTV audio, telepon, ruang digital, dan bisik-bisik dunia maya.

Padahal, dalam pandangan tasawuf, telinga adalah pintu hati. Apa yang masuk ke telinga, akan menetes ke qalbu.

Hakikat Maksiat Telinga

Salah satu maksiat telinga yang halus namun berat dosanya adalah:

Mendengarkan pembicaraan orang lain yang sengaja dirahasiakan, baik dengan menguping, menyadap, membaca pesan suara yang bukan haknya, atau menikmati bocoran yang seharusnya ditutup.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS. Al-Isrā’: 36)

Ayat ini menegaskan bahwa pendengaran bukan milik bebas, melainkan amanah yang kelak ditanya: untuk apa ia digunakan?

Dalam Cermin Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa menguping pembicaraan suatu kaum, padahal mereka tidak suka didengar, maka pada hari kiamat akan dituangkan timah cair ke dalam telinganya.”

(HR. Bukhari)

Hadis ini mengguncang hati para salik. Telinga yang menikmati rahasia orang lain di dunia, akan disiksa melalui telinga di akhirat.

Dalam tasawuf, ini disebut hukuman sesuai anggota maksiat (al-jazā’ min jinsil ‘amal).

Maksiat Telinga di Era Teknologi & Komunikasi

Di masa lalu, menguping harus mendekatkan telinga ke dinding.

Hari ini, cukup satu klik.

Mendengarkan voice note yang bukan hak kita

Menikmati rekaman percakapan rahasia

Membaca pesan yang tidak ditujukan kepada kita

Menyebarkan audio bocoran

Menjadi penikmat gosip digital

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; tidak menzaliminya dan tidak membuka aibnya.”

(HR. Muslim)

Maka, telinga yang beriman akan menutup dirinya dari yang haram, meski dunia membukanya lebar-lebar.

Dalam Dunia Transportasi & Kehidupan Sosial

Di kendaraan umum, ruang tunggu, kafe, dan majelis:

Sering kita mendengar percakapan pribadi orang lain, lalu menikmatinya, menafsirkannya, bahkan menyimpannya dalam hati.

Padahal para sufi berkata:

“Orang yang sibuk dengan rahasia orang lain, akan lalai dari rahasia dirinya sendiri.”

Hati menjadi gelap bukan karena dosa besar saja, tetapi karena maksiat kecil yang terus dibiarkan.

Dalam Dunia Kedokteran & Profesionalisme

Dalam dunia medis dan profesional:

Mendengarkan rahasia pasien, klien, atau urusan pribadi tanpa hak adalah pengkhianatan amanah.

Allah ﷻ berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu.”

(QS. Al-Anfāl: 27)

Tasawuf mengajarkan:

Amanah lahir dijaga dengan etika, amanah batin dijaga dengan taqwa.

Pandangan Tasawuf: Telinga Jalan Menuju Nur atau Zulmah

Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:

“Setiap anggota tubuh memiliki ibadah dan maksiat. Ibadah telinga adalah mendengarkan kebenaran, dan maksiatnya adalah mendengarkan kebatilan.”

Mendengarkan rahasia orang lain:

Mematikan rasa malu

Menghitamkan hati

Menguatkan nafsu ingin tahu yang haram

Sedangkan menahan diri untuk tidak mendengar, itulah jihad batin.

Penutup: Jalan Selamat Bagi Telinga

Wahai hamba Allah…

Di zaman canggih ini, keselamatan bukan terletak pada seberapa banyak yang kita dengar, tetapi pada seberapa banyak yang kita tahan untuk tidak didengar.

Allah ﷻ berfirman:

“Sungguh beruntung orang-orang yang membersihkan jiwanya.”

(QS. Asy-Syams: 9)

Membersihkan jiwa dimulai dari:

Menjaga telinga

Menutup pintu maksiat halus

Mengalihkan pendengaran kepada dzikir, Al-Qur’an, nasihat, dan kebenaran

Telinga yang dijaga akan menenangkan hati.

Hati yang tenang akan dekat dengan Allah.

“Ya Allah, sucikan pendengaran kami sebagaimana Engkau sucikan hati para kekasih-Mu.” 🤲

.........

Maksiat Telinga di Era Gadget: Jaga Amanah Dengaran Kita, Bro!


Pembuka


Bismillah dulu, ya! Puji syukur sama Allah ﷻ yang ngasih kita telinga. Ini bukan cuma tools buat dengerin musik atau podcast, loh. Ini amanah yang nanti bakal ditanya-tanya. Di zaman sekarang, ujian buat telinga tuh berat banget. Ga perlu deket-deket, suara bisa nyelinap lewat HP, voice note, CCTV audio, telepon, sampe gosip di grup chat.


Padahal, dalam insight tasawuf, telinga tuh pintunya hati. Apa yang kita denger, nempel di dalam qalbu.


Gimana Sih Bentuk Maksiat Telinga yang Kekinian?


Salah satu yang lowkey tapi dosanya gede banget:


Ngedengerin obrolan orang yang seharusnya privasi, baik dengan cara nguping, nyadap, buka voice note yang bukan hak kita, atau malah nikmatin leaked percakapan yang harusnya ditutup.


Allah ﷻ bilang:


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isrā’: 36)


Ayat ini ngingetin kalo pendengaran kita itu titipan. Bukan hak mutlak buat dengerin semuanya. Nanti ditanya: buat apa lo pake kuping lo?


Dari Rasulullah ﷺ Juga Ada Tegasnya


Rasulullah ﷺ pernah ngedrop sabda yang bikin merinding:


“Barangsiapa menguping pembicaraan suatu kaum, padahal mereka tidak suka didengar, maka pada hari kiamat akan dituangkan timah cair ke dalam telinganya.” (HR. Bukhari)


Ini serious banget, guys! Telinga yang seneng nyari-nyari rahasia orang di dunia, nanti di akhirat malah disiksa lewat telinga juga. Dalam tasawuf, ini namanya hukumannya match sama jenis maksiatnya.


Maksiat Telinga Zaman Now: Cuma Modal Klik


Dulu mau nguping harus nempel ke tembok. Sekarang? Cuma scroll dan tap.


· Buka voice note orang di WA yang bukan buat kita.

· Dengerin leaked rekaman percakapan rahasia.

· Baca chat atau status yang privat banget.

· Nyebarin audio bocoran.

· Jadi silent reader gosip digital.


Padahal Rasulullah ﷺ udah bilang:


“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; tidak menzaliminya dan tidak membuka aibnya.” (HR. Muslim)


Jadi, telinga orang beriman tuh otomatis auto-close kalo ketemu yang haram, meski godaannya gede banget.


Di Angkot, Kafe, atau Ruang Tunggu


Pas lagi di transportasi umum atau nongkrong, kan sering kecebur overhear obrolan privat orang. Eh, malah asik dengerin, ngerumpiin, atau nyimpen di hati.


Padahal kata para sufi:


“Orang yang sibuk ngurusin rahasia orang lain, bakal lupa ngurusin rahasia dan aib dirinya sendiri.”


Hati jadi gelap nggak cuma karena dosa gede, tapi karena dosa-dosa kecil yang dianggep sepele dan dibiarin.


Di Dunia Kerja & Profesional


Dalam lingkup kerja, medis, atau profesional: dengerin rahasia pasien, klien, atau urusan pribadi orang tanpa izin itu namanya ngkhianatin kepercayaan.


Allah ﷻ ngingetin:


“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu.” (QS. Al-Anfāl: 27)


Intinya: Amanah lahir dijaga pake etika kerja. Amanah batin dijaga pake taqwa dan niat baik.


Pandangan Tasawuf: Telinga Bisa Bawa ke Cahaya Atau Kegelapan


Kata Imam Al-Ghazali:


“Setiap anggota tubuh punya ibadah dan maksiatnya sendiri. Ibadahnya telinga ya dengerin yang bener. Maksiatnya ya dengerin yang batil.”


Ngedengerin rahasia orang itu efeknya:


· Matiin rasa malu

· Bikin hati gelap

· Nambahin rasa penasaran yang nggak sehat


Sebaliknya, nahan diri buat ga dengerin hal yang bukan hak kita, itu adalah jihad batin yang keren.


Penutup: Tips Selamatin Telinga di Era Digital


Wahai sahabatku…


Di zaman yang serba bisa denger ini, keselamatan kita justru terletak pada seberapa banyak hal yang bisa kita TAHAN untuk tidak didengerin.


Allah ﷻ bilang:


“Sungguh beruntung orang-orang yang membersihkan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)


Ngersihin jiwa itu dimulai dari:


1. Jagain telinga. Filter apa yang masuk.

2. Tutup pintu maksiat yang halus. Jangan dikasih akses.

3. Arahin pendengaran ke hal-hal yang nutrisi: dzikir, murojaah Qur’an, nasihat baik, atau content yang bermanfaat.


Telinga yang dijaga bikin hati tenang. Hati yang tenang bikin kita makin deket sama Allah.


“Ya Allah, bersihin pendengaran kami, kayak Engkau bersihin hati para kekasih-Mu.” 🤲🏻


---


Tetap santai, tapi tetap santun. Jaga aurat dan rahasia orang, itu keren banget, loh!

 tafsir ibnu katsir QS. Tha ha : 1-3

.......

Buatkan naskah motivasi islami tasawuf (berdalil qur'an dan hadis) dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

 tentang tersebut diatas.

Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

......

Nggak Perlu Pusing, Allah Maha Dekat


Intro:

1. Allah Nggak Sok Jauh-Jauh, Kok! Allah berfirman: QS. Thaha: 1-3 Tha Ha. Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).


Nah, lho! Maknanya: Al-Qur’an ini turun bukan buat bikin hidup kita makin ribet atau susah. Justru dia kayak "surat cinta" dari Allah yang isinya reminder buat kita yang masih punya rasa takut dan hati. Jadi, kalau kamu baca Qur’an, jangan merasa dibebani, tapi anggap aja sebagai "panduan hidup kekinian" yang bikin hati adem.


2. Hidup Bukan Buat “Susah-Susah Amat” Nabi Muhammad ﷺ pernah bilang: “Sesungguhnya agama ini mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agama ini kecuali ia akan dikalahkan (karena terlalu berat). Maka berlakulah lurus, sederhana (tidak berlebih-lebihan), dan berilah kabar gembira.” (HR. Bukhari)


Intinya: Allah dan Rasul-Nya aja bilang agama ini easy to apply, asal nggak kita yang bikin ribet sendiri. Jangan pakai standar “harus sempurna dulu baru mulai”. Ibadah itu step by step, yang penting konsisten dan ikhlas.


3. Tasawuf Kekinian: Slow Down, Santai, Tapi Tetap Ibadah Tasawuf zaman now itu sederhana:"Jaga hati, jaga hubungan sama Allah, tapi tetap produktif di dunia."


· Nggak perlu mengasingkan diri di gunung. Cukup "me time" sejenak di kamar, baca Qur’an sedikit, renungi maknanya.

· Kalau lagi stres, ingat ini:  "Ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d: 28) Artinya, cukup dengan dzikir kecil-kecilan sambil ngerjain deadline, hati bisa lebih tenang.


4. Allah Maha Dekat, Seriusan! Allah berfirman: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 186)


Bayangin: Allah bilang "Aku dekat". Jadi, ngobrol sama Allah lewat doa itu kayak chat sama sahabat yang selalu online. Kamu bisa curhat apa aja, pakai bahasamu sendiri, nggak perlu pakai kata-kata formal. Dia selalu denger, bahkan yang cuma "Ya Allah, bantu aku deh..." di dalam hati.


5. Kesimpulan Buat Kamu:


· Hidup itu ujian, tapi bukan untuk disusah-susahkan. Allah kasih Qur’an sebagai pedoman, bukan beban.

· Ibadah itu fleksibel, yang penting nggak bolong-bolong dan dari hati.

· Kalau lagi down, stop scrolling sosmed, coba baca Qur’an 1 ayat aja, renungkan, atau sebut nama Allah pelan-pelan. Trust me, itu lebih ngena daripada baca motivational quote biasa.

· Ingat, Allah lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Jadi, jangan sungkan buat ngobrol sama-Nya kapan aja, di mana aja.


Last Words: Gimana?Masih merasa jauh dari Allah? Padahal Dia selalu ada. "Tha Ha" aja di awal surat ini mengingatkan kita bahwa Allah turunin ayat-ayat-Nya karena sayang, bukan untuk menyusahkan. Jadi, mulai sekarang, jalani hidup dengan "slow but sure", tetap santai tapi nggak lupa ibadah. You’re not alone, Allah is always with you! 😊


Semangat ya! Karena kamu lebih kuat dari yang kamu kira, dengan izin Allah. 🌟


---


Catatan:


· Teks motivasi ini menggunakan gaya bahasa santai kekinian, namun tetap menjaga kehormatan ayat dan hadis dengan tidak mengubah arti aslinya.

· Ditujukan untuk generasi muda muslim agar lebih dekat dengan ajaran Islam dengan cara yang relevan dan mudah dipahami.

.....

891. Allah Memilih, Membimbing, dan Mengangkat Derajat Hamba-Nya.

 


tarqhib wat tarhib.


Allah Memilih, Membimbing, dan Mengangkat Derajat Hamba-Nya

(Renungan Tasawuf dari QS. Al-An‘ām: 84–87 – Tafsir Al-Ibrīz)

Pendahuluan

Dalam perjalanan hidup, manusia sering bertanya:

“Mengapa aku belum sampai? Mengapa aku belum diberi jalan?”

Padahal Allah telah mengajarkan satu rahasia agung melalui kisah para nabi: yang sampai bukan yang paling kuat, tapi yang paling dibimbing oleh Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim terhadap kaumnya. Kami angkat derajat siapa yang Kami kehendaki.”

(QS. Al-An‘ām: 83)

Ayat 84–87 adalah lanjutan penegasan bahwa hidayah adalah anugerah, bukan hasil kesombongan amal.

1. Hidayah adalah Warisan Kesucian Hati

Allah berfirman:

“Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya‘qub; masing-masing Kami beri petunjuk…”

(QS. Al-An‘ām: 84)

📖 Menurut Tafsir Al-Ibrīz, Allah menyebut para nabi satu per satu untuk menunjukkan bahwa hidayah itu bersambung melalui keikhlasan, bukan keturunan semata.

Dalam tasawuf, ini isyarat bahwa:

Kesucian hati melahirkan cahaya hidayah

Cahaya itu menurun dari satu jiwa yang bersih ke jiwa yang siap

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”

(HR. Muslim)

👉 Bukan siapa orang tuamu, tapi bagaimana keadaan hatimu di hadapan Allah.

2. Orang Shalih Itu Dipilih, Bukan Memilih

Allah berfirman:

“Dan Kami jadikan mereka itu orang-orang pilihan dan Kami tunjukkan mereka ke jalan yang lurus.”

(QS. Al-An‘ām: 87)

Dalam Tafsir Al-Ibrīz dijelaskan:

👉 Allah memilih mereka bukan karena kekuasaan atau kekayaan, tetapi karena kesungguhan ibadah dan ketaatan batin.

Tasawuf mengajarkan:

Jangan sibuk ingin terlihat shalih

Sibuklah agar Allah ridha memilihmu

Imam Ibnu ‘Athaillah berkata:

“Bukan amal yang mengantarkanmu kepada Allah, tapi karunia Allah yang membangunkanmu untuk beramal.”

3. Ilmu Tanpa Tauhid Akan Gugur

Allah berfirman:

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya gugurlah dari mereka apa yang telah mereka kerjakan.”

(QS. Al-An‘ām: 88)

Ini peringatan halus bagi para pencari ilmu dan ahli ibadah.

Dalam tasawuf:

Syirik bukan hanya menyembah berhala

Tapi mengandalkan amal dan lupa kepada Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”

Para sahabat bertanya: Apa itu?

Beliau menjawab: “Riya.”

(HR. Ahmad)

👉 Ibadah yang membuatmu bangga, itulah hijab terbesarmu.

4. Allah Mengangkat Derajat dengan Kehinaan di Hadapan-Nya

Allah berfirman:

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmah, dan kenabian.”

(QS. Al-An‘ām: 89)

Menurut Tafsir Al-Ibrīz: 📖 Hikmah adalah ilmu yang diamalkan dengan takut kepada Allah.

Tasawuf mengajarkan:

Semakin dekat kepada Allah, semakin merasa kecil

Semakin tinggi maqam, semakin takut tergelincir

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”

(HR. Muslim)

Penutup: Jalan Para Nabi Masih Terbuka

Ayat-ayat ini bukan sekadar kisah masa lalu, tapi peta jalan ruhani bagi siapa saja yang ingin sampai kepada Allah.

🌿 Pesan Tasawufnya:

Bersihkan niat, bukan pamer amal

Tundukkan hati, bukan meninggikan diri

Minta dipilih Allah, bukan sekadar ingin dikenal manusia.

...........


Doa para arifin:

“Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau sekejap mata.”

✨ Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan hamba yang diberi petunjuk, dipilih, dan diangkat derajatnya—bukan karena amal, tapi karena rahmat-Nya.

......

Allah Pilih-Pilih, Kasih Guide, dan Naikin Level Hamba-Nya

(Renungan Tasawuf dari QS. Al-An‘ām: 84–87 – Tafsir Al-Ibrīz)


---


Intro

Kita sering galau:

“Kok belum dapet jalur ya? Kok masih mentok gini?”


Padahal Allah udah bocorin rahasia besar lewat kisah para nabi:

Yang sampai itu bukan yang paling kuat, tapi yang paling di-guide sama Allah.


Allah Ta‘ala bilang:

“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim terhadap kaumnya. Kami angkat derajat siapa yang Kami kehendaki.”

(QS. Al-An‘ām: 83)


Ayat 84–87 tuh lanjutannya:

Hidayah itu anugerah, bukan hasil ngandelin amal kita sendiri.


---


1. Hidayah itu “Turunan” Hati yang Bersih

Allah bilang:

“Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya‘qub; masing-masing Kami beri petunjuk…”

(QS. Al-An‘ām: 84)


📖 Menurut Tafsir Al-Ibrīz, Allah sebut para nabi satu-satu buat tunjukin:

Hidayah tuh nyambung lewat keikhlasan, bukan cuma gen keluarga.


Dalam tasawuf, artinya:


· Hati yang bersih ngeluarin cahaya hidayah

· Cahaya itu nular ke jiwa-jiwa yang udah siap


Rasulullah ﷺ pernah bilang:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”

(HR. Muslim)


👉 Bukan siapa orang tuamu, tapi gimana kondisi hatimu di hadapan Allah.


---


2. Orang Shalih itu Dipilih Sama Allah, Bukan Apply Sendiri

Allah bilang:

“Dan Kami jadikan mereka itu orang-orang pilihan dan Kami tunjukkan mereka ke jalan yang lurus.”

(QS. Al-An‘ām: 87)


Di Tafsir Al-Ibrīz dijelasin:

👉 Allah milih mereka bukan karena jabatan atau harta, tapi karena kualitas ibadah dan ketaatan batinnya.


Tasawuf ngajarin:


· Jangan sibuk pengen keliatan shalih

· Sibuklah biar Allah yang mau pilih kamu


Kata Imam Ibnu ‘Athaillah:

“Bukan amal yang ngantar kamu ke Allah, tapi karunia Allah yang bikin kamu bangkit buat beramal.”


---


3. Ilmu Tanpa Tauhid Bisa Batal

Allah bilang:

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya gugurlah dari mereka apa yang telah mereka kerjakan.”

(QS. Al-An‘ām: 88)


Ini ngingetin buat kita yang lagi belajar atau rajin ibadah:

Dalam tasawuf:

Syirik tuh nggak cuma nyembah berhala, tapi juga “ngandelin amal sendiri” sampe lupa sama Allah.


Rasulullah ﷺ pernah bilang:

“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”

Sahabat nanya: Apa itu?

Jawab beliau: “Riya.”

(HR. Ahmad)


👉 Ibadah yang bikin kamu feel good dan bangga, itu bisa jadi hijab terbesar.


---


4. Allah Naikin Level Lewat “Rendah Hati” di Hadapan-Nya

Allah bilang:

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmah, dan kenabian.”

(QS. Al-An‘ām: 89)


Menurut Tafsir Al-Ibrīz: 📖 Hikmah itu ilmu yang diamalkan dengan rasa takut sama Allah.


Tasawuf ngajarin:


· Makin deket sama Allah, makin ngerasa kecil

· Makin tinggi levelnya, makin waswas jangan sampe jatuh


Rasulullah ﷺ bilang:

“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”

(HR. Muslim)


---


Penutup: Jalan Para Nabi Masih Open Buat Kita

Ayat-ayat ini bukan cuma cerita zaman dulu, tapi peta jalan ruhani buat yang pengen sampai ke Allah.


🌿 Pesan Tasawuf versi kekinian:


· Bersihin niat, jangan pamer amal

· Tundukin hati, jangan angkuh

· Minta dipilih sama Allah, bukan cuma pengen dikenal banyak orang


---


Doa para arifin:

“Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau sekejap mata.”


✨ Semoga Allah masukin kita ke grup hamba yang dikasih petunjuk, dipilih, dan dinaikin levelnya—bukan karena amal kita, tapi karena rahmat-Nya semata.

.........