Saturday, February 21, 2026

970. Jangan Putuskan Cahaya untuk Mereka yang Telah Pergi.

 


kupas tipis tipis kitab Usfuriyah karya Muhammad bin Abu Bakar bin Usfuri,

HADITS KE-15 : KEGEMBIRAAN ORANG MATI SEBAB AMAL BAIK KELUARGA MEREKA YANG HIDUP DAN SEBALIKNYA SEBAB AMAL BURUK.

Hadiah Pahala Amal untuk Mayit.


Tsabit al-Banani selalu berziarah ke kuburan setiap malam Jumat. Disana ia bermunajat kepada Allah sampai Subuh. Ketika ia sedang dalam munajatnya, ia merasa ngantuk dan bermimpi kalau seluruh penghuni kuburan itu keluar dari kuburan mereka dengan mengenakan pakaian yang paling bagus dan dengan wajah- wajah yang cerah senang. Kemudian ada sebuah hidangan beraneka warna makanan untuk masing-masing dari mereka. Tiba- tiba di antara mereka ada seorang mayit pemuda yang pucat sedih wajahnya, yang amburadul rambutnya, yang sedih hatinya, yang usang pakaiannya, yang menundukkan kepalanya, dan yang menetaskan air mata. Tidak ada satu hidangan pun di datangkan untuknya. Para penghuni kuburan kembali ke kuburan mereka dengan perasaan senang dan bahagia.
Sedangkan mayit pemuda itu kembali dengan putus asa, susah dan bersedih hati.

Kemudian Tsabit al-Banani menanyainya perihal apa yang sedang terjadi pada pemuda itu:

“Hai pemuda! Apa statusmu di kalangan para penghuni kuburan lainnya? Mereka mendapatkan hidangan enak dan kembali ke kuburan dengan perasaan senang sedangkan kamu tidak mendapati satu hidangan pun dan kembali dengan perasaan putus asa dan bersedih hati”
Pemuda itu menjawab, “Wahai Imam muslimin! Sesungguhnya aku adalah orang asing di kalangan mereka. Tidak ada seorangpun (dari orang-orang yang masih hidup) mengingatku dengan melakukan kebaikan dan mendoakanku. Sedangkan mereka para penghuni kuburan lain memiliki anak-anak, kerabat- kerabat dan teman-teman bergaul yang    mengingat    dengan mendoakan mereka, berbuat kebaikan dan bersedekah untuk mereka di setiap malam Jumat.
Kebaikan-kebaikan dan pahala shodaqoh-shodaqoh itu sampai kepada mereka. (Ketika masih hidup. Pada saat itu,) aku hendak berhaji. Aku memiliki seorang ibu. Kita berdua menyengaja pergi haji bersama. Ketika aku memasuki kota (dimana kuburannya berada),    Allah    mencabut nyawaku. Lalu ibu menguburkan jasadku di tempat penguburan ini. Setelah kematianku, ia menikah dengan laki-laki lain hingga ia lupa denganku dan tidak mengingatku lagi dengan cara mendoakan dan bersedekah karenaku. Aku merasa putus asa dan bersedih hati setiap waktu.”

Kemudian Tsabit al-Banani bertanya, “Hai pemuda! Beritahu aku dimana ibumu tinggal. Aku akan memberitahunya tentangmu dan keadaanmu.”
Pemuda itu menjawab, “Wahai Imam muslimin! Ia berada di kampung ini dan desa ini. Beritahu ibuku tentangku dan keadaanku. Jika ia tidak mempercayaimu, maka katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya di saku bajumu ada 100 mistqol emas peninggalan suamimu yang merupakan bagian warisan untuk anakmu. Maka ia nantinya akan mempercayaimu!’”

Di hari kemudian, Tsabit al- Banani mendatangi kampung yang dimaksudkan dan mencari ibu pemuda itu. Tidak lama kemudian, ia menemukannya dan memberitahunya tentang keadaan anaknya dan tentang 100 mitsqol perak yang berada di saku bajunya. Kemudian si ibu pun jatuh pingsan. Ketika ia tersadar dari pingsannya, maka ia menyerahkan 100 mitsqol perak itu kepada Tsabit dan berkata: 
Aku wakilkan kamu untuk bersedekah dengan uang-uang dirham ini sebagai kiriman untuk anakku yang telah mati.”

Kemudian Tsabit al-Banani menerima 100 mitsqol itu dan mensedekahkannya  karena pemuda itu.

Pada malam Jumat berikutnya tiba, Tsabit al-Banani (seperti biasa) menziarahi saudara- saudaranya di kuburan itu. Saat berziarah, ia merasa ngantuk dan memimpikan sebuah mimpi yang sama seperti mimpi sebelumnya. Di dalam mimpinya itu, ia melihat mayit pemuda itu telah mengenakan pakaian yang bagus, wajah yang cerah senang dan hati yang bahagia. Kemudian pemuda itu berkata:
“Wahai Imam muslimin! Semoga Allah mengasihimu sebagaimana kamu telah mengasihiku.”
Dari cerita di atas, sudah jelas bahwa orang yang sudah mati akan merasa tersakiti karena perlakukan buruk orang yang masih hidup dan akan senang karena perlakukan baik dari orang yang masih hidup.

---

📖 Kitab

Hadits ke-15: Kegembiraan Orang Mati karena Amal Keluarga yang Hidup

🌿 Tauziah Tazkiyatul Nufus

“Jangan Putuskan Cahaya untuk Mereka yang Telah Pergi”

Bismillahirrahmanirrahim.

Kisah Tsabit al-Banani dalam Usfuriyah bukan sekadar cerita mimpi. Ia adalah cermin halus bagi hati kita. Bahwa alam kubur bukan alam yang terputus. Ia terhubung dengan amal kita.

Pemuda yang sedih itu bukan karena siksa fisik, tetapi karena terputusnya doa dan kebaikan dari dunia. Ia asing bukan karena tak punya keluarga, tetapi karena tidak lagi diingat dalam amal.

🕊 Dalil Al-Qur'an

Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berkata: Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…”
(QS. Al-Hasyr: 10)

Dan firman-Nya:

“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)

Namun dalam rahmat-Nya, Allah membuka pintu tambahan pahala melalui anak shalih dan doa orang hidup.

🌙 Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Dan dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

“Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

🌍 Relevansi di Era Teknologi

Saudaraku…

Hari ini kita hidup di zaman:

  • 📱 Komunikasi super cepat
  • 🚄 Transportasi mudah
  • 🏥 Kedokteran canggih
  • 💻 Informasi tanpa batas

Namun ironi terbesar:
Kita mudah mengirim uang online, tapi lupa mengirim doa.
Kita cepat update status, tapi jarang update amal untuk orang tua yang telah wafat.

Dalam tasawuf, ini disebut ghaflah modern — lalai karena sibuk.

Teknologi seharusnya menjadi wasilah pahala:

  • Transfer sedekah atas nama orang tua.
  • Bangun sumur, wakaf Qur'an, bantu santri.
  • Buat grup keluarga khusus doa bersama tiap malam Jumat.

Jangan sampai kita seperti ibu dalam kisah itu — bukan jahat, tapi lalai.

💎 Perspektif Tazkiyatul Nufus

Hati yang bersih (qalbun salim) adalah hati yang:

  1. Tidak melupakan asal-usulnya.
  2. Tidak melupakan orang tua.
  3. Tidak melupakan kematian.

Orang yang sering mendoakan mayit sejatinya sedang membersihkan jiwanya sendiri. Karena ia sadar:

“Hari ini aku mendoakan mereka, besok aku yang didoakan.”

Imam Hasan Al-Bashri berkata:

“Tidaklah seorang hamba mengingat kematian kecuali hatinya menjadi lembut.”

🪞 Muhasabah

  • Sudahkah kita kirim Al-Fatihah untuk ayah-ibu hari ini?
  • Sudahkah kita sedekah atas nama mereka bulan ini?
  • Kalau kita wafat besok, siapa yang akan rutin mendoakan kita?

Jangan hanya sibuk membangun rumah di dunia.
Bangun juga istana untuk diri kita di alam kubur.

🌱 Motivasi & Harapan

Kabar gembira:

Allah Maha Pengasih.
Satu doa tulus dari anak bisa menjadi cahaya luas di kubur orang tua.

Satu sedekah ikhlas bisa mengubah wajah mayit yang muram menjadi berseri.

Dan siapa yang berbuat baik kepada ahli kubur, Allah akan mengasihinya sebagaimana ia mengasihi mereka.


🤲 Doa

Ya Allah…
Ampuni dosa kedua orang tua kami.
Terangi kubur mereka dengan cahaya iman.
Lapangkan tempat peristirahatan mereka.
Jadikan setiap sedekah, doa, dan amal kami sebagai hadiah yang sampai kepada mereka.
Jangan Engkau jadikan kami anak yang lalai.
Dan saat kami wafat kelak, kirimkan kepada kami anak-anak dan generasi yang tak lupa mendoakan kami.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.


🌺 Penutup

Saudaraku…
Kematian bukan akhir hubungan.
Ia hanya perpindahan alam.

Mari hidupkan kembali budaya doa, sedekah, dan kiriman pahala.
Karena suatu hari, kita yang akan menunggu kiriman itu.

Terima kasih telah meluangkan waktu membaca tauziah ini.
Semoga Allah melembutkan hati kita dan menjadikannya wasilah hidayah. 🤲

.......
Bismillahirrahmanirrahmanirrahim.

HADITS KE-15: KEGEMBIRAAN ORANG MATI DAN KESEDIHANNYA KARENA AMAL KELUARGA

Kisah Tsabit al-Banani: Curhatan Mayit yang Terlupakan

Jadi ceritanya, ada seorang ulama sufi, Tsabit al-Banani. Setiap malam Jumat, beliau punya rutinitas ziarah kubur sambil bermunajat sampai subuh. Nah, pas lagi asyik munajat, tiba-tiba ngantuk dan mimpi. Di mimpi itu, ia lihat semua penghuni kubur pada keluar dengan baju terbaik, muka cerah, sumringah. Buat masing-masing dari mereka ada hidangan aneka warna yang menggoda.

Tapi, ada satu pemuda mayit yang tampil beda. Mukanya pucat, sedih, rambut awut-awutan, baju usang, kepala tunduk, netesin air mata. Dan yang bikin miris, nggak ada hidangan satupun buat dia. Sementara yang lain balik ke kubur dengan bahagia, pemuda ini balik dengan putus asa dan sedih.

Tsabit pun nanya, "Eh, bang, ada apa sih sama status lu di sini? Yang lain dapet hidangan enak, seneng, elu malah enggak dapet apa-apa, sedih banget?"

Jawab pemuda itu, "Wahai Imam muslimin, aku tuh orang asing di sini. Nggak ada satu pun dari keluargaku yang masih hidup yang inget aku, baik dengan doa atau amal baik. Kalau mereka yang lain, punya anak, kerabat, temen yang tiap malam Jumat selalu ngirim doa, sedekah, dan kebaikan. Semua pahala itu nyampe ke mereka. Dulu aku mau naik haji sama ibuku. Pas nyampe di kota ini, Allah mencabut nyawaku. Ibuku nguburin aku di sini. Terus dia nikah lagi, dan akhirnya lupa sama aku. Nggak pernah doain atau sedekah buat aku. Makanya tiap waktu aku sedih."

Tsabit lalu nanya, "Kalo gitu, kasih tau aku alamat ibumu. Biar aku kasih tau soal keadaanmu."

Pemuda itu kasih alamat, lalu bilang, "Tapi kalau ibu nggak percaya, bilang aja kalau di saku bajunya ada 100 mitsqol emas titipan suaminya yang jadi warisan buat aku. Nanti dia bakal percaya."

Besoknya, Tsabit dateng ke kampung itu, cari ibunya, dan ngasih tau semuanya. Pas denger cerita itu, ibunya pingsan. Pas sadar, dia ngaku dan ngasih 100 mitsqol itu ke Tsabit. "Aku titip buat sedekah atas nama anakku, ya."

Tsabit pun sedekahin uang itu buat pemuda tadi.

Pas malam Jumat berikutnya, Tsabit mimpi lagi. Kali ini si pemuda udah rapi, baju bagus, wajah cerah, hati bahagia. Ia bilang, "Wahai Imam muslimin, semoga Allah ngasih kebaikan ke njenengan, sebagaimana njenengan udah baik sama aku."

Ngobrolin Dalilnya (Santuy Version)

Jadi intinya, orang yang udah mati tuh ternyata masih bisa ngerasain dampak dari amalnya kita yang masih hidup. Seneng atau sedih mereka, salah satunya tergantung kita.

Allah SWT udah bilang di Al-Qur'an:

"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berkata: Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…"
(QS. Al-Hasyr: 10)

Terus juga:

"Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."
(QS. An-Najm: 39)

Tapi, Allah Maha Baik. Lewat hadis, Nabi Muhammad ﷺ kasih kabar gembira:

"Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya."
(HR. Muslim)

Dan Allah juga berfirman dalam hadis qudsi:

"Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Nasihat Santuy Buat Zaman Now

Bro, kita hidup di zaman yang serba canggih. Komunikasi cepet, transfer gampang, informasi nggak ada batas. Tapi kadang ironis: kita sibuk transfer uang, tapi lupa transfer doa. Kita rajin update status, tapi lupa update amal jariyah buat orang tua yang udah duluan.

Jangan sampai kita kayak ibu dalam cerita ini. Bukan jahat, tapi lalai. Sibuk sama kehidupan baru, sampai lupa sama yang udah pergi.

Ini penting banget buat dibiasain:

· Transfer sedekah atas nama orang tua.
· Bangun sumur, wakaf Qur'an, bantu orang lain, lalu hadiahkan buat mereka.
· Bikin grup keluarga khusus buat kirim doa bareng-bareng, misal tiap malem Jumat.

Renungan Singkat

Orang yang bersih hatinya itu, dia nggak bakal lupa sama asal-usulnya, sama orang tuanya, dan inget sama kematian. Rajin mendoakan yang udah pergi itu sebenernya lagi bersihin jiwa sendiri. Karena kita sadar, "Hari ini aku doain mereka, besok aku yang didoain."

Imam Hasan Al-Bashri bilang, "Nggak ada seorang hamba yang inget mati, kecuali hatinya jadi lembut."

Cek Diri Sendiri, Yuk!

· Udah baca Al-Fatihat buat bokap nyokap hari ini?
· Udah sedekah atas nama mereka bulan ini?
· Coba bayangin, kalo kita besok dipanggil, siapa yang bakal rakit mendoakan kita?

Jangan cuma sibuk bangun rumah di dunia. Bangun juga, lewat doa dan amal, istana buat diri kita di alam kubur sana.

Doa Penutup

Ya Allah…
Ampuni dosa kedua orang tua kami.
Terangi kubur mereka sama cahaya iman.
Lapangkan tempat peristirahatan mereka.
Jadikan setiap sedekah, doa, dan amal kami sebagai hadiah yang nyampe ke mereka.
Jangan jadikan kami anak yang lalai.
Dan pas kami wafat nanti, kirimkan buat kami anak-anak shalih yang nggak lupa mendoakan.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Saudaraku, kematian bukan akhir dari segalanya. Cuma pindah alam. Jadi, yuk kita hidupin lagi budaya kirim doa, sedekah, dan pahala buat mereka yang udah duluan. Karena suatu saat, kita juga bakal nunggu kiriman itu.

Semoga hati kita dilembutkan, ya. Aamiin.
.......

969. Berbuat Baik, Bahkan kepada As-Suflah.



Dalam Kitab Bayanul Mushoffa fi Wasiyatul Musthofa (Syekh Abdul Wahab asy-Sya'roni ).

Bab : Berbuat Baik kepada Setiap Orang

Hai, Ali, berbuat baiklah, meskipun kepada As-Suflah. Ali bertanya: Apa As-Suflah itu, ya, Rasulullah? Beliau menjawab, yaitu: Orang yang jika dinasihati, tidak mau menerimanya, jika dihalau, tidak mau pergi dan tidak peduli dengan apa saja yang dikatakan orang kepadanya.

.....

📖

Karya


🌿 Berbuat Baik, Bahkan kepada As-Suflah

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Sayyidina Ali:

“Wahai Ali, berbuat baiklah, meskipun kepada As-Suflah.”
Ketika Ali bertanya, siapa As-Suflah itu?
Beliau menjawab:
“Orang yang jika dinasihati tidak mau menerima, jika dihalau tidak mau pergi, dan tidak peduli dengan apa pun yang dikatakan kepadanya.”


🌊 1. Perspektif Tasawuf: Mengobati Hati, Bukan Menghukum Orang

Dalam kacamata tazkiyatul nufus, perintah ini bukan tentang mereka — tapi tentang kita.

As-Suflah adalah simbol manusia yang:

  • keras kepala,
  • sulit dinasihati,
  • merasa benar sendiri,
  • bahkan menyakiti orang yang ingin menolongnya.

Di zaman sekarang, siapa mereka?

📱 Di media sosial:
Orang yang menyerang, mencaci, menyebar hoaks, merasa paling benar.

🚗 Di jalan raya:
Orang yang arogan, tidak sabar, memotong jalan tanpa peduli keselamatan.

🏥 Dalam dunia kedokteran modern:
Orang yang menolak kebenaran medis karena ego atau teori konspirasi.

📡 Dalam kecanggihan teknologi komunikasi:
Orang yang menggunakan teknologi untuk menyakiti, bukan memperbaiki.

Namun Rasulullah ﷺ tidak berkata: “Jauhi mereka.”
Beliau berkata: “Berbuat baiklah kepada mereka.”

Karena tasawuf mendidik hati agar:

  • Tidak membalas keburukan dengan keburukan.
  • Tidak mengotori jiwa dengan dendam.
  • Tidak membiarkan ego mengalahkan rahmat.

📖 Dalil Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman:

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik…”
(QS. Fussilat: 34)

“Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Inilah maqam ihsan: tetap baik meski disakiti.


🌿 Hadis Qudsi

Allah berfirman dalam hadis qudsi:

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan ia haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”
(HR. Muslim)

Jika orang lain menzalimi kita dengan lisannya,
kita jangan menzalimi hati kita dengan kebencian.


🌙 Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Di era komentar digital dan debat online,
menahan diri adalah jihad yang besar.


🧠 Relevansi di Era Teknologi Modern

Teknologi berkembang pesat:

  • Komunikasi semakin cepat.
  • Transportasi semakin mudah.
  • Kedokteran semakin canggih.
  • Informasi tersebar dalam hitungan detik.

Namun…

Hati manusia sering tertinggal.

Kita bisa mengirim pesan dalam 1 detik,
tapi butuh bertahun-tahun untuk memaafkan.

Kita bisa operasi jantung,
tapi sulit mengoperasi kesombongan diri.

Tasawuf mengajarkan:

Yang paling berbahaya bukan virus di udara,
tapi penyakit hati dalam dada.


🔍 Muhasabah Diri

  • Apakah kita masih mudah marah di kolom komentar?
  • Apakah kita ingin selalu menang dalam debat?
  • Apakah kita merasa lebih suci dari orang lain?
  • Apakah kita berhenti berbuat baik karena orang lain tidak berubah?

Jika iya… mungkin justru kita sedang diuji.

Karena berbuat baik kepada orang baik itu mudah.
Berbuat baik kepada As-Suflah — itu latihan menuju maqam ihsan.


🌅 Motivasi & Harapan

Jika kita tetap baik meski disakiti:

🌿 Hati menjadi lapang.
🌿 Jiwa menjadi tenang.
🌿 Allah menjadi pembela kita.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Mungkin orang itu tidak berubah…
tapi kita yang berubah menjadi lebih dekat kepada Allah.


🤲 Doa

Ya Allah…
Bersihkan hati kami dari dendam dan kesombongan.
Jadikan kami hamba yang lembut meski disakiti,
yang sabar meski direndahkan,
yang tetap berbuat baik meski dibalas keburukan.

Ya Allah…
Jika kami menghadapi orang yang keras hatinya,
lembutkan hati kami lebih dahulu.
Jika kami diuji dengan penghinaan,
jadikan itu jalan penghapus dosa kami.

Tanamkan dalam jiwa kami sifat ihsan,
sebagaimana Engkau mencintai orang-orang yang berbuat baik.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.


🌸 Penutup

Berbuat baik kepada orang baik adalah kebiasaan.
Berbuat baik kepada orang yang menyakiti adalah kemuliaan.

Semoga kita termasuk orang yang hatinya dibersihkan oleh Allah,
bukan hanya lisannya yang fasih berdakwah.

Terima kasih telah menyimak tauziah ini.
Semoga Allah memberkahi ilmu dan amal kita. 🌿

.......

Tentu, berikut adalah versi bahasa gaul kekinian yang santun dan santai sesuai permintaan:


Teman, Yuk Tetap Baik Sama "Si Sulit" (As-Suflah)


Konon, Rasulullah ﷺ pernah bilang gini ke Sayyidina Ali:

"Wahai Ali, berbuat baiklah, meskipun sama As-Suflah."


Nah, Ali pun nanya, "As-Suflah itu siapa, ya?"

Dijawablah sama Nabi:

"Yaitu orang yang kalau dinasihatin ogah nerima, kalau diminta pergi susah, dan udah nggak peduli lagi sama apa pun yang diomongin ke dia."


1. Kacamata Spritual: Ini Urusan Hati Kita, Bukan Ngatur Mereka


Kalau dilihat dari sisi pembersihan jiwa, perintah ini tujuannya ke kita, bukan ke mereka.


Si As-Suflah ini kayak simbol manusia yang:


· Keras kepala.

· Susah dibilangin.

· Ngerasa paling bener sendiri.

· Malah nyakitin orang yang mau nolong.


Di zaman now, kira-kira siapa aja, ya?


📱 Di Sosmed:

Si "warganet" yang suka nyerang, ngecak, nyebar hoaks, dan ngerasa paling bener sendiri.


🚗 Di Jalanan:

Pengendara yang arogan, nggak sabaran, suka motong jalur tanpa mikir safety orang lain.


🏥 Di Dunia Kesehatan:

Orang yang nolak kebenaran medis cuma karena ego atau percaya teori konspirasi.


📡 Di Era Teknologi Canggih:

Orang yang make teknologi buat nyakitin, bukan buat memperbaiki keadaan.


Tapi, Rasulullah ﷺ nggak bilang, "Jauhin aja mereka." Beliau malah bilang: "Berbuat baiklah sama mereka."


Kenapa? Soalnya, lewat jalan hati (tasawuf) kita dididik buat:


· Nggak membalas jelek dengan jelek.

· Nggak mau kotori hati sendiri sama dendam.

· Nggak mau ego kita ngalahin sifat welas asih.


📖 Dalil dari Al-Qur'an


Allah Ta'ala berfirman (artinya):

"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik…"

(QS. Fussilat: 34)


"Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."

(QS. Al-Ma'idah: 8)


Nah, ini namanya mencapai level ihsan: tetap baik walau lagi disakiti.


🌿 Hadis Qudsi


Allah berfirman dalam hadis qudsi (artinya):

"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan ia haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi."

(HR. Muslim)


Jadi intinya, kalau orang lain zalim sama kita lewat ucapannya, kita jangan zalim sama hati kita sendiri dengan cara menyimpan kebencian.


🌙 Hadis Nabi ﷺ


Rasulullah ﷺ bersabda (artinya):

"Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah."

(HR. Bukhari dan Muslim)


Di zaman yang serba digital dan penuh debat online ini, bisa nahan diri tuh perjuangan banget.


🧠 Plesir di Era Teknologi Canggih


Teknologi makin maju:


· Komunikasi makin cepet.

· Transportasi makin gampang.

· Dunia kedokteran makin canggih.

· Informasi nyebar cuma hitungan detik.


Tapi...

Hati manusia kadang suka keteteran.

Kita bisa kirim pesan dalam 1 detik, tapi butuh tahunan buat memaafkan.

Kita bisa operasi jantung, tapi susah payah buat "ngoperasi" kesombongan diri sendiri.


Ilmu hati (tasawuf) ngajarin kita:

Yang paling bahaya tuh bukan cuma virus di udara, tapi penyakit hati di dalam dada.


🔍 Saatnya Nanya ke Diri Sendiri


· Apa aku masih gampang marah di kolom komentar?

· Apa aku maunya menang terus di setiap debat?

· Apa aku ngerasa lebih suci dari orang lain?

· Apa aku berhenti berbuat baik cuma karena orang lain nggak berubah?


Kalau jawabannya "iya", mungkin… kita lagi diuji.


Karena berbuat baik ke orang baik itu biasa.

Tapi berbuat baik ke "Si Sulit" (As-Suflah) — itu baru latihan buat naik level ke derajat ihsan.


🌅 Motivasi & Harapan


Kalau kita tetap baik meski disakiti:

🌿 Hati jadi lebih lapang.

🌿 Jiwa jadi lebih tenang.

🌿 Allah yang bakal jadi pembela kita.


Allah berfirman (artinya):

"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."

(QS. Al-Baqarah: 153)


Mungkin orang itu nggak bakal berubah…

tapi yang penting, kita yang berubah jadi lebih dekat sama Allah.


🤲 Doa dari Hati


Ya Allah…

Bersihin hati aku dari dendam dan kesombongan.

Jadikan aku hamba yang lembut meski disakiti,

yang sabar meski direndahkan,

yang tetap berbuat baik meski dibales keburukan.


Ya Allah…

Kalau aku harus berhadapan sama orang yang keras hatinya,

lembutin hati aku duluan, ya.

Kalau aku diuji sama hinaan,

jadikan itu jalan buat hapus dosa-dosa aku.


Tanamkan dalam jiwa aku sifat ihsan,

sebagaimana Engkau mencintai orang-orang yang berbuat baik.


Aamiin ya Rabbal 'Alamin.


🌸 Penutup


Berbuat baik ke orang baik itu udah jadi kebiasaan.

Tapi berbuat baik ke orang yang nyakitin itu adalah kemuliaan.


Semoga kita termasuk orang yang hatinya dibersihkan sama Allah,

bukan cuma yang jago ngomong doang.


Makasih udah nyempetin baca tauziah santai ini.

Semoga Allah berkahi ilmu dan amal kita semua. 🌿


Gimana, lebih santai tapi tetep berisi, kan? 😉

.......

968. Empat Perkara yang Ditulis



Kupas tipis tipis kitab Hadits Arbain Nawawi (Karya Yahya bin Syaraf An-Nawawi atau Imam Nawawi ).

Hadits ke-4 Takdir Manusia Telah DiItetapkan.

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kami dan beliau seorang yang jujur lagi diakui kejujurannya, “Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berupa sperma, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian diutus seorang malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan empat kalimat: menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amal penghuni surga hingga jarak antaranya dan surga hanya sejengkal, lalu takdir mendahuluinya, lalu dia beramal dengan amal penduduk neraka lalu ia pun memasukinya. Dan seseungguhnya seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amal penduduk neraka hingga jarak antaranya dengan neraka hanya sejengkal, lalu takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amal penduduk surga, maka ia pun memasukinya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 3208), Shahih Muslim (no. 2643].

......

📖 Hadits Arbain Nawawi ke-4 – Takdir Manusia Telah Ditetapkan

Karya: (Imam Nawawi)


🌱 Kupasan Tipis: “Empat Perkara yang Ditulis”

Hadits ini diriwayatkan oleh dan tercantum dalam Shahih dan .

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ketika manusia masih dalam kandungan, malaikat diperintahkan menulis:

  1. Rezekinya
  2. Ajalnya
  3. Amal perbuatannya
  4. Bahagia atau celaka

Dan di akhir hadits, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa seseorang bisa tampak seperti ahli surga atau neraka—namun penutup hiduplah yang menentukan.


🌿 Perspektif Tasyawuf / Tazkiyatul Nufus

Dalam dunia tasawuf, hadits ini bukan untuk membuat kita pasrah tanpa usaha, tetapi untuk:

  • Membersihkan hati dari ujub (bangga diri)
  • Menghapus putus asa
  • Melatih khauf (takut) dan raja’ (harap)
  • Menjaga husnul khatimah

1️⃣ Takdir Bukan Alasan Bermalas-malasan

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir.”
(QS. Al-Qamar: 49)

Namun Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Tasawuf mengajarkan:
📌 Takdir adalah rahasia Allah.
📌 Amal adalah kewajiban kita.

Imam-imam sufi menekankan: yang wajib kita urus adalah hati dan amal hari ini, bukan isi Lauhul Mahfuzh.


🌍 Relevansi di Era Teknologi Modern

Hari ini kita hidup dalam:

  • 📱 Komunikasi super cepat
  • 🚄 Transportasi instan
  • 🏥 Kedokteran canggih
  • 🤖 Teknologi AI dan digitalisasi

Namun justru di zaman ini, penyakit hati makin halus:

  • Riya digital (pamer ibadah di media sosial)
  • Hasad karena melihat kehidupan orang lain
  • Putus asa karena membandingkan rezeki

Hadits ini menjadi alarm spiritual:

💭 Jangan tertipu oleh “tampilan amal”.
💭 Jangan merasa aman dengan ibadah yang sudah lalu.
💭 Jangan putus asa dari rahmat Allah.


🔥 Tentang Penutup Hidup (Husnul & Su’ul Khatimah)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.”
(HR. Bukhari)

Dalam hadis qudsi Allah berfirman:

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku balas dengan sempurna.”
(HR. Muslim)

Para ahli tasawuf menangis bukan karena takut miskin, tetapi takut mati dalam keadaan hati kotor.


🧠 Muhasabah di Zaman Sekarang

Tanya pada diri kita:

  • Apakah ibadah kita untuk Allah atau untuk algoritma?
  • Apakah dakwah kita untuk hidayah atau popularitas?
  • Apakah sedekah kita untuk akhirat atau pencitraan?

Teknologi tidak salah.
Yang berbahaya adalah hati yang tidak dibersihkan.


🌸 Harapan Besar

Hadits ini juga membawa kabar gembira:

Seseorang yang tampak penuh dosa bisa berubah dan mati dalam keadaan baik.

Allah berfirman:

“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Dalam tasawuf, inilah pintu taubat yang tidak pernah tertutup sampai ruh di tenggorokan.


💎 Pesan Dakwah

  1. Jangan sombong dengan amal.
  2. Jangan putus asa dari rahmat Allah.
  3. Perbaiki hati setiap hari.
  4. Jaga niat dalam setiap aktivitas, termasuk bisnis, teknologi, dan pelayanan sosial.

Bahkan usaha sedekah air minum, mendidik anak-anak berdzikir, atau memberi manfaat sosial—semuanya bernilai jika hati bersih.


🤲 Doa

Ya Allah…
Engkau yang menulis takdir kami sebelum kami lahir…
Tuliskanlah kami sebagai hamba yang Engkau cintai.
Jadikan akhir hidup kami husnul khatimah.
Jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.
Bersihkan hati kami dari riya, ujub, hasad, dan cinta dunia berlebihan.
Jadikan teknologi, ilmu, dan usaha kami sebagai jalan menuju ridha-Mu.
Ampuni dosa kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


Terima kasih atas amanah ilmu yang Anda minta untuk dikupas.
Semoga Allah memberkahi langkah dakwah dan amal sosial yang sedang Anda bangun 🤲

..........

Ngobrolin Kitab Hadits Arbain Nawawi (Karya Imam Nawawi)


Hadits ke-4: Takdir Manusia Udah Ditetapkan Dari Sononya


---


Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kami dan beliau seorang yang jujur lagi diakui kejujurannya, "Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berupa sperma, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian diutus seorang malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan empat kalimat: menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amal penghuni surga hingga jarak antaranya dan surga hanya sejengkal, lalu takdir mendahuluinya, lalu dia beramal dengan amal penduduk neraka lalu ia pun memasukinya. Dan seseungguhnya seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amal penduduk neraka hingga jarak antaranya dengan neraka hanya sejengkal, lalu takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amal penduduk surga, maka ia pun memasukinya." (HR. Bukhari dan Muslim)


---


🌱 Inti Sari: "4 Hal yang Ditulis Malaikat"


Jadi gini, Rasulullah ﷺ jelasin bahwa pas kita masih di dalem perut ibu, malaikat udah diperintah nulis:


1. Rezekinya - jatah hidup, duit, makanan

2. Ajalnya - kapan waktunya balik

3. Amalnya - apa aja yang bakal diperbuat

4. Nasibnya - bakal bahagia atau celaka


Terus di akhir hadits, ada warning keras: bisa jadi orang keliatan banget kayak ahli surga, udah deket banget pintunya, eh ternyata ujung-ujungnya masuk neraka. Atau sebaliknya, keliatan bejad banget kayak ahli neraka, eh pas tutup usia dapat hidayah terus masuk surga.


Ngeri kan? Makanya kita gak boleh jemawa.


---


🌿 Perspektif Tazkiyatun Nufus (Buat Yang Lagi Belajar Bersihin Hati)


Di dunia tasawuf, hadits ini tuh bukan buat bikin kita males-malesan dengan alasan "ah udah takdir", tapi lebih ke:


1. Pupus rasa sombong (ujud)

Jangan bangga diri. Lo sholat rajin? Puasa? Sedekah? Ya alhamdulillah, tapi inget, itu semua karunia Allah. Bisa aja besok lo berubah. Yang bisa jaga iman sampai akhir cuma Allah.


2. Hilangin putus asa

Pernah merasa diri ini bejat banget? Pernah ngerasa dosa numpuk kayak gunung? Tenang. Hadits ini bilang: orang yang keliatan bakal masuk neraka aja bisa berubah di detik-detik akhir. Jangan berenti minta ampun.


3. Latih rasa takut (khauf) dan harap (raja')

Takut kalau amal kita gak diterima. Tapi juga gak boleh putus asa dari rahmat Allah. Seimbang.


4. Jaga penutup hidup (husnul khatimah)

Ini yang paling penting. Mati dalam keadaan husnul khotimah. Mati sambil baca syahadat. Mati dalam keadaan hati bersih. Bukan mati pas lagi maksiat.


---


📱 Relevansi di Zaman Teknologi


Nah, di era sekarang ini hidup kita udah beda banget:


· Komunikasi cepet — chat, video call, medsos

· Transportasi cepet — naik pesawat, kereta cepat

· Kesehatan makin maju — rumah sakit canggih, obat-obatan

· Teknologi makin pintar — AI, ChatGPT, robot


Tapi justru di zaman yang serba instan ini, penyakit hati makin halus dan gak kerasa:


Riya digital — pamer ibadah di story Instagram. Sholat selfie, ngaji di TikTok, sedekah diupload biar dapat pujian. Allahu akbar...


Hasad — iri liat kehidupan orang di medsos. Kok dia kayaknya bahagia banget? Kok rezekinya lancar? Kok jodohnya cakep? Padahal kita cuma liat cuplikan 5 detik yang udah diedit pake filter.


Putus asa — stres karena ngebandingin hidup sama orang lain. Rezeki kok segitu-gitu aja? Temen beli rumah, aku masih ngontrak. Temen nikah, aku masih jomblo.


Hadits ini jadi alarm buat kita:


Jangan tertipu sama penampilan amal.

Jangan ngerasa aman cuma karena ibadah yang udah lewat.

Jangan berhenti berharap sama Allah.


---


🔥 Ngomongin Penutup Hidup (Husnul Khotimah)


Rasulullah ﷺ bilang:


"Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya." (HR. Bukhari)


Nah, yang bikin para sufi nangis itu bukan takut miskin atau takut sakit. Tapi takut mati dalam keadaan hati kotor.


Mati dalam keadaan lagi hasad.

Mati dalam keadaan lagi riya.

Mati pas lagi maksiat.

Mati pas lagi lupa sama Allah.


Na'udzubillah...


---


🧠 Muhasabah Versi Anak Zaman Now


Coba tanya ke diri sendiri:


· Apakah ibadah aku selama ini karena Allah, atau karena pengen diliat orang?

    Jangan-jangan aku sholat malem tapi di-post story biar dibilang alim.

· Apakah dakwah aku karena hidayah, atau karena pengen populer?

    Ngaji online, konten religi, tapi hati masih suka riya.

· Apakah sedekah aku karena Allah, atau karena pengen dipuji dermawan?

    Kasih sembako, tapi kamera harus nyala. Kalau gak direkam, gak berasa?


Teknologi itu gak salah.

Yang salah itu hati yang gak dibersihin.


Instagram, TikTok, YouTube — semua bisa jadi ladang pahala kalau niatnya bener. Tapi bisa juga jadi ladang dosa kalau niatnya cuma cari like dan follower.


---


🌸 Kabar Gembira Buat Yang Lagi Terpuruk


Hadits ini juga kasih harapan:


Orang yang keliatan bejat banget, bisa berubah dan mati dalam keadaan baik.


Allah berfirman:


"Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az-Zumar: 53)


Di dunia tasawuf, ini disebut pintu taubat yang gak pernah ditutup.


Selama ruh belum sampai tenggorokan, selama nyawa masih di badan, selama jantung masih berdetak — pintu taubat masih kebuka lebar.


Gak ada kata terlambat buat balik ke Allah.


---


💡 Pesan Buat Kehidupan Sehari-hari


· Jangan sombong sama amal. Sholat 5 waktu jangan dibanggain. Itu kewajiban, bukan hadiah.

· Jangan putus asa dari rahmat Allah. Dosa segede gunung? Taubat. Ulang lagi? Taubat lagi. Allah Maha Pengampun.

· Perbaiki hati setiap hari. Cek niat. Bersihin dari riya, ujub, hasad.

· Jaga niat di setiap aktivitas. Mau kerja, mau bisnis, mau bantu orang tua, mau bikin konten — semua bisa jadi ibadah kalau niatnya karena Allah.

· Manfaatkan teknologi buat kebaikan. Bikin konten dakwah, sedekah online, ngaji virtual. Tapi jangan lupa cek niat.


Bahkan hal kecil kayak:


· Nyediain air minum di masjid

· Ngajarin anak ngaji

· Bantu tetangga yang susah

· Share link kajian di grup WA


Semua itu bernilai kalau hati bersih.


---


🤲 Doa Penutup


Ya Allah...

Engkau yang udah nulis takdir kami sebelum kami lahir ke dunia.

Tuliskanlah kami sebagai hamba yang Engkau cintai.

Jadikan akhir hidup kami husnul khotimah.

Jangan palingkan hati kami setelah Engkau kasih petunjuk.

Bersihkan hati kami dari riya, ujub, hasad, dan cinta dunia yang keterlaluan.

Jadikan teknologi, ilmu, dan usaha kami sebagai jalan menuju ridha-Mu.

Ampuni dosa kami, dosa orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.


---


Njenengan baik banget udah minta dikupas hadits ini. Semoga Allah berkahi langkah dakwah dan amal sosial yang sedang njenengan bangun. Aamiin.


Tetap jaga hati, jaga niat, jangan lupa sedekah! 😊🙏

......

967. Jejak Amal di Dunia, Getarannya di Alam Kubur.

 


kupas tipis tipis kitab Usfuriyah karya Muhammad bin Abu Bakar bin Usfuri,

Hadis Kelima Belas (15): Mengasihi Mayit.

Hadiah Pahala Amal Untuk Mayit.

Diriwayatkan dari Sufyan, dari orang yang mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Sesungguhnya amal- amal orang yang hidup akan diperlihatkan kepada teman- teman bergaul dan bapak-bapak mereka yang sudah mati. Apabila amal yang diperlihatkan adalah baik maka mereka akan memuji Allah dan mereka akan senang. Apabila amal yang diperlihatkan adalah buruk maka mereka yang telah mati berkata; Ya Allah! Jangan Engkau cabut nyawa mereka (yang beramal) hingga Engkau memberi mereka hidayah terlebih dahulu!

Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata, ‘Mayit akan menerima rasa sakit di kuburannya sebagaimana ia menerima rasa sakit ketika masih hidup.’

Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama ditanya, ‘Apa yang bisa menyakiti mayit itu?’

Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wa sallama menjawab, 'Sesungguhnya mayit tidaklah melakukan suatu dosa, tidak saling berselisih, tidak melawani siapapun, dan juga tidak menyakiti tetangga. Hanya saja sesungguhnya kamu ketika berselisih dengan orang lain maka barang tentu ia akan berbicara kotor tentangmu dan kedua orang tuamu. Kemudian kedua orang tuamu itu disakiti ketika dicelakai. Begitu juga mereka berdua akan senang ketika diperlakukan baik sesuai dengan hak mereka.’

......

📖 Jejak Amal di Dunia, Getarannya di Alam Kubur

Karya:


🌿 Kupasan Tipis-Tipis: Mengasihi Mayit & Hadiah Pahala

Hadis ini mengajarkan bahwa amal orang hidup diperlihatkan kepada orang-orang yang telah wafat, khususnya orang tua dan sahabat dekat. Bila amal itu baik, mereka bahagia dan memuji Allah. Bila buruk, mereka berdoa agar kita diberi hidayah.

Ini bukan sekadar informasi ghaib, tetapi sentuhan lembut bagi hati yang lalai.

💔 Pesan Halusnya:

  • Hubungan kita dengan orang tua tidak terputus oleh kematian.
  • Perilaku sosial kita bisa membahagiakan atau menyakiti mereka di alam kubur.
  • Lisan kita hari ini bisa menjadi sebab sakitnya orang tua yang telah wafat.

🌙 Tauziah Tazkiyatul Nufus

“Jejak Digital, Jejak Akhirat”

Saudaraku...

Di zaman teknologi ini, satu jari bisa menulis ribuan kata.
Satu klik bisa menyebarkan fitnah ke seluruh dunia.
Satu status bisa membuka aib orang tua kita sendiri.

Allah berfirman:

“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”
(QS. At-Taubah: 105)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa amal manusia tidak tersembunyi dari Allah. Bahkan dalam hadis Usfuriyah ini disebutkan bahwa amal itu diperlihatkan kepada orang yang telah wafat.

Di era media sosial:

  • Perselisihan kecil jadi besar.
  • Perbedaan pendapat jadi hujatan.
  • Komentar menjadi senjata.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Dan dalam Hadis Qudsi Allah berfirman:

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku balas dengan sempurna…”
(HR. Muslim)


🧠 Muhasabah di Era Modern

Hari ini:

  • Teknologi makin canggih.
  • Transportasi makin cepat.
  • Kedokteran makin maju.
  • Komunikasi tanpa batas.

Tetapi…
Apakah hati kita juga makin lembut?

Kita bisa video call ke luar negeri,
tapi jarang mendoakan orang tua yang sudah mati.

Kita bisa kirim transfer dalam hitungan detik,
tapi pelit kirim Al-Fatihah untuk kubur ayah dan ibu.


🌸 Perspektif Tasyawuf

Dalam ilmu tazkiyatul nufus, inti agama adalah membersihkan hati.

Penyakit hati hari ini:

  • Ujub karena followers.
  • Riya karena konten dakwah.
  • Hasad karena kesuksesan orang lain.
  • Ghibah dalam bentuk komentar.

Mayit tidak bisa lagi beramal.
Tetapi mereka masih bisa merasakan dampak amal kita.

Jika kita menghina orang lain,
nama orang tua kita ikut disebut.
Jika kita mencaci, mereka ikut terseret.

Maka menjaga lisan adalah bentuk kasih sayang kepada mayit.


🤲 Motivasi & Harapan

Bayangkan…

Di alam kubur, orang tua kita tersenyum karena:

  • Kita menjaga akhlak.
  • Kita menjaga nama baik keluarga.
  • Kita rajin bersedekah atas nama mereka.
  • Kita tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Jadilah anak shalih itu.
Jadilah amal yang membuat kubur mereka bercahaya.


🕊 Nasehat Penutup

Di zaman digital ini:

  • Hati harus lebih dijaga daripada password.
  • Lisan harus lebih diamankan daripada akun.
  • Amal harus lebih diperhatikan daripada citra.

Karena semua akan diperlihatkan.

Dan suatu hari…
Kita juga akan menjadi mayit.


🤲 Doa

Ya Allah…
Ampuni dosa kedua orang tua kami.
Lapangkan kubur mereka.
Jadikan amal baik kami sebagai cahaya bagi mereka.
Jangan Engkau tampakkan kepada mereka keburukan amal kami.
Berilah kami lisan yang lembut, hati yang bersih, dan akhlak yang Engkau ridai.
Hidayahi kami sebelum Engkau cabut nyawa kami.
Husnul khatimah ya Rabbal ‘Alamin.

Aamiin Allahumma Aamiin.


🌿 Terima Kasih

Terima kasih atas kesempatan mengkaji hikmah dari Al-Usfuriyah.
Semoga menjadi pengingat bagi saya pribadi dan kita semua.

Semoga Allah membersihkan hati kita, menjaga lisan kita, dan membahagiakan orang tua kita di alam kubur. 🤲

.....

Jejak Amal di Dunia, Getarannya di Alam Kubur


Versi Gaul Kekinian (Sopan Santun)


---


🌿 Ngobrol Santai: Sayang-sayang ke yang Udah Meninggal & Kirim Pahala


Jadi gini, ada hadis yang bilang kalau amal kita yang masih hidup itu diperlihatkan sama orang yang udah wafat, terutama orang tua dan sahabat dekat. Kalau amalnya baik, mereka seneng banget dan memuji Allah. Kalau amalnya buruk, mereka malah doain kita biar dapet hidayah.


Ini bukan sekadar info ghaib lho, tapi bener-bener sentuhan lembut buat hati yang suka lalai.


💔 Inti Pesannya:


Hubungan kita sama orang tua itu nggak putus meskipun mereka udah meninggal.


Tingkah laku kita di dunia bisa bikin mereka bahagia atau malah sakit hati di alam kubur.


Omongan kita hari ini bisa jadi penyebab orang tua kita yang udah wafat ikut merasakan sakit.


🌙 Tauziah Penyucian Jiwa


“Jejak Digital, Jejak Akhirat”


Sobat...


Di zaman teknologi sekarang, satu jari bisa ngetik ribuan kata.

Satu klik bisa nyebarin fitnah ke seluruh dunia.

Satu status bisa ngebuka aib orang tua kita sendiri.


Allah berfirman:


“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”

(QS. At-Taubah: 105)


Para ulama tafsir ngejelasin bahwa amal manusia itu nggak ada yang tersembunyi dari Allah. Bahkan dalam hadis Usfuriyah disebutkan amal kita diperlihatkan juga sama yang udah wafat.


Nah, di era media sosial:


Perselisihan kecil jadi gede.


Perbedaan pendapat jadi saling hujat.


Komentar jadi senjata.


Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:


“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. Bukhari & Muslim)


Dan dalam Hadis Qudsi Allah berfirman:


“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku balas dengan sempurna…”

(HR. Muslim)


🧠 Renungan di Zaman Now


Hari ini:


Teknologi makin canggih.


Transportasi makin cepat.


Kedokteran makin maju.


Komunikasi tanpa batas.


Tapi…

Apa hati kita juga makin lembut?


Kita bisa video call ke luar negeri,

tapi jarang mendoain orang tua yang udah mati.


Kita bisa transfer uang dalam hitungan detik,

tapi pelit kirimin Al-Fatihah buat kubur ayah dan ibu.


🌸 Sudut Pandang Tasawuf


Dalam ilmu penyucian jiwa, inti agama itu ya bersihin hati.


Penyakit hati yang sering muncul sekarang:


Ujub karena banyak followers.


Riya karena konten dakwah.


Hasad lihat kesuksesan orang lain.


Ghibah dalam bentuk komentar.


Orang yang udah meninggal nggak bisa lagi beramal.

Tapi mereka masih bisa ngerasain dampak dari amal kita.


Kalau kita ngehina orang lain,

nama orang tua kita ikut disebut.

Kalau kita nyaci, mereka ikut terseret.


Makanya jaga omongan itu bentuk sayang kita ke mereka yang udah wafat.


🤲 Motivasi & Harapan


Coba bayangin…


Di alam kubur, orang tua kita tersenyum karena:


Kita jaga akhlak.


Kita jaga nama baik keluarga.


Kita rajin bersedekah atas nama mereka.


Kita nggak balas keburukan dengan keburukan.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)


Jadilah anak shalih itu.

Jadilah amal yang bikin kubur mereka bercahaya.


🕊 Pesan Penutup


Di zaman digital ini:


Hati harus lebih dijaga daripada password.


Lisan harus lebih diamankan daripada akun.


Amal harus lebih diperhatikan daripada citra.


Karena semua bakal diperlihatkan.


Dan suatu hari…

Kita juga bakal jadi mayit.


🤲 Doa


Ya Allah…

Ampuni dosa kedua orang tua kami.

Lapangkan kubur mereka.

Jadikan amal baik kami sebagai cahaya bagi mereka.

Jangan Engkau tampakkan kepada mereka keburukan amal kami.

Berilah kami lisan yang lembut, hati yang bersih, dan akhlak yang Engkau ridai.

Hidayahi kami sebelum Engkau cabut nyawa kami.

Husnul khatimah ya Rabbal ‘Alamin.


Aamiin Allahumma Aamiin.


🌿 Terima Kasih


Makasih banyak udah bareng-bareng ngaji hikmah dari Al-Usfuriyah.

Semoga jadi pengingat buat aku pribadi dan kita semua.


Semoga Allah bersihin hati kita, jaga lisan kita, dan bahagiain orang tua kita di alam kubur. 🤲