Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang duduk, lalu datang Malaikat Jibril ‘alaihissalām membawa wahyu dan pesan dari Allah.
Setelah selesai menyampaikan urusannya, Jibril berkata kepada Nabi ﷺ:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah memerintahkan aku untuk menyampaikan salam kepada ‘Ali bin Abi Thalib.”
Maka Rasulullah ﷺ pun memanggil ‘Ali r.a.
Ketika ‘Ali datang dan duduk di hadapan beliau, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai ‘Ali, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu.”
Maka ‘Ali r.a. terkejut, hatinya bergetar, lalu ia berkata dengan penuh adab:
وَعَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Dan atasnya salam, rahmat Allah dan keberkahan-Nya.”
Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan sabdanya:
“Sesungguhnya Jibril berpesan kepadaku agar aku memerintahkan engkau untuk berpuasa tiga hari setiap bulan. Karena barang siapa berpuasa tiga hari setiap bulan, maka seakan-akan ia telah berpuasa sepanjang tahun.”
Dalam sebagian riwayat disebutkan, Jibril menambahkan bahwa tiga hari itu adalah:
tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas (ayyāmul-bīḍh – hari-hari putih).
Mendengar hal itu, ‘Ali r.a. berkata:
“Wahai Rasulullah, aku akan menjadikannya sebagai amalan yang tidak akan aku tinggalkan selama aku hidup.”
Sejak saat itu, ‘Ali r.a. dikenal sangat menjaga puasa tiga hari setiap bulan, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, penghormatan kepada pesan malaikat, dan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ.
......
Puasa Tiga Hari Setiap Bulan: Jalan Sunyi Penyucian Jiwa
Pendahuluan
Di antara kemuliaan para sahabat, terdapat kisah yang menggugah hati: Malaikat Jibril ‘alaihissalām menyampaikan salam Allah kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a., sekaligus membawa pesan agar beliau menjaga puasa tiga hari setiap bulan. Sebuah amalan yang tampak ringan, namun hakikatnya merupakan madrasah tazkiyatun nufūs—sekolah penyucian jiwa.
Puasa ini bukan sekadar menahan lapar, tetapi latihan membebaskan hati dari dominasi syahwat, membangunkan ruh dari kelalaian, dan menata kembali orientasi hidup menuju Allah.
Landasan Al-Qur’an dan Hadis
Allah Ta‘ālā berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa bukan fisik, melainkan lahirnya takwa—dan takwa adalah buah dari jiwa yang disucikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa tiga hari setiap bulan adalah seperti puasa sepanjang tahun.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan dalam riwayat lain, Nabi ﷺ sangat menganjurkan puasa tanggal 13, 14, 15 (ayyāmul-bīḍh).
Analisis dan Argumentasi (Perspektif Tazkiyatun Nufūs)
Puasa tiga hari setiap bulan adalah ritme ruhani. Ia berfungsi seperti “servis berkala” bagi jiwa:
-
Mematahkan dominasi nafsu
Nafsu tumbuh kuat melalui kebiasaan makan, nyaman, dan menuruti keinginan. Puasa memutus rantai otomatis itu. -
Menjernihkan hati
Dalam lapar, hati lebih halus, doa lebih hidup, zikir lebih meresap. -
Menjaga kesinambungan muraqabah
Tidak menunggu Ramadan untuk menjadi hamba, tetapi setiap bulan jiwa dihadapkan kembali kepada Allah.
Secara tazkiyah, puasa sunnah yang rutin adalah penjaga kebersihan batin, sebagaimana wudhu menjaga kebersihan lahir.
Relevansi dalam Kitab-Kitab Turots
1. Al-‘Ushfūriyah
Kitab ini sarat dengan kisah-kisah yang menggugah rasa takut kepada Allah dan harap kepada rahmat-Nya. Banyak riwayat di dalamnya menekankan keutamaan lapar, puasa, dan sedikit makan sebagai jalan melunakkan hati.
Relevansi: Puasa tiga hari sebulan adalah praktik konkret dari pendidikan ruhani yang sering ditekankan dalam Al-‘Ushfūriyah: melemahkan syahwat agar ruh menguat.
2. Tanbīhul Ghāfilīn
Karya yang bertujuan “membangunkan orang-orang yang lalai”. Di dalamnya, puasa disebut sebagai sarana memadamkan api kelalaian dan membuka pintu tangis taubat.
Relevansi: Puasa Ayyāmul-Bīḍh adalah “alarm bulanan” agar seorang mukmin tidak tenggelam dalam dunia.
3. Nashā’ihul ‘Ibād
Imam Nawawi al-Bantani رحمه الله banyak menukil nasihat salaf tentang lapar, puasa, dan penjagaan hati. Disebutkan bahwa kenyang yang berlebihan mematikan hikmah.
Relevansi: Puasa tiga hari menjadi pagar agar hati tetap hidup dan tidak keras.
4. Daqā’iqul Akhbār
Kitab ini menggambarkan kedahsyatan akhirat, sakaratul maut, dan hisab. Banyak bagian menyinggung bahwa orang yang menundukkan nafsunya di dunia akan dimudahkan di akhirat.
Relevansi: Puasa sunnah adalah latihan menghadapi kesempitan kubur dan beratnya hisab, dengan kesempitan yang dipilih secara sadar di dunia.
Relevansi dengan Kehidupan Modern
Di zaman kecanggihan:
- Teknologi membuat segalanya instan → puasa melatih menunda kepuasan.
- Komunikasi tanpa batas memicu riya, amarah, dan lalai → puasa melembutkan jiwa dan menundukkan emosi.
- Transportasi cepat membuat manusia tergesa-gesa → puasa menumbuhkan sakinah dan kesabaran.
- Kedokteran maju menjaga tubuh → puasa menjaga ruh dan moral.
- Kehidupan sosial digital penuh citra → puasa mengembalikan keikhlasan.
Puasa Ayyāmul-Bīḍh menjadi filter ruhani di tengah overload dunia modern.
Hikmah, Tujuan, dan Manfaat
Hikmah:
- Membersihkan karat hati
- Menajamkan rasa butuh kepada Allah
- Menumbuhkan empati kepada fakir miskin
Tujuan:
- Membentuk jiwa muttaqīn
- Menjadikan ibadah sebagai kebiasaan, bukan musiman
- Menyatukan syariat dan hakikat
Manfaat:
- Hati lebih mudah khusyu’
- Nafsu lebih terkendali
- Doa lebih hidup
- Akhlak lebih lembut
Motivasi, Muhasabah, dan Caranya
Motivasi:
Jika ‘Ali r.a. menjadikan puasa ini sebagai amalan seumur hidup setelah salam Jibril, maka kita lebih pantas menjadikannya sebagai warisan amal.
Muhasabah:
- Berapa hari dalam sebulan jiwa ini benar-benar bersama Allah?
- Apakah kita hanya menahan lapar di Ramadan, atau juga menahan hati dari dosa sepanjang tahun?
Cara Praktis:
- Tetapkan niat tetap: “Ini puasa penyuci jiwaku.”
- Gabungkan dengan:
- Tilawah khusus
- Istighfar minimal 100x
- Sedekah meski kecil
- Saat berbuka, jangan hanya makan—berdoalah dan menangislah.
- Catat perubahan hati, bukan hanya jumlah hari.
Doa
اللهم طهِّر قلوبنا من النفاق، وأعمالنا من الرياء، وألسنتنا من الكذب، وأعيننا من الخيانة.
اللهم اجعل الصيام حياةً لقلوبنا، ونورًا لقبورنا، وسترًا لنا يوم نلقاك.
اللهم ارزقنا صيام الثلاثة الأيام من كل شهر على الدوام، واجعله صيامَ العارفين بك، المحبين لك.
“Ya Allah, sucikanlah hati kami dari nifaq, amal kami dari riya, lisan kami dari dusta, dan mata kami dari khianat.
Jadikan puasa sebagai kehidupan bagi hati kami, cahaya bagi kubur kami, dan penutup aib kami saat berjumpa dengan-Mu.
Karuniakan kepada kami istiqamah puasa tiga hari setiap bulan, dan jadikan ia puasa orang-orang yang mengenal dan mencintai-Mu.”
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih telah menghadirkan kisah yang mulia ini. Semoga tulisan ini menjadi wasilah hidupnya amalan puasa Ayyāmul-Bīḍh, bukan hanya di lisan, tetapi di jiwa dan perjalanan hidup kita.
.......
Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.
(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).


