Sunday, January 25, 2026

927. Puasa Tiga Hari Setiap Bulan: Jalan Sunyi Penyucian Jiwa

 


Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang duduk, lalu datang Malaikat Jibril ‘alaihissalām membawa wahyu dan pesan dari Allah.

Setelah selesai menyampaikan urusannya, Jibril berkata kepada Nabi ﷺ:

“Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah memerintahkan aku untuk menyampaikan salam kepada ‘Ali bin Abi Thalib.”

Maka Rasulullah ﷺ pun memanggil ‘Ali r.a.

Ketika ‘Ali datang dan duduk di hadapan beliau, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai ‘Ali, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu.”

Maka ‘Ali r.a. terkejut, hatinya bergetar, lalu ia berkata dengan penuh adab:

وَعَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

“Dan atasnya salam, rahmat Allah dan keberkahan-Nya.”

Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan sabdanya:

“Sesungguhnya Jibril berpesan kepadaku agar aku memerintahkan engkau untuk berpuasa tiga hari setiap bulan. Karena barang siapa berpuasa tiga hari setiap bulan, maka seakan-akan ia telah berpuasa sepanjang tahun.”

Dalam sebagian riwayat disebutkan, Jibril menambahkan bahwa tiga hari itu adalah:

tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas (ayyāmul-bīḍh – hari-hari putih).

Mendengar hal itu, ‘Ali r.a. berkata:

“Wahai Rasulullah, aku akan menjadikannya sebagai amalan yang tidak akan aku tinggalkan selama aku hidup.”

Sejak saat itu, ‘Ali r.a. dikenal sangat menjaga puasa tiga hari setiap bulan, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, penghormatan kepada pesan malaikat, dan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ.

......



Puasa Tiga Hari Setiap Bulan: Jalan Sunyi Penyucian Jiwa

Pendahuluan

Di antara kemuliaan para sahabat, terdapat kisah yang menggugah hati: Malaikat Jibril ‘alaihissalām menyampaikan salam Allah kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a., sekaligus membawa pesan agar beliau menjaga puasa tiga hari setiap bulan. Sebuah amalan yang tampak ringan, namun hakikatnya merupakan madrasah tazkiyatun nufūs—sekolah penyucian jiwa.

Puasa ini bukan sekadar menahan lapar, tetapi latihan membebaskan hati dari dominasi syahwat, membangunkan ruh dari kelalaian, dan menata kembali orientasi hidup menuju Allah.


Landasan Al-Qur’an dan Hadis

Allah Ta‘ālā berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa bukan fisik, melainkan lahirnya takwa—dan takwa adalah buah dari jiwa yang disucikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa tiga hari setiap bulan adalah seperti puasa sepanjang tahun.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dalam riwayat lain, Nabi ﷺ sangat menganjurkan puasa tanggal 13, 14, 15 (ayyāmul-bīḍh).


Analisis dan Argumentasi (Perspektif Tazkiyatun Nufūs)

Puasa tiga hari setiap bulan adalah ritme ruhani. Ia berfungsi seperti “servis berkala” bagi jiwa:

  1. Mematahkan dominasi nafsu
    Nafsu tumbuh kuat melalui kebiasaan makan, nyaman, dan menuruti keinginan. Puasa memutus rantai otomatis itu.

  2. Menjernihkan hati
    Dalam lapar, hati lebih halus, doa lebih hidup, zikir lebih meresap.

  3. Menjaga kesinambungan muraqabah
    Tidak menunggu Ramadan untuk menjadi hamba, tetapi setiap bulan jiwa dihadapkan kembali kepada Allah.

Secara tazkiyah, puasa sunnah yang rutin adalah penjaga kebersihan batin, sebagaimana wudhu menjaga kebersihan lahir.


Relevansi dalam Kitab-Kitab Turots

1. Al-‘Ushfūriyah

Kitab ini sarat dengan kisah-kisah yang menggugah rasa takut kepada Allah dan harap kepada rahmat-Nya. Banyak riwayat di dalamnya menekankan keutamaan lapar, puasa, dan sedikit makan sebagai jalan melunakkan hati.

Relevansi: Puasa tiga hari sebulan adalah praktik konkret dari pendidikan ruhani yang sering ditekankan dalam Al-‘Ushfūriyah: melemahkan syahwat agar ruh menguat.


2. Tanbīhul Ghāfilīn

Karya yang bertujuan “membangunkan orang-orang yang lalai”. Di dalamnya, puasa disebut sebagai sarana memadamkan api kelalaian dan membuka pintu tangis taubat.

Relevansi: Puasa Ayyāmul-Bīḍh adalah “alarm bulanan” agar seorang mukmin tidak tenggelam dalam dunia.


3. Nashā’ihul ‘Ibād

Imam Nawawi al-Bantani رحمه الله banyak menukil nasihat salaf tentang lapar, puasa, dan penjagaan hati. Disebutkan bahwa kenyang yang berlebihan mematikan hikmah.

Relevansi: Puasa tiga hari menjadi pagar agar hati tetap hidup dan tidak keras.


4. Daqā’iqul Akhbār

Kitab ini menggambarkan kedahsyatan akhirat, sakaratul maut, dan hisab. Banyak bagian menyinggung bahwa orang yang menundukkan nafsunya di dunia akan dimudahkan di akhirat.

Relevansi: Puasa sunnah adalah latihan menghadapi kesempitan kubur dan beratnya hisab, dengan kesempitan yang dipilih secara sadar di dunia.


Relevansi dengan Kehidupan Modern

Di zaman kecanggihan:

  • Teknologi membuat segalanya instan → puasa melatih menunda kepuasan.
  • Komunikasi tanpa batas memicu riya, amarah, dan lalai → puasa melembutkan jiwa dan menundukkan emosi.
  • Transportasi cepat membuat manusia tergesa-gesa → puasa menumbuhkan sakinah dan kesabaran.
  • Kedokteran maju menjaga tubuh → puasa menjaga ruh dan moral.
  • Kehidupan sosial digital penuh citra → puasa mengembalikan keikhlasan.

Puasa Ayyāmul-Bīḍh menjadi filter ruhani di tengah overload dunia modern.


Hikmah, Tujuan, dan Manfaat

Hikmah:

  • Membersihkan karat hati
  • Menajamkan rasa butuh kepada Allah
  • Menumbuhkan empati kepada fakir miskin

Tujuan:

  • Membentuk jiwa muttaqīn
  • Menjadikan ibadah sebagai kebiasaan, bukan musiman
  • Menyatukan syariat dan hakikat

Manfaat:

  • Hati lebih mudah khusyu’
  • Nafsu lebih terkendali
  • Doa lebih hidup
  • Akhlak lebih lembut

Motivasi, Muhasabah, dan Caranya

Motivasi:
Jika ‘Ali r.a. menjadikan puasa ini sebagai amalan seumur hidup setelah salam Jibril, maka kita lebih pantas menjadikannya sebagai warisan amal.

Muhasabah:

  • Berapa hari dalam sebulan jiwa ini benar-benar bersama Allah?
  • Apakah kita hanya menahan lapar di Ramadan, atau juga menahan hati dari dosa sepanjang tahun?

Cara Praktis:

  1. Tetapkan niat tetap: “Ini puasa penyuci jiwaku.”
  2. Gabungkan dengan:
    • Tilawah khusus
    • Istighfar minimal 100x
    • Sedekah meski kecil
  3. Saat berbuka, jangan hanya makan—berdoalah dan menangislah.
  4. Catat perubahan hati, bukan hanya jumlah hari.

Doa

اللهم طهِّر قلوبنا من النفاق، وأعمالنا من الرياء، وألسنتنا من الكذب، وأعيننا من الخيانة.
اللهم اجعل الصيام حياةً لقلوبنا، ونورًا لقبورنا، وسترًا لنا يوم نلقاك.
اللهم ارزقنا صيام الثلاثة الأيام من كل شهر على الدوام، واجعله صيامَ العارفين بك، المحبين لك.

“Ya Allah, sucikanlah hati kami dari nifaq, amal kami dari riya, lisan kami dari dusta, dan mata kami dari khianat.
Jadikan puasa sebagai kehidupan bagi hati kami, cahaya bagi kubur kami, dan penutup aib kami saat berjumpa dengan-Mu.
Karuniakan kepada kami istiqamah puasa tiga hari setiap bulan, dan jadikan ia puasa orang-orang yang mengenal dan mencintai-Mu.”


Ucapan Terima Kasih

Terima kasih telah menghadirkan kisah yang mulia ini. Semoga tulisan ini menjadi wasilah hidupnya amalan puasa Ayyāmul-Bīḍh, bukan hanya di lisan, tetapi di jiwa dan perjalanan hidup kita.

.......

Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).


926. BERSEGERA KE JUMAT: JALAN PENYUCIAN JIWA DAN KEMULIAAN DI SISI ALLAH

 


lubabul hadis. 10/2. bab sholat jumat

Seorang muslim yang bersegera dalam menghadiri Salat Jumat disamakan dengan berkurban atau berinfak dengan harta

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ غُسْلَ الجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الخَامِسَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ المَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang mandi pada Hari Jumat sebagaimana mandi janabah, lalu berangkat menuju masjid, maka dia seolah-olah berkurban dengan seekor unta. Siapa yang datang pada waktu kedua maka dia seolah-olah berkurban dengan seekor sapi. Siapa yang datang pada waktu ketiga maka dia seolah-olah berkurban dengan seekor kambing yang bertanduk. Siapa yang datang pada kesempatan waktu keempat maka dia seolah-olah berkurban dengan seekor ayam. Siapa yang datang pada waktu kelima maka dia seolah-olah berkurban dengan sebutir telur. Maka apabila imam sudah keluar (untuk memberi khutbah), maka para malaikat hadir untuk mendengarkan zikir (khutbah Jumat tersebut).” [H.R. Bukhari (no. 881) dan Muslim (no. 850)].


BERSEGERA KE JUMAT: JALAN PENYUCIAN JIWA DAN KEMULIAAN DI SISI ALLAH

“Siapa yang mandi pada Hari Jumat seperti mandi janabah, lalu berangkat (lebih awal), maka seakan-akan ia berkurban unta…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pendahuluan

Hari Jumat bukan sekadar hari libur mingguan umat Islam, tetapi hari pertemuan langit dan bumi, hari diangkatnya derajat amal, hari dibersihkannya hati, dan hari dipanggilnya ruh untuk kembali kepada Rabb-nya. Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ menyamakan bersegera ke masjid dengan berkurban harta yang sangat mahal. Ini isyarat bahwa Jumat bukan hanya ibadah fisik, melainkan latihan besar penyucian jiwa (Tazkiyatun Nufūs).

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.”
(QS. Al-Jumu‘ah: 9)

Ayat ini menegaskan: Jumat adalah momentum memutus keterikatan dunia, dan mengikat kembali hati kepada Allah.


Keistimewaan, Kemuliaan, dan Peristiwa Hari Jumat

Hari Jumat adalah hari yang istimewa:

  • Nabi Adam diciptakan pada hari Jumat.
  • Pada hari Jumat ia dimasukkan ke surga.
  • Pada hari Jumat ia diturunkan ke bumi.
  • Kiamat terjadi pada hari Jumat.
    (HR. Muslim)

Hari Jumat adalah hari pertemuan umat, hari berkumpulnya jasad dan ruh, hari turunnya rahmat, dan hari dihadirkannya malaikat di pintu-pintu masjid, mencatat siapa yang datang paling awal.

Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ menggambarkan lima tingkatan kedatangan, dari unta hingga telur. Ini bukan sekadar perbedaan waktu, tetapi perbedaan nilai jiwa: seberapa besar seseorang memuliakan panggilan Allah dibanding kesibukan dunia.


Analisis dan Argumentasi Tazkiyatun Nufūs

Tazkiyatun Nufūs berarti membersihkan jiwa dari cinta dunia dan mengisinya dengan cinta Allah.

  1. Mandi Jumat → simbol pembersihan lahir dan batin.
    Allah berfirman:

    “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri.”
    (QS. Al-Baqarah: 222)

  2. Bersegera ke masjid → latihan mematahkan hawa nafsu.
    Jiwa yang kotor selalu menunda ibadah, jiwa yang hidup selalu berlomba.

  3. Disamakan dengan kurban → karena hakikat kurban adalah memotong kecintaan.

    “Daging dan darahnya tidak sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
    (QS. Al-Hajj: 37)

Artinya: yang dinilai bukan langkah kaki, tetapi pengorbanan hati.


Motivasi dan Muhasabah (Cara Menghidupkan Jumat)

Muhasabah:

  • Berapa kali kita datang Jumat dalam keadaan tergesa, bukan bersegera?
  • Apakah kita menuju masjid atau sekadar “mengisi kewajiban”?
  • Apa yang lebih dulu hidup di hati kita pada Jumat: Allah atau urusan dunia?

Cara menghidupkan Jumat:

  1. Mandi dengan niat taubat, bukan sekadar bersih badan.
  2. Datang lebih awal, sebelum hati dikuasai kesibukan.
  3. Perbanyak shalawat dan istighfar dalam perjalanan.
  4. Duduk dengan adab orang yang lapar akan nasihat.
  5. Dengarkan khutbah seperti wasiat terakhir.

Hikmah, Tujuan, dan Manfaat

  • Melatih ikhlas: datang sebelum diseru adalah tanda cinta.
  • Membersihkan hati: Jumat adalah “laundry ruhani” mingguan.
  • Menguatkan ukhuwah: jiwa yang bersih suka berkumpul dalam kebaikan.
  • Menumbuhkan rasa akhirat: semakin awal datang, semakin ringan dunia.

Manfaatnya:

  • Hati lebih tenang.
  • Dosa-dosa kecil dihapus.
  • Doa lebih mudah naik.
  • Hidup lebih terarah.

Keutamaan dan Hukuman

Keutamaan

Di dunia:

  • Diberi cahaya hati.
  • Dilapangkan rezeki.
  • Diberi ketenangan hidup.

Di alam kubur:

  • Jumat menjadi saksi amal.
  • Kubur dilapangkan bagi pecinta masjid.

Di hari kiamat:

  • Dicatat sebagai orang yang memuliakan syiar Allah.
  • Mendapat naungan amal dan pahala besar.

Di akhirat:

  • Didekatkan dengan derajat ahli kurban.
  • Dijanjikan ampunan dan kemuliaan.

Hukuman bagi yang meremehkan

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang meninggalkan Jumat tanpa uzur, hatinya bisa dikunci oleh Allah.
Hukuman bukan selalu musibah, tetapi:

  • Kerasnya hati.
  • Hilangnya nikmat taat.
  • Ringannya dosa di mata.
  • Beratnya ibadah di rasa.

Itulah azab jiwa sebelum azab neraka.


Relevansi di Zaman Teknologi

Di era:

  • transportasi cepat,
  • komunikasi instan,
  • kecanggihan kedokteran,
  • kesibukan sosial tanpa henti,

justru alasan untuk datang lebih awal semakin besar, bukan semakin lambat.

Ironisnya:

  • Ke masjid sering terlambat.
  • Ke dunia bisa sangat tepat waktu.

Teknologi mempercepat langkah, tetapi sering memperlambat jiwa.
Hadis ini datang sebagai kritik halus:
“Jika ke masjid saja engkau tak sempat, ke surga bagaimana engkau berharap?”


Doa

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا كَمَا طَهَّرْتَ أَبْدَانَنَا، وَاجْعَلْ خُطُوَاتِنَا إِلَى الْمَسَاجِدِ شُهُودًا لَنَا لاَ عَلَيْنَا، وَارْزُقْنَا قَلْبًا يُسَارِعُ إِلَيْكَ قَبْلَ أَنْ يُنَادَى.

“Ya Allah, sucikanlah hati kami sebagaimana Engkau sucikan jasad kami. Jadikan langkah kami ke masjid sebagai saksi kebaikan bagi kami. Anugerahkan kepada kami hati yang bersegera kepada-Mu sebelum panggilan terdengar.”


Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca yang masih memuliakan Jumat bukan sebagai rutinitas, tetapi sebagai pertemuan suci dengan Allah.
Semoga setiap langkah kita ke masjid dicatat seperti kurban, dan setiap Jumat menjadi sebab lembutnya hati hingga akhir hayat.


Sobat-Sobat Milenial yang Dirahmati Allah,


Kita tahu, kan, Jumat itu bukan cuma “weekend mode” buat kita. Ini adalah hari spesial banget—hari di mana langit dan bumi ketemu, hati kita di-upgrade, dan pahala kita dibesarin. Rasulullah ﷺ sampai ngingetin, kalau kita mandi Jumat kayak mandi wajib habis junub, terus berangkat ke masjid lebih awal, itu se-level dengan berkurban unta lho!


"Siapa yang mandi pada Hari Jumat seperti mandi janabah, lalu berangkat (lebih awal), maka seakan-akan ia berkurban unta…" (HR. Bukhari dan Muslim)


Gak main-main, ya! Ini Rasulullah kasih kita gambaran betapa berharganya langkah kita ke masjid di hari Jumat. Datang lebih awal aja, udah diitung ibadah kurban. Mulai dari unta, sapi, kambing, ayam, sampai telur—semuanya simbol seberapa besar “kamu ngeprioritasin Allah” dibanding dunia.


Allah juga ngingetin dalam Quran:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.” (QS. Al-Jumu‘ah: 9)


Artinya, Jumat itu moment buat kita “pause” dari segala urusan dunia, dan reconnect sama Allah.


Jumat itu istimewa banget, lho!

Nabi Adam diciptakan, dimasukkan surga, diturunkan ke bumi, bahkan kiamat pun—semuanya terjadi di hari Jumat (HR. Muslim). Jadi, Jumat itu kayak “super Saturday”-nya orang beriman, hari di mana malaikat juga pada standby di pintu masjid, nyatat siapa yang datang paling cepet.


Nah, gimana biar Jumat kita makin bermakna?


· Mandi Jumat → jangan cuma buat bersihin badan, tapi juga buat “laundry hati”. Niatnya buat taubat, biar bersih dalam dan luar.

· Datang lebih awal → latihan buat ngalahin rasa malas dan sibuk duniawi. Ingat, “yang dinilai bukan langkah kakinya, tapi pengorbanan hatinya.”

· Dengerin khutbah dengan serius → anggap aja itu podcast terbaik sepekan, hadir dengan hati yang open buat nasihat.

· Perbanyak shalawat dan istighfar → dari rumah ke masjid, isi perjalanan dengan dzikir, biar langkah kita makin barokah.


Manfaatnya? Banyak banget!

Hati lebih tenang, dosa-dosa kecil dihapus, doa lebih gampang dikabulin, hidup jadi lebih terarah. Di akhirat nanti, orang yang rajin memuliakan Jumat bakal dideketin sama derajat orang yang rajin berkurban.


Tapi buat yang suka nyepelein Jumat? Hati-hati… Rasulullah ﷺ ngasih peringatan: hati kita bisa dikunci sama Allah. Hukuman bukan cuma di akhirat, tapi di dunia juga: hati jadi keras, ibadah terasa berat, dosa jadi keliatan ringan. Nah, serem kan?


Di zaman sekarang yang serba cepet dan sibuk, justru kita harus makin bisa manage waktu buat Jumat. Jangan sampe, buat meeting bisa tepat waktu, tapi buat ke masjid malah molor. Teknologi bikin kita makin cepat, tapi jangan sampe bikin jiwa kita telat sampai ke masjid.


Intinya, Jumat itu bukan sekadar kewajiban. Ini adalah latihan mingguan buat bersihin jiwa (tazkiyatun nufus). Mulai dari mandi, berangkat awal, dengerin khutbah—semuanya adalah proses buat kita makin deket sama Allah.


Doa kita di penghujung khutbah ini:


اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا كَمَا طَهَّرْتَ أَبْدَانَنَا، وَاجْعَلْ خُطُوَاتِنَا إِلَى الْمَسَاجِدِ شُهُودًا لَنَا لاَ عَلَيْنَا، وَارْزُقْنَا قَلْبًا يُسَارِعُ إِلَيْكَ قَبْلَ أَنْ يُنَادَى.


“Ya Allah, bersihkan hati kami seperti Engkau bersihkan badan kami. Jadikan langkah kami ke masjid sebagai saksi kebaikan, bukan saksi buruk. Beri kami hati yang buru-buru datang kepada-Mu sebelum adzan berkumandang.”


Terima kasih buat kalian semua yang masih nganggep Jumat sebagai quality time dengan Allah, bukan sekadar rutinitas. Semoga setiap Jumat kita bikin hati makin glowing, dan langkah kita ke masjid dicatat sebagai amal terbaik. Aamiin! 🙏


---



925. Kebaikan Itu Banyak, Tetapi Sedikit Pelakunya

 


miatu hadis syarifah. 40

 الخير كثير, وقليل فاعله.

Kebaikan itu banyak, tetapi sedikit pelakunya.

......

Berikut bacaan renungan Al-Qur’an dalam perspektif Tazkiyatun Nufūs (penyucian jiwa) atas ungkapan:

الخير كثير، وقليل فاعله
“Kebaikan itu banyak, tetapi sedikit pelakunya.”


🌿 Kebaikan Itu Banyak, Tetapi Sedikit Pelakunya

(Tinjauan Al-Qur’an dan Tazkiyatun Nufūs)


1. Pendahuluan (Bacaan Qur’aniyah)

Al-Qur’an menegaskan bahwa jalan kebaikan terbentang sangat luas, namun yang menempuhnya dengan sungguh-sungguh hanya sedikit.

Allah berfirman:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
(QS. Saba’: 13)

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Jika engkau menuruti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An‘ām: 116)

Ayat-ayat ini menunjukkan: kebaikan itu banyak, pintunya terbuka, dalilnya jelas, tetapi pelakunya selalu minoritas.


2. Intisari Isi

  • Kebaikan adalah fitrah dan jalan keselamatan.
  • Penghalangnya bukan kurangnya petunjuk, tetapi kotoran jiwa (nafs, syahwat, cinta dunia, dan lalai).
  • Tazkiyatun Nufūs bertujuan membersihkan penghalang itu, agar jiwa ringan beramal.
  • Sedikitnya pelaku kebaikan bukan karena sulitnya kebaikan, tetapi karena beratnya melawan diri sendiri.

3. Tafsir dan Isyarat Maknawi

Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10)

Para mufassir menjelaskan:

  • Zakkāhā → membersihkan jiwa dengan iman, taubat, amal shalih, dan mujahadah.
  • Dassāhā → menenggelamkan jiwa dalam syahwat, lalai, dan mengikuti hawa nafsu.

Kebaikan itu banyak, tetapi jiwa yang kotor melihat kebaikan sebagai beban, sedangkan jiwa yang bersih melihat kebaikan sebagai kebutuhan.


4. Latar Belakang dan Sebab Terjadinya Masalah

Sedikitnya pelaku kebaikan disebabkan oleh:

  1. Dominasi nafsu

    “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS. Yusuf: 53)

  2. Cinta dunia dan takut miskin

    “Setan menjanjikan kamu kemiskinan dan menyuruh berbuat keji.” (QS. Al-Baqarah: 268)

  3. Lalai dari akhirat

    “Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, sedang terhadap akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rūm: 7)

  4. Lingkungan yang menormalisasi dosa
    Mayoritas menjadi standar, bukan kebenaran.


5. Analisis dan Argumentasi (Perspektif Tazkiyah)

  • Jiwa yang belum disucikan cenderung:

    • berat shalat,
    • malas bersedekah,
    • sempit memaafkan,
    • cinta dipuji,
    • takut rugi.
  • Jiwa yang disucikan:

    • ringan taat,
    • lezat dalam ibadah,
    • lapang memberi,
    • lembut terhadap makhluk,
    • hidup untuk ridha Allah.

Allah berfirman:

فَأَمَّا مَن أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ ۝ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ۝ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
“Adapun orang yang memberi, bertakwa dan membenarkan kebaikan, Kami mudahkan baginya jalan kebaikan.”
(QS. Al-Lail: 5–7)

Kebaikan menjadi mudah setelah jiwa dibersihkan.


6. Motivasi, Muhasabah, dan Caranya

🔎 Muhasabah

Tanyakan pada diri:

  • Apakah aku mencintai kebaikan atau hanya memujinya?
  • Apakah aku sibuk melihat keburukan orang atau membersihkan jiwaku?
  • Apakah aku ingin dikenal saleh atau ingin diterima Allah?

🛠 Cara Tazkiyatun Nufūs

  1. Taubat harian
  2. Dzikir yang konsisten
  3. Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur
  4. Sedekah meski kecil
  5. Mujahadah melawan nafsu
  6. Berkawan dengan orang shalih
  7. Mengingat mati dan akhirat

7. Hikmah, Tujuan, dan Manfaat

Hikmah

  • Allah menjadikan pelaku kebaikan sedikit agar derajat mereka tinggi.
  • Sedikit di dunia, mulia di sisi Allah.

Tujuan

  • Membersihkan hati.
  • Menghidupkan ruh.
  • Mengantarkan kepada ma’rifat dan ridha Allah.

Manfaat

  • Hati tenang.
  • Amal ikhlas.
  • Hidup bermakna.
  • Akhir yang baik (husnul khatimah).

8. Keutamaan dan Hukuman

🌍 Di Dunia

Pelaku kebaikan:

  • Hidup tenteram (QS. Ar-Ra‘d: 28)
  • Diberi keberkahan (QS. Al-A‘rāf: 96)

Yang berpaling:

  • Hati sempit (QS. Thaha: 124)
  • Hidup gelisah meski berlimpah.

⚰️ Di Alam Kubur

Orang baik: kuburnya taman surga, bercahaya, lapang.
Ahli maksiat: kuburnya sempit, gelap, dan penuh penyesalan.


🌅 Di Hari Kiamat

Pelaku kebaikan: wajah berseri, ringan hisab, menerima catatan dengan tangan kanan.
Yang lalai: wajah gelap, berat timbangan, penyesalan tanpa akhir.


♾️ Di Akhirat

Balasan kebaikan: surga, ridha Allah, melihat wajah-Nya.
Balasan keburukan: penjara akhirat bagi jiwa yang enggan disucikan.


9. Relevansi dengan Kehidupan Modern

Di era teknologi:

  • Komunikasi cepat, tetapi empati lambat.
  • Transportasi maju, tetapi tujuan hidup kabur.
  • Kedokteran canggih, tetapi penyakit hati meningkat.
  • Informasi melimpah, tetapi hikmah langka.

Teknologi memperbanyak peluang kebaikan, tetapi juga memperbanyak alasan untuk lalai.

Maka Tazkiyatun Nufūs menjadi lebih urgen, agar:

  • teknologi menjadi wasilah taat,
  • media menjadi ladang pahala,
  • kecanggihan menjadi jalan syukur, bukan kesombongan.

10. Doa

اللهم زكِّ نفوسنا تقواها، وطهِّرها أنت خيرُ من زكّاها، أنت وليُّها ومولاها.
“Ya Allah, sucikan jiwa kami dengan takwanya, bersihkan ia, Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau pelindung dan penolongnya.”

اللهم اجعلنا من القليل الذين أحسنوا، ولا تجعلنا من الكثير الذين غفلوا.


11. Ucapan Terima Kasih

Terima kasih telah mengajak merenungi kalimat yang singkat namun dalam ini. Semoga bacaan ini menjadi cermin muhasabah, pintu tazkiyah, dan pemantik semangat untuk menjadi bagian dari “yang sedikit” namun mulia di sisi Allah.


Kebaikan Itu Banyak, Tapi Yang Ngejalanin Sedikit, Bro!


(Ditinjau dari Qur’an & Healing Jiwa / Tazkiyatun Nufūs)


1. Opening (Dari Sudut Pandang Qur’an)

Di Qur’an dah jelas banget, jalan buat berbuat baik tuh banyak banget, tapi yang mau jalanin beneran cuma segelintir orang aja.


Allah bilang gini:


وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)


Intinya: Kebaikan itu banyak, aksesnya terbuka lebar, tapi yang mau jadi player-nya selalu minoritas, ga sebanyak yang cuma jadi penonton.


2. Inti Masalahnya

Sebenernya berbuat baik itu fitrah kita dan jalan ninja menuju ketenangan. Yang bikin kita skip kebaikan itu bukan karena petunjuknya kurang, tapi karena jiwa lagi kotor. Ngga mood, berat, males. Nah, Tazkiyatun Nufūs tuh kayak detox jiwa biar kita ringan dan enjoy dalam beramal.


3. Makna Deep-nya

Allah berfirman:


قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)


Jiwa yang udah bersih ngelihat kebaikan kayak kebutuhan, kayak haus butuh air. Jiwa yang kotor ngelihatnya kayak beban berat, malesin.


4. Akar Masalahnya: Kenapa Pelakunya Sedikit?


· Nafsu lagi dominan. Dia selalu bisikin yang enak-enak doang, yang instan.

· Takut miskin & cinta dunia berlebihan. Mikirin duit dan gaya hidup terus, jadi pelit dan takut rugi.

· Lupa akhirat. Fokusnya cuma yang kelihatan doang di dunia, lupa ada kehidupan setelahnya yang kekal.

· Ikut-ikutan mayoritas. “Kan pada ngelakuin gini juga,” jadi alesan. Padahal, kebenaran itu ngga diukur dari seberapa banyak yang ngelakuin.


5. Analisis (Dari Sisi Healing Jiwa)


· Jiwa belum bersih: Shalat kayak beban, sedekah mikir 1000x, gampang tersinggung, pengen dipuji.

· Jiwa yang udah bersih: Ibadah terasa peace, enjoy bantu orang, hati lapang, hidupnya untuk cari ridha Allah aja.


Allah bilang:


فَأَمَّا مَن أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ ۝ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ۝ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ

“Adapun orang yang memberi, bertakwa dan membenarkan kebaikan, Kami mudahkan baginya jalan kebaikan.” (QS. Al-Lail: 5–7)


Artinya, begitu jiwa kita bersihin, jalan kebaikan jadi terasa gampang dan mengalir aja.


6. Self-Reflection & Tips Jitunya

💭 Cek Diri Yuk!


· Aku cuma suka post quote kebaikan atau beneran ngelakuin?

· Aku sibuk judge orang atau sibuk benahin diri sendiri?

· Pengen keliatan alim atau pengen diterima sama Allah beneran?


🛠 Tips Detox Jiwa (Tazkiyatun Nufūs ala Anak Zaman Now):


1. Taubat harian. Evaluasi diri sebelum tidur.

2. Dzikir konsisten. Bisa lewat aplikasi atau sambil nunggu loading apa gitu.

3. Baca Qur’an dikit-dikit tapi direnungin maknanya.

4. Sedekah rutin, meski receh. Yang penting ikhlas.

5. Lawan kebiasaan buruk sedikit-sedikit (mujahadah).

6. Cari circle yang baik, yang saling mengingetin.

7. Sering ingat mati. Biar ngga terlalu clingy sama dunia.


7. Benefit & Goals-nya


· Hikmah: Allah bikin pelaku kebaikan sedikit biar nilai mereka tinggi. Sedikit di sini, tapi exclusive di sisi-Nya.

· Tujuannya: Biar hati bersih, hidup tenang, dan goals akhirnya adalah ridha Allah.

· Manfaatnya: Hati adem, ngga gampang baper, hidup lebih bermakna, dan insyaAllah akhirnya baik (husnul khatimah).


8. Consequences: Now & Later

🌍 Di Dunia:

Yang berbuat baik: Hati tenang, hidup diberkahi.

Yang ignore: Hati sempit, gelisah meski harta banyak.


⚰️ Alam Kubur:

Yang baik: Kuburnya lapang dan damai.

Yang lalai: Sempit dan penuh penyesalan (naudzubillah).


🌅 Hari Kiamat:

Yang baik: Mukanya cerah, hisabnya dimudahkan.

Yang lalai: Mukanya gelap, penyesalan level ultimate.


♾️ Akhirat:

Final destination-nya jelas: Surga buat jiwa-jiwa yang bersih, neraka buat yang memilih mengotori jiwanya.


9. Relevansinya di Zaman Now

Di era medsos & teknologi canggih:


· Bisa connect ke mana aja, tapi hati malah makin jauh.

· Semua serba cepat, tapi tujuan hidup malah ngga jelas.

· Info melimpah, tapi kebijakan langka.

· Banyak banget peluang kebaikan (donasi online, kajian streaming, dll.), tapi godaan buat scroll lalai juga gila-gilaan.


Makanya, detox jiwa sekarang jadi makin penting banget! Biar:


· Teknologi jadi alat kebaikan, bukan alat maksiat.

· Screen time kita ada yang buat cari pahala.

· Kecanggihan bikin kita makin syukur, bukan sombong.


10. Doa Penutup


اللهم زكِّ نفوسنا تقواها، وطهِّرها أنت خيرُ من زكّاها، أنت وليُّها ومولاها.

“Ya Allah, sucikan jiwa kami dengan takwanya, bersihkan ia, Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau pelindung dan penolongnya.”


اللهم اجعلنا من القليل الذين أحسنوا، ولا تجعلنا dari yang banyak yang lalai.


11. Thank You!

Makasih ya udah baca sampe sini! Semoga kita ngga cuma jadi penikmat konten kebaikan, tapi jadi bagian dari minoritas aktif yang bener-bener ngelakuin. Yuk, healing jiwa bareng-bareng biar jadi pribadi yang lebih baik dan closer to Him! 😊🙏


Tetap santai, tapi jangan lupa serius urusan akhirat.