Kamis, 01 Januari 2026

895irs. MENUNTUT ILMU: TAUBAT PANJANG DI ZAMAN SERBA CEPAT

 


irsyadul ibad Bab ilmu.

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ سَخْبَرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ كَانَ كَفَارَةً لِمَامَضَى. رواه الترمذی

Artinya: “Sahbarah berkata: ‘Menuntut ilmu bisa menghapus dosa yang lalu.” (HR. Tirmidzi).

........

Menuntut Ilmu: Jalan Penyucian Jiwa dan Penghapus Dosa

(Perspektif Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs)

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ سَخْبَرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا مَضَى. رواه الترمذي

"Barang siapa menuntut ilmu, maka hal itu menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu." (HR. Tirmidzi)

Catatan: Riwayat ini disebutkan oleh Imam At-Tirmidzi, namun para ulama ahli hadis menilai sanadnya lemah (dha'if). Meskipun demikian, maknanya didukung oleh banyak ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis shahih yang menjelaskan keutamaan ilmu.


1. Maksud dan Tujuan

Dalam pandangan Tasawuf (Tazkiyatun Nufūs), ilmu bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi merupakan cahaya (nūr) yang Allah masukkan ke dalam hati seorang hamba.

Tujuan menuntut ilmu adalah:

  • Mengenal Allah (Ma'rifatullah).
  • Membersihkan hati dari dosa dan penyakit hati.
  • Memperbaiki amal.
  • Mengubah akhlak buruk menjadi akhlak mulia.
  • Mengantarkan seorang hamba menuju ridha Allah.

Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:

"Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, sedangkan amal tanpa ilmu adalah kesesatan."

Ilmu yang sejati melahirkan rasa takut kepada Allah, bukan kesombongan.


2. Ayat Al-Qur'an, Hadis Shahih, dan Hadis Qudsi

A. Al-Qur'an

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama." (QS. Fatir: 28)

Allah juga berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

"Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu." (QS. Taha: 114)

Dan firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu." (QS. Al-Mujadilah: 11)


B. Hadis Shahih

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barang siapa dikehendaki Allah kebaikan, maka Allah akan memahamkannya tentang agama." (HR. Bukhari dan Muslim)


C. Hadis Qudsi

Allah Ta'ala berfirman:

"Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya."

(HR. Bukhari)

Ilmu yang benar akan mendorong seseorang memperbanyak amal hingga memperoleh kecintaan Allah.


3. Analisa, Argumentasi, dan Implementasi di Kehidupan Sehari-hari

A. Analisa Tasawuf

Menurut para ulama tasawuf, dosa berasal dari:

  • kebodohan,
  • hawa nafsu,
  • lalai kepada Allah.

Karena itu, ilmu adalah obat bagi hati.

Semakin seseorang mengenal Allah, semakin kecil keinginannya berbuat maksiat.

Ilmu yang masuk ke hati akan:

  • memadamkan syahwat,
  • melemahkan sifat sombong,
  • menghilangkan riya',
  • menghidupkan taubat.

B. Relevansi di Dunia yang Viral Saat Ini

Kita hidup di zaman media sosial.

Informasi sangat banyak, tetapi ilmu yang benar justru sedikit.

Banyak orang:

  • lebih suka konten sensasi daripada kajian,
  • lebih senang berdebat daripada belajar,
  • lebih cepat menyebarkan berita daripada memverifikasi,
  • mengejar viral daripada mencari ridha Allah.

Dalam tasawuf, ini disebut penyakit hati akibat cinta dunia dan ketenaran.

Ilmu mengajarkan kita:

  • menahan lisan,
  • menjaga jari saat mengetik,
  • memeriksa berita sebelum membagikan,
  • menggunakan media sosial sebagai ladang dakwah dan amal.

Setiap majelis ilmu, baik secara langsung maupun daring, dapat menjadi sarana memperbaiki hati jika disertai niat yang ikhlas.


C. Implementasi

Biasakan setiap hari:

  • membaca Al-Qur'an beserta tafsirnya,
  • menghadiri majelis ilmu,
  • mengamalkan ilmu yang dipelajari,
  • mengajarkan ilmu walaupun satu ayat,
  • menjaga adab kepada guru,
  • menghindari debat yang tidak bermanfaat,
  • menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ketakwaan.

4. Muhasabah dan Caranya

Renungkan pertanyaan berikut:

  • Apakah saya belajar karena Allah atau ingin dipuji?
  • Apakah ilmu yang saya miliki sudah saya amalkan?
  • Apakah hati saya semakin lembut setelah belajar?
  • Apakah ilmu membuat saya semakin tawadhu' atau semakin merasa paling benar?
  • Apakah saya lebih banyak membaca Al-Qur'an daripada media sosial?

Cara Bermuhasabah

  1. Luruskan niat sebelum belajar.
  2. Berwudhu sebelum membaca ilmu agama.
  3. Catat ilmu yang diperoleh.
  4. Amalkan minimal satu pelajaran setiap hari.
  5. Istighfar atas ilmu yang belum diamalkan.
  6. Berdoa agar diberi ilmu yang bermanfaat.
  7. Hormati guru dan sesama penuntut ilmu.

Inilah jalan Tazkiyatun Nufūs, yaitu membersihkan hati melalui ilmu, amal, ikhlas, dan istiqamah.


5. Doa

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.

Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang Engkau terima.

اللَّهُمَّ زِدْنَا عِلْمًا، وَارْزُقْنَا فَهْمًا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدِ، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا حُجَّةً لَنَا لَا حُجَّةً عَلَيْنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى. آمِينَ.

Artinya:

"Ya Allah, tambahkanlah ilmu kepada kami, karuniakanlah pemahaman, sucikan hati kami dari riya, kesombongan, dan dengki. Jadikan ilmu kami sebagai pembela kami, bukan sebagai hujjah yang memberatkan kami, dan wafatkan kami dalam husnul khatimah. Aamiin."


6. Ucapan Terima Kasih

Jazakumullāhu khairan katsīrā kepada para ustadz, kiai, guru, dan seluruh pembaca yang senantiasa meluangkan waktu untuk menghadiri majelis ilmu, membaca, mengkaji, dan mengamalkan ajaran Islam.

Semoga Allah membalas setiap langkah menuju majelis ilmu dengan pahala yang berlipat, mengangkat derajat kita di dunia dan akhirat, membersihkan hati kita dengan cahaya ilmu, serta menghimpunkan kita bersama Rasulullah ﷺ, para nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh di surga-Nya.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

..........


mmm

Menuntut Ilmu: Taubat Jalan Panjang di Zaman yang Serba Ngebut


Rasulullah ﷺ ngingetin:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ كَانَ كَفَارَةً لِمَا مَضَى

“Barangsiapa menuntut ilmu, maka itu menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu.”

(HR. Tirmidzi)

Ini bukan cuma info bagus, tapi ini pintu taubat yang Allah kasih ke kita di semua zaman—termasuk zaman sekarang, di mana semua serba cepet, tapi hati kita kadang kagak ngekeep.

Ilmu: Jalur Express Buat Hati yang Pernah Nyasar

Dalam tasawuf, dosa tuh bukan cuma soal salah perbuatan, tapi lebih ke jauhnya hati dari Allah. Dan ilmu yang dimaksud Nabi ﷺ bukan cuma info biasa, tapi ilmu yang bikin hati kita back to basic lagi: kenal sama Tuhan.

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”


(QS. Fathir: 28)


Ilmu beneran itu bikin kita ada khasyah—takut yang ngelembutin hati, bukan malah bikin sombong.


Teknologi: Ilmu atau Bikin Tersesat?


Di era digital sekarang:


· Ilmu ada di genggaman (tinggal Google)

· Ceramah bisa tonton di layar HP

· Kitab ada di aplikasi

· Diskusi agama ada di grup WA


Tapi tasawuf ngasih reminder:


Teknologi bisa jadi kendaraan nuju Allah, atau malah jadi tembok yang nutup kita dari-Nya.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”


(HR. Muslim)


📱 Kalau HP-mu bawa kamu buat:


· Zikir

· Baca tafsir/hadis

· Muhasabah diri


Maka HP-mu jadi kendaraan akhirat.


Tapi kalau cuma buat scroll tanpa guna, nongkrongin hal yang melalaikan—yah, itu jadi fitnah zaman.


Chat Cepet, Tapi Hati Harus Tetap Aman


Di zaman pesan instan & medsos:


· Lisan pindah ke jari (chat/status)

· Ghibah pindah ke postingan

· Dosa bisa jadi rekaman digital (audio/video)


Ilmu agama jadi penjaga adab digital kita.


Allah berfirman:


مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ


“Tiada satu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada malaikat yang mencatatnya.”


(QS. Qaf: 18)


Ilmu bikin komunikasi kita bersih: dari asal ngomong→ jadi ucapan yang bernilai ibadah.


Transportasi Cepet, Tapi Tujuan Jangan Sampai Salah


Kita sekarang bisa:


· Pindah kota dalam hitungan jam

· Pindah negara cuma sehari

· Tapi sering lupa buat pindah dari maksiat ke taubat


Tasawuf ngajarin: Yang penting bukan seberapa cepet kita jalan,tapi ke mana arah hati kita.


Allah berfirman:


وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ


“Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan segala perjalanan.”


(QS. An-Najm: 42)


Ilmu bikin setiap perjalanan kita—buat kerja, dagang, atau dakwah—bernilai ibadah dan penghapus dosa.


Dokter Sembuhin Badan, Ilmu Sembuhin Jiwa


Ilmu medis sekarang bisa:


· Nambahin umur

· Nyelametin jasad

· Kurangin rasa sakit


Tapi tasawuf ingetin: Penyakit haticuma bisa sembuh pake ilmu agama & tazkiyatun nafs.


Allah berfirman:


قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا


“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”


(QS. Asy-Syams: 9)


Ilmu agama itu obat dosa, dan nuntut ilmu itu proses penyembuhan jiwa.


Di Tengah Masyarakat yang Kadang Toxic, Ilmu Lahirin Akhlak


Di tengah masyarakat yang kadang keras, gampang curiga, dan emosi meluap, ilmu agama lahirin:


· Tawadhu (rendah hati)

· Sabar

· Husnudzan (prasangka baik)

· Kasih sayang


Rasulullah ﷺ bilang: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR.Ahmad)


Ilmu yang bener itu hapus dosa masa lalu, karena dia ngubah arah hidup, bukan cuma nambah pengetahuan doang.


Penutup: Buat Kalian yang Lagi Mencari


Wahai sobat penghuni bumi yang lagi nyari Tuhan, kalau masa lalumu kelam, kalau dosamu banyak banget, kalau hatimu lelah sama dunia— jangan putus asa.


Menuntut ilmu itu:


· Taubat yang jalan terus

· Istighfar yang bernapas

· Amal yang bersihin jejak lama


Kaya sabda Nabi ﷺ: “Menuntut ilmu menghapus dosa yang telah lalu.”


Jadi, belajarlah, bukan buat dipuji, bukan buat menang debat, tapi buatpulang lagi ke Allah.


🤲 Allahumma zidna ‘ilman, wa zakki qulubana, waghfir lana ma mada “Ya Allah,tambahkanlah kami ilmu, sucikanlah hati kami, dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu.”


Tetap semangat ngaji, sobat! Biar zaman serba cepat, taubat kita tetap jalan. 🚀📖

 Hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang masyhur:


عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ


"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menuntun kepada kebaikan (Al-Birr), dan kebaikan itu menuntun kepada surga."

Kuncinya ada pada kata Al-Birr (kebajikan).

yaitu As-Sidq. Kejujuran, yang kalau kamu pegang, Allah jamin 20 ibadah lainnya ikut beres.

........

JUJUR (AS-SIDQ): SATU KUNCI, BANYAK PINTU KEBAIKAN

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran menuntun kepada Al-Birr, dan Al-Birr menuntun kepada surga.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah, wahai hati yang sedang mencari jalan pulang.

Nabi ﷺ tidak berkata: perbanyak ibadah sunnah terlebih dahulu,

tidak pula berkata: kuasai teknologi,

tetapi beliau berkata: “عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ” – Peganglah kejujuran.

Karena As-Sidq adalah akar,

sedangkan Al-Birr adalah batang dan cabangnya.

AL-BIRR: KEBAIKAN YANG MENYELURUH

Allah Ta‘ala berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Bukanlah Al-Birr itu sekadar menghadapkan wajah ke timur atau barat...”

(QS. Al-Baqarah: 177)

Kemudian Allah menyebutkan:

iman,

kejujuran harta,

menepati janji,

sabar,

kepedulian sosial.

Maka Al-Birr bukan satu ibadah,

melainkan seluruh hidup yang selaras dengan kebenaran.

Dan pintu Al-Birr pertama adalah As-Sidq (jujur).

JUJUR DI ERA TEKNOLOGI

Teknologi hari ini:

bisa menyembunyikan dosa,

bisa memalsukan citra,

bisa memoles kebohongan.

Namun orang yang jujur:

tidak memanipulasi data,

tidak mencuri karya,

tidak berpura-pura alim di media sosial.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.”

(QS. At-Taubah: 119)

Tasawuf mengajarkan:

“Ikhlas tanpa jujur adalah ilusi.”

JUJUR DALAM KOMUNIKASI

Di zaman chat cepat dan suara singkat:

dusta disebar tanpa wajah,

fitnah berjalan tanpa saksi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta bila ia menceritakan semua yang ia dengar.”

(HR. Muslim)

Orang jujur:

menahan jari sebelum mengetik,

menimbang ucapan sebelum mengirim,

lebih memilih diam daripada dusta.

Inilah ibadah lisan yang sering dilupakan.

JUJUR DALAM TRANSPORTASI DAN MOBILITAS

Perjalanan hari ini cepat,

tetapi tujuan hidup sering kabur.

Orang jujur:

tidak menipu tarif,

tidak melanggar amanah,

tidak merugikan orang demi sampai lebih dulu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.”

(HR. Tirmidzi)

Tasawuf berkata:

“Langkah yang jujur lebih cepat sampai kepada Allah daripada lari yang penuh tipu daya.”

JUJUR DALAM KEDOKTERAN DAN ILMU

Ilmu tanpa kejujuran melahirkan kehancuran.

Dokter, peneliti, dan tenaga kesehatan:

dituntut sidq niat,

sidq diagnosis,

sidq amanah.

Allah berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ

“Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan.”

(QS. Al-Baqarah: 42)

Tasawuf mengingatkan:

“Ilmu yang tidak jujur tidak menyembuhkan, tapi menambah penyakit hati.”

JUJUR DALAM KEHIDUPAN SOSIAL

Kejujuran:

membuat rumah tangga tenang,

membuat dagang berkah,

membuat masyarakat saling percaya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya kejujuran membawa ketenangan, dan dusta membawa kegelisahan.”

(HR. Ahmad)

Orang jujur mungkin kalah cepat,

tetapi menang dalam ketenangan batin.

SATU JUJUR, DUA PULUH IBADAH IKUT BERES

Tasawuf mengajarkan:

As-Sidq adalah poros.

Jika seseorang jujur:

shalatnya jujur,

puasanya jujur,

sedekahnya jujur,

taubatnya jujur,

cintanya jujur.

Maka 20 ibadah lain ikut lurus tanpa dipaksa.

PENUTUP

Wahai jiwa yang lelah di zaman serba cepat,

jangan mencari jalan pintas menuju surga.

Pegang satu saja: JUJUR.

Karena:

As-Sidq → Al-Birr

Al-Birr → Al-Jannah

Dan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

“Siapakah yang lebih jujur daripada Allah dalam perkataan?”

(QS. An-Nisa: 122)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang shiddiqin,

yang jujur di hati, lisan, amal, dan tujuan.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn. 🤍

usfiriyah nauf

 Nauf al-Khawari  bin Munabbah bahwa ia berkata, “Sesungguhnya salah seorang dari para santri Nabi Isa ‘alaihi as- salam yang bernama Nauf hendak pergi menemui Raja Paris dan mengajaknya beriman. Suatu ketika Nauf telah sampai di pintu kota Paris. Ia melihat anak-anak kecil sedang memainkan sebuah permainan (yang menggunakan kaki). Dalam permainan tersebut, barang siapa yang menang maka akan mengambil sejumlah uang sebanyak 40 dirham. Nauf al- Khawari memperhatikan mereka. Kemudian ia tahu cara bermainnya. Ia pun ikut serta dalam permainan tersebut dan berhasil mengalahkan mereka semua. Di antara anak-anak kecil itu ada seorang anak yang merupakan anak patih Raja Paris. Anak itu berkata:

Wahai orang tua! Mampirlah ke rumahku.’

‘Temuilah ayahmu dulu dan mintalah izin darinya jika kamu mau memampirkanku ke rumahmu!’ jawab Nauf al- Khawari.

Kemudian anak itu pulang dan menemui ayahnya. Ia berkata kepada ayahnya;

‘Wahai ayahku! Saat itu kami sedang bermain. Kemudian ada orang yang sudah tua ikut bermain bersama kami. Kemudian ia berhasil mengalahkan kami semua. Saya sangat kagum dengan kecakapannya. Lantas saya mengundangnya untuk mampir ke rumah. Akan tetapi ia tidak mau dan berkata kepadaku; ‘Temuilah ayahmu dulu dan mintalah izin darinya jika kamu mau memampirkanku ke rumahmu!’

Kemudian ayah anak itu menjawab:

‘Wahai anakku! Temuilah ia! Dan bawalah ia kemari!’

Setelah mendapat izin dari ayahnya, si anak pergi menemui Nauf. Ia mengajaknya mampir ke rumah dan pulang bersama. Ketika masuk rumah, Nauf

rumah itu dipenuhi dengan setan- setan. Kemudian ketika Nauf membaca  “ﷲ  ِﻢ ْﺴ  ﺑِ”,  setan-setan  itu pergi. Kemudian ketika tuan rumah meletakkan hidangan di depan Nauf, setan-setan datang hendak makan bersama mereka seperti biasanya. Kemudian Nauf ketika hendak makan, ia membaca “ﷲ    ِﻢ ْﺴ  ﺑِ”.    Kemudian    setan-setan pergi dan keluar dari rumah itu berlarian. Selesai makan bersama, si ayah atau patih Raja berkata kepada Nauf:

Wahai orang tua! Beritahu saya siapakah anda sebenarnya? Saya melihat hal-hal ganjil luar biasa dari diri anda yang belum pernah saya lihat dari siapapun. Ketika anda masuk ke dalam rumah, setan-setan pada berlarian. Sebelumnya, ketika kami menghidangkan makanan, kami tidak bisa makan sendiri dan setan-setan selalu ikut makan bersama kami. Tetapi kali ini setan-setan berlarian ketika anda ikut makan. Oleh karena itu, saya tahu kalau anda memiliki sesuatu yang luar biasa. Beritahu saya dan jangan anda sembunyikan identitas anda dariku!”

Nauf menjawab, ‘Baiklah! Saya akan memberitahu anda siapa saya sebenarnya. Akan tetapi jangan memberitahu siapapun tentangku kecuali dengan izinku.’

‘Baiklah!’ kata patih Raja sambil berjanji.

Nauf menjelaskan, ‘Sesungguhnya Nabi Isa ‘alaihi as-salam menyuruhku datang kepada kalian dan raja kalian untuk mengajak iman kepada Allah, masuk Islam, hanya menyembah- Nya, tidak menyekutukan apapun dengan-Nya, dan membakar berhala-berhala dan patung- patung kalian.’

Patih Raja berkata, ‘Jelaskan kepada saya tentang Tuhan anda!’

Nauf menjelaskan, ‘Allah adalah Tuhan yang tidak ada tuhan melainkan Dia yang telah menciptakanmu,    memberimu rizki, menghidupkanmu dan mematikanmu.’

Kemudian patih Raja beriman, membenarkan ajaran Nauf dan menyembunyikan keimanannya.

Pada suatu hari, ketika Patih Raja pulang dari menemui Raja Paris, ia terlihat sangat sedih dan murung. Nauf bertanya;

‘Wahai Patih! Saya melihat anda bersedih dan murung. Apa yang membuatmu demikian?’

Patih Raja menjawab, ‘Kuda kesayangan Raja telah mati. Raja selalu mengendarai kuda itu dan tidak mau mengendarai yang lain. Ia sangat mencintainya lebih daripada hartanya. Ia duduk bersedih atas kematian kudanya itu.’

Nauf berkata, ‘Wahai Patih! Pergilah menemui Raja. Beritahu ia kalau anda memiliki seorang tamu yang mengatakan, ‘Jika Raja menurutiku tentang apa yang akan saya katakan, maka saya akan menghidupkan kembali kudanya.’’

Setelah itu, Patih pun pergi dengan perasaan senang menemui Raja dan berkata;

‘Wahai Raja! Saya memiliki seorang tamu yang mengatakan, ‘‘Jika Raja menurutiku tentang apa yang akan saya katakan, maka saya akan menghidupkan kembali kudanya dengan izin Allah.’’

menuruti anda dan mengundang anda untuk menemuinya.’

Kemudian, ketika Nauf al-Khawari sampai di istana Raja dan hendak memasukinya, ia membaca “ﷲ ِﻢ ْﺴ  ﺑِ” hingga tidak ada satu setan pun yang berada di istana tersebut. Ketika Nauf telah memasukinya, Raja berkata;

‘Wahai orang tua! Aku mendengar kalau kamu bisa menghidupkan makhluk yang telah mati. Maka dari itu, hidupkanlah kembali kuda kesayanganku ini!’

Nauf menjawab, ‘Apabila anda menuruti apa yang akan saya katakan, maka saya akan menghidupkan kembali kuda kesayangan anda dengan izin Allah Ta’ala.’

Raja berkata, ‘Baiklah! Saya bersedia. Sebutkan apa yang kamu perintahkan kepadaku!’

Nauf bertanya, ‘Apakah anda memilih anak-anak?’

Raja menjawab, ‘Aku hanya memiliki seorang ayah dan istri. Aku tidak memiliki siapapun kecuali mereka berdua.’

Nauf berkata, ‘Panggillah mereka berdua!’

Kemudian ayah Raja dan istrinya pun datang.

‘Panggilah semua rakyat anda!’ kata Nauf.

Kemudian Raja memanggil semua rakyatnya. Mereka semua telah berkumpul.

Nauf memegang salah satu kaki kuda  dan  mengatakan  “اﷲ إﻻ إﻟﻪ ﻻ”.

Kemudian kaki yang Nauf pegang pun bergerak. Kemudian ia berkata    kepada    Raja, ‘Perintahkanlah ayah dan istri anda untuk memegang masing- masing kaki kuda ini dan anda sendiri!’

Kemudian mereka bertiga memegang masing-masing kaki kuda.

‘Raja!  Katakanlah  “اﷲ إﻻ إﻟﻪ ﻻ”!’  kata Nauf.

Kemudian Raja mengatakannya dan kaki yang ia pegang pun bergerak. Kemudian Nauf berkata kepada ayah Raja;

‘Anda juga! Katakan “اﷲ إﻻ إﻟﻪ ﻻ”!’ Kemudian kaki yang ayah Raja pegang    pun    juga    bergerak.

Kemudian Nauf berkata kepada

istri Raja,

‘Anda juga! Katakan “اﷲ إﻻ إﻟﻪ ﻻ”!’

Kemudian kaki yang istri Raja pegang pun juga bergerak.

Hanya tertinggal jasad kuda yang belum bergerak. Kemudian Nauf berkata kepada Raja;

‘Wahai Raja! Perintahkan semua rakyatmu mengatakan “اﷲ إﻻ إﻟﻪ ﻻ”!’

Kemudian semua rakyat Raja pun mengatakannya. Tiba-tab kuda itu berdiri dengan izin Allah. Kemudian Nauf meniup ubun- ubun kuda. Akhirnya, semua orang merasa kagum dan mereka semua masuk Islam.

.......