ZINA: JALAN KEJI YANG BERUJUNG PENYESALAN
Peringatan Keras dari Hadis Nabi dan Relevansinya di Zaman Modern
Di dalam hadits yang lain, dari Mu’adz bin Jabal ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Ketika terjadi hari kiamat, yaitu hari kerugian dan penyesalan, maka Allah Ta’ala mengumpulkan umatku dari kubur mereka menjadi 12 bagian.”
Mereka dikumpulkan dari kuburnya dengan menundukkan kepalanya, sedangkan kaki mereka berada di atas kepalanya, serta dari farjinya mengalir sungai nanah (campur darah) dan nanah kental. Lalu pemanggil yang memanggil di hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orangOrang yang zina, mereka mati sebelum bertaubat, maka inilah pembalasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah ke heraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’: 32).
.........
Intisari Judul:
Zina bukan sekadar dosa personal, tetapi kerusakan moral dan sosial yang berdampak luas, berujung penyesalan di dunia dan azab di akhirat bila tidak ditaubati.
Ringkasan Redaksi Aslinya
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal ra., Rasulullah ﷺ menggambarkan kondisi mengerikan sebagian umat di hari kiamat. Mereka dibangkitkan dalam keadaan hina, tubuh terbalik, dan keluar nanah bercampur darah dari kemaluannya. Seruan malaikat menyatakan bahwa mereka adalah pelaku zina yang mati sebelum bertaubat, dan tempat kembali mereka adalah neraka.
Peringatan ini selaras dengan firman Allah Ta’ala:
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’: 32)
Latar Belakang Masalah di Zamannya
Pada masa Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab jahiliyah mengenal praktik perzinaan terbuka: hubungan bebas, prostitusi, dan sistem keluarga yang rusak. Islam datang bukan hanya melarang zina, tetapi menutup seluruh pintu yang mengarah kepadanya: pandangan, khalwat, sentuhan, hingga ucapan.
Larangan ini bersifat preventif, jauh sebelum perbuatan terjadi.
Sebab Terjadinya Masalah
Lemahnya iman dan muraqabah (rasa diawasi Allah).
Syahwat yang tidak dikendalikan.
Lingkungan permisif terhadap maksiat.
Normalisasi dosa melalui budaya dan hiburan.
Menunda taubat dan meremehkan dosa.
Tujuan dan Manfaat Pembahasan
Tujuan:
Menyadarkan umat tentang bahaya zina.
Menghidupkan rasa takut dan harap kepada Allah.
Mengajak taubat sebelum terlambat.
Manfaat:
Menjaga kehormatan diri dan keluarga.
Menyelamatkan masyarakat dari kehancuran moral.
Menguatkan benteng iman di era modern.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
Al-Qur’an
QS. Al-Isra’: 32
QS. An-Nur: 2 (hukuman zina)
QS. Al-Furqan: 68–70 (zina termasuk dosa besar, namun pintu taubat terbuka)
Hadis
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Analisis dan Argumentasi
Zina merusak:
Agama: memadamkan cahaya iman.
Akal: menjadikan syahwat sebagai tuhan.
Nasab: menghancurkan garis keturunan.
Masyarakat: menyuburkan penyakit sosial dan kriminal.
Islam tidak menunggu kerusakan terjadi, tetapi mengunci pintu sejak awal.
Hukuman dan Dampak
Di Dunia
Hilangnya keberkahan hidup.
Keresahan batin.
Penyakit fisik dan psikis.
Rusaknya rumah tangga dan nasab.
Di Alam Kubur
Sempitnya kubur.
Azab akibat dosa yang belum ditaubati.
Di Hari Kiamat
Dibangkitkan dalam keadaan hina.
Dipermalukan di hadapan makhluk.
Di Akhirat
Ancaman neraka bagi yang tidak bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Keutamaan Menjauhi Zina
Dijaga kehormatannya oleh Allah.
Hatinya bercahaya.
Doanya lebih mudah dikabulkan.
Keluarganya diberkahi.
Relevansi dengan Zaman Modern
Teknologi & Komunikasi
Media sosial membuka pintu zina visual dan batin.
Chat, video call, dan konten digital sering menjadi awal maksiat.
Transportasi
Mobilitas tinggi memudahkan pertemuan tanpa pengawasan.
Kedokteran
Penyakit menular seksual meningkat.
Aborsi ilegal dan trauma psikologis.
Kehidupan Sosial
Normalisasi hubungan tanpa nikah.
Hilangnya rasa malu (ḥayā’).
Hikmah
Zina selalu diawali langkah kecil.
Taubat adalah rahmat terbesar.
Menjaga pandangan adalah benteng iman.
Muhasabah dan Caranya
Hitung dosa, bukan jasa.
Ingat kematian dan kubur.
Perbanyak istighfar.
Jaga pandangan dan pergaulan.
Dekatkan diri pada majelis ilmu.
Doa
Allahumma tahhir qulubana, wahfazh furujana, waj‘alna minat-taibin.
“Ya Allah, sucikan hati kami, jaga kehormatan kami, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang bertaubat.”
Nasihat Para Ulama dan Sufi
Hasan Al-Bashri: “Dosa kecil yang diremehkan bisa menenggelamkan pelakunya.”
Rabi‘ah al-Adawiyah: “Cinta kepada Allah mengusir syahwat dari hati.”
Abu Yazid al-Bistami: “Siapa yang menjaga pandangannya, Allah jaga hatinya.”
Junaid al-Baghdadi: “Jalan kepada Allah tidak dilalui oleh hawa nafsu.”
Al-Hallaj: “Hati yang penuh maksiat tak sanggup memikul cahaya.”
Imam al-Ghazali: “Syahwat yang tak dikendalikan akan memperbudak akal.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Taubat menutup dosa, istiqamah menjaga diri membuka rahmat.”
Jalaluddin Rumi: “Luka adalah tempat cahaya masuk, jika kau kembali kepada-Nya.”
Ibnu ‘Arabi: “Hakikat kesucian adalah kembali kepada fitrah.”
Ahmad al-Tijani: “Istighfar adalah pintu keselamatan umat akhir zaman.”
Testimoni Ulama Kontemporer
Gus Baha: “Allah lebih cepat menerima taubat daripada kita jatuh dalam dosa.”
Ustadz Adi Hidayat: “Islam melarang mendekati zina karena kerusakannya berlapis.”
Buya Yahya: “Malu adalah iman, jika malu hilang, runtuhlah penjagaan diri.”
Ustadz Abdul Somad: “Zina merusak satu orang, tapi dampaknya ke generasi.”
Buya Arrazy Hasyim: “Penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit badan.”
Catatan Redaksi
Jika terdapat kisah yang tergolong Israiliyat, maka ia disajikan hanya sebagai bahan renungan, bukan dalil akidah atau hukum.
Daftar Pustaka
Al-Qur’anul Karim
Shahih Bukhari & Muslim
Tafsir Ibnu Katsir
Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
Futuhul Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Ucapan Terima Kasih
Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para ulama, dai, dan pembaca yang senantiasa menjaga nilai-nilai kesucian dan taubat dalam kehidupan.
Penulis:
M. Djoko Ekasanu
Jika Anda ingin, tulisan ini bisa saya ringkas versi khutbah Jumat, buku saku santri, atau artikel majalah masjid.
