33. Penjelasan Tentang Mikraj Nabi Muhammad Saw.
Dari sahabat Abu Said Alkhudri ra., bahwa ia telah menanyakan kepada Nabi saw. tentang malam Beliau diisra’kan, maka dijawab oleh Beliau :
“Didatangkan kepadaku seekor binatang, yaitu binatang yang mirip bighal. Itulah Burag yang pernah dinaiki oleh para nabi”.
Beliau melanjutkan :
Maka, binatang itu membawa aku pergi. la menapakkan kaki depannya sejauh pandangannya. Tiba-tiba terdengar olehku suara panggilan dari sebelah kananku : Ya Muhammad, tunggu sebentar!’. Namun aku meneruskan perjalanan tanpa memperdulikannya.
Kemudian aku mendengar pula suara panggilan dari sebelah kiriku, namun aku pun tidak memperdulikannya. Setelah itu aku dihadang oleh seorang wanita yang mengenakan perhiasan lengkap. Wanita itu mengulurkan tangannya seraya berkata : “Tunggu sebentar”. Namun aku meneruskan perjalanan tanpa menoleh kepadanya.
Akhirnya tibalah aku di Baitul Maqdis, atau Masjid Al Agsha, lalu aku turun dan mengikat Burag pada sebuah tali tempat para nabi dahulu mengikatkan ia di sana. Kemudian aku masuk ke Masjid dan salat.
Setelah itu, aku bertanya kepada Jibril :
“Wahai Jibril, tadi di tengah perjalanan, aku mendengar seruan dari sebelah kananku”.
Jibril menjawab : “Itu adalah penyeru agama Yahudi. Seandainya tadi Anda berhenti mengikuti seruannya, niscaya umatmu kelak akan menjadi Yahudi”.
Aku bertanya pula :
“Tadi, aku juga mendengar seruan dari sebelah kiriku”.
Jibril menjawab : “Itu adalah penyeru agama Nasrani. Seandainya anda tadi berhenti mengikuti seruannya, niscaya umatmu kelak akan menjadi Nasrani. Sedangkan wanita yang menghadangmu tadi adalah dunia. Ia telah berhias untukmu. Seandainya Anda tadi berhenti mengikuti seruannya, niscaya umatmu kelak akan lebih memilih dunia ketimbang akhirat”.
Kemudian aku diberi dua buah bejana, yang satu berisi susu sedang yang lain berisi arak. Jibril berkata kepadaku : “Minumlah mana yang Anda kehendaki dari kedua minuman itu”.
Lalu aku mengambil bejana yang berisi susu dan meminumnya, sedangkan bejana yang berisi arak itu aku tinggalkan.
Jibril berkata :
“Anda tepat telah memilih kesucian (yakni Anda telah memberikan Islam kepada umatmu). Seandainya tadi anda mengambil arak, niscaya akan menjadi sesatlah umatmu”. (Oishash)
Diriwayatkan juga, bahwa Rasulullah saw. bersabda, yang artinya :
Pada malam aku diisra’kan, sedang aku berada di Mekah dalam keadaan antara tidur dan jaga, datanglah Jibril kepadaku lalu berkata : “Ya Muhammad, bangunlah”.
Maka aku pun terjaga. Tahu-tahu sudah ada Jibril bersama Mikail. Lalu Jibril berkata kepada Mikail : “Beri aku segelas air zamzam, supaya aku bersihkan hatinya dan aku lapangkan dadanya”.
Nabi saw. melanjutkan : “Lantas Jibril membelah perutku, kemudian mencucinya tiga kali, sementara Mikail bolak-balik datang kepadanya dengan membawa tiga gelas air. Maka Jibril melapangkan dadaku dan membuang sifat dengki yang ada di dalamnya, lalu mengisinya dengan hikmat, ilmu dan iman. Kemudian ia mencap di antara kedua pundak: ku dengan cap kenabian. Setelah itu Jibril menggandeng tanganku hingga selesai pencu: cian dengan air zamzam itu, atau dengan air Alkautsar. Selanjutnya Jibril berkata kepadaku : “Berwudulah!”, Maka aku pun berwudu.
Kemudian Jibril berkata : “Berangkatlah, Ya Muhammad!”.
Aku bertanya : “Ke mana?”.
“Ke Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu”, jawab Jibril.
Lalu Jibril menggandeng tanganku dan mengajakku keluar dari Masjid. Ternyata di luar telah menunggu seekor Buraq, yang bentuk tubuhnya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada baghal. Pipinya seperti pipi manusia. Ekornya seperti ekor unta. Bulu lehernya seperti bulu leher kuda. Kaki-kakinya seperti kaki unta. Kuku-kukunya seperti kuku sapi. Dan punggungnya seolah-olah mutiara putih. Di atasnya punggungnya ada pelana dari surga. Ia mempunyai sepasang sayap di kedua pahanya. Ia melaju laksana kilat. Langkahnya menapak sejauh pandangannya. Jibril berkata : “Naiklah”
Burag ini adalah kendaraan Nabi Ibrahim as., yang dahulu pernah Beliau naiki ketika berkunjung ke Baitulharam. Maka aku pun menaikinya. Kemudian Nabi saw. bertolak disertai oleh malaikat Jibril as. di tengah-tengah perjalanan, Jibril berkata : “Turunlah, lalu salatiah!”. Kata Nabi : “Maka aku pun turun dan salat”. Kemudian Jibril bertanya : “Tahukah Anda di mana Anda salat tadi?”. “Tidak”, jawabku. dibril menjelaskan : “Anda tadi salat di Thaibah, dan ke sanalah hijrah akan terjadi, Insya Allah”. Kemudian kami pun meneruskan perjalanan. Di tengah-tengah perjalanan, Jibril berkata :
Turunlah, lalu salatiah!”. Maka aku pun turun dan mengerjakan salat. Setelah itu Jibril bertanya : “Tahukah Anda, di mana Anda salat tadi?”. “Tidak”, jawabku. Jibril menjelaskan : “Anda tadi salat di Thursina, di mana Allah pernah berbicara dengan Nabi Musa as.”. Kemudian kami pun meneruskan perjalanan. Di tengah-tengah perjalanan Jibril berkata : “Turunlah, lalu salatiah!”. Maka aku pun turun dan melakukan salat. “Tahukah Anda, di mana Anda salat tadi?”. Tanya Jibril. Aku menjawab : “Tidak”. Jibril menjelaskan : “Tadi Anda telah salat di Baitlehm, tempat kelahiran Nabi Isa as”. Setelah itu, kami
melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampailah kami ke Baitulmaqdis. Sesampainya di sana, ternyata telah menunggu beberapa malaikat yang sengaja turun dari langit untuk menyambut kedatanganku. Mereka menyambutku dengan kabar gembira dan kemuliaan dari sisi Allah Taala. Mereka mengucapkan :
“Salam sejahtera atasmu, wahai yang permulaan, wahai yang akhir, wahai yang mengumpulkan”.
Nabi berkata : “Aku bertanya kepada Jibril : “Apa maksud penghormatan mereka kepadaku itu?”.
Jibril menjawab : “Sesungguhnya Andalah orang yang mula-mula menjadikan bumi terbelah (pada hari kiamat, pent.) juga umat Anda. Dan Anda adalah orang yang mulamula memberikan syafaat, dan yang mula-mula diterima syafaatnya. Dan sesungguhnya Anda merupakan nabi terakhir. Dan sesungguhnya penghimpunan (pada hari kiamat kelak) adalah demi Anda dan umat Anda”.
Kemudian kami meneruskan perjalanan hingga tiba di pintu Masjid. Lantas Jibril menyuruh aku turun. Lalu ia mengikatkan Burag pada tali, di mana para nabi dahulu mengikatkannya di sana, dengan tali kekang dari sutera surga.
Ketika aku memasuki pintu itu, tiba-tiba aku melihat para nabi dan rasul (sedang menurut hadis riwayat Abul Aliyah : arwah para nabi yang pernah diutus Allah sebelum aku, sejak dari zaman Nabi Idris dan Nuh as. sampai kepada zaman Nabi Isa as.), Allah Azza wa Jalla telah mengumpulkan mereka. Lalu mereka memberi salam kepadaku dan menghormati aku seperti penghormatan para malaikat tadi. Aku bertanya kepada Jibril : “Hai Jibril, siapakah mereka itu?”.
Jibril menjawab : “Mereka adalah saudara-saudaramu, para nabi as.”.
Kemudian Jibril menggandeng tanganku, lalu mengajakku pergi ke sebuah batu beSar yang keras dan mendaki bersamaku.
Nabi melanjutkan :
Tiba-tiba aku melihat sebuah tangga ke langit yang belum pernah aku melihat tangga sebaik dan seindah itu, dan belum pernah seorang pun menyaksikan tangga yang lebih baik dan lebih indah daripada itu. Lewat tangga itulah para malaikat naik ke langit. Landasannya ada pada batu besar yang keras di Baitul Maqdis, sedangkan ujungnya menempel di langit. Salah satu tiangnya berupa yagut, sedang yang satunya lagi zabarjad. Satu anak tangga terbuat dari perak, sedang anak tangga yang lain dari zamrud bertahtakan mutiara dan yagut. Itulah tangga yang digunakan oleh malaikat maut turun untuk mencabut nyawa.Maka jika kamu melihat orang yang akan mati di antara kamu menatapkan pandangannya, itu berarti kesadarannya telah terputus darinya. Yaitu, jika ia telah melihat dengan nyata tangga tersebut, karena indahnya.
Kemudian Jibril mengangkatku dan meletakkanku di atas sayapnya. Lalu naiklah ia ke langit yang paling rendah melalui tangga tersebut. Jibril mengetuk pintu langit, lalu terdengar pertanyaan :Siapa itu?”.
Jibril menjawab : “Aku, Jibril”.
Ditanya pula :
“Siapa bersamamu?”.
Muhammad”, jawab Jibril.
Maka dibukalah pintu langit itu, dan kami pun memasukinya. Ketika kami sedang berjalan di langit terendah itu, tiba-tiba aku melihat seekor ayam jago yang berbulu sangat putih. Aku belum pernah melihat ayam jago seperti itu. la memiliki bulu halus yang hijau di bawah bulu-bulunya yang sangat putih tadi, yang belum pernah aku lihat ‘arna hijau seindah itu.
Dan ternyata kedua kakinya berada di dasar bumi yang paling bawah, sedangkan kepalanya berada di bawah Arsy. Dia mempunyai sepasang sayap pada kedua pundaknya, yang apabila dikepakkannya, maka akan mencapai timur dan barat. Jika malam telah lewat separuhnya, ayam itu mengembangkan kedua sayapnya sambil mengepak-ngepakkannya, lalu ia meneriakkan tasbih kepada Allah Azza wa Jalla, yang artinya : “Mahasuci Maharaja yang kudus. Yang Mahabesar lagi Mahatinggi. Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Mahahidup lagi Maha berdiri sendiri”. Apabila ia melakukan itu, maka semua ayam yang ada di muka bumi ikut bertasbih sambil mengepakkan sayap-sayap mereka. Begitulah pula, jika ayam di langit tadi diam, maka ikut diam pula seluruh ayam yang ada di bumi.
Rasulullah saw. bersabda, yang artinya : “Semenjak aku melihat ayam jago itu, aku senantiasa rindu untuk melihatnya lagi”.
Beliau melanjutkan ceritanya :
“Kemudian kami naik ke langit kedua. Lantas Jibril minta dibukakan pintu. Dan seterusnya terjadi dialog seperti pada langit pertama. Kemudian kami naik ke langit ketiga, lalu Jibril minta dibukakan pintu… dan seterusnya. Kemudian kami naik ke langit ke empat, lalu Jibril minta dibukakan pintu… dan seterusnya. Kemudian kami naik ke langit kelima, lalu Jibril minta dibukakan pintu… dan seterusnya. Kemudian kami naik ke langit keenam, lalu Jibril minta dibukakan pintu…. Dan seterusnya. Selanjutnya kami naik ke langit ketujuh, lalu Jibril minta dibukakan pintu… dan seterusnya. Kemudian kami pun masuk, tibatiba aku melihat seorang laki-laki yang rambutnya beruban sedang duduk di atas kursi di sisi pintu surga, sedangkan di sekelilingnya ada banyak orang duduk, semuanya berwajah putih.
Lalu aku bertanya :Wahai Jibril, siapakah orang yang berambut putih itu, dan siapa pula orang-orang yang ada di sekelilingnya itu, dan sungai-sungai apa ini?”.
Jibril menjawab : “Inilah bapakmu, Nabi Ibrahim, orang yang mula-mula beruban di muka bumi. Adapun orang-orang berwajah putih yang duduk di sekelilingnya itu ialah mereka yang tidak mencampur iman mereka dengan kezaliman”.
Nabi saw. melanjutkan :
“Dan ternyata Nabi Ibrahim itu bersandar pada sebuah rumah. Jibril berkata : “Inilah Baitul Ma’mur. Setiap harinya, ia dimasuki oleh 70 ribu malaikat. Apabila mereka telah keluar dari dalamnya, maka mereka tidak akan memasukinya kembali”.
Beliau melanjutkan ceritanya :
Kemudian Jibril membawaku ke Sidratul Muntaha, yang ternyata merupakan sebatang pohon yang banyak daunnya. Selembar daun dari pohcn itu dapat menutupi dunia ini dan seluruh yang ada di dalamnya. Dan ternyata pula, buahny.seperti puncak-puncak gunung di Hijr. Dari pokoknya keluar empat batang sungai : dua sungai tampak nyata, dan dua sungai lagi tidak tampak. Maka aku tanyakan hal itu kepada Jibril, lalu ia menjawab : “Adapun dua sungai yang tidak tampak jelas itu adalah dua sungai yang ada di dalam surga, sedangkan vang tampak jelas itu adalah sungai Nil Jan Efrat”.
Nabi saw. melanjutkan :
“Kemudian sampailah aku ke Sidratul Muntaha. Aku mengenal daun dan buahnya. Maka pohon itu diliputi cahaya Allah sedemikian rupa, yakni tampak jelas dan diliputi oleh malaikat, seolah-olah mereka belalang dari emas, karena takut kepada Allah Taala. Ketisa ia telah diliputi oleh apa yang meliputinya, maka ia pun berganti rupa sehingga tidak ada seorang pun yang mampu mensifatinya”.
Kata Beliau pula :
“Di sana ada malaikat-malaikat yang bilangannya tidak diketahui kecuali oleh Allah Yang Mahatinggi, Maha Perkasa lagi Mahaagung. Sedang kedudukan Jibril adalah di tengah-tengah mereka. Kemudian Jibril berkata kepadaku : “Majulah”. Namun aku menjawab : “Hai Jibril, engkau sajalah yang maju”. Jibn! berkata : “Tetapi Andalah yang maju, wahai Muhammad, karena Anda lebih mulia di sisi Allah daripada saya”.
Maka, aku pun maju, sedang Jibril mengikutiku dari belakang, hingga akhirnya sampailah kami ke sebuah hijab dari hamparan emas. Jibril menggoyangkan hijab itu, lantas ja ditanya : “Siapa ini?”.
Jibril menjawab : “Aku Jibril bersama Muhammad”.
“Allahu Akbar”, kata malaikat penjaga itu. Lalu ia mengulurkan tangannya dari bawah hijab itu, dan membawaku. Sementara Jibril tertinggal di belakang. Maka aku bertanya : “Ke mana?”.
Jibril menjawab : “Ya Muhammad, tidak seorang pun dari kami kecuali mempunyai kedudukan tertentu. Sesungguhnya inilah batas terakhir seluruh makhluk. Adapun aku diizinkan mendekat sampai ke hijab ini tidak lain adalah karena untuk menghormati dan mengagungkanmu”.
Malaikat penjaga tadi membawaku pergi dalam tempo yang lebih cepat dari lirikan mata, menuju ke hijab mutiara. Lalu ia menggoyangkan hijab itu, maka bertanyalah malaikat penjaga dari balik hijab itu : “Siapa ini?”,
Malaikat yang membawaku menjawab : “Aku penjaga hamparan emas. Dan ini adalah Muhammad, Rasul dari Arab bersama aku”.
“Allahu Akbar”, kata malaikat penjaga itu. Kemudian ia mengulurkan tangannya dari bawah hijab itu hingga diletakkannya aku di hadapannya.
Demikianlah seterusnya, aku berpindah dari satu hijab ke hijab yang lain, yang tiaptiap hijab itu sejauh perjalanan Ima ratus tahun. Sedangkan jarak antara satu hijab dengan hijab lainnya adalah sejauh perjalanan lima ratus tahun pula.
Kemudian dihamparkan untukku sebuah permadani hijau. Cahayanya laksana cahaya matahari, sehingga pandanganku menjadi silau. Dan aku ditempatkan di atas permadani itu, kemudian permadani itu membawa diriku.
Maka ketika aku melihat Arsy, aku dapati ia lebih luas dari segala sesuatu. Kemudian Allah Azza wa Jalla mendekatkan aku kepada sandaran Arsy, lalu meneteslah suatu tetesan dari Arsy, jatuh pada lidahku, yang manisnya tidak pernah dirasakan oleh seorang pun, dan tidak ada sesuatu yang rasanya lebih manis daripadanya. Lantas Allah Azza wa Jalla memberitahukan kepadaku berita tentang orang-orang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, dan Dia membebaskan lidahku dari kekeluan karena kehebatan-Nya. Kemudian aku mengucapkan :
Segala penghormatan, rahmat dan kebaikan adalah milik Allah”.
“Kesejahteraan atasmu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta berkat-Nya”.
Lalu aku menyahut :
Sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh”. Lantas Allah azza wa Jalla berfirman :
“Ya Muhammad, Aku telah mengangkatmu sebagai kekasih, sebagaimana Aku telah mengangkat Ibrahim sebagai khalil. Dan Aku mengajakmu berbicara sebagaimana Aku telah mengajak Musa berbicara. Dan Aku menjadikan umatmu sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi manusia, serta Aku jadikan mereka umat pertengahan. Dan Aku jadikan mereka umat yang permulaan dan yang terakhir. Oleh karena itu, ambillah apa yang telah Aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk golongan orang-orang yang bersyukur”.
Kemudian Allah menerangkan kepadaku beberapa perkara yang tidak diizinkan aku memberitahukannya kepada kamu. Dan diwajibkan atasku dan atas umatku salat 50 kali setiap hari.
Setelah Allah memberikan janji-Nya kepadaku dan membiarkan aku selama waktu yang Dia kehendaki, maka berfirmanlah Dia kepadaku: “Pulanglah kepada umatmu, dan sampaikanlah firman-Ku kepada mereka”.
Maka permadani yang tadi telah membawaku, kini membawaku kembali. Begitulah aku dibawanya naik dan turun hingga akhirnya tiba di Sidratul muntaha. Ternyata di sana Jibril telah menungguku. Aku melihat Jibril dengan hatiku sebagaimana aku melihatnya dengan mata di hadapanku. Dia menyambutku dan berkata :
Semoga Allah menganugerahkan kepadamu kesejahteraan yang tidak pernah dianugerahkan-Nya kepada seorang pun dari makhluk-Nya, baik malaikat yang didekatkan maupun nabi yang diutus. Dan sesungguhnya Allah telah menyampaikan dirimu ke tempat yang tidak pernah dicapai oleh seorang pun dari penghuni langit dan bumi. Maka berbahagialah anda dengan kedudukan tinggi dan kemuliaan luhur yang telah dianugerahkan Allah kepadamu. Oleh karena itu, bersyukurlah kepada-Nya, karena sesungguhnya Allah Maha Pemberi karunia lagi menyukai orang-orang yang bersyukur”.
Maka aku pun memuji Allah atas semua itu.
Kemudian Jibril as. berkata :
“Berangkatlah, hai Muhammad, ke surga, supaya aku dapat memperlihatkan kepadamu apa yang akan Anda peroleh di sana. Dengan demikian maka akan bertambah zuhud: mu terhadap dunia di samping zuhudmu yang sudah ada, dan akan bertambah kecintaanmu pada akhirat di samping kecintaanmu yang sudah ada”.
Maka kami pun berangkat, sehingga dengan izin Allah Taala, sampailah kami di surga. Jibril tidak membiarkan satu tempat pun di dalam surga itu, melainkan diperlihatkannya kepadaku dan diterangkannya pula tentangnya. Aku melihat mahliyai-mahliyat yang terbuat dari mutiara, yagut dan zabarjad. Dan aku lihat pula pohon-pohon dari ernas kuning. Dan aku lihat di dalam surga itu apa-apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam benak seorang manusia. Dan semua itu sudah selesai dibuat dan sudah disiapkan.
Dan sesungguhnya ia hanya bisa dilihat oleh pemiliknya dari golongan para wali Allah. Maka menjadi sangat pentinglah apa yang telah aku lihat itu. Dan aku berkata : “Untuk hal seperti inilah hendaknya orang orang beramal”.
Kemudian diperlihatkan pula kepadaku neraka, sehingga aku dapat melihat belenggu-belenggu dan rantai-rantainya.
Setelah itu, Jibril mengajak aku keluar dari langit. Maka kami berdua melewati langit demi langit, turun dari satu langit ke langit yang lain hingga akhirnya sampailah aku di langit yang dihuni oleh Nabi Musa. Beliau bertanya :
“Apa yang telah diwajibkan Allah atasmu dan atas umatmu?”,
Aku menjawab : “Lima puluh salat”.
Nabi Musa menanggapi :
“Umatmu tidak akan mampu melaksanakan lima puluh salat setiap hari. Karena sesSungguhnya aku pun telah mencoba orang-orang dan telah berusaha keras terhadap Bani Israel. Maka kembalilah kepada Tuhanmu, dan mintalah keringanan kepada-Nya”.
Maka aku pun kembali lagi, lalu Allah mengurangi sepuluh salat dariku. Kemudian aku bertemu Nabi Musa lagi, dan Beliau berkata seperti tadi. Maka aku pun kembali, dan Allah mengurangi lagi sepuluh salat dariku. Kemudian aku bertemu lagi dengan Nabi Musa, dan Beliau berkata lagi seperti tadi. Maka aku pun kembali, dan Allah mengurangi lagi sepuluh salat dariku. Kemudian aku bertemu lagi dengan Nabi Musa, dan Beliau berkata seperti tadi. Maka aku pun kembali, lalu Allah mengurangi lagi sepuluh salat dariku. Kemudian aku bertemu lagi dengan Nabi Musa, dan Beliau berkata lagi seperti tadi. Maka aku pun kembali, lalu aku diperintahkan melakukan lima kali salat setiap hari.
Kemudian aku bertemu lagi dengan Nabi Musa, Beliau berkata :
“Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan salat lima kali setiap hari. Dan sesungguhnya aku pun pernah mencoba orang-orang dan telah berusaha keras terhadap Bani Israel. Maka kembalilah kepada Tuhan-mu dan mintalah keringanan kepadaNya”.
Aku menjawab :
Aku telah meminta keringanan berkali-kali kepada-Nya, sehingga aku malu. Namun sekarang aku telah rela dan aku terima ketentuan-Nya”.
Ketika aku meninggalkan Beliau, terdengar suatu seruan : “Aku telah tetapkan farduKu, dan Aku telah memberikan keringanan kepada hamba-hamba-Ku”. Dalam riwayat lain : “Dan Aku memberi balasan atas setiap satu kebaikan, sepuluh kali lipatnya”.
Nabi saw. melanjutkan ceritanya :
“Kemudian aku pulang bersama saudaraku, Jibril. Dia tidak meninggalkan aku dan aku pun tidak meninggalkannya, hingga akhirnya kami tiba kembali ke tempat tidurku. Dan itu semua terjadi dalam satu malam dari malam-malammu ini”. Beliau saw. bersabda :
Artinya : “Aku adalah penghulu anak cucu Adam, dan aku tidak sombong. Dan akulah pemegang panji Alhamd, dan aku tidak sombong”.
Ibnu Abbas ra. dan Aisyah ra. berkata : “Rasulullah saw. bersabda, yang artinya : “Setelah malam terjadinya peristiwa isra’ atas diriku, dan paginya aku sudah berada kem. “bali di kota Mekah, maka aku sadar bahwa orang-orang tidak akan mempercayai aku”, Lantas Beliau saw. duduk dengan hati sedih. Tiba-tiba lewat Abu Jahal, musuh Allah, di hadapan Beliau. Dia datang mendekati Beliau lalu duduk di depannya. Kemudian ia berkata sambil memperolok-olokkan Beliau :
Adakah sesuatu yang telah engkau peroleh?”.
“Ya”, jawab Nabi. “Tadi malam aku telah diisra’kan”.
“Kemana”, tanya Abu Jahal.
Nabi menjawab : “Ke Baitul maqdis”.
“Kemudian pagi ini engkau telah berada kembali di tengah kami?”. Tanya Abu Jahal dengan nada sinis.
Abu Jahal bertanya :
Beranikah engkau mengatakan kepada kaummu seperti yang engkau katakan kepadaku tadi?”.
“Ya”, jawab Nabi dengan tegas.
Maka berserulah Abu Jahai : “Hai sekalian Bani Ka’ab bin Luay, kemarilah!”. Mendengar seruan itu, orang-orang pun berdatangan, hingga akhirnya mereka berkumpul di has dapan keduanya. Lalu Abu Jahal berkata kepada Nabi : “Katakanlah kepada kaummu seperti apa yang telah engkau katakan kepadaku tadi”.
Baiklah”, jawab Nabi. “Tadi malam aku telah diisra’kan”.
“Kemana?”, Tanya mereka
Nabi menjawab :
“Ke Baitul maqdis”.
Mereka bertanya pula : “Kemudian pagi ini engkau telah berada kembali di tengahtengah kami?”.
Benar”, jawab Beliau.
Maka beberapa orang di antara mereka pergi mencari Abubakar. Setelah bertemu, mereka lalu bertanya : “Sudah mendengarkah engkau berita dari sahabatmu itu?. Dia mengaku bahwa dirinya telah diisra’kan tadi malam”.
“Benarkah Beliau telah berkata begitu?”. Tanya Abubakar.
Mereka menjawab : “Dia memang telah berkata begitu”.
Abubakar berkata : “Yah, sesungguhnya Beliau telah berkata benar”.
“Engkau membenarkan dia?”, tanya mereka.
Abubakar menjawab :
Aku membenarkan Beliau tentang yang lebih jauh daripada itu”.
Demikian kisahnya secara ringkas.
Adapun mengenai Nabi saw. melihat Tuhannya Azza wa Jalla, para ulama salaf berbeda pendapat dalam hal melihatnya Beliau kepada Tuhan-nya Yang Mahasuci dengan mata kepalanya. Hal ini tidak diakui oleh Aisyah ra.
Dari “Amir, dari Masruq, bahwa dia pernah bertanya kepada Aisyah ra. : “Wahai Ummul mukminin, benarkah Nabi Muhammad melihat Tuhan-nya, maksudnya pada malam Isra’, dalam keadaan jaga?”.
Aisyah menjawab : “Bergetar rambutku terhadap apa yang kamu katakan itu”. Maksudnya : berdiri bulu romaku mendengar pertanyaanmu kepadaku itu. “Ada tiga perkara, barangsiapa mengatakannya kepadamu, maka sesungguhnya dia telah berdusta:… Barangsiapa mengatakan kepadamu bahwa Nabi Muhammad telah melihat Tuhannya, maka sesungguhnya dia telah berdusta”. Kemudian dia membacakan firman Allah yang berbunyi:
Artinya : “Dia tidak dapat dilihat oleh pandangan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan”.
Kemudian ia menyebutkan hadis itu sampai selesai.
Ada segolongan ulama sependapat dengan Aisyah, dan agaknya pendapat ini pula yang masyhur dari Ibnu Mas’ud ra. Dan yang serupa dengan ini adalah riwayat dari Abu Hurairah ra., katanya : “Sesungguhnya Nabi saw. hanya melihat Jibril”. Namun, ini juga diperselisihkan. Sementara ada segolongan ulama ahli hadis, ahli kalam dan ahli figih yang mengingkari hal ini, dan mereka menganggap tidak mungkin melihat Allah di dunia.
Sedang dari Ibnu Abbas ra. diriwayatkan bahwa, Nabi saw. telah melihat Allah dengan mata kepalanya.
Dan Atha meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., katanya : “Nabi saw. telah melihat Allah dengan kalbunya”.
Dan dari Abul Aliyah, dari Ibnu Abbas ra., Nabi saw. telah melihat-Nya dengan hatinya dua kali”.
Oleh karena itu, Ibnu Ishak menyebutkan bahwa, Ibnu Umar ra. Pernah mengutus seseorang menemui Ibnu Abbas ra. untuk menanyakan, apakah Nabi Muhammad saw. telah melihat Tuhannya?. Dijawab olehnya : “Ya”.
Memang, menurut riwayat yang paling masyhur dari Ibnu Abbas ra. adalah bahwa Nabi saw. telah melihat Tuhannya dengan mata kepalanya. Hal itu diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari berbagai jalur. Dia berkata : “Sesungguhnya Allah Taala telah mengistimewakan Nabi Musa dengan kalam (berbicara dengan-Nya), Nabi Ibrahim dengan khulla (sebagai sahabat), dan Nabi Muhammad dengan ru’yah (melihat-Nya dengan mata kepalanya)”. Hujjah (argumentasi) nya adalah firman Allah yang berbunyi :
Artinya : “Hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya. Maka, apakah kamu hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?. Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad) telah melihat-Nya pada waktu yang lain”.
Al Mawardi berkata : “Konon, Allah telah membagi kalam-Nya dan ru’yah-Nya antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw. telah melihat-Nya dua kali, sedang Nabi Musa as. telah berbicara dengan-Nya dua kali pula”.
Dan Assamargandi menceritakan dari Muhammad bin Ka’ab Al Qarzhi dan Rabi’ bin Anas, bahwa Nabi saw. pernah ditanya : “Apakah Baginda telah melihat Tuhan Baginda?”. Beliau menjawab : “Aku telah melihat-Nya dengan hatiku, dan tidak melihat-Nya dengan mataku”. dst. (Syifa’un Syarif)
Adapun sebab terjadinya mikraj itu adalah, bahwasanya bumi pernah menyombongkan diri pada langit. Bumi berkata : “Aku lebih baik darimu, karena Allah Taala telah menghiasi aku dengan negeri-negeri, lautan, sungai-sungai, pohon-pohon, gunung-gunung dan lain-lain”.
Lalu langit menjawab : “Akulah yang lebih baik darimu, karena matahari, bulan, bintang-bintang, planet-planet gugusan-gugusan bintang, Arsy, Kursi dan surga ada padaku”.
Bumi tidak mau kalah, ia berkata : “Padaku ada sebuah rumah yang dikunjungi dan dikelilingi oteh para nabi, para rasul, para wali, dan seluruh kaum mukminin”.
Langit balas menjawab : “Padaku ada Baitul makmur yang dikelilingi oleh para malaikat langit. Dan padaku ada pula surga yang merupakan tempat tinggal arwah para nabi, para rasul, para wali dan orang-orang saleh”.
Kemudian bumi berkata : “Sesungguhnya penghulu para rasul, penutup para nabi, kekasih Tuhan semesta alam, dan makhluk yang paling utama, yang kepadanya disampaikan penghormatan yang paling sempurna, tinggal padaku dan berlaku syariatnya di atasku”
Setelah mendengar perkataan bumi itu, maka langit tidak bisa berkutik dan tidak mampu menjawab lagi. Kemudian ia memohon kepada Allah, katanya : “Oh Tuhanku, Engkau memperkenankan doa hamba-Mu yang ada dalam kesulitan, apabila dia berdoa memohon kepada-Mu. Sedang aku tidak mampu menjawab perkataan bumi. Oleh karena itu, aku memohon kepada-Mu, naikkanlah Nabi Muhammad kepadaku, sehingga aku menjadi mulia karenanya, sebagaimana bumi menjadi mulia dengan keelokannya dan membanggakan diri dengannya”.
Maka Allah pun mengabulkan doa langit itu. Kemudian Dia mewahyukan kepada Jibril as. pada malam kedua puluh tujuh dari bulan Rajab : “Hai Jibril, janganlah engkau berjalan jauh pada malam ini. Dan kau, hai Izrail, janganlah mencabut nyawa pada malam ini”.
Jibril bertanya : “Apakah kiamat telah tiba?”.
“Tidak, hai Jibril”, jawab Allah, “Tetapi pergilah engkau ke surga, dan ambillah Burag, lalu bawalah ia kepada Muhammad”.
Maka Jibril pun pergi ke surga. Di sana dilihatnya ada 40.000 ekor burag, yang berkeliaran di taman-taman surga. Sedang pada kening-kening mereka tertulis nama Muhammad Jibril melihat di antara burag-burag itu ada seekor burag yang menundukkan kepalanya sambil menangis, sedang dari kedua matanya mengalir air mata.
“Kenapa engkau, hai Burag?”, tanya Jibril.
Burag itu menjawab :
“Wahai Jibril, sesungguhnya aku telah mendengar nama Muhammad sejak 40.000 tahun yang lalu.
Maka tertanamlah di dalam hatiku perasaan cinta kepada pemilik nama itu, dan aku merindukannya. Sesudah itu aku tidak memerlukan lagi makan dan minum, sedang aku terbakar oleh api kerinduan”.
Maka Jibril berkata : “Aku akan mempertemukanmu dengan orang yang engkau rindukan itu”.
Kemudian Jibril memberinya pelana dan kekang, lalu dibawanya kepada Nabi saw. demikian seterusnya sampai akhir cerita. (A’rajiyah)
........