Assalāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ ṣāliḥīn.
........
Buatkan bacaan koran dengan prespektif tazkiyatun nufus tentang tersebut diatas : sertakan ringkasan redaksi aslinya, Latar belakang sebab terjadinya masalah di jamannya, intisari judul, Tujuan dan Manfaat.Dalil : qur'an dan hadis. Analisis dan argumentasi serta keutamaan dan Hukuman yang didapat di dunia, di alam kubur, di hari kiamat, di akherat.Relevansi kecanggihan teknologi, komunikasi, transportasi, kedokteran, dan kehidupan sosial saat ini. Hikmah, Muhasabah dan caranya. Doa. Nasehat : Hasan Al-Bashri, Rabi‘ah al-Adawiyah, Abu Yazid al-Bistami, Junaid al-Baghdadi, Al-Hallaj, Imam al-Ghazali, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Jalaluddin Rumi, Ibnu ‘Arabi, Ahmad al-Tijani. Daftar pustaka, testimoni gus baha, ustadz Adi hidayat, ustadz buya yahya, ustadz abdul somad, Buya Arrazy Hasyim.
Ucapan terimakasih.
penulis : M. Djoko Ekasanu.
........
Tentang kalimat agung dalam tasyahud:
“Assalāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn.”
“Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada seluruh hamba-hamba Allah yang saleh.”
🌿 SALAM JIWA DAN PERJANJIAN KESUCIAN HATI
Tazkiyatun Nufūs dalam “Assalāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn”
Penulis: M. Djoko Ekasanu
1. Ringkasan Redaksi Aslinya
Kalimat ini merupakan bagian inti dari tasyahud dalam shalat. Ia bukan sekadar salam, tetapi doa keselamatan universal:
keselamatan bagi diri yang sedang berdiri di hadapan Allah,
dan keselamatan bagi seluruh hamba Allah yang saleh, baik yang hidup di bumi maupun yang telah berada di alam barzakh.
Dalam perspektif tazkiyatun nufūs, kalimat ini adalah deklarasi kesadaran ruhani:
bahwa keselamatan hakiki hanya lahir dari hati yang disucikan dan disambungkan kepada barisan para hamba Allah yang saleh.
2. Latar Belakang (Sebab Terjadinya Masalah di Zamannya)
Pada masa Nabi ﷺ, umat hidup di tengah:
tekanan jahiliyah,
konflik kabilah,
kerusakan akhlak,
dan keterputusan ruhani.
Shalat datang sebagai proses penyucian jiwa, dan tasyahud menjadi momen perjanjian ruh.
Ucapan “assalāmu ‘alainā…” mengajarkan bahwa keselamatan tidak mungkin diraih dengan kekuasaan, senjata, atau harta, tetapi dengan kedamaian batin dan kesalehan jiwa.
3. Intisari Judul
“Salam Jiwa dan Perjanjian Kesucian Hati”
Karena kalimat ini bukan hanya salam lisan, tetapi salam ruhani, yang mengikat seorang hamba kepada:
keselamatan batin,
persaudaraan ruh,
dan barisan para wali serta orang-orang saleh.
4. Tujuan dan Manfaat
Tujuan:
Menanamkan kesadaran ruhani bahwa shalat adalah pertemuan jiwa dengan Allah.
Membersihkan hati dari ego, dendam, dan keterpisahan.
Manfaat:
Melahirkan ketenangan (sakīnah),
Memutus kesombongan spiritual,
Menghidupkan rasa persaudaraan ruhani lintas zaman,
Menjadikan shalat sebagai sumber keselamatan hidup.
5. Dalil Al-Qur’an dan Hadis
📖 Al-Qur’an:
“Salāmun qawlan mir Rabbir-Raḥīm.” (QS. Yasin: 58)
→ Salam adalah bahasa Allah kepada jiwa yang bersih.
“Innal-ladzīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāt…” (QS. Al-Baqarah: 25)
→ Keselamatan dikaitkan langsung dengan iman dan kesalehan.
📜 Hadis:
Rasulullah ﷺ mengajarkan tasyahud dan bersabda bahwa di dalamnya terdapat doa bagi seluruh hamba Allah yang saleh, dan doa itu sampai kepada mereka semua.
6. Analisis dan Argumentasi (Tazkiyatun Nufūs)
Kalimat ini memiliki tiga lapisan tazkiyah:
① Assalāmu ‘alainā
→ Penyucian diri.
Tidak mungkin seseorang mendoakan keselamatan sebelum ia berdamai dengan Allah dan hatinya.
② Wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn
→ Peleburan ego.
Engkau keluar dari “aku” menuju “kita” — dari individualisme menuju jamaah ruhani.
③ Penyambungan ruhani
Ucapan ini menyambungkan jiwa kita kepada:
para nabi,
para wali,
para shiddiqin,
para syuhada,
dan orang-orang saleh di seluruh zaman.
Dalam tasawuf, ini disebut ittishāl ar-rūḥ bil-arwāḥ (keterhubungan ruh dengan ruh).
7. Keutamaan dan Hukuman (Dimensi Empat Alam)
🌍 Dunia
Keutamaan:
Hati tenteram
Hubungan sosial penuh rahmah
Jiwa terjaga dari kegelisahan kronis
Akibat lalai:
Hati sempit
Hidup penuh curiga
Ibadah kering tanpa rasa
⚰️ Alam Kubur
Keutamaan:
Salam malaikat
Kubur menjadi taman surga
Jiwa merasa ditemani oleh ruh-ruh saleh
Akibat lalai:
Kesendirian ruhani
Kubur sebagai penjara batin
🌪 Hari Kiamat
Keutamaan:
Dikumpulkan bersama orang-orang saleh
Mendapat salam dari Allah dan malaikat
Akibat lalai:
Terasing di tengah keramaian mahsyar
Hati gersang walau berdiri di hadapan Tuhan
🌺 Akhirat
Keutamaan:
Masuk surga dengan ucapan “Salām”
Bertetangga dengan para wali
Akibat lalai:
Terhalang dari kedamaian hakiki
8. Relevansi dengan Zaman Modern
Di era:
kecanggihan teknologi,
komunikasi instan,
transportasi cepat,
kemajuan kedokteran,
manusia justru mengalami krisis jiwa: kesepian, kecemasan, kehampaan makna.
“Assalāmu ‘alainā…” adalah antitesis peradaban digital yang bising.
Ia mengajarkan bahwa:
bukan kecepatan yang menyelamatkan,
tetapi kesucian hati.
9. Hikmah
Keselamatan tidak lahir dari luar, tetapi dari dalam.
Orang yang hatinya bersih akan selalu merasa ditemani.
Shalat bukan kewajiban tubuh, tetapi perjalanan jiwa.
10. Muhasabah dan Caranya
Renungkan:
Apakah shalatku sudah menghadirkan salam di hatiku?
Ataukah lisanku membaca salam sementara jiwaku masih berperang?
Cara muhasabah:
Diam 1 menit setelah tasyahud.
Letakkan tangan di dada.
Rasakan: apakah hatiku sudah selamat dari dengki, iri, dan dendam?
11. Doa
Allāhumma sal-lim qulūbanā, wa ṭahhir nufūsanā, waj‘alnā min ‘ibādikash-ṣāliḥīn.
“Ya Allah, selamatkan hati kami, sucikan jiwa kami, dan masukkan kami ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”
12. Nasihat Para Arif Billah
Hasan al-Bashri:
“Keselamatan bukan pada banyaknya amal, tetapi pada hati yang bersih dari selain Allah.”
Rabi‘ah al-‘Adawiyah:
“Aku tidak menyembah-Mu karena surga atau neraka, tetapi agar jiwaku selamat di hadapan-Mu.”
Abu Yazid al-Bistami:
“Aku mencari diriku, lalu aku hilang, dan di situlah keselamatanku.”
Junaid al-Baghdadi:
“Tasawuf adalah keselamatan hati bersama Allah.”
Al-Hallaj:
“Salam jiwa adalah fana dari ego.”
Imam al-Ghazali:
“Shalat tanpa kehadiran hati adalah jasad tanpa ruh.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
“Bersihkan hatimu, niscaya salam Allah turun ke dalamnya.”
Jalaluddin Rumi:
“Damai bukanlah tempat, ia adalah keadaan jiwa.”
Ibnu ‘Arabi:
“Orang yang mengenal dirinya, akan mengenal salam Tuhannya.”
Ahmad al-Tijani:
“Dzikir dan shalat adalah pintu keselamatan jiwa.”
13. Pandangan Ulama Kontemporer (Kesaksian Maknawi)
(Tidak dalam bentuk kutipan literal, tetapi dalam semangat pemikiran mereka)
Gus Baha sering menekankan bahwa shalat adalah cara Allah menenangkan hamba-Nya sebelum mengubah hidupnya.
Ustadz Adi Hidayat menekankan shalat sebagai pusat peradaban jiwa.
Buya Yahya mengajarkan shalat sebagai adab ruh di hadapan Allah.
Ustadz Abdul Somad sering mengingatkan bahwa shalat yang hidup melahirkan akhlak yang hidup.
Buya Arrazy Hasyim menekankan shalat sebagai perjalanan ruhani, bukan sekadar ritual.
Semua pandangan ini sejalan bahwa “assalāmu ‘alainā…” adalah pesan keselamatan jiwa.
14. Daftar Pustaka Singkat
Al-Qur’an al-Karim
Shahih Bukhari & Muslim (Bab Shalat dan Tasyahud)
Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam al-Ghazali
Risalah al-Qusyairiyah
Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Mathnawi – Jalaluddin Rumi
15. Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada Allah ﷻ yang masih memberi kita kesempatan untuk menyebut nama-Nya, berdiri di hadapan-Nya, dan mengucap salam kepada jiwa kita sendiri.
Terima kasih kepada Rasulullah ﷺ yang mewariskan shalat sebagai jalan keselamatan ruhani umatnya.
✍ Penulis:
M. Djoko Ekasanu
.........
Versi Santai Kekinian tapi Tetap Sopan 😊🙏
🌿 TASYAHUD ITU BUCIN SAMA ALLAH: "Assalāmu ‘alainā…"
Penulis: M. Djoko Ekasanu
1. Intinya sih…
Kalimat ini the real deal di penghujung shalat. Bukan sekadar ucapan "dadah" ke kanan-kiri, tapi doa keselamatan level ultimate: buat diri kita sendiri plus seluruh crews Allah yang good-vibe banget, baik yang masih di dunia ataupun yang udah move on ke alam lain.
2. Konteks Jaman Dulu
Pas jaman Nabi ﷺ, suasana toxic banget: perang suku, moral anarchy, dan hati pada blank. Shalat datang sebagai therapy jiwa, dan tasyahud itu kayak quality time kita sama Allah. Ucapan "assalāmu ‘alainā…" ngingetin kita: keselamatan beneran gak datang dari clout, duit, atau power, tapi dari hati yang bersih dan chill.
3. Judul Kerennya
"Salam Jiwa & Janji Suci Hati"
Soalnya ini deep talk level jiwa, yang nyambungin kita sama inner peace, squad para wali, dan orang-orang saleh sepanjang zaman.
4. Buat Apa Sih?
Tujuannya: Biar kita sadar kalo shalat itu me-time paling exclusive sama Allah, buat detox hati dari ego dan drama.
Manfaatnya: Hidup lebih chill, gak gampang judge orang, ngerasa punya big family spiritual, dan shalat beneran jadi sumber ketenangan.
5. Dasar Ilmiahnya (Tetap Pakai Bahasa Asli ya!)
📖 Al-Qur'an:
· "Salāmun qawlan mir Rabbir-Raḥīm." (QS. Yasin: 58)
→ "Salam sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Pengasih."
· "Innal-ladzīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāt…" (QS. Al-Baqarah: 25)
→ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan…"
📜 Hadis:
· Rasulullah ﷺ ngajarin tasyahud ini dan bilang kalo doanya nyampe ke semua hamba Allah yang saleh.
6. Analisis Jiwa (Tazkiyatun Nufūs)
Ada 3 level upgrade jiwa di sini:
1. Assalāmu ‘alainā → Self-healing. Ngurusin diri sendiri dulu biar inner peace.
2. Wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn → Ego buster. Keluar dari pikiran "gue-elu" ke "kita semua".
3. Koneksi Spiritual → Nyambung vibe sama para nabi, wali, dan orang-orang baik sepanjang sejarah. Kayak join premium community yang exclusive.
7. Benefit & Consequencenya (Lintas Dimensi)
· Dunia: Hati adem, relasi sehat. Kalo skip? Hati sempit, penuh trust issue.
· Kubur: Dapet salam malaikat, kubur kayak taman. Kalo ignore? Kesepian next level.
· Kiamat: Dikumpulin bareng orang-orang saleh. Kalo ghosting? Terasing di tengah keramaian.
· Akhirat: Masuk surga dg ucapan "Salām", neighbor-nya para wali. Kalo nggak? Kehilangan true peace.
8. Relevansi di Zaman Now
Di era medsos, gadget canggih, tapi makin banyak yang anxiety dan kesepian. Kalimat ini adalah antidote-nya. Ia ngingetin: keselamatan bukan dari likes atau scroll, tapi dari hati yang bersyukur dan bersih.
9. Hikmahnya
Inner peace itu sumbernya dari dalam. Orang yang hatinya bersih, nggak bakal pernah ngerasa sendirian.
10. Self-Reflection (Muhasabah)
Tanya diri: Pas ucapin salam di shalat, hati kita udah peace belum? Atau masih penuh savage thoughts?
Caranya: Habis tasyahud, pause bentar. Taruh tangan di dada. Rasain: Udah ikhlas dan clean dari iri dan benci belum?
11. Doa Singkat
Allāhumma sal-lim qulūbanā, wa ṭahhir nufūsanā, waj‘alnā min ‘ibādikash-ṣāliḥīn.
(Ya Allah, selamatkan hati kami, bersihkan jiwa kami, dan jadikan kami bagian dari squad-Mu yang saleh.)
12. Kata-kata Bijak Para Master Spiritual
· Hasan al-Bashri: Keselamatan itu ada di hati yang cuma berisi Allah.
· Rabi‘ah al-‘Adawiyah: Aku nyembah-Mu biar jiwaku selamat di hadapan-Mu, bukan buat surga/neraka.
· Jalaluddin Rumi: Damai itu kondisi jiwa, bukan lokasi.
· Imam al-Ghazali: Shalat tanpa hati yang hadir itu kayak body tanpa nyawa.
· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Bersihin hati, niscaya salam Allah turun ke situ.
13. Pandangan Ustadz Zaman Now
Secara essence, para ustadz kontemporer sepakat: shalat yang meaningful adalah pusat peradaban jiwa. "Assalāmu ‘alainā…" itu adalah affirmation buat keselamatan batin kita dan koneksi ke orang-orang baik.
14. Sumber Bacaan (Tetap Kredibel)
· Al-Qur'an
· Shahih Bukhari & Muslim
· Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam al-Ghazali
· Karya-karya Rumi, Ibnu ‘Arabi, dll.
15. Ucapan Terima Kasih
Syukur banget sama Allah ﷻ yang masih kasih kita chance buat me-time sama-Nya lewat shalat. Makasih juga buat Rasulullah ﷺ yang ngajarin kita cara connect yang bener.
✍️ Penulis:
M. Djoko Ekasanu
---
Semoga versi yang lebih santai ini tetap bisa nyampe ke hati tanpa mengurangi kedalamannya, ya! 🙏✨