KULIT YANG BERGETAR KARENA KALIMAT SUCI
Renungan dari Kitab Zabur dan Sabda Rasulullah ﷺ
Penulis: M. Djoko Ekasanu
Diriwayatkan dari as- Shomad dari Mughoffal bahwa ia berkata, “Saya telah mendengar kalau Wahab bin Munabbah radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku telah membaca 30 sajak di akhir Kitab Zabur Nabi Daud, Semoga Allah merahmatinya:
Allah berfirman; Hai Daud! Apakah kamu tahu orang mukmin manakah yang lebih Aku sukai untuk Aku panjangkan usianya?
Daud menjawab; Tidak. (Hamba- Mu) tidak tahu.
Allah menjelaskan; Yaitu orang mukmin yang ketika mengucapkan kalimat [’ﻻ إﻟﻪ إﻻ اﷲ‘] maka kulitnya mengkerut dan tulang-tulangnya bergetar. Ketika demikian itu, Aku tidak suka ia mati sebagaimana orang tua tidak suka anaknya mati. Akan tetapi kematian sudah pasti akan menemuinya. Aku ingin membahagiakan ia di sebuah desa selain desa (dunia) ini karena kenikmatan dunia adalah cobaan. Kemudahan di dunia adalah suatu beban. Di dunia terdapat musuh yang mendekatkan kalian pada kerusakan yang tidak mengalir sebagaimana darah mengalir. Karena sifat dunia yang seperti ini, maka Aku mempercepat para kekasih-Ku menuju maut (dengan mati di usia pendek). Andai sifat dunia tidak seperti itu niscaya Adam dan anak cucunya akan panjang umur sampai ditiup sangkakala tanda datangnya Hari Kiamat.
Dengan sanad seperti diatas, terdapat sebuah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda ‘Barang siapa membaca ﷲ إﻻ ﻻإﻟﮫ dan ia memanjangkan bacaannya maka 4000 dosa besarnya telah sirna.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ali radhiyallahu ‘anhu.
Ringkasan Redaksi Aslinya
Diriwayatkan dari As-Shomad dari Mughoffal, ia berkata bahwa Wahab bin Munabbah ra. membaca tiga puluh sajak di akhir Kitab Zabur Nabi Dawud as. Allah berfirman kepada Dawud:
“Hai Dawud, tahukah kamu siapa orang mukmin yang paling Aku cintai untuk dipanjangkan umurnya?”
Dawud menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku.”
Allah berfirman, “Yaitu orang mukmin yang ketika mengucapkan lā ilāha illallāh maka kulitnya mengerut dan tulangnya bergetar. Aku tidak suka ia mati, sebagaimana orang tua tidak suka anaknya mati. Namun kematian pasti menemuinya.”
Allah menjelaskan bahwa dunia penuh cobaan, sehingga para kekasih-Nya sering dipercepat menuju maut untuk diselamatkan dari tipu daya dunia.
Diriwayatkan pula dari Anas bin Malik ra., Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa membaca lā ilāha illallāh dan memanjangkan bacaannya, maka empat ribu dosa besarnya dihapus.”
(HR. Ali bin Abi Thalib ra.)
Latar Belakang Masalah di Jamannya
Pada masa Nabi Dawud as., manusia hidup di tengah kemegahan dunia yang mulai menipu hati. Bangsa-bangsa mulai memuja kekuasaan dan harta. Maka, Allah menurunkan wahyu dalam Zabur agar manusia kembali menyadari bahwa dunia adalah cobaan, bukan tujuan.
Pada masa Rasulullah ﷺ, manusia juga mulai lalai dari makna tauhid. Maka beliau menegaskan kembali kekuatan kalimat lā ilāha illallāh sebagai penebus dosa dan penyucian hati.
Sebab Terjadinya Masalah
- Keterikatan hati pada dunia.
Dunia dianggap tempat keabadian, bukan ujian. - Lupa pada getaran ruhani tauhid.
Kalimat suci diucapkan tanpa rasa gentar dan penghayatan. - Kelelahan spiritual.
Banyak beramal lahir, tapi hati tidak bergetar kepada Allah.
Intisari Judul
“Kulit yang bergetar karena kalimat suci” menggambarkan kesempurnaan iman: bukan sekadar ucapan lisan, tetapi getaran batin dan tubuh yang tunduk penuh cinta dan takut kepada Allah.
Tujuan dan Manfaat
- Menumbuhkan kembali kesadaran bahwa lā ilāha illallāh adalah sumber hidup ruhani.
- Mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh kemudahan dunia.
- Menyadarkan bahwa kematian bukan kehancuran, tapi perjalanan menuju kampung abadi.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
1. Al-Qur’an:
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (kalimatin tsābitah) dalam kehidupan dunia dan di akhirat.”
(QS Ibrahim : 27)
2. Hadis:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perbaruilah iman kalian.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana caranya?”
Beliau menjawab, “Perbanyaklah mengucapkan lā ilāha illallāh.”
(HR. Ahmad)
Analisis dan Argumentasi
Kalimat lā ilāha illallāh adalah getaran kosmik yang menembus dimensi ruhani manusia. Ketika diucapkan dengan kesadaran penuh, saraf dan otot tubuh ikut bergetar. Secara ilmiah, vibrasi suara lā ilāha illallāh menciptakan resonansi positif dalam sistem saraf parasimpatik yang menenangkan jantung dan otak.
Rasa khusyuk yang membuat kulit mengkerut adalah tanda sinkronisasi antara hati dan tubuh dalam dzikrullah. Itulah “getaran cinta” yang dimaksud dalam riwayat Wahab bin Munabbah.
Keutamaan-keutamaannya
- Menghapus dosa besar hingga ribuan.
- Menjadi benteng dari siksa kubur.
- Menenangkan hati dan mengusir setan.
- Membuka jalan menuju husnul khatimah.
- Menjadi zikir seluruh makhluk di bawah ‘Arsy.
Relevansi dengan Era Modern
| Bidang | Relevansi |
|---|---|
| Teknologi | Di era digital, manusia mudah lalai. Dzikir ini menjadi firewall spiritual yang menjaga pikiran tetap bersih dari kesombongan teknologi. |
| Komunikasi | Kalimat tauhid adalah pesan universal tentang kesatuan eksistensi, melampaui bahasa dan budaya. |
| Transportasi | Saat bepergian cepat melintasi dunia, dzikir mengingatkan bahwa tujuan sejati bukan tempat, tapi kedekatan dengan Allah. |
| Kedokteran | Zikir menurunkan tekanan darah, memperbaiki sistem imun, dan menenangkan jiwa. |
| Kehidupan sosial | Masyarakat yang sering berdzikir akan melahirkan empati, kesabaran, dan perdamaian. |
Hikmah
Orang yang hidup dengan dzikir lā ilāha illallāh tidak takut mati, karena kematian baginya adalah undangan menuju kasih sayang Allah. Dunia hanya taman ujian; kenikmatan sejati ada di “desa abadi”.
Muhasabah dan Caranya
- Bangun pagi dengan lā ilāha illallāh sebelum berbicara hal lain.
- Renungi arti kalimat itu sambil menarik napas perlahan.
- Rasakan getaran di dada, biarkan hati bergetar.
- Tutup hari dengan dzikir yang sama, agar ruh tenang dalam tidur.
Doa
اللهم اجعل قلوبنا خاشعةً بذكرك، وألسنتنا رطبةً بذكرك، وأجسادنا خاضعةً لعظمتك.
Allāhumma ij‘al qulūbanā khāshi‘atan bidzikrik, wa alsinatanā raṭbatan bidzikrik, wa ajsādanā khāḍi‘atan li‘aẓamatik.“Ya Allah, jadikanlah hati kami khusyuk dengan mengingat-Mu, lisan kami lembab dengan dzikir-Mu, dan tubuh kami tunduk pada keagungan-Mu.”
Nasehat Para Auliya
- Hasan al-Bashri: “Dzikir adalah cahaya yang memadamkan api dosa.”
- Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka, tapi karena cinta.”
- Abu Yazid al-Bistami: “Aku mencari Allah di hati yang bergetar karena dzikir.”
- Junaid al-Baghdadi: “Dzikir sejati adalah hilangnya dzakir dalam yang diingat.”
- Al-Hallaj: “Ketika aku mengucap lā ilāha illallāh, aku lenyap dalam Yang Esa.”
- Imam al-Ghazali: “Tauhid bukan di lidah, tapi di hati yang tak melihat selain Allah.”
- Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Kalimat tauhid adalah pintu kekasih-kekasih Allah.”
- Jalaluddin Rumi: “Berguncanglah dengan lā ilāha illallāh, maka dinding hatimu akan roboh dan cahaya Allah masuk.”
- Ibnu ‘Arabi: “Setiap atom di alam semesta berdzikir dengan nama Allah.”
- Ahmad al-Tijani: “Tidak ada obat yang lebih ampuh dari dzikir dengan cinta.”
Testimoni Ulama Kontemporer
- Gus Baha: “Kalimat lā ilāha illallāh itu ibarat charger ruhani. Diulang-ulang agar batin tetap menyala.”
- Ustadz Adi Hidayat: “Siapa yang memahami makna tauhid, maka segala urusan hidupnya dimudahkan Allah.”
- Buya Yahya: “Zikir ini menjernihkan hati, menenangkan keluarga, dan memanggil rahmat Allah.”
- Ustadz Abdul Somad: “Ucapan lā ilāha illallāh yang disertai getaran hati bisa menghapus dosa besar yang manusia tidak sadar melakukannya.”
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para guru ruhani dan pembimbing hati yang telah menunjukkan jalan menuju Allah. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi diri sendiri dan siapa pun yang membacanya.
Daftar Pustaka
- Kitab Zabur (riwayat Wahab bin Munabbah).
- Musnad Ahmad – hadis tentang lā ilāha illallāh.
- Ihya’ ‘Ulum al-Din – Imam al-Ghazali.
- Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
- Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi.
- Mathnawi Ma’nawi – Jalaluddin Rumi.
- Ceramah Gus Baha, Buya Yahya, Ustadz Adi Hidayat, dan Ustadz Abdul Somad.
KULIT Y GEMETERAN PAS BACA KALIMAT SUCI
Renungan dari Kitab Zabur & Sabda Rasulullah ﷺ
Oleh: M. Djoko Ekasanu
---
Gambaran Awal:
Dari Mughoffal, denger-dengeran nih, Wahab bin Munabbah radhiyallahu ‘anhu pernah cerita: “Aku baca 30 sajak terakhir di Kitab Zabur-nya Nabi Daud. Isinya, Allah ngobrol sama Nabi Daud:
Allah nanya: “Hai Daud! Lo tau ga, orang beriman yang gue paling demen buat dipanjangkan umurnya itu yang kayak gimana?”
Daud jawab: “Wah, gue ga tau nih, Ya Allah.”
Allah jelasin: “Itu loh, orang beriman yang pas ngucapin ‘ﻻ إﻟﻪ إﻻ اﷲ’ (Laa ilaaha illallaah), kulitnya langsung merinding, tulang-tulangnya gemetaran. Gue aja ga tega ngeliat dia mati, kayak orang tua yang ga rela anaknya meninggal. Tapi ya namanya ajal, pasti datang juga. Gue pengen banget kasih dia kebahagiaan di ‘desa’ lain (akhirat), soalnya dunia tuh cuma ujian aja. Kemudahan di dunia tuh sebenernya beban. Musuh di dunia tuh bahaya banget, meski keliatannya biasa aja. Makanya, gue sering percepat ‘kepulangan’ para kekasih gue (meninggal di usia muda). Kalo dunia ga kayak gini, bisa-bisa dari zaman Adam sampe kiamat, manusia pada panjang umur semua.”
Ada juga nih riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, kata dia Rasulullah ﷺ bilang: “Siapa aja yang baca ‘Laa ilaaha illallaah’ dan dia panjangkan bacaannya, 4000 dosa besarnya langsung ilang.” (HR. Ali radhiyallahu ‘anhu).
---
Latar Belakang & Konteks Zaman Dulu:
· Zaman Nabi Daud: Hidup udah mulai glamor, orang sibuk sama kekuasaan dan harta. Zabur diturunin buat ngingetin: “Hey, dunia cuma temporary, jangan sampe kegeeran.”
· Zaman Rasulullah ﷺ: Banyak yang udah lupa esensi tauhid. Makanya, lewat hadis ini, Rasulullah ﷺ nge-highlight lagi betapa powerful-nya kalimat Laa ilaaha illallaah.
Akar Masalahnya:
1. Hati terlalu melekat sama dunia (wealth, status, hustle culture).
2. Ngucapin kalimat suci cuma sekedar rutinitas, tanpa rasa.
3. Aktivitas spiritual banyak, tapi hati kering, ga ada “getaran”.
Inti Judul:
“Kulit yang bergetar” itu gambaran iman yang udah nyatu sama diri. Bukan cuma kata-kata di mulut, tapi beneran berasa sampe ke tulang sumsum—campuran cinta, takut, dan hormat ke Allah.
Goals & Benefit Buat Kita:
· Ngingetin bahwa Laa ilaaha illallaah itu “charger” spiritual kita.
· Biar ga gampang ketipu sama gemerlap dunia.
· Ngingetin bahwa mati itu bukan akhir, tapi “relokasi” ke tempat yang lebih permanent dan epic.
Back-up dari Qur’an & Hadis:
1. Al-Qur’an: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (kalimatin tsābitah) dalam kehidupan dunia dan di akhirat.” (QS Ibrahim : 27)
2. Hadis: Rasulullah ﷺ bilang: “Perbaruilah iman kalian.” Pas ditanya gimana caranya, beliau jawab: “Perbanyaklah mengucapkan lā ilāha illallāh.” (HR. Ahmad)
Analisis & Argumen:
Kalimat Laa ilaaha illallaah tuh punya “vibe” atau frekuensi spiritual yang tinggi. Pas diucapin dengan kesadaran penuh, bisa bikin sistem saraf kita bereaksi—jadi merinding, jantung berdebar khusyuk. Secara sains, getaran suaranya bisa bikin rileks dan nentuin pikiran. Jadi, merindingnya itu tanda hati dan tubuh kita lagi “connect” banget sama Allah.
Keuntungan-keuntungannya:
· Dosa besar ilang sampai ribuan.
· Jadi tameng dari siksa kubur.
· Bikin hati adem, setan kabur.
· Mempermudah jalan menuju akhir yang baik (husnul khatimah).
· Zikirnya para makhluk di bawah ‘Arsy Allah.
Relevansinya di Zaman Now:
Bidang Relevansi
Teknologi Jadi “firewall” spiritual biar ga kecanduan gadget & lupa diri.
Komunikasi Kalimat tauhid itu universal, beyond bahasa & budaya manapun.
Transportasi Pas lagi road trip atau naik pesawat, dzikir ini ngingetin bahwa tujuan akhir kita adalah Allah.
Kesehatan Dzikir terbukti bikin rileks, turunin tekanan darah, dan boost imun tubuh.
Sosial Masyarakat yang rajin dzikir biasanya lebih empatik, sabar, dan damai.
Hikmah & Take Home Message:
Orang yang hidupnya penuh dzikir Laa ilaaha illallaah ga takut mati. Buat mereka, mati itu kayak undangan buat ketemu sama Sang Maha Cinta. Dunia? Itu cuma taman bermain sementara. The real deal ada di “desa abadi” (akhirat).
Tips Praktis Buat Muhasabah:
1. Pas bangun tidur, ucapin Laa ilaaha illallaah sebelum buka sosmed.
2. Luangkan waktu sejenak, renungin artinya sambil tarik napas dalem.
3. Rasain getarannya di dada. Biarin hati lo bergetar.
4. Sebelum tidur, ucapin lagi biar tidurnya tenang dan berkah.
Doa:
Allāhumma ij‘al qulūbanā khāshi‘atan bidzikrik, wa alsinatanā raṭbatan bidzikrik, wa ajsādanā khāḍi‘atan li‘aẓamatik. “Ya Allah,jadikan hati kami khusyuk karena mengingat-Mu, lidah kami basah karena berzikir pada-Mu, dan tubuh kami tunduk pada keagungan-Mu.”
Kata-kata Motivasi Para Ahli Hikmah:
· Hasan al-Bashri: “Dzikir itu cahaya yang bisa padamin api dosa.”
· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku nyembah-Mu bukan karena takut neraka, tapi karena cinta.”
· Jalaluddin Rumi: “Goyangin diri lo dengan Laa ilaaha illallaah, biar tembok hati lo runtuh dan cahaya Allah masuk.”
· Imam al-Ghazali: “Tauhid yang bener itu bukan di lidah, tapi di hati yang ga liat apa-apa selain Allah.”
Testimoni Ustadz Zaman Now:
· Gus Baha: “Kalimat Laa ilaaha illallaah itu kayak charger ruhani. Harus sering diulang biar baterai spiritual kita tetap full.”
· Ustadz Adi Hidayat: “Siapa yang paham bener makna tauhid, hidupnya pasti dimudahkan Allah.”
· Buya Yahya: “Zikir ini bikin hati jernih, keluarga harmonis, dan narik turunnya rahmat Allah.”
· Ustadz Abdul Somad: “Ngucapin Laa ilaaha illallaah sambil hati bergetar bisa hapus dosa besar yang kita lakuin tanpa sadar.”
Credit & Terima Kasih:
Big thanks buat semua guru spiritual dan para pembimbing yang udah nunjukin jalan pulang ke Allah. Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat buat kita semua.
Daftar Pustaka (Tetap Kredibel):
· Kitab Zabur (riwayat Wahab bin Munabbah).
· Musnad Ahmad – hadis tentang lā ilāha illallāh.
· Ihya’ ‘Ulum al-Din – Imam al-Ghazali.
· Karya-karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu ‘Arabi, Jalaluddin Rumi.
· Ceramah-ceramah Gus Baha, Buya Yahya, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Abdul Somad.
