Thursday, November 13, 2025

825. KULIT YANG BERGETAR KARENA KALIMAT SUCI

 



KULIT YANG BERGETAR KARENA KALIMAT SUCI

Renungan dari Kitab Zabur dan Sabda Rasulullah ﷺ

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Diriwayatkan dari as- Shomad dari Mughoffal bahwa ia berkata, “Saya telah mendengar kalau Wahab bin Munabbah radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku telah membaca 30 sajak di akhir Kitab Zabur Nabi Daud, Semoga Allah merahmatinya:


Allah berfirman; Hai Daud! Apakah kamu tahu orang mukmin manakah yang lebih Aku sukai untuk Aku panjangkan usianya?

Daud menjawab; Tidak. (Hamba- Mu) tidak tahu.

Allah menjelaskan; Yaitu orang mukmin    yang    ketika mengucapkan kalimat [’ﻻ إﻟﻪ إﻻ اﷲ‘] maka kulitnya mengkerut dan tulang-tulangnya bergetar. Ketika demikian itu, Aku tidak suka ia mati sebagaimana orang tua tidak suka anaknya mati. Akan tetapi kematian sudah pasti akan menemuinya.    Aku    ingin membahagiakan ia di sebuah desa selain desa (dunia) ini karena kenikmatan dunia adalah cobaan. Kemudahan di dunia adalah suatu beban. Di dunia terdapat musuh yang mendekatkan kalian pada kerusakan yang tidak mengalir sebagaimana darah mengalir. Karena sifat dunia yang seperti ini, maka Aku mempercepat para kekasih-Ku menuju maut (dengan mati di usia pendek). Andai sifat dunia tidak seperti itu niscaya Adam dan anak cucunya akan panjang umur sampai ditiup sangkakala tanda datangnya Hari Kiamat.

Dengan sanad seperti diatas, terdapat sebuah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda ‘Barang siapa membaca ﷲ إﻻ ﻻإﻟﮫ dan ia memanjangkan bacaannya maka 4000 dosa besarnya telah sirna.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ali radhiyallahu ‘anhu.

Ringkasan Redaksi Aslinya

Diriwayatkan dari As-Shomad dari Mughoffal, ia berkata bahwa Wahab bin Munabbah ra. membaca tiga puluh sajak di akhir Kitab Zabur Nabi Dawud as. Allah berfirman kepada Dawud:

“Hai Dawud, tahukah kamu siapa orang mukmin yang paling Aku cintai untuk dipanjangkan umurnya?”
Dawud menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku.”
Allah berfirman, “Yaitu orang mukmin yang ketika mengucapkan lā ilāha illallāh maka kulitnya mengerut dan tulangnya bergetar. Aku tidak suka ia mati, sebagaimana orang tua tidak suka anaknya mati. Namun kematian pasti menemuinya.”

Allah menjelaskan bahwa dunia penuh cobaan, sehingga para kekasih-Nya sering dipercepat menuju maut untuk diselamatkan dari tipu daya dunia.

Diriwayatkan pula dari Anas bin Malik ra., Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa membaca lā ilāha illallāh dan memanjangkan bacaannya, maka empat ribu dosa besarnya dihapus.”
(HR. Ali bin Abi Thalib ra.)


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Nabi Dawud as., manusia hidup di tengah kemegahan dunia yang mulai menipu hati. Bangsa-bangsa mulai memuja kekuasaan dan harta. Maka, Allah menurunkan wahyu dalam Zabur agar manusia kembali menyadari bahwa dunia adalah cobaan, bukan tujuan.
Pada masa Rasulullah ﷺ, manusia juga mulai lalai dari makna tauhid. Maka beliau menegaskan kembali kekuatan kalimat lā ilāha illallāh sebagai penebus dosa dan penyucian hati.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Keterikatan hati pada dunia.
    Dunia dianggap tempat keabadian, bukan ujian.
  2. Lupa pada getaran ruhani tauhid.
    Kalimat suci diucapkan tanpa rasa gentar dan penghayatan.
  3. Kelelahan spiritual.
    Banyak beramal lahir, tapi hati tidak bergetar kepada Allah.

Intisari Judul

Kulit yang bergetar karena kalimat suci” menggambarkan kesempurnaan iman: bukan sekadar ucapan lisan, tetapi getaran batin dan tubuh yang tunduk penuh cinta dan takut kepada Allah.


Tujuan dan Manfaat

  • Menumbuhkan kembali kesadaran bahwa lā ilāha illallāh adalah sumber hidup ruhani.
  • Mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh kemudahan dunia.
  • Menyadarkan bahwa kematian bukan kehancuran, tapi perjalanan menuju kampung abadi.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. Al-Qur’an:

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (kalimatin tsābitah) dalam kehidupan dunia dan di akhirat.”
(QS Ibrahim : 27)

2. Hadis:

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perbaruilah iman kalian.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana caranya?”
Beliau menjawab, “Perbanyaklah mengucapkan lā ilāha illallāh.”
(HR. Ahmad)


Analisis dan Argumentasi

Kalimat lā ilāha illallāh adalah getaran kosmik yang menembus dimensi ruhani manusia. Ketika diucapkan dengan kesadaran penuh, saraf dan otot tubuh ikut bergetar. Secara ilmiah, vibrasi suara lā ilāha illallāh menciptakan resonansi positif dalam sistem saraf parasimpatik yang menenangkan jantung dan otak.

Rasa khusyuk yang membuat kulit mengkerut adalah tanda sinkronisasi antara hati dan tubuh dalam dzikrullah. Itulah “getaran cinta” yang dimaksud dalam riwayat Wahab bin Munabbah.


Keutamaan-keutamaannya

  1. Menghapus dosa besar hingga ribuan.
  2. Menjadi benteng dari siksa kubur.
  3. Menenangkan hati dan mengusir setan.
  4. Membuka jalan menuju husnul khatimah.
  5. Menjadi zikir seluruh makhluk di bawah ‘Arsy.

Relevansi dengan Era Modern

Bidang Relevansi
Teknologi Di era digital, manusia mudah lalai. Dzikir ini menjadi firewall spiritual yang menjaga pikiran tetap bersih dari kesombongan teknologi.
Komunikasi Kalimat tauhid adalah pesan universal tentang kesatuan eksistensi, melampaui bahasa dan budaya.
Transportasi Saat bepergian cepat melintasi dunia, dzikir mengingatkan bahwa tujuan sejati bukan tempat, tapi kedekatan dengan Allah.
Kedokteran Zikir menurunkan tekanan darah, memperbaiki sistem imun, dan menenangkan jiwa.
Kehidupan sosial Masyarakat yang sering berdzikir akan melahirkan empati, kesabaran, dan perdamaian.

Hikmah

Orang yang hidup dengan dzikir lā ilāha illallāh tidak takut mati, karena kematian baginya adalah undangan menuju kasih sayang Allah. Dunia hanya taman ujian; kenikmatan sejati ada di “desa abadi”.


Muhasabah dan Caranya

  1. Bangun pagi dengan lā ilāha illallāh sebelum berbicara hal lain.
  2. Renungi arti kalimat itu sambil menarik napas perlahan.
  3. Rasakan getaran di dada, biarkan hati bergetar.
  4. Tutup hari dengan dzikir yang sama, agar ruh tenang dalam tidur.

Doa

اللهم اجعل قلوبنا خاشعةً بذكرك، وألسنتنا رطبةً بذكرك، وأجسادنا خاضعةً لعظمتك.
Allāhumma ij‘al qulūbanā khāshi‘atan bidzikrik, wa alsinatanā raṭbatan bidzikrik, wa ajsādanā khāḍi‘atan li‘aẓamatik.

“Ya Allah, jadikanlah hati kami khusyuk dengan mengingat-Mu, lisan kami lembab dengan dzikir-Mu, dan tubuh kami tunduk pada keagungan-Mu.”


Nasehat Para Auliya

  • Hasan al-Bashri: “Dzikir adalah cahaya yang memadamkan api dosa.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka, tapi karena cinta.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Aku mencari Allah di hati yang bergetar karena dzikir.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Dzikir sejati adalah hilangnya dzakir dalam yang diingat.”
  • Al-Hallaj: “Ketika aku mengucap lā ilāha illallāh, aku lenyap dalam Yang Esa.”
  • Imam al-Ghazali: “Tauhid bukan di lidah, tapi di hati yang tak melihat selain Allah.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Kalimat tauhid adalah pintu kekasih-kekasih Allah.”
  • Jalaluddin Rumi: “Berguncanglah dengan lā ilāha illallāh, maka dinding hatimu akan roboh dan cahaya Allah masuk.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Setiap atom di alam semesta berdzikir dengan nama Allah.”
  • Ahmad al-Tijani: “Tidak ada obat yang lebih ampuh dari dzikir dengan cinta.”

Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: “Kalimat lā ilāha illallāh itu ibarat charger ruhani. Diulang-ulang agar batin tetap menyala.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Siapa yang memahami makna tauhid, maka segala urusan hidupnya dimudahkan Allah.”
  • Buya Yahya: “Zikir ini menjernihkan hati, menenangkan keluarga, dan memanggil rahmat Allah.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Ucapan lā ilāha illallāh yang disertai getaran hati bisa menghapus dosa besar yang manusia tidak sadar melakukannya.”

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru ruhani dan pembimbing hati yang telah menunjukkan jalan menuju Allah. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi diri sendiri dan siapa pun yang membacanya.


Daftar Pustaka

  1. Kitab Zabur (riwayat Wahab bin Munabbah).
  2. Musnad Ahmad – hadis tentang lā ilāha illallāh.
  3. Ihya’ ‘Ulum al-Din – Imam al-Ghazali.
  4. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  5. Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi.
  6. Mathnawi Ma’nawi – Jalaluddin Rumi.
  7. Ceramah Gus Baha, Buya Yahya, Ustadz Adi Hidayat, dan Ustadz Abdul Somad.

KULIT Y GEMETERAN PAS BACA KALIMAT SUCI


Renungan dari Kitab Zabur & Sabda Rasulullah ﷺ


Oleh: M. Djoko Ekasanu


---


Gambaran Awal:


Dari Mughoffal, denger-dengeran nih, Wahab bin Munabbah radhiyallahu ‘anhu pernah cerita: “Aku baca 30 sajak terakhir di Kitab Zabur-nya Nabi Daud. Isinya, Allah ngobrol sama Nabi Daud:


Allah nanya: “Hai Daud! Lo tau ga, orang beriman yang gue paling demen buat dipanjangkan umurnya itu yang kayak gimana?”


Daud jawab: “Wah, gue ga tau nih, Ya Allah.”


Allah jelasin: “Itu loh, orang beriman yang pas ngucapin ‘ﻻ إﻟﻪ إﻻ اﷲ’ (Laa ilaaha illallaah), kulitnya langsung merinding, tulang-tulangnya gemetaran. Gue aja ga tega ngeliat dia mati, kayak orang tua yang ga rela anaknya meninggal. Tapi ya namanya ajal, pasti datang juga. Gue pengen banget kasih dia kebahagiaan di ‘desa’ lain (akhirat), soalnya dunia tuh cuma ujian aja. Kemudahan di dunia tuh sebenernya beban. Musuh di dunia tuh bahaya banget, meski keliatannya biasa aja. Makanya, gue sering percepat ‘kepulangan’ para kekasih gue (meninggal di usia muda). Kalo dunia ga kayak gini, bisa-bisa dari zaman Adam sampe kiamat, manusia pada panjang umur semua.”


Ada juga nih riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, kata dia Rasulullah ﷺ bilang: “Siapa aja yang baca ‘Laa ilaaha illallaah’ dan dia panjangkan bacaannya, 4000 dosa besarnya langsung ilang.” (HR. Ali radhiyallahu ‘anhu).


---


Latar Belakang & Konteks Zaman Dulu:


· Zaman Nabi Daud: Hidup udah mulai glamor, orang sibuk sama kekuasaan dan harta. Zabur diturunin buat ngingetin: “Hey, dunia cuma temporary, jangan sampe kegeeran.”

· Zaman Rasulullah ﷺ: Banyak yang udah lupa esensi tauhid. Makanya, lewat hadis ini, Rasulullah ﷺ nge-highlight lagi betapa powerful-nya kalimat Laa ilaaha illallaah.


Akar Masalahnya:


1. Hati terlalu melekat sama dunia (wealth, status, hustle culture).

2. Ngucapin kalimat suci cuma sekedar rutinitas, tanpa rasa.

3. Aktivitas spiritual banyak, tapi hati kering, ga ada “getaran”.


Inti Judul:


“Kulit yang bergetar” itu gambaran iman yang udah nyatu sama diri. Bukan cuma kata-kata di mulut, tapi beneran berasa sampe ke tulang sumsum—campuran cinta, takut, dan hormat ke Allah.


Goals & Benefit Buat Kita:


· Ngingetin bahwa Laa ilaaha illallaah itu “charger” spiritual kita.

· Biar ga gampang ketipu sama gemerlap dunia.

· Ngingetin bahwa mati itu bukan akhir, tapi “relokasi” ke tempat yang lebih permanent dan epic.


Back-up dari Qur’an & Hadis:


1. Al-Qur’an: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (kalimatin tsābitah) dalam kehidupan dunia dan di akhirat.” (QS Ibrahim : 27)

2. Hadis: Rasulullah ﷺ bilang: “Perbaruilah iman kalian.” Pas ditanya gimana caranya, beliau jawab: “Perbanyaklah mengucapkan lā ilāha illallāh.” (HR. Ahmad)


Analisis & Argumen:


Kalimat Laa ilaaha illallaah tuh punya “vibe” atau frekuensi spiritual yang tinggi. Pas diucapin dengan kesadaran penuh, bisa bikin sistem saraf kita bereaksi—jadi merinding, jantung berdebar khusyuk. Secara sains, getaran suaranya bisa bikin rileks dan nentuin pikiran. Jadi, merindingnya itu tanda hati dan tubuh kita lagi “connect” banget sama Allah.


Keuntungan-keuntungannya:


· Dosa besar ilang sampai ribuan.

· Jadi tameng dari siksa kubur.

· Bikin hati adem, setan kabur.

· Mempermudah jalan menuju akhir yang baik (husnul khatimah).

· Zikirnya para makhluk di bawah ‘Arsy Allah.


Relevansinya di Zaman Now:


Bidang Relevansi

Teknologi Jadi “firewall” spiritual biar ga kecanduan gadget & lupa diri.

Komunikasi Kalimat tauhid itu universal, beyond bahasa & budaya manapun.

Transportasi Pas lagi road trip atau naik pesawat, dzikir ini ngingetin bahwa tujuan akhir kita adalah Allah.

Kesehatan Dzikir terbukti bikin rileks, turunin tekanan darah, dan boost imun tubuh.

Sosial Masyarakat yang rajin dzikir biasanya lebih empatik, sabar, dan damai.


Hikmah & Take Home Message:


Orang yang hidupnya penuh dzikir Laa ilaaha illallaah ga takut mati. Buat mereka, mati itu kayak undangan buat ketemu sama Sang Maha Cinta. Dunia? Itu cuma taman bermain sementara. The real deal ada di “desa abadi” (akhirat).


Tips Praktis Buat Muhasabah:


1. Pas bangun tidur, ucapin Laa ilaaha illallaah sebelum buka sosmed.

2. Luangkan waktu sejenak, renungin artinya sambil tarik napas dalem.

3. Rasain getarannya di dada. Biarin hati lo bergetar.

4. Sebelum tidur, ucapin lagi biar tidurnya tenang dan berkah.


Doa:


Allāhumma ij‘al qulūbanā khāshi‘atan bidzikrik, wa alsinatanā raṭbatan bidzikrik, wa ajsādanā khāḍi‘atan li‘aẓamatik. “Ya Allah,jadikan hati kami khusyuk karena mengingat-Mu, lidah kami basah karena berzikir pada-Mu, dan tubuh kami tunduk pada keagungan-Mu.”


Kata-kata Motivasi Para Ahli Hikmah:


· Hasan al-Bashri: “Dzikir itu cahaya yang bisa padamin api dosa.”

· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku nyembah-Mu bukan karena takut neraka, tapi karena cinta.”

· Jalaluddin Rumi: “Goyangin diri lo dengan Laa ilaaha illallaah, biar tembok hati lo runtuh dan cahaya Allah masuk.”

· Imam al-Ghazali: “Tauhid yang bener itu bukan di lidah, tapi di hati yang ga liat apa-apa selain Allah.”


Testimoni Ustadz Zaman Now:


· Gus Baha: “Kalimat Laa ilaaha illallaah itu kayak charger ruhani. Harus sering diulang biar baterai spiritual kita tetap full.”

· Ustadz Adi Hidayat: “Siapa yang paham bener makna tauhid, hidupnya pasti dimudahkan Allah.”

· Buya Yahya: “Zikir ini bikin hati jernih, keluarga harmonis, dan narik turunnya rahmat Allah.”

· Ustadz Abdul Somad: “Ngucapin Laa ilaaha illallaah sambil hati bergetar bisa hapus dosa besar yang kita lakuin tanpa sadar.”


Credit & Terima Kasih:


Big thanks buat semua guru spiritual dan para pembimbing yang udah nunjukin jalan pulang ke Allah. Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat buat kita semua.


Daftar Pustaka (Tetap Kredibel):


· Kitab Zabur (riwayat Wahab bin Munabbah).

· Musnad Ahmad – hadis tentang lā ilāha illallāh.

· Ihya’ ‘Ulum al-Din – Imam al-Ghazali.

· Karya-karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu ‘Arabi, Jalaluddin Rumi.

· Ceramah-ceramah Gus Baha, Buya Yahya, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Abdul Somad.

Makna Syahadat dan Syarat Keislaman Menurut Ulama Salaf dan Khalaf

 


🕌 Makna Syahadat dan Syarat Keislaman Menurut Ulama Salaf dan Khalaf

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Attaj Assubki berkata: “Islam adalah perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuh dan tidak sah kecuali disertai dengan keimanan. Iman adalah membenarkan dengan hati dan tidak akan diterima kecuali disertai dengan mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dahulu.”

Dalam syarah Muslim, Imam Nawawi pernah mengutip permufakatan pendapat ahlis sunah, ahli hadis, ahli fikih dan ahli tauhid bahwa seorang yang beriman dengan hatinya, tapi lidahnya tidak mau mengucapkan kalimat syahadat, padahal dia bisa mengucapkannya, (maka bila meninggal dunia) akan dilemparkan ke neraka untuk selamanya (dia mati kafir).

Ketahuilah, sesungguhnya seorang kafir tidak bisa dikatakan muslim apabila tidak mau mengucapkan dua kalimat syahadat. Tidak disyaratkan mengatakan: Aku bersaksi. Jadi menurut pendapat yang mashur cukup membaca: Lailaha illallahu muhammadur rasulullah. Demikianlah menurut pendapat Imam Nawawi di dalam kitab Raudhah.

Namun menurut yang mu’tamad di kalangan ulama mutaakhirin (ulama yang terakhir) diharuskan mengucapkan: Aku bersaksi, demikian menurut keterangan di dalam kitab Al Ubab. Kalau menurut keterangan yang terakhir ini, seandainya seorang kafir yang akan masuk Islam hanya mengucapkan ‘Aku mengetahui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah!

Atau tidak memakai kalimat: Aku bersaksi atau kalimat aku mengetahui. Tapi langsung berkata: Tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, maka dia masih belum dikatakan muslim. Untuk pendapat kalangan imam-imam kita ada pendapat yang ketiga: Yaitu bagi seorang katir yang ingin masuk Islam disarankan mengucapkan:

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Oleh karena itu, bagi seorang kafir yang masuk Islam hendaknya berniat hati, dan berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah swt dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah swt.

Disyaratkan tertib dalam beriman. Oleh karena itu tidak sah beriman kepada Nabi terlebih dahulu sebelum beriman kepada Allah, juga tidak disyaratkan beruntun (setelah beriman kepada Allah swt, lalu beriman kepada Rasulullah) juga tidak disyaratkan mengucapkan syahadat dengan bahasa arab sekalipun orang yang masuk Islam itu bisa mengucapkan dua kalimat syahadat dengan bahasa arab,

Bagi seorang kafir yang masuk Islam hendaknya mengerti arti dua kalimat syahadat yang dia ucapkan, yaitu tidak ada Tuhan yang disembah dengan benar di alam ini kecuali Allah Yang Maha Esa.

Bagi seorang musyrik yang masuk Islam setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, harus ditambah aku ingkar terhadap Tuhan-Tuhan yang telah kujadikan sekutu dan aku telah lepas dari seluruh agama yang bertentangan dengan agama Islam. Jadi seorang musyrik tidak dikatakan mu’min, sehingga mengucapkan kalimat tersebut setelah bacaan dua kalimat syahadat.

Demikian menurut keterangan yang terdapat di Kitab Raudhah dan Ubab. Namun menurut sebagian pendapat ulama yang lain. Tambahan tersebut tidak diwajibkan Ketahuilah bahwa pengertian iman kepada Allah swt adalah beritikad bahwa sesungguhnya Tuhan adalah tunggal, esa, tidak ada yang menyamai padaNya baik sifat maupun Dzat-Nya, tidak ada sekutu dalam ketuhananNya.


Ringkasan Redaksi Asli

Attaj Assubki menjelaskan bahwa Islam adalah amal anggota tubuh yang tidak sah tanpa iman, dan iman adalah pembenaran hati yang tidak diterima tanpa pengucapan dua kalimat syahadat.
Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menegaskan kesepakatan ulama bahwa seseorang tidak dianggap muslim jika tidak mau mengucapkan syahadat padahal mampu.
Dalam Raudhah dan Al-Ubab, para ulama menjelaskan tata cara sahnya masuk Islam, urutan pengucapan, serta pentingnya memahami makna syahadat, bukan sekadar melafalkannya.


Latar Belakang Masalah di Masanya

Pada masa para ulama klasik seperti Imam Nawawi, masyarakat Islam tengah menghadapi perdebatan teologis antara kelompok yang menekankan aspek lahiriah (Islam zahir) dan batiniah (iman batin). Banyak orang mengaku beriman namun enggan secara terbuka menyatakan Islamnya, atau sebaliknya melakukan ritual Islam tanpa keyakinan yang benar di hati.
Para ulama kemudian menegaskan batas tegas antara iman, Islam, dan syahadat, agar umat tidak terjebak pada formalitas tanpa makna atau keyakinan tanpa pengakuan.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Banyak orang memahami Islam hanya sebatas identitas sosial.
  2. Ada kalangan yang berpendapat iman cukup di hati tanpa pengucapan.
  3. Muncul kebingungan hukum bagi non-muslim yang ingin masuk Islam tanpa tata cara syahadat yang benar.
  4. Kebutuhan untuk menjaga kemurnian aqidah dari penyimpangan makna iman dan Islam.

Intisari Judul

“Kesempurnaan Iman dan Islam: Makna dan Syarat Syahadat dalam Pandangan Ulama”
Judul ini merangkum pesan bahwa keislaman seseorang tidak cukup dengan amal atau keyakinan semata, tetapi harus melalui kesaksian syahadat yang benar, penuh pemahaman, dan disertai niat tulus karena Allah SWT.


Tujuan dan Manfaat

  1. Menegaskan pentingnya dua kalimat syahadat sebagai pintu resmi masuk Islam.
  2. Mendidik umat agar memahami makna syahadat, bukan hanya menghafalnya.
  3. Menjaga kemurnian aqidah dari pandangan yang menyesatkan.
  4. Memberi pedoman bagi para dai dan muallaf tentang tata cara masuk Islam yang sah.
  5. Menumbuhkan kesadaran spiritual bahwa Islam bukan sekadar formalitas, tetapi pernyataan cinta dan tunduk kepada Allah SWT.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

📖 Al-Qur’an:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Ali ‘Imran: 85)

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah.”
(QS. Muhammad: 19)

📜 Hadis Nabi SAW:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Bila mereka telah mengucapkannya, maka darah dan harta mereka terjaga dariku kecuali karena hak Islam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Analisis dan Argumentasi

  1. Aspek Fikih: Pengucapan syahadat adalah syarat mutlak keislaman, bukan sekadar simbol, karena ia bentuk pengakuan publik terhadap kebenaran tauhid.
  2. Aspek Teologi: Iman tanpa syahadat belum sah secara hukum, karena iman adalah pekerjaan hati dan lisan.
  3. Aspek Sosial: Syahadat juga merupakan identitas umat Islam, pengikat ukhuwah dan dasar kesatuan umat.
  4. Aspek Spiritual: Syahadat adalah penyaksian batin kepada Allah, yang menghidupkan ruh keimanan.

Keutamaan-keutamaannya

  1. Membuka pintu surga.
  2. Menghapus dosa sebelumnya.
  3. Menjadi kunci keselamatan dunia dan akhirat.
  4. Menyucikan hati dari syirik dan nifaq.
  5. Menjadi dasar diterimanya seluruh amal.

Relevansi di Era Teknologi, Komunikasi, Transportasi, Kedokteran, dan Sosial Modern

  • Teknologi: Syahadat harus dijaga maknanya di tengah maraknya penyebaran informasi yang meragukan keimanan.
  • Komunikasi: Di era media sosial, ucapan syahadat menuntut konsistensi akhlak digital — antara apa yang diucap dan disebar.
  • Transportasi dan Kedokteran: Mobilitas dan kemajuan medis menunjukkan kekuasaan Allah dalam menciptakan dan memelihara kehidupan; syahadat menjadi pengingat keesaan-Nya.
  • Sosial: Syahadat menumbuhkan persaudaraan global umat Islam di tengah perpecahan dan krisis moral dunia modern.

Hikmah

  • Syahadat bukan hanya kalimat, tapi ikrar abadi antara manusia dan Penciptanya.
  • Syahadat adalah pengakuan cinta sejati: menafikan segala selain Allah dan menegaskan keutusan Rasulullah SAW.
  • Siapa yang menjaga syahadatnya, Allah menjaga hidupnya.

Muhasabah dan Caranya

  1. Perbaharui syahadat setiap hari dengan penuh kesadaran.
  2. Hayati maknanya dalam setiap ibadah.
  3. Jaga lisan dan hati agar tidak bertentangan dengan syahadat.
  4. Seringlah mengucapkannya dalam dzikir dan doa.

Doa

اللهم اجعلنا من أهل لا إله إلا الله محمد رسول الله،
واحينا عليها، وامتنا عليها، وابعثنا عليها يا أرحم الراحمين.

“Ya Allah, jadikan kami termasuk golongan ahli La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Hidupkan kami dengan kalimat itu, wafatkan kami dengan kalimat itu, dan bangkitkan kami dengannya, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang.”


Nasihat Para Tokoh Sufi

  • Hasan al-Bashri: “Iman bukan sekadar harapan, tapi apa yang berakar di hati dan dibuktikan dengan amal.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Cinta kepada Allah adalah makna terdalam dari syahadat.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Siapa yang benar-benar mengenal Allah, syahadatnya menjadi napasnya.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Tauhid bukan sekadar kata, tetapi lenyapnya selain Allah dari hati.”
  • Al-Hallaj: “Yang benar-benar mengucap La ilaha illallah telah meniadakan dirinya demi Allah.”
  • Imam al-Ghazali: “Syahadat adalah puncak ilmu dan pangkal amal.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Perbaharuilah syahadatmu setiap kali engkau tergoda oleh dunia.”
  • Jalaluddin Rumi: “Syahadat adalah tarikan napas cinta antara makhluk dan Sang Kekasih.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Segala wujud tunduk pada syahadat, sebab hanya Allah yang benar-benar ada.”
  • Ahmad al-Tijani: “Barangsiapa menjaga syahadatnya dengan hati bersih, maka ia akan diberi maqam kedekatan.”

Testimoni Ulama Nusantara

  • Gus Baha: “Syahadat itu bukan hafalan. Kalau belum paham maknanya, ulangilah dengan hati.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Kalimat syahadat adalah kunci surga. Tapi kunci tak berguna kalau tidak digunakan.”
  • Buya Yahya: “Jangan ucapkan syahadat hanya di lisan. Hidupkan syahadat di akhlak.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Ketika seseorang mengucap syahadat, seluruh malaikat bersaksi. Maka jagalah syahadatmu sebagaimana engkau menjaga hidupmu.”

Daftar Pustaka

  1. Syarh Muslim – Imam an-Nawawi.
  2. Raudhah at-Thalibin – Imam an-Nawawi.
  3. Al-Ubab – Imam Taqiyuddin as-Subki.
  4. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali.
  5. Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi.
  6. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  7. Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari.
  8. Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi.

Ucapan Terima Kasih

Kepada para ulama dan mursyid yang telah menuntun umat memahami makna syahadat secara benar, serta kepada pembaca yang senantiasa haus akan ilmu dan kebenaran.
Semoga setiap huruf yang tertulis menjadi cahaya bagi penulis dan pembaca di dunia dan akhirat.


🕊️ “La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah — inilah inti hidup, sumber cahaya, dan pintu surga.”
(M. Djoko Ekasanu)


Makna Syahadat & Syarat Jadi Muslim Menurut Ulama Zaman Dulu & Sekarang


Penulis: M. Djoko Ekasanu


---


Intinya gini...


Attaj Assubki bilang: "Islam tuh ibaratnya action, gerakan fisik. Tapi action itu ga bakal valid kalau nggak dibarengi sama iman. Iman sendiri tuh soal membenarkan dalam hati. Nah, pengakuan iman di hati ini juga nggak bakal diterima kalau belum diungkapin lewat ucapan dua kalimat syahadat dulu."


Imam Nawawi di bukunya Syarah Muslim nyatet kesepakatan para ahli sunah, hadis, fikih, dan tauhid: Kalau ada orang yang ngaku nuratin hatinya percaya, tapi mulutnya ogah ngucapin syahadat (padahal bisa), nah, pas dia meninggal, statusnya kafir dan tempatnya di neraka selamanya.


Intinya, buat yang sebelumnya non-muslim, belum resmi jadi muslim kalau belum ngucapin dua kalimat syahadat. Menurut versi yang umum, nggak harus pake kata "Aku bersaksi". Cukup baca: Laa ilaaha illallaah, Muhammadur rasuulullaah. Begitu kata Imam Nawawi di Raudhah.


Tapi, menurut ulama zaman now (mutaakhirin), yang bener tuh pake kata "Aku bersaksi", kayak yang dijelasin di kitab Al-Ubab. Jadi, kalau ada orang mau masuk Islam cuma bilang, "Aku tahu nggak ada tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah" — atau malah tanpa kata "aku bersaksi" atau "aku tahu" — langsung baca syahadat aja, menurut pendapat ini, dia belum dianggep muslim.


Ada juga pendapat ketiga dari para imam: buat yang mau masuk Islam, disarankan banget buat baca: "Aśhadu allaa ilaaha illallaah, wa aśhadu anna muhammadan rasuulullaah." Jadi, yang paling aman: niatin dalam hati, terus ucapin dengan lafal yang lengkap pake "Aku bersaksi".


Harus urut juga: percaya sama Allah dulu, baru percaya sama Rasul-Nya. Nggak harus beruntun langsung, tapi urutannya jangan dibalik.


Bisa pake bahasa sendiri, nggak wajib Arab — walaupun bisa bahasa Arab, ya bagus. Tapi yang penting, harus ngerti arti dari yang diucapin: bahwa nggak ada tuhan yang berhak disembah secara bener di dunia ini kecuali Allah yang Maha Esa.


Khusus buat yang sebelumnya penyembah berhala atau punya tuhan banyak, habis baca syahadat disarankan nambahin: "Aku ingkar sama semua tuhan selain Allah yang dulu aku sembah, dan aku lepas dari semua agama yang nggak sejalan sama Islam." Tapi menurut sebagian ulama, nggak wajib sih.


---


Ringkasan versi santai:


· Islam = aksi fisik, tapi harus dibackup sama iman.

· Iman = percaya dalam hati, tapi harus diungkapin lewat syahadat.

· Kalau bisa ngucapin tapi nggak mau, bahaya banget.

· Ucapan syahadat itu kunci, tapi harus paham artinya, bukan cuma hafal.


---


Konteks zaman dulu:


Dulu, banyak yang bingung bedain "iman batin" sama "Islam lahir". Ada yang ngaku Islam cuma di KTP, hatinya nggak. Ada juga yang bilang "yang penting percaya dalam hati, ucapan nggak perlu". Nah, ulama zaman dulu ngejernihin biar umat nggak salah paham.


---


Kenapa hal ini penting?


· Biar nggak sekadar ikut-ikutan.

· Biar nggak asal ngaku muslim tanpa dasar yang jelas.

· Biar yang mau masuk Islam tahu caranya yang bener.

· Biar aqidah tetap terjaga, nggak keselip sama paham yang nggak pas.


---


Inti judul versi kekinian:


"Jadi Muslim yang Bener: Makna & Syarat Syahadat Menurut Ulama"


Judul ini mau nyampein bahwa jadi muslim itu nggak cuma modal ngikut ortu atau ikut-ikutan, tapi lewat syahadat yang dipahami dan diucapkan dengan sadar.


---


Tujuan & manfaat:


· Ngasih tahu bahwa syahadat itu pintu gerbang jadi muslim.

· Ngajarin bahwa syahadat harus dipahami, bukan cuma dihafal.

· Jaga kemurnian akidah dari pemahaman yang salah.

· Jadi panduan buat yang mau masuk Islam atau ngajakin orang masuk Islam.

· Ngingetin bahwa Islam itu tentang komitmen, bukan cuma formalitas.


---


Dalil pendukung:


📖 Qur'an:


"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi."

(QS. Ali ‘Imran: 85)


"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah."

(QS. Muhammad: 19)


📜 Hadis:


"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Bila mereka telah mengucapkannya, maka darah dan harta mereka terjaga dariku kecuali karena hak Islam."

(HR. Bukhari dan Muslim)


---


Analisis singkat:


· Aspek fikih: Syahadat itu kewajiban, bukan opsi.

· Aspek teologi: Iman harus keluar lewat lisan.

· Aspek sosial: Syahadat bikin kita satu komunitas.

· Aspek spiritual: Syahadat itu hubungan personal sama Allah.


---


Keutamaan syahadat:


· Buka pintu surga.

· Ngapus dosa masa lalu.

· Kunci keselamatan dunia-akhirat.

· Bikin hati bersih dari syirik.

· Dasar diterimanya amal kita.


---


Relevansi di zaman now:


· Teknologi: Di tengas banjir info, syahadat bikin kita fokus sama tauhid.

· Media sosial: Kalau udah syahadat, jaga etika di medsos juga dong.

· Kedokteran & transportasi: Kemajuan teknologi ngingetin kita akan kebesaran Allah.

· Sosial: Syahadat bikin kita sadar kita satu umat, di mana pun.


---


Hikmah:


· Syahadat itu ikrar cinta sama Allah.

· Kalau kita jaga syahadat, Allah jaga hidup kita.


---


Tips muhasabah:


· Setiap hari, ingat lagi makna syahadat.

· Rasakan dalam ibadah sehari-hari.

· Jaga lisan dan hati biar sesuai sama syahadat.

· Sering-sering baca dalam dzikir.


---


Doa:


Allahumma-j’alna min ahli laa ilaaha illallaah Muhammadur rasuulullaah, wa ahyinaa ‘alaihaa, wa amitnaa ‘alaihaa, wab’atsnaa ‘alaihaa yaa arhamar raahimiin.


"Ya Allah, jadikan kami bagian dari orang yang mengamalkan Laa ilaaha illallaah Muhammadur rasuulullaah. Hidupkan kami di atas kalimat itu, matikan kami di atasnya, dan bangkitkan kami di atasnya, wahai Yang Maha Pengasih."


---


Nasihat para sufi:


· Hasan al-Bashri: "Iman bukan angan-angan, tapi yang menetap di hati dan dibuktikan dengan perbuatan."

· Rabi’ah al-Adawiyah: "Cinta kepada Allah adalah jiwa dari syahadat."

· Jalaluddin Rumi: "Syahadat itu tarikan napas cinta antara manusia dan Sang Kekasih."


---


Testimoni ulama Indonesia:


· Gus Baha: "Syahadat itu bukan hafalan. Kalau belum paham, ulangi lagi pelan-pelan."

· Ustadz Adi Hidayat: "Syahadat itu kunci surga. Tapi kunci nggak bakal kepake kalau cuma disimpen."

· Buya Yahya: "Jangan cuma di lisan, hidupkan syahadat dalam akhlak."

· Ustadz Abdul Somad: "Waktu kita ucapin syahadat, malaikat bersaksi. Jadi jagalah."


---


Daftar bacaan (tetap keren):


· Syarh Muslim – Imam Nawawi

· Raudhah at-Thalibin – Imam Nawawi

· Al-Ubab – Imam Taqiyuddin as-Subki

· Ihya’ Ulumuddin – Imam Al-Ghazali

· Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah


---


Thank you!


Buat semua ulama yang udah ngejaga pemahaman syahadat sampai sekarang, dan buat lo yang baca sampe sini — semoga tulisan ini bermanfaat buat hidup dan akhirat kita.


🕊️

"Laa ilaaha illallaah Muhammadur rasuulullaah — ini inti hidup, sumber cahaya, dan pintu surga."

(M. Djoko Ekasanu)