HADITS KE-19 : BEBERAPA HAL YANG DULU TERJADI PADA ORANG JAHILIYAH
Berhala itu berkata, “Muhammad telah datang.”
Ketika Kebenaran Bersaksi, Bahkan dari Mulut Berhala
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Kisah yang kita dengar ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ini adalah cermin hati manusia. Di zaman jahiliyah, manusia tersesat bukan karena kurang akal, tapi karena hati yang tertutup.
Berhala-berhala disembah.
Padahal batu.
Padahal buatan tangan manusia sendiri.
Namun lihatlah…
Ketika Allah menghendaki hidayah, bahkan berhala pun dipaksa bersaksi atas kebenaran.
1. Hati yang Jujur Akan Dipanggil oleh Kebenaran
Ghossan bin Malik al-Amiri hidup di tengah kebatilan. Ia menyembelih untuk berhala, sebagaimana tradisi nenek moyangnya. Namun hatinya tidak mati.
Saat suara kebenaran keluar dari perut berhala:
“Islam telah datang, berhala-berhala adalah batil…”
Itu bukan keajaiban batu.
Itu teguran Allah bagi hati yang masih hidup.
Allah berfirman:
“Maka sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj: 46)
Berhala bisa berbicara karena Allah menghendaki,
namun banyak manusia hari ini yang hatinya lebih bisu daripada batu.
2. Tazkiyatun Nufūs Dimulai dari Kejujuran Mencari Kebenaran
Ghossan tidak membantah suara itu.
Ia tidak berkata, “Ini bertentangan dengan adat kami.”
Ia tidak berkata, “Ini merusak tradisi.”
Ia mencari Nabi ﷺ.
Inilah tanda jiwa yang bersih: 👉 ketika kebenaran datang, ia mendekat, bukan menjauh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad. Jika rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tazkiyatun Nufūs bukan soal banyaknya ibadah lahir,
tetapi keberanian hati menerima kebenaran walau pahit.
3. Islam Dibangun di Atas Pondasi, Bukan Perasaan
Ketika Ghossan bertanya, Rasulullah ﷺ tidak menjawab dengan retorika,
beliau menjawab dengan pondasi:
“Islam dibangun di atas lima perkara…”
Karena agama ini bukan emosi, tapi jalan hidup.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)
Orang jahiliyah menyembah berhala karena ikut-ikutan.
Orang beriman mengikuti Islam karena yakin dengan kebenaran.
4. Kebenaran Tidak Butuh Dibela dengan Kebohongan
Berhala itu akhirnya jatuh telungkup.
Simbol bahwa segala kebatilan pasti runtuh.
Allah berfirman:
“Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”
(QS. Al-Isrā’: 81)
Hari ini mungkin bukan berhala batu yang disembah,
tapi:
harta
jabatan
gengsi
hawa nafsu
popularitas
Semua itu bisa menjadi berhala hati.
Dan semua itu akan jatuh…
ketika hati kembali bersih.
5. Jiwa yang Bersih Akan Berani Bersaksi
Ghossan akhirnya bersyair:
“Aku bersaksi bahwa Allah adalah Haq Yang Maha Esa,
dan Islam adalah agamaku selama aku hidup.”
Inilah puncak Tazkiyatun Nufūs: 👉 berani bersaksi dengan hidupnya, bukan hanya dengan lisan.
Allah berfirman:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10)
Penutup Renungan
Saudaraku,
Jika berhala saja dipaksa Allah bersaksi,
lalu apa alasan kita untuk diam dari kebenaran?
Jika orang jahiliyah bisa tersentuh hidayah,
mengapa kita yang telah mengenal Islam justru lalai?
Mari bersihkan hati.
Mari luruskan niat.
Mari hidupkan iman.
Karena Islam tidak butuh pembela palsu,
Islam hanya butuh hati yang jujur dan jiwa yang bersih.
Wallāhu a‘lam.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
.......
Hai, guys! Ada cerita seru nih dari zaman Nabi ﷺ, diceritain sama sahabat Ali bin Abi Thalib.
Jadi, gini… Pas lagi awal-awal Islam, kita lagi nongkrong bareng Rasulullah ﷺ. Tiba-tiba, ada seorang cowok naik unta dateng. Dari penampilannya keliatan banget dia baru jalan jauh, kayaknya capek banget.
Terus dia berhenti dan nanya, “Siapa di antara kalian yang namanya Muhammad?”
Kita tunjukin ke arah Rasulullah ﷺ.
Dia langsung open mic: “Hai Muhammad! Gimana nih, lo yang mau tunjukin apa yang Tuhan lo perintahkan ke gue, atau gue yang tunjukin apa yang berhala gue perintahkan ke lo?”
Rasulullah ﷺ dengan santai jawab, “Gue aja yang tunjukin ke elo ajaran yang Tuhan gue perintahin.”
Terus beliau jelasin dengan singkat dan jelas: “Islam itu dibangun di atas 5 pondasi.”
Cowok itu bilang, “Gue Ghossan bin Malik al-Amiri. Di tempat gue ada berhala, dan kita biasa nyembelih kurban di bulan Rajab deket berhala itu buat ibadah. Suatu hari, ada orang dari kaum gue namanya Ushom, lagi mau nyembelih. Pas dia angkat tangannya, tiba-tiba ada suara keluar dari perut berhalanya:
‘Hai Ushom! Islam udah datang. Berhala-berhala itu batil. Hak setiap orang dijaga. Silaturahmi disambung. Agama yang benar udah muncul. Semoga keselamatan tercurah buat elo, hai Ushom!’”
---
Ketika Kebenaran Nyampein DM, Even dari Akun Berhala Sekalipun
Bismillāhirrahmānirraḥīm
Sobat-sobat fillah,
Kisah ini bukan cuma nostalgia jaman old. Ini cerita yang relate banget sama kondisi hati kita.
Zaman jahiliyah dulu, nyesatnya manusia bukan karena IQ-nya rendah, tapi karena hatinya lagi offline. Mereka nyembah berhala, padahal cuma batu bikinan tangan sendiri. Tapi lihat… pas Allah udah mau kasih hidayah, berhala aja dipaksa buat ngasih testimony!
1. Hati yang Jujur Auto Dapet Notifikasi Kebenaran
Ghossan ini hidup di lingkungan yang toxic banget—nyembelih buat berhala cuma karena “tradisi”. Tapi hatinya masih on. Waktu berhala ngomong: “Islam udah datang, berhala-berhala itu batil…” Itu bukan keajaiban batu, guys. Itu reminder dari Allah buat hati yang masih ada sinyal.
Allah berfirman: “Maka sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)
Berhala aja bisa speech, tapi banyak manusia sekarang hatinya lebih silent mode daripada batu.
2. Tazkiyatun Nufūs Dimulai dari Keberanian Cari Tau
Reaksi Ghossan keren. Dia nggak denial. Nggak bilang, “Ah, ini nggak sesuai feeling gue.” Atau “Ini nge-hack tradisi kita!” Malahan, dia langsung search Nabi ﷺ.
Ini nih ciri hati yang bersih: pas kebenaran dateng, dia approach, bukan ignore.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad. Jika rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tazkiyatun Nufūs itu bukan soal quantity ibadah, tapi quality hati buat nerima kebenaran meski kadang unfollow zona nyaman.
3. Islam Itu Berfondasi, Bukan Cuma Vibes
Waktu ditanya, Rasulullah ﷺ nggak jawab pake quote motivasi doang. Beliau kasih fondasinya langsung: “Islam dibangun di atas lima perkara…”
Agama ini bukan cuma feeling atau aesthetic, tapi jalan hidup yang jelas.
Allah berfirman: “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)
Orang jahiliyah nyembah berhala cuma ikut-ikutan. Orang beriman milih Islam karena yakin sama source kebenarannya.
4. Kebenaran Nggak Perlu Edit Fakta Buat Dibenarin
Akhirnya, berhala itu jatuh facepalm. Simbol kalo semua yang batil pasti collapse.
Allah berfirman: “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isrā’: 81)
Sekarang mungkin kita nggak nyembah berhala batu, tapi hati-hati sama berhala modern: duit, jabatan, gengsi, followers, hawa nafsu. Itu semua bisa jadi idol di hati. Dan mereka bakal runtuh juga pas hati kita reset dan balik ke fitrah.
5. Jiwa yang Bersih Berani Unfollow Kebatilan
Ghossan akhirnya declare lewat syair: “Aku bersaksi bahwa Allah adalah Haq Yang Maha Esa, dan Islam adalah agamaku selama aku hidup.”
Inilah puncak Tazkiyatun Nufūs: berani komitmen sama hidupnya, bukan cuma di bio doang.
Allah berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)
Penutup
Guys, kalo berhala aja dipaksa Allah buat ngasih broadcast kebenaran, kita yang punya akal dan hati masih pada diam aja?
Kalo orang jahiliyah aja bisa open heart dapet hidayah, kita yang udah kenal Islam malah kadang lalai?
Yuk, upgrade hati kita. Clear cache dari dosa, lurusin niat. Karena Islam nggak butuh pembela yang cuma baperan, Islam butuh hati yang jujur dan jiwa yang bersih.
Wallāhu a‘lam.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
