Wednesday, November 26, 2025

841. MAKSIAT LISAN & DOSA TELINGA


Edisi: 841


MAKSIAT LISAN & DOSA TELINGA

Bahaya yang Sering Diremehkan Umat

Penulis: M. Djoko Ekasanu


Maksiat Lisan artinya perbuatan dosa yang dilakukan oleh mulut. Maksiat Telinga adalah perbuatan haram yang dilakukan oleh telinga. Maksiat lisan meliputi ghibah atau ngerumpi atau memperbincangkan orang lain akan hal yang tidak disukai. Namimah termasuk maksiat lisan yaitu mengadu domba.

Pasal: Maksiat Lisan

Sebagian dari maksiat lisan adalah

1. Ghibah membicarakan orang (ngrasani jawa), yaitu menyebut-nyebut saudara muslim dengan perkara yang tidak disukai, sekalipun apa adanya.

2. Mengadu domba, yaitu memindahkan perkataan dari seorang kepada yang lain dengan tujuan merusak

3. Mengadu langsung tanpa memindahkan omongan, sekalipun mengadu pada binatang, haram juga.

4. Berdusta, yaitu berkata salah dengan kenyataannya.

5. sumpah bohong.

6. Ucapan-ucapan menuduh zina, adapun lafadznya sangat banyak. Prinsipnya setiap kalimat yang dilontarkan kepada orang atau salah seorang dari kerabatnya dengan tuduhan zina, itulah yang dimaksud menuduh zina (misal, suami berkata kau hamil bukan dari aku dan sebagainya).

Adapun orang yang menuduh zina ada kalanya dengan kata-kata yang jelas dan ada yang kinayah (sindiran). Orang yang menuduh zina wajib dijilid (di cambuk). Delapan puluh kali cambukan bagi orang merdeka dan empat puluh kali bagi budak.

7. mencaci maki para sahabat Nabi

8. Bersaksi (menjadi saksi kasus), tapi bohong

9. Mengingkari janji

10. menunda pembayaran hutang, padahal sudah ada

11. Memaki

12. Melaknati (kepada insan/binatang atau benda mati).

13. Mengina orang islam (dengan kata-kata)

14. Setiap omongan yang menyakitkan sesama muslim

15. Berdusta kepada Alloh dan Rasul-Nya.

16. Pengakuan yang batil (tidak benar)

17. Cerai bid’ah (mencerai istri dalam keadaan haid)

18. dihar (menyerupakan istri dengan mahram).

Dalam dihar ada kafaratnya (denda), jika tidak langsung diceraikan. Dendanya yaitu memerdekakan budak perempuan mukmin dan bebas dari cacat. bila tak kuasa harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut. jika tak mampu harus memberi makan enam puluh orang miskin, masing-masing satu mud (6 gram).

19. Lahn (sengaja membaca salah ketika membaca Al-quran), sekalipun tidak merubah makna.

20. Mengemis pada orang kaya, baik ngemis harta atau minta pekerjaan.

21. Nazar, dengan sengaja/bermaksud agar para ahli waris tidak mendapat warisan.

22. Tidak mau berwasiat untuk dibayarkan hutangnya (jika mati) atau tak mau wasiat urusan barang yang tidak tahu urusannya kecuali dia.

23. Mengakui/menghubungkan nasab dengan selain bapaknya atau kepada selain yang memerdekakannya.

24. Melamar perempuan yang sudah dilamar oleh temannya

25. Memberi petuah tanpa pengetahuan (ngawur).

26. Belajar atau mengajarkan ilmu yang membahayakan.

27. Menghukumi dengan selain hukum Allah.

28. Meratapi/menangisi (dengan suara keras) pada mayit.

29. Setiap ucapan yang mendorong kepada orang lain untuk berbuat haram atau untuk meninggalkan kewajiban.

30. Setiap ucapan yang mencela agama, salah seorang nabi, para ulama, ilmu Al-quran, peraturan agama, dan atau sesuatu dari tanda-tanda agama Alloh.

31. Meniup seruling.

32. Diam tak mau amar makruf nahi mungkar, padahal tidak ada uzur.

33. Menyimpan ilmu yang wajib, sementara ada orang yang menuntut.

34. Mengeluarkan angin keluar dari dubur (kentut).

35. Menertawakan orang islam dengan maksud menghina.

36. Menyimpan penyaksian (dia tahu tentang kasus, dan tak mau jadi saksi).

37. Lupa hafalan Al-quran (pernah hafal lalu lupa).

38. Tidak mau menjawab salam, yang wajib untuk dijawab.

39. Mencium istri dengan sahwat ketika ihram haji atau ketika berpuasa fardhu.

40. Mencium orang yang tidak halal dicium.




Ringkasan Redaksi Asli

Maksiat lisan adalah segala dosa yang keluar dari mulut: ghibah, namimah, dusta, sumpah palsu, memaki, menuduh zina, dan ucapan yang menyakiti orang lain. Maksiat telinga adalah segala perbuatan haram yang dilakukan oleh pendengaran, seperti mendengar ghibah, fitnah, musik maksiat, dan ucapan yang melalaikan dari Allah. Kedua jenis maksiat ini termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja dan tanpa uzur syar‘i.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Sejak zaman Nabi ﷺ, problem maksiat lisan merupakan penyakit sosial yang paling cepat menyebar.

  • Di masa Arab jahiliyah, tradisi menggunjing, memaki, menyebar fitnah, dan sumpah palsu sangat kuat.
  • Datanglah Islam membangun masyarakat berbasis amanah, kebenaran, dan kehormatan sesama muslim.
  • Namun, penyakit lisan tetap muncul karena sifat manusia mudah tergelincir pada ucapan.

Nabi ﷺ sampai bersabda:

“Kebanyakan manusia masuk neraka karena hasil panen lisannya.”
(HR. Tirmidzi)

Di masa sahabat, mereka sangat berhati-hati. Umar bin Khattab r.a. berkata:

“Seandainya seluruh anggota tubuh manusia dibiarkan, niscaya lisannya yang paling dulu binasa.”


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Kurang ilmu dan takut kepada Allah.
  2. Lalai dari hisab kata-kata.
  3. Lingkungan yang rusak: gosip, fitnah, media.
  4. Tidak menjaga hati: iri, dengki, marah.
  5. Kecanggihan teknologi yang membuka pintu maksiat lisan dan telinga tanpa batas.

Intisari Judul

“Maksiat Lisan & Dosa Telinga: Saat Mulut dan Pendengaran Menjadi Jalan Ke Neraka.”


Tujuan dan Manfaat

  • Mengingatkan umat akan bahaya ucapan.
  • Mengembalikan adab Islam dalam berbicara.
  • Menjauhkan masyarakat dari dosa ghibah, fitnah, dan ujaran kebencian.
  • Menjadi pedoman etika digital dalam bermedia.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. Ghibah

“Janganlah kalian menggunjing, apakah kalian suka memakan daging saudara kalian yang sudah mati?”
(QS. Al-Hujurāt: 12)

2. Namimah (adu domba)

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.”
(HR. Muslim)

3. Dusta

“Sesungguhnya dusta membawa kepada kefajiran dan kefajiran membawa pada neraka.”
(HR. Bukhari & Muslim)

4. Menuduh zina (Qadzaf)

Hukumnya dicambuk 80 kali bagi orang merdeka (QS. An-Nur: 4).

5. Mendengarkan kemaksiatan

“Mereka itu yang suka mendengar berita bohong…”
(QS. Al-Mā’idah: 41)


Analisis & Argumentasi

Dalam Islam, lisan dan telinga adalah amanah. Kerusakan sosial biasanya dimulai dari ucapan: fitnah memicu permusuhan, dusta menghancurkan kepercayaan, namimah memutuskan silaturahmi. Bahkan ucapan kecil bisa menjadi api besar jika masuk ke ruang digital.

Maka ulama menyimpulkan:

  • Maksiat lisan = dosa sosial terbesar.
  • Maksiat telinga = dosa pasif namun berdampak sama beratnya, karena mendengar berarti ridha.

Keutamaan Menjaga Lisan & Telinga

  1. Dijamin masuk surga

    “Siapa menjaga apa yang di antara dua janggutnya (lisan) dan dua kakinya (kemaluannya), aku jamin ia masuk surga.” (HR. Bukhari)

  2. Membawa ketenangan hati.

  3. Dicintai manusia, dihormati malaikat.

  4. Rezeki menjadi lapang dan doa mudah dikabulkan.


Relevansi di Era Teknologi & Kehidupan Modern

Hari ini maksiat lisan tidak hanya melalui mulut:

  • Ghibah digital (grup WA, komentar, status).
  • Namimah online (forward pesan tanpa tabayyun).
  • Cyber bullying, hoaks, ujaran kebencian.
  • Telinga ikut maksiat karena mendengar musik haram, podcast maksiat, gosip artis, skandal, drama.
  • Teknologi kedokteran dan komunikasi maju, tetapi adab lisan justru mundur.

Maka menjaga lisan = menjaga peradaban umat.


Hikmah

  • Lisan adalah cermin hati: bersih lisannya, bersih hatinya.
  • Telinga adalah pintu masuk cahaya atau kegelapan ke dalam jiwa.
  • Diam lebih aman daripada berbicara tanpa ilmu.
  • Lisan yang salah bisa memadamkan seluruh amal baik.

Muhasabah & Cara Melakukannya

  1. Tulis daftar kebiasaan ucapan buruk yang sering dilakukan.
  2. Hindari lingkungan yang suka gosip.
  3. Diam ketika marah atau emosi.
  4. Verifikasi sebelum menyebarkan informasi (tabayyun).
  5. Banyak dzikir agar lisan terbiasa pada hal baik.
  6. Kurangi mendengar hal yang melalaikan.
  7. Latih telinga hanya mendengar Qur’an, ceramah, ilmu.

Doa

اللهم احفظ لساني وسمعي وبصري عن الحرام واجعلها طاعة لك
“Ya Allah, jagalah lisanku, pendengaranku, dan penglihatanku dari yang haram, dan jadikan semuanya taat kepada-Mu.”


Nasehat Para Ulama Sufi

Hasan al-Bashri

“Lisan orang beriman berada di belakang hatinya; ia berpikir dulu sebelum berbicara.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Setiap kata yang tidak mendekatkanmu kepada Allah, maka itu akan menjauhkanmu.”

Abu Yazid al-Bistami

“Banyak bicara mematikan hati.”

Junaid al-Baghdadi

“Diam adalah pintu keselamatan bagi ahli suluk.”

Al-Hallaj

“Jangan kau kotori lidahmu dengan selain kebenaran.”

Imam al-Ghazali

“Lisan adalah pisau: melukai tanpa darah.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Jagalah lidahmu, niscaya engkau selamat dari 70 pintu kejahatan.”

Jalaluddin Rumi

“Kata-kata adalah jendela ruh. Bersihkan jendelamu.”

Ibnu ‘Arabi

“Ucapan adalah manifestasi keadaan batin.”

Ahmad al-Tijani

“Dzikir adalah obat paling mujarab bagi penyakit lisan.”


Testimoni Ulama Indonesia

KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha)

“Dosa lisan itu paling sering disepelekan, padahal itulah yang paling cepat menyeret ke neraka.”

Ustadz Adi Hidayat

“Kalau tidak tahu, diamlah. Karena diam lebih selamat daripada berbicara tanpa ilmu.”

Buya Yahya

“Jaga lisan, jaga tulisan. Jangan sampai jari-jarimu menuliskan dosa.”

Ustadz Abdul Somad

“Lidah tak bertulang, tetapi bisa mematahkan persaudaraan.”


Daftar Pustaka (Umum & Lolos Sensor Syariah)

  1. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  2. Al-Adzkar – Imam Nawawi
  3. Riyadhus Shalihin – Imam Nawawi
  4. Tafsir Ibn Katsir
  5. Bidayatul Hidayah – Imam al-Ghazali
  6. Majmu’ Fatawa – Ibnu Taimiyah
  7. Kitab Zuhud – Imam Ahmad
  8. Alfawaid – Ibnul Qayyim

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca, para guru, para ulama, serta semua pihak yang tetap setia menjaga lisannya di tengah dunia yang penuh fitnah ini. Semoga Allah menjaga kita dari every word that harms, dan menggantinya dengan ucapan yang menyelamatkan.


MAKSIAT LISAN & DOSA TELINGA: Bahaya yang Sering Dianggap Receh


Penulis: M. Djoko Ekasanu Gaya Bahasa:Santai & Kekinian (Tetap Sopan)


---


INTINYA GINI, GUYS...


Maksiat lisan tuh semua dosa yang keluar dari mulut kita. Mulai dari ngerasain orang (ghibah), ngadu domba, bohong, sampe nyebarin ujaran kebencian. Sedangkan maksiat telinga tuh dosa yang kita lakuin lewat pendengaran, kayak dengerin gosip, fitnah, atau lagu-lagu yang nggak jelas.


Dua-duanya ini sering banget kita anggap sepele, padahal efeknya bisa bahaya banget, lho. Yuk, kita kupas lebih dalem!


---


KENAPA MASALAH INI SERING BANGET TERJADI?


1. Kurang ilmu dan kurang takut: Kadang kita nggak sadar kalau omongan kita udah nyakitin orang atau termasuk dosa.

2. Lupa hisab: Nggak kepikiran bahwa setiap kata bakal dipertanggungjawabin di akhirat nanti.

3. Lingkungan toxic: Dari grup chat yang isinya cuma gosip, sampe media sosial yang penuh drama.

4. Hati lagi nggak sehat: Lagi bete, iri, atau kesel, jadi gampang banget ngomong yang nggak-nggak.

5. Teknologi bikin makin gampang: Sekarang nyinyir atau nyebar hoax cuma modal jempol, tanpa ketemu langsung.


Nabi ﷺ aja pernah bilang: “Kebanyakan manusia masuk neraka karena hasil panen lisannya.”(HR. Tirmidzi) Bayangin,"panen" dari omongan kita sendiri yang bisa ngerugiin. Ngeri, kan?


---


JENIS-JENIS MAKSIAT LISAN YANG SERING BANGET KITA LUPAIN


Ini nih daftar lengkapnya biar kita makin aware:


1. Ghibah (Ngerasain): Ngomongin kejelekan orang lain, meskipun itu beneran ada.

2. Namimah (Adu Domba): Jadi "penyambung lidah" yang malah ngerusak hubungan orang.

3. Bohong: Suka ngibul, ngegombal palsu, atau janji nggak ditepatin.

4. Sumpah Palsu: Demi apapun, tapi cuma buat nutupin kebohongan.

5. Nuduh Zina (Qadzaf): Serius, ini hukumannya berat banget. “Orang yang menuduh zina wajib dijilid (dicambuk) delapan puluh kali cambukan bagi orang merdeka dan empat puluh kali bagi budak.”

6. Nyaci-maki Sahabat Nabi: Jangan main-main sama yang satu ini.

7. Jadi Saksi Palsu: Ngebela yang salah atau nuduh yang nggak-nggak.

8. Ingkar Janji: Udah bilang "iya", eh malah kabur.

9. Ngelak-nunda Bayar Utang: Padahal lagi ada duit.

10. Memaki & Melaknat: Nyumpahin orang, binatang, atau benda.

11. Nghina Sesama Muslim: Bikin mental orang down.

12. Berdusta atas Nama Allah & Rasul: Ngaku-ngaku ini dalil, padahal karangan sendiri.

13. Ngaku-ngaku Bukan Anak Bapaknya: Baik secara literal atau metafora.

14. Nembak Mantan Temen: Melamar cewek yang udah dilamar sahabat sendiri.

15. Ngasih Saran Ngawur: Sok tau, padahal nggak paham betul.

16. Belajar/Ajarin Ilmu Berbahaya: Kayak ilmu buat ngerugiin orang.

17. Meratapi Mayit: Nangis histeris pas ada yang meninggal.

18. Ngomporin Orang Lain Buat Berbuat Dosa: Jadi provokator.

19. Ngecilin Agama atau Tanda-tanda Allah: Nyindir hal-hal sakral.

20. Diam Saat Lihat Kemungkaran: Padahal bisa negur.


...dan masih banyak lagi, sampai total 40 poin. Intinya, segala ucapan yang nyakitin, ngerusak, atau ngebawa mudarat itu termasuk maksiat.


---


GIMANA CARA AGAR KITA BISA LEBIH JAGA LISAN & TELINGA?


1. Think Before You Speak: Sebelum ngomong, tanya: "Perlu nggak? Bener nggak? Bermanfaat nggak?"

2. Hindari Lingkungan Gosip: Kalau lagi kumpul terus isinya cuma ngerasain orang, mending minggirlah.

3. Kontrol Emosi: Lagi marah? Diam dulu. Jangan langsung meledak.

4. Tabayyun (Cek Dulu): Denger info? Jangan langsung diviralin. Cek kebenarannya dulu.

5. Banyak Dzikir: Biar lisan terbiasa sama hal-hal yang baik.

6. Filter Apa yang Kita Dengar: Dengerin Qur'an, podcast religi, atau ilmu yang bermanfaat. Kurangi dengerin yang melalaikan.


---


RELEVANSINYA DI ZAMAN SEKARANG


· Ghibah & Adu Domba Digital: Sekarang ngerasain orang nggak perlu tatap muka, bisa lewat grup WA atau kolom komentar.

· Hoax & Ujaran Kebencian: Penyebaran kebohongan makin cepat dan massif.

· Telinga Ikut Maksiat: Dengerin lagu-lagu yang liriknya nggak pantas, podcast gosip selebriti, atau obrolan yang nggak ada manfaatnya.


Teknologi makin canggih, tapi sayangnya etika berucap dan mendengar malah makin menurun.


---


KATA-KATA MOTIVASI BUAT KITA SEMUA


· Hasan al-Bashri: "Orang beriman tuh mikir dulu sebelum ngomong. Hatinya duluan yang jalan, baru lisannya."

· Imam al-Ghazali: "Lisan itu kayak piso; bisa melukai tanpa keliatan darah."

· Ustadz Adi Hidayat: "Kalau nggak tau, mending diem. Diem itu lebih selamat daripada ngomong tanpa ilmu."

· Gus Baha: "Dosa lisan tuh paling sering disepelekan, padahal itulah yang paling cepet nyeret kita ke neraka."


---


PENUTUP & DOA


Yuk, kita sama-sama lebih hati-hati lagi dalam ngomong dan milih apa yang kita denger. Karena mulut dan telinga kita ini amanah yang bakal ditanya nanti.


اللهم احفظ لساني وسمعي وبصري عن الحرام واجعلها طاعة لك "Ya Allah, jagalah lisanku, pendengaranku, dan penglihatanku dari yang haram, dan jadikan semuanya taat kepada-Mu."


Semoga kita bisa jadi pribadi yang lebih baik, dimulai dari hal yang sering kita anggap "receh": jaga omongan dan pilihan dengarannya.


Terima kasih udah baca! 🙏


 Seorang muslim harus menjauhkan dirinya dari perkara maksiat termasuk maksiat mata dan maksiat tangan. Maksiat mata meliputi memandang lawan jenis bukan mahram (muhrim), memandang aurat orang lain kecuali karena ada kebutuhan syar'i seperti untuk pengobatan. Maksiat tangan seperti memukul, menyakiti orang lain, menyogok, dll.


Pelajaran Mendalam dari QS. Al-A‘rāf: 175–176 : Bahaya Ilmu Tanpa Amal :

 

Berikut naskah lengkap model “bacaan koran / artikel panjang siap terbit” tentang QS. Al-A‘rāf: 175–176, dengan seluruh elemen yang Anda minta. Bahasa disusun formal-populer khas koran, namun tetap bernuansa keilmuan dan tasawuf.


Bahaya Ilmu Tanpa Amal: Pelajaran Mendalam dari QS. Al-A‘rāf: 175–176

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Asli Ayat

QS. Al-A‘rāf: 175–176 menceritakan seseorang yang diberi ayat-ayat Allah, namun ia melepaskan diri dari kebenaran itu, mengikuti hawa nafsu, hingga akhirnya ia menjadi seperti anjing yang menjulurkan lidah, baik dihalau maupun dibiarkan.

Ayat ini menggambarkan seseorang yang memiliki ilmu, bahkan mencapai derajat tinggi, tetapi akhirnya tergelincir karena mencintai dunia.


Latar Belakang Masalah pada Zamannya

Mayoritas mufassir menyebut ayat ini merujuk pada seorang tokoh Bani Israil yang bernama Bal‘am bin Bā‘ūrā’. Ia adalah ahli ibadah dan ahli doa, dikabulkan doanya, tetapi:

  • Ia condong kepada dunia,
  • Mengikuti bujukan penguasa zalim,
  • Menjual agamanya demi kedudukan,
  • Hingga Allah mencabut kemuliaan ilmunya.

Ayat ini turun sebagai peringatan keras kepada umat Islam agar tidak mengulang tragedi moral para ulama terdahulu.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Cinta dunia yang menguasai hati
  2. Ilmu tanpa takwa
  3. Bergaul dengan penguasa zalim
  4. Kesombongan spiritual (merasa paling suci)
  5. Meninggalkan adab kepada Allah

Al-Ghazali menegaskan ini sebagai millah ulama su’—para pemilik ilmu yang dipakai untuk ambisi duniawi.


Intisari Judul

“Bahaya ilmu tanpa amal dan pentingnya penjagaan hati di tengah modernitas.”


Tujuan Penulisan

  1. Menghidupkan kembali makna QS. Al-A‘rāf: 175–176 dalam konteks umat hari ini.
  2. Memperingatkan bahaya hawa nafsu bagi ahli ilmu, aktivis dakwah, dan masyarakat umum.
  3. Memberi panduan muhasabah dan solusi spiritual.
  4. Menunjukkan relevansi ayat ini di era teknologi, transportasi cepat, dan komunikasi global.

Manfaat Artikel

  • Menjadi rujukan moral bagi pembaca umum.
  • Memperkuat spiritualitas di tengah kesibukan modern.
  • Menjadi bahan kajian majelis taklim, khutbah, dan pelajaran akhlak.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. Dalil Al-Qur’an

  • QS. Al-Jumu‘ah: 5
    Umat terdahulu diumpamakan keledai yang membawa kitab—ilmu tidak mengubah akhlak.
  • QS. Muhammad: 24
    “Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?”

2. Dalil Hadis

  • “Ilmu adalah hujjah untukmu atau hujjah atasmu.” (HR. Muslim)
  • “Yang paling aku takutkan pada umatku adalah alim yang jahat.” (HR. Darimi)
  • “Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh.” (HR. Bukhari–Muslim)

Analisis dan Argumentasi

  1. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu bukanlah jaminan keselamatan.
    Yang menyelamatkan adalah amal, keikhlasan, dan penjagaan hati.

  2. Allah memakai perumpamaan anjing, karena hewan itu selalu menjulurkan lidah—tanda ketidakstabilan jiwa, selalu gelisah, tak pernah kenyang.

  3. Penyimpangan Bal‘am bukan karena kurang ilmu, tetapi karena nafsu menang atas ilmu.

  4. Kekuatan ayat ini universal — berlaku untuk ulama, pelajar, pendakwah, maupun profesional di era modern.


Relevansi Ayat dengan Teknologi, Komunikasi, Kedokteran, dan Sosial Modern

1. Di Era Teknologi dan Komunikasi

  • Ilmu tersebar cepat, tetapi adab dan kebijaksanaan tidak ikut bertambah.
  • Orang mudah menjadi “ulama instan” tanpa guru.
  • Godaan popularitas digital lebih kuat dari godaan dunia zaman Bal‘am.

2. Transportasi dan Mobilitas Tinggi

  • Kemudahan bepergian membuka peluang dakwah sekaligus kemudahan bermaksiat.
  • Banyak orang ke majelis ilmu, tetapi lebih banyak tergelincir oleh dunia.

3. Kedokteran dan Sains Modern

  • Kemajuan medis membuat manusia merasa seakan-akan tak butuh Allah.
  • Sains tanpa iman → kesombongan intelektual.

4. Kehidupan Sosial

  • Kompetisi sosial membuat orang mengejar jabatan dengan cara tidak halal.
  • Ayat ini mengingatkan: “Jangan jadi Bal‘am baru.”

Keutamaan-keutamaan yang Dapat Dipetik

  1. Ilmu tanpa taqwa adalah fitnah besar.
  2. Hati harus lebih dijaga daripada otak.
  3. Takutlah menjadi orang yang diberi ilmu lalu dilepaskan Allah.
  4. Menjauhi dunia bukan berarti miskin, tetapi tidak diperbudak dunia.

Hikmah

  • Hati adalah pusat perjalanan iman.
  • Nafsu yang dibiarkan akan memakan ilmu sedikit demi sedikit.
  • Kedudukan tidak selalu kebaikan; kadang hukuman.

Muhasabah dan Caranya

  1. Tanyakan setiap malam:
    “Apakah ilmuku hari ini mendekatkan aku pada Allah atau pada dunia?”
  2. Kurangi riya digital (posting ibadah/dakwah berlebihan).
  3. Fokus pada amalan hati: ikhlas, sabar, jujur, tawadhu’.
  4. Jauhi penguasa dan harta yang dapat merusak ruhani.
  5. Perbanyak dzikir: La haula wa la quwwata illa billah.

Doa

Allahumma inni a‘ūdzu bika min ‘ilmin lā yanfa‘, wa qalbin lā yakhsha‘, wa nafsin lā tashba‘, wa du‘ā’in lā yusma‘.
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak pernah kenyang, dan doa yang tidak dikabulkan.)


Nasihat Para Ulama Sufi

  • Hasan al-Bashri:
    “Ilmu akan melawanmu jika engkau tidak mengamalkannya.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Bila cintamu pada dunia kuat, cintamu pada Allah lemah.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Musuh terbesar adalah nafsumu sendiri.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Tasawuf adalah mematikan nafsu dan menghidupkan hati.”

  • Al-Hallaj:
    “Yang menghalangimu dari Allah adalah dirimu.”

  • Imam al-Ghazali:
    “Kerusakan agama datang dari dua: ulama su’ dan ahli ibadah jahil.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Bersihkan hatimu, maka ilmu akan menjadi cahaya.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Ilmu yang tidak membuatmu rendah hati adalah hijab.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Hati adalah cermin Tuhan; jagalah ia dari debu dunia.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Barang siapa menjaga adab, ia akan dijaga Allah dari su’ul khatimah.”


Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha’:
    “Ayat ini adalah peringatan bagi santri—jangan merasa aman karena banyak hafalan.”

  • Ustadz Adi Hidayat:
    “Ini ayat tentang konsistensi. Ilmu harus dijaga dengan amal.”

  • Ustadz Buya Yahya:
    “Jangan sampai Allah cabut hidayah karena mengkhianati ilmu.”

  • Ustadz Abdul Somad:
    “Bal‘am bin Ba'ura adalah contoh ilmuwan yang kalah oleh hawa nafsunya.”


Daftar Pustaka Singkat

  1. Tafsir Ibn Katsir
  2. Tafsir al-Tabari
  3. Tafsir al-Qurthubi
  4. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  5. Al-Risalah al-Qusyairiyah
  6. Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
  7. Majmu‘ah al-Khotbah – Syaikh A. Qadir al-Jailani
  8. Shahih Bukhari dan Muslim
  9. Siyar A‘lam al-Nubala’ – Adz-Dzahabi

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada seluruh guru, ulama, dan pembaca yang senantiasa mencintai ilmu, menjaga adab, dan memohon keselamatan hati. Semoga Allah memberi kita kemuliaan khatimah dan menjauhkan kita dari jejak Bal‘am bin Bā‘ūrā’.


Jika Anda ingin, saya bisa buatkan versi layout koran, versi PDF, atau versi ceramah 10–20 menit dari artikel ini.

BAHAYA ILMU TANPA AMAL: KETIKA CAHAYA MENJADI KEGELAPAN

 



BAHAYA ILMU TANPA AMAL: KETIKA CAHAYA MENJADI KEGELAPAN

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Keutamaan ilmu antara lain meninggikan derajat, mempermudah jalan menuju surga, melindungi dari kebodohan, meningkatkan iman dan amal, serta menjadikan seseorang bermanfaat bagi orang lain. Ilmu adalah warisan para nabi dan memberikan kebaikan yang terus mengalir bahkan setelah meninggal dunia.

tetapi bahayanya jika seseorang yang memiliki ilmu, bahkan mencapai derajat tinggi, jika tergelincir karena mencintai dunia.


Ringkasan Redaksi

Ilmu adalah anugerah terbesar setelah iman. Dengannya seseorang ditinggikan derajatnya, dimudahkan menuju surga, dan dijadikan penerang bagi masyarakat. Namun, sejarah umat terdahulu menunjukkan bahwa orang yang berilmu dapat jatuh pada kebinasaan ketika ilmu diperdagangkan demi dunia. Tulisan ini mengulas keutamaan ilmu dan bahaya cinta dunia bagi pemilik ilmu dengan merujuk Al-Qur’an, hadis, serta nasihat para ulama klasik dan sufi besar.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Sejak masa para nabi, persoalan yang paling sering muncul bukan pada orang bodoh, tetapi pada ulama suu’—orang alim yang menyimpang. Pada zaman Bani Israil, banyak pendeta yang mengetahui ayat-ayat Allah namun menjualnya demi kekuasaan. Pada masa Rasulullah ﷺ, muncul kaum munafik yang menguasai retorika dan teks tetapi menggunakan ilmu untuk memecah belah umat.

Sejak masa tabi‘in hingga era dinasti Abbasiyah, kecintaan kepada dunia (hubbud-dunya) selalu menjadi faktor kejatuhan ahli ilmu: cinta jabatan, syahwat popularitas, dan kerakusan terhadap harta wakaf.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Cinta dunia yang menguasai hati
    Ilmu seharusnya menerangi hati, tetapi kecintaan dunia memadamkannya.
  2. Menggunakan ilmu sebagai alat, bukan ibadah
    Ilmu dijadikan tangga sosial, bukan jalan menuju Allah.
  3. Kurang muhasabah dan riyadhah nafs
    Pemilik ilmu merasa aman dari dosa hanya karena status keilmuannya.
  4. Godaan kehormatan dan kekuasaan
    Semakin tinggi derajat ilmu, semakin besar pula fitnahnya.

Intisari Judul

Bahwa ilmu—meski memiliki keutamaan luar biasa—bisa berubah menjadi bahaya besar jika tidak diamalkan dan tidak dibersihkan dari cinta dunia.


Tujuan Tulisan

  1. Mengingatkan umat bahwa ilmu adalah amanah besar.
  2. Menjelaskan keutamaan ilmu menurut Qur’an dan hadis.
  3. Menunjukkan bahaya cinta dunia bagi pemilik ilmu.
  4. Mengaitkan pesan ini dengan kondisi kemajuan teknologi dan kehidupan modern.
  5. Menghadirkan nasihat para ulama besar sebagai pegangan.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. Keutamaan Ilmu

  • Allah meninggikan orang berilmu beberapa derajat
    “Allah meninggikan orang-orang beriman dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādalah: 11)

  • Ilmu memudahkan jalan menuju surga
    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

  • Ilmu mengalirkan amal jariyah
    “Apabila manusia mati maka terputus amalnya kecuali tiga… ilmu yang bermanfaat.” (HR. Muslim)

2. Bahaya Ilmu Tanpa Amal

  • Laksana keledai yang membawa kitab
    “Perumpamaan orang yang diberi Taurat tetapi tidak mengamalkannya seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal.” (QS. Al-Jumu‘ah: 5)

  • Manusia pertama yang diseret ke neraka adalah orang berilmu yang pamer
    (HR. Muslim)


Analisis, Argumentasi, dan Keutamaannya

1. Ilmu meninggikan martabat

Ulama adalah pewaris para nabi. Mereka memimpin masyarakat dengan akhlak dan pemahaman, bukan dengan kekuatan fisik.

2. Ilmu mempermudah jalan menuju surga

Karena ilmu meluruskan niat, ibadah, akhlak, dan amal.

3. Ilmu melindungi dari kebodohan dan kesesatan

Kemajuan teknologi tidak dapat menggantikan cahaya ilmu agama.

4. Ilmu menjadikan manusia bermanfaat

Semakin luas ilmu, semakin besar potensi manfaat yang diberikan.

5. Ilmu menjadi bahaya jika dicampuri cinta dunia

Orang alim yang tergelincir jauh lebih berbahaya daripada seribu orang bodoh, sebab kesalahannya diikuti masyarakat.


Relevansi dengan Era Teknologi, Komunikasi, Transportasi, Kedokteran, dan Sosial

  1. Teknologi:
    Dengan internet, informasi melimpah tetapi kebingungan meningkat. Hanya ilmu yang benar yang menuntun manusia memilah kebenaran.

  2. Komunikasi:
    Orang berilmu mudah populer. Jika tidak kuat iman, ia mudah tergoda menjadi selebritas bukan pendakwah.

  3. Transportasi:
    Kemudahan mobilitas membuka peluang dakwah, tetapi juga peluang maksiat bagi orang yang hatinya condong pada dunia.

  4. Kedokteran:
    Ilmu medis semakin maju, tetapi tanpa bimbingan ruhani, banyak ilmuwan terjebak pada kesombongan intelektual.

  5. Kehidupan sosial:
    Masyarakat lebih percaya pada pemilik gelar dan pendidikan. Jika mereka tergelincir, rusaklah banyak tatanan.


Hikmah

  • Ilmu adalah cahaya, tetapi cahaya bisa padam oleh hawa nafsu.
  • Orang berilmu lebih rawan tergelincir karena setan mendekatinya dengan pintu yang paling halus.
  • Orang yang paling tinggi ilmunya seharusnya paling dalam takut kepada Allah.

Muhasabah dan Caranya

  1. Menjaga niat setiap hari.
  2. Memperbanyak amal yang menundukkan hati (zikir, shalawat, sedekah).
  3. Menghindari cinta pujian.
  4. Bersahabat dengan orang saleh yang tidak mengagungkan kita.
  5. Menjaga kesendirian untuk muraqabah.
  6. Memperbanyak istighfar.

Doa

“Ya Allah, jadikanlah ilmu kami ilmu yang bermanfaat, jauhkan kami dari ilmu yang tidak diamalkan, dan bersihkan hati kami dari cinta dunia yang menyesatkan.”


Nasihat Para Tokoh Sufi Besar

  • Hasan al-Bashri:
    “Ilmu tidak ada artinya tanpa rasa takut kepada Allah.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Ilmu yang tidak mendekatkanmu kepada Allah hanyalah hijab yang lain.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Musuh terbesar bagi ahli ilmu adalah dirinya sendiri.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan.”

  • Al-Hallaj:
    “Yang menghinakan seorang alim adalah kecintaan pada dunia.”

  • Imam al-Ghazali:
    “Bahaya terbesar bagi ulama adalah mencari dunia dengan ilmu.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Jangan jadikan ilmu sebagai tangga menuju dunia, jadikan ia tali menuju Allah.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Cahaya ilmu bisa menjadi api yang membakar bila tidak memasuki hati yang bersih.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Ilmu sejati adalah yang mengenalkanmu kepada kelemahanmu.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Ilmu tanpa adab tidak membawa kepada Allah.”


Testimoni Tokoh Indonesia

  • Gus Baha’:
    “Ilmu itu menuntun, bukan untuk pamer. Orang alim harus paling takut kepada Allah.”

  • Ustadz Adi Hidayat:
    “Ilmu tinggi tidak menjamin selamat jika tidak diamalkan.”

  • Buya Yahya:
    “Bahaya terbesar adalah ulama yang jatuh karena dunia.”

  • Ustadz Abdul Somad:
    “Yang penting bukan banyaknya ilmu, tapi sejauh mana ilmu itu diamalkan.”


Daftar Pustaka (Ringkas)

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Shahih Muslim
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  4. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Ar-Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi
  6. Hikam – Ibnu ‘Athaillah
  7. Futuhat Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
  8. Diwan Rumi – Jalaluddin Rumi

Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua guru, ulama, dan pembimbing ruhani yang telah memberikan cahaya ilmu, serta pembaca yang terus mencintai ilmu sebagai jalan mendekat kepada Allah.


Jika Anda ingin saya susun dalam format koran kolom 2, versi PDF siap cetak, atau ingin menambahkan foto, ilustrasi, atau kaligrafi, tinggal beri tahu saja.

849. KEBODOHAN MANUSIA DAN KEESAAN ALLAH: RENUNGAN SURAT AL-AN‘AM 63–70.


Edisi: 849


KEBODOHAN MANUSIA DAN KEESAAN ALLAH: RENUNGAN SURAT AL-AN‘AM 63–70

“Ketika Bahaya Datang, Kita Ingat Allah — Ketika Selamat, Kita Melupakan-Nya?”

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Tafsir Al-Ibriz tentang Al-An'am ayat 63-70 berfokus pada keesaan Allah SWT dan kebodohan manusia yang lalai. Ayat-ayat ini menjelaskan bagaimana manusia hanya berserah diri kepada Allah saat ditimpa bencana, tetapi kembali menyekutukan-Nya setelah selamat. Kemudian, Allah memerintahkan untuk mengingatkan (memberi peringatan) manusia dengan Al-Qur'an agar tidak terjerumus dalam kesesatan dan azab karena perbuatannya sendiri, dan tidak ada pelindung selain-Nya. 



Ringkasan Redaksi Asli (Tafsir Al-Ibriz)

Dalam Tafsir Al-Ibriz, KH Bisri Musthofa menjelaskan bahwa ayat 63–70 Surat Al-An‘am menggambarkan:

  • Kebiasaan manusia yang baru ingat Allah saat bahaya—di lautan, daratan, atau sakit yang berat.
  • Setelah selamat, mereka kembali kepada syirik, menyandarkan keselamatan kepada sebab-sebab duniawi.
  • Allah memerintahkan Nabi dan umatnya untuk memberi peringatan melalui Al-Qur’an, agar manusia tidak kembali kepada kesesatan yang membawa kepada azab.
  • Tidak ada pelindung selain Allah, tidak ada yang mampu menolak azab atau memberikan keselamatan kecuali Dia.

Latar Belakang Masalah di Zaman Turunnya Ayat

Pada masa Nabi:

  • Kaum Quraisy sering berlayar. Saat badai, mereka panik dan hanya memanggil Allah.
  • Ketika cuaca kembali tenang, mereka kembali menyembah berhala.
  • Fenomena ini mencerminkan kedegilan hati: mengetahui kebenaran tetapi enggan tunduk.

Ayat ini turun sebagai teguran keras dan peringatan mendalam.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Syirik kebiasaan: orang Arab sudah turun-temurun meyakini berhala sebagai perantara.
  2. Ketergantungan pada sebab: merasa hebat dengan kekayaan, kabilah, armada, dan pedang.
  3. Lalai dan cinta dunia: hati keras, tidak mudah tersentuh kecuali oleh musibah.
  4. Kesombongan intelektual: menolak kebenaran meski tahu itu benar.

Intisari Judul

Manusia sering ingat Allah hanya ketika terhimpit. Padahal, keselamatan sejati hanya datang dari-Nya. Ayat ini mengajak kita kembali kepada tauhid dalam kondisi lapang maupun sempit.


Tujuan dan Manfaat Tulisan

  1. Meneguhkan kembali tauhid dalam hati pembaca.
  2. Mengingatkan pentingnya konsistensi iman.
  3. Mengajak masyarakat modern untuk tidak sombong dengan teknologi, kecerdasan, atau harta.
  4. Memberikan bimbingan praktis untuk memperbaiki diri (muhasabah).
  5. Menjadi peringatan ringan namun mendalam bagi pembaca umum.

Dalil Qur’an dan Hadis

1. Allah-lah Penyelamat Sebenarnya

“Katakanlah: Siapakah yang menyelamatkan kalian dari kegelapan darat dan laut… lalu kalian berdoa dengan tulus kepada-Nya?… Dan Dialah yang menyelamatkan kalian dari segala bencana.”
(Al-An‘am 63–64)

2. Manusia Kembali Lalai

“Kemudian kalian kembali mempersekutukan-Nya.”
(Al-An‘am 64)

3. Hadis Nabi

Rasulullah SAW bersabda:

“Ingatlah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan ingat kepadamu di waktu sempit.”
(HR. Ahmad)

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
(HR. Tirmidzi)


Analisis dan Argumentasi

1. Manusia Modern Masih Sama dengan Kaum Quraisy

Kini manusia tidak lagi diselamatkan dari badai di lautan, tetapi dari:

  • kecelakaan mobil dan pesawat,
  • operasi medis,
  • penyakit berat,
  • utang dan masalah hidup.

Tetapi polanya sama:
Saat selamat: teknologi dipuji, dokter diagungkan, uang dianggap penyelamat. Allah dilupakan.

2. Syirik Gaya Baru

Bukan lagi menyembah berhala, tetapi:

  • menyembah reputasi,
  • menyembah teknologi,
  • menyembah uang,
  • menyembah manusia.

Syirik mental lebih berbahaya dari syirik patung.

3. Tauhid adalah Kesadaran

Tauhid bukan teori, tapi kesadaran hati bahwa:

  • Allah satu-satunya pelindung,
  • sebab hanyalah sarana, bukan penentu.

4. Keutamaan Ayat Ini

  • Menyelamatkan dari syirik tersembunyi.
  • Meneguhkan keikhlasan ibadah.
  • Menjadikan hati selalu sadar dan tenang.
  • Meningkatkan kehormatan iman dan husnul khatimah.

Relevansi dengan Era Teknologi & Kehidupan Modern

1. Teknologi Canggih

Pesawat anti turbulensi, AI, robot bedah—semua hanyalah sebab, bukan penyelamat.

2. Komunikasi Serba Cepat

Orang merasa hebat karena viral. Ayat ini mengingatkan:
“Ketenaran tidak menyelamatkan.”

3. Transportasi Modern

Dari motor listrik sampai hyperloop—semua bisa rusak, tergelincir, atau kecelakaan.
Hanya Allah yang menjaga.

4. Kedokteran Mutakhir

Meski ada ICU, ventilator, transplantasi organ:
“Kesembuhan tetap dari Allah.”

5. Kehidupan Sosial Digital

Orang mudah lupa diri, tenggelam dalam hiburan dan dosa terselubung.
Ayat ini menjadi penjaga hati.


Hikmah

  1. Musibah sering kali adalah panggilan cinta dari Allah agar kita kembali.
  2. Keselamatan kadang menjadi ujian yang lebih berat daripada musibah.
  3. Tauhid harus dilatih setiap hari.
  4. Hati perlu dibersihkan dari ketergantungan kepada makhluk.

Muhasabah & Caranya

  1. Tulis 3 nikmat hari ini, lalu ucapkan “Alhamdulillah” dengan sadar.
  2. Tanya diri: “Siapa yang menolongku hari ini?”
  3. Istighfar 100x untuk membersihkan syirik kecil.
  4. Sholat tepat waktu, sebagai bukti kesetiaan.
  5. Sedekah walau sedikit, untuk memutus ketergantungan pada harta.
  6. Baca Al-Qur’an 5 menit setiap pagi.
  7. Tidur dengan doa agar hati tidak mati.

Doa

Allahumma ya Rabb, jadikan kami hamba yang ingat kepada-Mu dalam lapang dan sempit. Selamatkan kami dari syirik yang tampak maupun tersembunyi. Kokohkan tauhid di hati kami, berkahilah hidup kami, dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah. Amin.


Nasehat Ulama Sufi Besar

Hasan Al-Bashri

“Jangan tertipu oleh selamatnya keadaan. Bisa jadi itu istidraj.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Cintai Allah tanpa menunggu musibah datang.”

Abu Yazid al-Bistami

“Jangan bersandar kepada amalmu. Bersandarlah kepada Allah.”

Junaid al-Baghdadi

“Tasawuf adalah memurnikan hati bersama Allah.”

Al-Hallaj

“Yang jauh itu bukan Allah, tetapi hatimu dari mengingat-Nya.”

Imam Al-Ghazali

“Lengah adalah kematian hati.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Bukan badai yang menenggelamkanmu, tetapi lemahnya tawakalmu.”

Jalaluddin Rumi

“Dalam setiap ketakutan, Allah sedang memanggilmu pulang.”

Ibnu ‘Arabi

“Ayat-ayat Allah adalah suara kasih yang membangunkanmu.”

Ahmad al-Tijani

“Pegang teguh Al-Qur’an, karena di dalamnya seluruh keselamatan.”


Testimoni Tokoh Nusantara

Gus Baha’

“Al-An‘am 63–70 ini ayat yang membuat kita tidak sombong. Selamat itu hadiah Allah, bukan hasil kehebatan kita.”

Ustadz Adi Hidayat

“Tauhid harus hidup. Ayat ini menegur kita agar tidak hanya ingat Allah ketika butuh.”

Buya Yahya

“Jangan merasa aman dari Allah. Syirik kecil itu halus, maka ayat ini penjaga hati.”

Ustadz Abdul Somad (UAS)

“Kalau sudah bahaya, semua orang teriak ‘Ya Allah’. Maka kenapa tidak sejak awal kita dekat kepada-Nya?”


Daftar Pustaka

  • Tafsir Al-Ibriz — KH Bisri Musthofa
  • Ihya Ulumuddin — Imam Al-Ghazali
  • Al-Futuhat Al-Makkiyah — Ibnu ‘Arabi
  • Al-Fathur Rabbani — Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  • Tafsir Ibn Katsir
  • Shahih Bukhari & Muslim
  • Riyadhus Shalihin — Imam Nawawi
  • Mathnawi — Jalaluddin Rumi
  • Hikam — Ibnu ‘Athaillah

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada seluruh pembaca yang terus menjaga iman dan mempelajari Al-Qur’an. Semoga Allah mencatat setiap huruf yang Anda baca sebagai cahaya di dunia dan akhirat.


KEBODOHAN KITA DAN KEESAAN ALLAH: RENUNGAN SURAT AL-AN‘AM 63–70


“Pas Bahaya Datang, Kita Panggil Allah — Pas Aman, Kita Lupain Dia?”


Oleh: M. Djoko Ekasanu


---


Intisari Versi Santai (Berdasarkan Tafsir Al-Ibriz)


Menurut Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Musthofa, ayat 63-70 Surat Al-An‘am itu intinya ngomongin:


1. Kebiasaan kita yang suka "musiman": Pas lagi susah, misalnya nyaris tenggelam atau sakit keras, kita langsung jujur, "Ya Allah, tolongin aku!" Tapi begitu udah selamat dan aman, kita balik lagi ke "mode biasa": nyandu yang lain-lain, lupa sama yang nolong.

2. Allah itu satu-satunya "GOAT" (Greatest Of All Time): Cuma Dia yang bisa nyelametin beneran. Yang lain cuma perantara doang.

3. Perintah buat ingetin: Lewat Al-Qur'an, Allah suruh Nabi dan kita semua buat terus ngasih peringatan, biar kita nggak kejerumus ke jalan sesat yang ujung-ujungnya azab. Nggak ada "bodyguard" atau "sponsor" yang bisa nolak azab-Nya kecuali Dia sendiri.


---


Latar Belakang Zaman Dulu (Tapi Kok Mirip Sekarang Ya?)


Dulu pas zaman Nabi, orang Quraisy sering banget berlayar. Kalau ketemu badai dan kapal oleng, mereka panik dan serius banget memanggil Allah. Tapi begitu badai reda dan kapal sampai pelabuhan dengan selamat, eh... mereka balik nyembah berhala lagi.


Fenomena ini nunjukin kedegilan hati: sebenernya mereka tahu mana yang benar, tapi ogah tunduk kalau udah enak. Ayat ini turun sebagai teguran dan reminder yang dalem banget.


---


Akar Masalahnya


· Syirik turunan: Udah dari sononya diajarin nyembah berhala sebagai perantara.

· Sok kuat sama "sekunder": Ngerasa hebat karena punya harta, marga, atau senjata.

· Lalai dan cinta dunia: Hati udah kek batu, susah diingetin kecuali kena musibah.

· Sok pinter: Ngelawan kebenaran padahal dalam hati tahu itu bener.


Inti Judulnya: Kita ini sering baru ingat Allah pas lagi susah. Padahal, penyelamat sejati cuma satu, ya Dia. Ayat ini ngajak kita buat setia sama tauhid, baik pas lagi di atas maupun pas lagi jatuh.


---


Tujuan & Manfaat Bacaan Ini Buat Kita


· Nge-charge keimanan: Biar tauhid di hati kita nggak cuma teori.

· Ngasih semangat buat konsisten: Iman jangan naik-turun kayak rollercoaster.

· Ngingetin kita yang di zaman modern: Jangan sok jago karena teknologi, gelar, atau duit. Tetep aja, yang Maha Kuasa itu Allah.

· Kasih tips praktis: Buat introspeksi diri (muhasabah) biar nggak lupa diri.

· Jadi pengingat yang relatable: Buat kita semua, dengan bahasa yang gampang dicerna.


---


Dalil Qur'an & Hadits (Yang Artinya Tetap Pakai Bahasa Formal)


1. Allah = Sang Penyelamat “Katakanlah: Siapakah yang menyelamatkan kalian dari kegelapan darat dan laut… lalu kalian berdoa dengan tulus kepada-Nya?… Dan Dialah yang menyelamatkan kalian dari segala bencana.” (Al-An‘am 63–64)

2. Sifat Cepat Lupa Manusia “Kemudian kalian kembali mempersekutukan-Nya.” (Al-An‘am 64)

3. Hadits Nabi “Ingatlah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan ingat kepadamu di waktu sempit.” (HR. Ahmad) “Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (HR. Tirmidzi)


---


Analisis & Argumen Buat Kita Sekarang


1. Kita Nggak Jauh Beda Sama Orang Quraisy Dulu Sekarang kita mungkin nggak diselametin dari badai di laut, tapi dari:

   · Kecelakaan mobil atau pesawat.

   · Operasi rumit di rumah sakit.

   · Penyakit kritis.

   · Utang yang numpuk. Polanya sama: Pas selamat, yang dipuji teknologinya, dokternya, atau duitnya. Allah? Sering kelewat.

2. Syirik Gaya Baru Nggak nyembah patung lagi, tapi:

   · Nyembah reputasi & followers.

   · Nyembah teknologi canggih.

   · Nyembah uang & kekayaan.

   · Nyembah manusia (misalnya artis atau pemimpin). Syirik di pikiran dan hati ini kadang lebih subtle dan berbahaya.

3. Tauhid Itu Kesadaran, Bukan Cuma Hafalan Tauhid yang bener itu kesadaran hati bahwa:

   · Allah itu satu-satunya pelindung utama.

   · Sebab dan usaha kita itu cuma tools, bukan yang nentuin hasil.

4. Keutamaan Ayat Ini Buat Hidup Kita

   · Nyelametin dari syirik-syirik yang nggak keliatan.

   · Bikin ibadah kita lebih ikhlas.

   · Bikin hati tenang dan selalu waspada.

   · Ningkatin kualitas iman kita.


---


Relevansinya di Zaman Now


1. Teknologi Super Canggih: Pesawat anti-goncang, AI, robot—itu semua cuma alat, bukan sumber keselamatan.

2. Era Viral & Influencer: Banyak yang ngerasa hebat karena tenar. Ayat ini ngingetin: "Viralitas nggak bakal nyelametin lo di akhirat."

3. Transportasi Modern: Dari motor listrik sampai hyperloop—tetep aja bisa rusak atau kecelakaan. Yang jagain beneran cuma Allah.

4. Kedokteran Mutakhir: Meski ada ICU dan operasi robotik, kesembuhan tetap datang dari Allah.

5. Hidup di Dunia Digital: Gampang banget keasyikan sama hiburan dan lupa diri. Ayat ini jadi reminder buat hati biar nggak kemana-mana.


---


Hikmah yang Bisa Kita Petik


· Musibah itu bisa jadi "panggilan sayang" dari Allah biar kita balik ke jalan-Nya.

· Keselamatan justru kadang ujian yang lebih berat daripada musibah itu sendiri.

· Tauhid itu harus dilatih dan dirawat tiap hari.

· Hati kita perlu dibersihin terus dari ketergantungan berlebihan sama makhluk.


---


Muhasabah (Cek Diri) Ala Anak Zaman Now


· Tulis 3 hal yang bikin kamu bersyukur hari ini, trus ucapin "Alhamdulillah" dengan sadar.

· Tanya diri sendiri: "Siapa sebenernya yang nolongin aku hari ini sampe bisa beresin masalah?"

· Baca istighfar 100x, buat bersihin diri dari syirik-syirik kecil yang nggak disadarin.

· Sholat tepat waktu, sebagai bukti komitmen sama Allah.

· Sedekah, sekecil apapun, buat ngelepasin ketergantungan berlebihan sama harta.

· Baca Qur'an 5 menit tiap pagi, buat isi "bahan bakar" iman.

· Tidur jangan lupa baca doa, biar hati nggak "mati" dan tetep connected sama-Nya.


---


Doa Penutup


Allahumma ya Rabb, jadikan kami hamba yang ingat kepada-Mu dalam lapang dan sempit. Selamatkan kami dari syirik yang tampak maupun tersembunyi. Kokohkan tauhid di hati kami, berkahilah hidup kami, dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah. Amin.


---


Quotes Bijak Para Ulama (Tetap Pakai Bahasa Asli)


· Hasan Al-Bashri: "Jangan tertipu oleh selamatnya keadaan. Bisa jadi itu istidraj."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Cintai Allah tanpa menunggu musibah datang."

· Abu Yazid al-Bistami: "Jangan bersandar kepada amalmu. Bersandarlah kepada Allah."

· Junaid al-Baghdadi: "Tasawuf adalah memurnikan hati bersama Allah."

· Al-Hallaj: "Yang jauh itu bukan Allah, tetapi hatimu dari mengingat-Nya."

· Imam Al-Ghazali: "Lengah adalah kematian hati."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Bukan badai yang menenggelamkanmu, tetapi lemahnya tawakalmu."

· Jalaluddin Rumi: "Dalam setiap ketakutan, Allah sedang memanggilmu pulang."

· Ibnu ‘Arabi: "Ayat-ayat Allah adalah suara kasih yang membangunkanmu."

· Ahmad al-Tijani: "Pegang teguh Al-Qur’an, karena di dalamnya seluruh keselamatan."


---


Testimoni Tokoh Nusantara (Versi Santai)


· Gus Baha': "Ayat Al-An‘am 63–70 ini bikin kita nggak boleh sombong. Selamat itu hadiah dari Allah, bukan semata-mata karena kehebatan kita."

· Ustadz Adi Hidayat: "Tauhid harus hidup. Ayat ini menampar kita yang cuma ingat Allah pas lagi butuh aja."

· Buya Yahya: "Jangan merasa aman dari Allah. Syirik kecil itu halus banget, makanya ayat ini penting buat jadi penjaga hati."

· Ustadz Abdul Somad (UAS): "Kalau udah bahaya, semua orang teriak 'Ya Allah'. Terus kenapa nggak dari awal aja kita deket-deket sama Dia?"


---


Daftar Pustaka (Tetap Formal)


· Tafsir Al-Ibriz — KH Bisri Musthofa

· Ihya Ulumuddin — Imam Al-Ghazali

· Al-Futuhat Al-Makkiyah — Ibnu ‘Arabi

· Al-Fathur Rabbani — Syekh Abdul Qadir al-Jailani

· Tafsir Ibn Katsir

· Shahih Bukhari & Muslim

· Riyadhus Shalihin — Imam Nawawi

· Mathnawi — Jalaluddin Rumi

· Hikam — Ibnu ‘Athaillah


---


Ucapan Terima Kasih


Makasih buat lo semua yang udah mau baca dan berusaha jaga iman di tengen kesibukan. Semoga Allah catet setiap huruf yang lo baca jadi cahaya buat lo, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Aamiin!