Sunday, December 14, 2025

866. Ghibah: Daging Saudara Sendiri

 


Ghibah: Daging Saudara Sendiri

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Sewaktu masuk masjid Jami’ aku mendengar orang bicara tentang kejelekan orang (lain), aku mencegahnya, lalu ia berhenti. Kemudian ia bicarakan lainnya, dan berputar pada orang pertama lagi, anehnya aku terpengaruh hingga masuk kedalam pembicaraan tersebut. Sewaktu malam aku mimpi dipaksa makan daging babi oleh orang hitam tinggi, pertamanya aku menolak. Lalu ia membentak keras, Kamu telah makan aku terkejut bangun. Demi Allah, sesudah itu selama 3 atau 4 (tigaempat) hari, bau busuk babi masih terasa dalam mulutku setiap aku makan. (Demikian Khalid Ar-Rib’i).

Ghibah lebih kejam dari pada perang, sebagaimana pernyataan Iyaas bin Mw’awiyah (lengkapnya sbb.): Sufyan bin Husbain ketika duduk bersamanya, menceritakan kejelekan orang yang barusan lewat, Jalu kata Iyaas, Diam, hai Sufyan: “Kau pernah memerangi Roma? Jawabnya: tidak. Turki? Juga tidak, Kemudian katanya: Roma dan Turki selamat dari kekejamanmu, tetapi saudaramu (sesama muslim) tidak selamat dari kekejamanmu. Lalu Sufyan menyadari perbuatannya, dan sesudah itu ia tidak pernah lagi ghibah.

Ibrahim bin Ad-ham ketika duduk memenuhi undangan makan, mendengar kata orang: Fulan kenapa tidak kelihatan? Sahut mereka: Dia tidak pandai bergaul. Lalu Ibrahim berkata: “Hal inilah yang memuakkan aku, memenuhi undangan makan, kalian menjelek-jelekkan seorang muslim, terus ia keluar, hingga 3 hari ia tidak makan.

Jika aku mampu memberhentikan diri berghibah, maka bagiku lebih eruntung dibandingkan memperoleh dunia berikut isinya, sekalipun Ibelanjakan fi sabilillah, dan jika mataku terpelihara dari hal yang haram, aka bagiku sangat berharga, dibanding dunia seisinya dibuat sedekah fi ilillah, (demikian Wahb Makky) selanjutnya ia mensitir ayat:

“Katakanlah kepada orang mukmin, agar ia memejamkan muta (dari hal-hal yang haram)”.


Ringkasan Redaksi Asli

Tulisan ini berangkat dari beberapa kisah para salaf:

  1. Khalid ar-Rib‘i bermimpi dipaksa memakan daging babi setelah terlibat ghibah; efeknya terasa nyata hingga berhari-hari.
  2. Iyas bin Mu‘awiyah menegur Sufyan bin Husbain dengan perumpamaan perang Roma dan Turki—bahwa ghibah lebih kejam daripada pedang.
  3. Ibrahim bin Adham meninggalkan jamuan makan karena di dalamnya terjadi ghibah.
  4. Wahb al-Makki menegaskan menjaga lisan dan pandangan lebih berharga daripada dunia dan isinya.

Kisah-kisah ini menegaskan: ghibah adalah dosa besar yang merusak hati, amal, dan persaudaraan.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa para salaf, majelis ilmu, masjid, dan jamuan makan adalah ruang sosial utama. Ghibah mudah terjadi karena interaksi langsung dan budaya berkumpul. Para ulama saat itu melihat bahaya laten: dosa yang tampak ringan, namun menghancurkan pahala dan ukhuwah.


Sebab Terjadinya Masalah

  • Lalai menjaga lisan
  • Merasa diri lebih baik dari orang lain
  • Menganggap ghibah sebagai obrolan ringan
  • Lemahnya muraqabah (merasa diawasi Allah)

Intisari Judul

Ghibah adalah memakan daging saudara sendiri—kejam, menjijikkan, dan merusak jiwa.


Tujuan dan Manfaat

Tujuan:

  • Menyadarkan bahaya ghibah secara spiritual dan sosial
  • Menghidupkan kembali adab lisan para salaf

Manfaat:

  • Menjaga pahala amal
  • Memperkuat persaudaraan
  • Membersihkan hati

Dalil Al-Qur’an

“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati?” (QS. Al-Hujurat: 12)

“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30)


Dalil Hadis

  • Rasulullah ﷺ bersabda: “Ghibah itu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.” (HR. Muslim)
  • Dalam hadis Mi‘raj, Nabi ﷺ melihat orang-orang yang menggaruk wajah dan dada mereka dengan kuku dari tembaga—mereka adalah pelaku ghibah. (HR. Abu Dawud)

Analisis dan Argumentasi

Ghibah lebih berbahaya dari dosa fisik karena:

  • Dilakukan tanpa rasa bersalah
  • Merusak amal tanpa disadari
  • Melibatkan hak manusia (haqqul ‘ibad)

Mimpi Khalid ar-Rib‘i menunjukkan dampak batin dosa, bukan sekadar hukuman simbolik.


Keutamaan dan Hukuman

Di Dunia

  • Hati gelap
  • Hilang keberkahan amal
  • Rusaknya persahabatan

Di Alam Kubur

  • Bau busuk amal
  • Sempitnya kubur (menurut atsar salaf)

Di Hari Kiamat

  • Pahala dipindahkan kepada orang yang digunjing
  • Kebangkrutan amal (muflis)

Di Akhirat

  • Azab lisan
  • Terhalang masuk surga kecuali bertaubat

Relevansi Zaman Modern

Dengan teknologi, media sosial, grup WhatsApp, komentar publik, ghibah menjadi:

  • Lebih cepat
  • Lebih luas
  • Lebih permanen

Transportasi dan komunikasi memperluas jangkauan dosa. Kedokteran menyembuhkan tubuh, namun ghibah merusak jiwa.


Hikmah

  • Diam adalah keselamatan
  • Menjaga lisan adalah ibadah tersembunyi
  • Ghibah menunjukkan penyakit hati

Muhasabah dan Caranya

  1. Hitung dosa lisan setiap hari
  2. Ganti ghibah dengan doa
  3. Tinggalkan majelis ghibah
  4. Minta maaf atau doakan orang yang digunjing

Doa

“Ya Allah, sucikan lisan kami dari dusta dan ghibah, bersihkan hati kami dari dengki dan sombong.”


Nasehat Para Ulama dan Sufi

  • Hasan al-Bashri: “Ghibah adalah tanda lemahnya iman.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku sibuk dengan dosaku, bukan aib orang.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Lisanmu adalah cermin hatimu.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Tasawuf adalah menjaga adab, termasuk adab lisan.”
  • Al-Hallaj: “Diamku adalah ibadahku.”
  • Imam al-Ghazali: “Ghibah memakan pahala seperti api memakan kayu.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Barangsiapa menjaga lisannya, Allah jaga hatinya.”
  • Jalaluddin Rumi: “Luka dari kata-kata lebih dalam dari pedang.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Setiap ucapan akan kembali pada pengucapnya.”
  • Ahmad al-Tijani: “Keselamatan ada pada diam kecuali dzikir.”

Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: Ghibah sering dilakukan orang saleh tanpa sadar.
  • Ustadz Adi Hidayat: Ghibah menghapus pahala amal besar.
  • Buya Yahya: Majelis ghibah adalah majelis tanpa rahmat.
  • Ustadz Abdul Somad: Ghibah lebih berbahaya dari zina karena melibatkan orang lain.
  • Buya Arrazy Hasyim: Penyakit ruhani terbesar zaman ini adalah lisan digital.

Daftar Pustaka

  • Al-Qur’an al-Karim
  • Shahih Muslim
  • Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  • Hilyatul Auliya’ – Abu Nu‘aim
  • Siyar A‘lam an-Nubala’ – adz-Dzahabi

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para ulama salaf dan khalaf yang menjaga kemurnian adab Islam.


Catatan Redaksi

Beberapa kisah dalam tulisan ini termasuk kategori Israiliyat atau atsar salaf. Kisah-kisah tersebut disajikan sebagai bahan renungan, bukan dalil akidah.


“Selamatkan lisanmu, niscaya selamat agamamu.”

...........

GHIBAH: MAKAN DAGING SENDIRI? EWW!


Pas lagi masuk Masjid Jami’, gue denger orang ngomongin keburukan orang lain. Gue tegur, dia berhenti. Tapi eh, dia lanjut lagi ngomongin orang lain, dan balik lagi ngomongin orang pertama. Anehnya, gue ikut-ikutan keceplosan masukin komentar.


Malamnya, gue mimpi ditodong sama orang hitam gede buat makan daging babi. Awalnya gue nolak. Tapi dia bentak keras, “Kamu udah MAKAN daging saudaramu sendiri!” Gue langsung kebangun kaget. Demi Allah, abis itu 3-4 hari mulut gue rasanya bau banget kayak babi tiap kali makan. (Kisah Khalid Ar-Rib’i)


Ghibah itu lebih sadis daripada perang, guys. Kayak ucapan Iyas bin Mu’awiyah ke Sufyan bin Husbain yang lagi ngerumpi: “Diem lu, Sufyan! Lu pernah perang lawan Romawi?” “Nggak.” “Lawan Turki?” “Juga nggak.” “Ya udah, berarti Romawi sama Turki selamat dari kekejaman lu. Tapi saudara muslim lu sendiri nggak selamat dari mulut lu!” Sufyan langsung nyadar, dan sejak saat itu dia berhenti total nge-ghibah.


Ibrahim bin Adham juga ada cerita. Pas dia diundang makan, ada yang nanya: “Si Fulan kok nggak dateng?” Yang lain jawab: “Dia mah kurang gaul.” Langsung deh Ibrahim nggak kuat, dia cabut dari situ. Sampe 3 hari dia nggak mau makan gara-gara sakit hati denger ghibah di meja makan.


Intinya: Kalo gue bisa berhenti nge-ghibah, itu lebih berharga buat gue daripada dapet seluruh isi dunia, meskipun gue sumbangin semuanya di jalan Allah. Kalo mata gue bisa dijaga dari yang haram, itu juga lebih mahal daripada sedekahin seluruh dunia. (Kata Wahb Makky). Dia juga ingetin ayat: “Katakanlah kepada orang mukmin, agar mereka menundukkan pandangan…” (QS. An-Nur: 30).


JADI, APA SIH GHIBAH ITU? Intinya,ngomongin keburukan orang (yang kalo dia denger bakal sakit hati) di belakang dia. Rasulullah ﷺ bilang: “Ghibah itu kamu nyebut saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” (HR. Muslim). Serem banget, kan? Ayat Al-Qur’an juga jelas: “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati?” (QS. Al-Hujurat: 12). Nah, itu tuh makanya mimpi gue di atas serem banget.


KENAPA KITA MUDAH BANGET KEJEBAK?


· Lupa jaga mulut. Asik ngobrol, eh keceplosan.

· Ngerasa lebih baik. “Ah, paling nggak gue nggak kayak dia.”

· Anggap ini obrolan biasa. “Iya deh, tapi ini kan faktanya…”

· Lupa kalo Allah lagi liat. Kurang muraqabah.


BAHAYANYA KALAU DIBIARIN:


· Di dunia: Hati jadi gelap, temenan jadi rusak, rezeki seret nggak berkah.

· Di alam kubur & akhirat: Bisa bangkrut pahala! Pahala kita bisa dipindahin ke orang yang kita ghibahin. Nauzubillah.


RELEVANSI DI ZAMAN NOW: Dulu ghibah cuma di majelis,sekarang makin gila jangkauannya!


· Medsos & grup WhatsApp: Jadi lebih cepat, luas, dan permanen. Sekali posting/forward, nyebar tak terkendali.

· Komentar toxic: Komentar jahat di kolom postingan orang itu juga semacam ghibah digital.

· Kedokteran bisa obatin tubuh, tapi ghibah ngerusak jiwa dan persahabatan.


GIMANA CARA BERHENTI?


1. Muhasabah harian: Evaluasi, hari ini ngomongin orang nggak?

2. Ganti konten: Daripada nge-ghibah, mending doain dia atau diam.

3. Cabut dari rumpi negatif: Kalo lagi kumpul trus pada nge-ghibah, alihkan topik atau tinggalin. Bilang aja, “Eh kita bahasan lain yuk, serem.”

4. Minta maaf: Kalo udah terlanjur, coba minta maaf atau minimal doain yang baik buat dia.


NASEHAT PARA BOSS DULU:


· Hasan al-Bashri: “Ghibah itu tanda iman lagi lemes.”

· Imam Al-Ghazali: “Ghibah itu makan pahala kayak api makan kayu bakar.”

· Jalaluddin Rumi: “Luka dari ucapan lebih dalam daripada pedang.”

· Gus Baha (Ulama kekinian): “Orang salih aja sering keceplosan ghibah tanpa sadar.”

· Ustadz Adi Hidayat: “Ghibah bisa hapus pahala amal besar lo.”


PENUTUP Yuk,kita jaga mulut dan jari kita. Diam itu emas, dan jaga lisan adalah investasi akhirat yang nilainya gak ketulungan.


Doa penutup: “Ya Allah, bersihin deh mulut kami dari dusta dan ghibah, bersihin juga hati kami dari dengki dan sombong. Aamiin.”


Note: Beberapa kisah di atas diambil dari pelajaran para ulama salaf, disajikan buat bahan renungan kita aja.


Inti sari: “Jaga mulut lo, biar agama lo selamat.”