buluqul maram.
Dari Abu Hurairah berkata, "Rasulullah apabila melaksanakan beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika rukuk membaca, samiallahu liman hamidah, artinya: Allah mendengar orang memuji-Nya' ketika beliau mengangkat tulang punggungnya dari ruku, d membaca ketika berdiri, 'rabbana walakal hamdu, artinya: Ya Rabb kami hanya bagimu segala puji, kemudian bertakbar ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepadanya dari sujud, dan melakukan demikian seluruhnya dalam shalat dan bertakbir ketika bangkit dari dua rakaat setelah duduk tahiyyat (Muttafaq Alaihi).
Ini Awal-awal Baca Sami'allah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku'.
Dalam shalat dikenal istilah takbir intiqâl, yakni kesunahan mengucapkan kalimat takbir الله اكبر setiap kali perpindahan gerak. Ada satu yang berbeda, yakni ketika bangun dari ruku’, bukanlah kalimat takbir yang sunah diucapkan, melainkan kalimat tasmi’ سمع الله لمن حمده.Syekh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi dalam kitab I’anatut Thalibin (Beirut: Darul Fikr, 1997) meriwayatkan sebuah kisah yang menjadi penyebab perbedaan kesunahan ucapan ketika bangun dari ruku’ ini sebagai berikut.
“Sebab kesunahan ucapan سمع الله لمن حمده ialah bahwasanya sahabat Abu Bakar As-Shiddiq RA tidak pernah sama sekali tertinggal shalat berjama’ah di belakang Rasulullah SAW. Hingga pada suatu ketika, saat shalat ashar, Sahabat Abu Bakar RA tertinggal shalat bersama Rasulullah SAW. Sahabat Abu Bakar sangat bersedih dan bergegas masuk masjid.Sampai di masjid, ia masih bisa menemui ruku‘ Rasulullah, maka ia berucap: “Alhamdulillah” sebagai bentuk pujian terhadap Allah, lantas takbiratul ihram dan shalat di belakang Rasulullah SAW.Jibril kemudian turun saat Nabi sedang ruku‘ sambil berkata: “Wahai Muhammad, ucapkan سمع الله لمن حمده . ‘Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.’ …baca kalimat itu setiap shalat saat bangun dari ruku‘.Sebelum kejadian ini setiap akan ruku‘ dan bangun dari ruku‘ yang dibaca adalah takbir. Berkah dari Sahabat Abu Bakar RA membuat tasmi’ jadi disunahkan.”
.........
SAM’IALLĀHU LIMAN ḤAMIDAH : Seruan Langit untuk Jiwa yang Memuji.
Intisari Isi
Tasmi‘ (سمع الله لمن حمده) bukan sekadar bacaan shalat, tetapi pendidikan jiwa agar hidup dalam kesadaran bahwa Allah benar-benar mendengar setiap pujian, rintihan, dan bisikan hati. Ia lahir dari peristiwa ruhani yang mengajarkan bahwa pujian yang ikhlas mengangkat derajat hamba dan mengundang perhatian langit.
Latar Belakang & Sebab Terjadinya
Dalam shalat dikenal takbir intiqāl (takbir setiap perpindahan gerak). Namun bangun dari rukuk memiliki bacaan khusus: “Sami‘allāhu liman ḥamidah.”
Menurut riwayat yang dinukil dalam I‘ānatuṭ Ṭālibīn, asal perbedaannya dikaitkan dengan peristiwa Abu Bakar ash-Shiddiq RA yang datang terlambat shalat, lalu memuji Allah dengan spontan. Pujian tulus itu menjadi sebab diturunkannya perintah agar Nabi ﷺ mengucapkan tasmi‘ setiap bangun dari rukuk.
Secara tazkiyah, ini menunjukkan bahwa pujian yang keluar dari hati yang jujur lebih dahulu sampai ke langit daripada suara lisan.
Landasan Al-Qur’an
Allah Maha Mendengar
“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Asy-Syūrā: 11)
Perintah Memperbanyak Tahmid
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu.”
(QS. Al-Hijr: 98)
Pujian adalah ibadah para makhluk langit dan bumi
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. Ibrāhīm: 34)
Allah mendengar suara hati sebelum suara lisan
“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.”
(QS. Qāf: 16)
Tafsir Tazkiyatun Nufūs Dalam perspektif penyucian jiwa:
Rukuk adalah simbol kehancuran ego.
Bangun dari rukuk adalah momen kebangkitan ruhani.
Maka tidak pantas diisi dengan sekadar “Allahu Akbar” (keagungan), tetapi dengan pernyataan relasi:
👉 Allah mendengar siapa yang memuji-Nya.
Tasmi‘ mendidik hati agar:
Tidak mencari pujian makhluk.
Tidak menggantungkan nilai diri pada penilaian manusia.
Tetapi yakin: satu helaan pujian yang ikhlas lebih berharga daripada seribu sanjungan manusia.
Analisis & Argumentasi Ruhani
Tasmi‘ membersihkan penyakit riya’
Karena ia menanamkan keyakinan bahwa yang mendengar bukan manusia, tapi Allah.
Tasmi‘ menghidupkan muraqabah (merasa diawasi Allah)
Orang yang yakin Allah mendengar, akan malu beribadah dengan hati lalai.
Tasmi‘ melatih syukur eksistensial
Bukan hanya bersyukur atas nikmat, tapi bersyukur karena masih diberi kesempatan memuji Allah.
Tasmi‘ adalah jembatan antara kehinaan dan kemuliaan
Dari rukuk (kerendahan) menuju qiyam (tegak sebagai hamba).
Motivasi Ruhani
Jangan ucapkan “Sami‘allāhu liman ḥamidah” dengan lisan saja.
Ucapkan dengan perasaan:
“Ya Allah, aku tidak butuh didengar manusia. Cukuplah Engkau mendengarku.”
Orang yang shalatnya hidup dengan tasmi‘:
Tidak mudah kecewa karena tidak dihargai.
Tidak gelisah ketika amalnya tidak terlihat.
Tidak haus pengakuan.
Muhasabah & Caranya
Tanya pada diri saat bangun dari rukuk:
Apakah aku lebih senang dipuji manusia atau diridhai Allah?
Jika semua makhluk diam, apakah aku masih mau memuji-Nya?
Latihan Tazkiyah:
Saat mengucap tasmi‘, berhenti sekejap dalam hati:
“Allah sedang mendengarku sekarang.”
Ingat satu dosa yang belum ditaubati, lalu puji Allah atas kesempatan kembali.
Rasakan bahwa yang mengangkat tubuhmu dari rukuk bukan kakimu, tapi rahmat-Nya.
Hikmah, Tujuan & Manfaat
🌱 Menumbuhkan ikhlas.
🌱 Membersihkan hati dari cinta pujian.
🌱 Menghidupkan rasa diawasi Allah.
🌱 Menjadikan shalat sebagai dialog, bukan rutinitas.
🌱 Menenangkan jiwa yang lelah mencari pengakuan.
Tujuan terdalamnya adalah:
melahirkan hati yang hanya ingin didengar oleh Allah.
Doa
Allāhumma ij‘alnā minal ḥāmidīn aṣ-ṣādiqīn.
Allāhumma ṭahhir qulūbanā minar riyā’, wa a‘malanā minal ‘ujb, wa alsinatanā minal kadzib.
Allāhumma kamā asma‘tanā tasmi‘, aj‘alnā mimman sami‘ta ḥamdahum faraḍīta ‘anhum.
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang memuji dengan jujur. Sucikan hati kami dari riya’, amal kami dari ujub, dan lisan kami dari dusta. Ya Allah, sebagaimana Engkau ajarkan kami tasmi‘, jadikan kami hamba yang Engkau dengar pujiannya lalu Engkau ridai.”
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada Allah yang masih memberi kita lisan untuk memuji dan hati untuk kembali.
Terima kasih kepada Rasulullah ﷺ yang mewariskan shalat sebagai jalan penyucian jiwa.
Terima kasih kepada para sahabat yang dengan keikhlasan mereka, Allah abadikan pelajarannya sampai hari ini.
.......
SAMIALLAHU LIMAN HAMIDAH: Panggilan Langit Buat Hati yang Bersyukur
Intinya gini...
"Sami'allahu liman hamidah" itu bukan cuma bacaan shalat biasa. Itu seperti reminder buat jiwa kita, bahwa Allah bener-bener dengerin setiap pujian, keluh kesah, bahkan bisikan hati kita. Bacaan ini muncul dari moment spiritual yang keren, yang ngajarin kita bahwa pujian yang tulus bisa naikin derajat kita dan narik perhatian langit.
Asal Mula & Cerita Di Baliknya
Di shalat, kan biasa ada takbir setiap ganti gerakan (takbir intiqal). Nah, pas bangun dari rukuk, bacaan nya beda, nggak pakai Allahu Akbar, tapi "Sami'allahu liman hamidah".
Ada cerita menarik nih, seperti yang diceritain di kitab I'anatut Thalibin. Suatu hari, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, yang biasanya nggak pernah absen shalat berjamaah, telat datang buat shalat Ashar. Dia sedih banget, buru-buru ke masjid. Pas sampai, Nabi lagi rukuk. Abu Bakar spontan berucap "Alhamdulillah" sebagai bentuk syukur karena masih kebagian, lalu langsung ikut shalat. Trus, malaikat Jibril turun ke Nabi yang lagi rukuk dan bilang, "Ya Muhammad, ucapin Sami'allahu liman hamidah" setiap bangun dari rukuk. Sebelum kejadian ini, yang dibaca pas bangun dari rukuk juga takbir. Berkah dari kesungguhan Abu Bakar ini bikin bacaan tasmi' jadi disunahin.
Dasar-Dasar Qur'annya Tetap Kuat
· Allah Maha Mendengar: "Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Asy-Syura: 11)
· Perintah Banyak-Banyak Memuji: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu." (QS. Al-Hijr: 98)
· Pujian itu Ibadahnya Seluruh Makhluk: "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34)
· Allah Dengar Hati Sebelum Lisan: "Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya." (QS. Qaf: 16)
Makna Buat "Me-time" Jiwa Kita (Tazkiyatun Nufus)
Kalau dipikir-pikir:
· Rukuk tuh simbol merendahkan diri, let go ego kita.
· Bangun dari rukuk tuh moment kebangkitan spiritual kita.
Jadi, pas bangun, nggak cuma bilang "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar), tapi kita diingetin sama sebuah relationship yang dalam: Allah mendengar orang yang memuji-Nya.
Tasmi' itu kayak latihan hati biar:
· Nggak hidup buat cari pujian orang lain.
· Nggak nentuin harga diri dari penilaian manusia.
· Tapi yakin, satu kalimat pujian ikhlas buat Allah lebih berarti daripada seribu sanjungan manusia.
Analisis & "Mindset"-nya Buat Gen Z/Milenial
· Obat Riya' & Cari Perhatian: Tasmi' ngingetin kita bahwa yang dengerin tu Allah, bukan followers atau orang sekitar. Jadi ibadah fokusnya lurus.
· Ngingetin Kita Selalu Diawasi (Muraqabah): Kalo yakin Allah lagi dengerin, kita jadi malu kalo shalatnya asal-asalan, mind ke mana-mana.
· Latihan Syukur Level Tinggi: Bukan cuma syukur karena dikasih nikmat, tapi juga bersyukur karena masih dikasih kesempatan dan hati buat memuji-Nya.
· Jembatan dari "Rendah Hati" ke "Berdiri Teguh": Dari posisi merendah (rukuk), kita bangkit tegak (berdiri) sebagai hamba yang percaya diri karena didengar-Nya.
Boost Motivasi & Self-Reminder
Jangan cuma ngucapin "Sami'allahu liman hamidah" pake mulut doang. Rasain dalem hati: "Ya Allah, aku nggak butuh diakui sama siapa pun. Yang penting, Engkau yang dengerin aku."
Orang yang shalatnya hidup dengan tasmi' biasanya:
· Nggak gampang kecewa kalo karyanya nggak diapresiasi orang.
· Nggak galau kalo amal baiknya nggak ada yang liat.
· Nggak haus validasi dari orang lain.
Cek Diri Sebentar (Muhasabah ala-ala)
Pas bangun dari rukuk, tanya hati kecil:
· "Aku lebih senang dipuji orang atau diridhai Allah?"
· "Kalo semua orang di dunia ini nggak ada yang puji aku, apakah aku tetep mau memuji Allah?"
Tips Praktis Ngerasain Tasmi':
· Pas ngucapin "Sami'allahu...", jeda sebentar dalem hati, bilang: "Allah lagi dengerin gue nih, sekarang."
· Inget satu kesalahan yang belum bener-bener ditaubatin, trus puji Allah karena masih dikasih kesempatan perbaikin diri.
· Rasain kalo yang ngangkat badan kita dari rukuk itu bukan kekuatan kaki kita sendiri, tapi karena rahmat dan pertolongan-Nya.
Manfaat & Tujuannya Buat Hidup Kita Sekarang
· 🌱 Ngebangun keikhlasan.
· 🌱 Ngebebasin hati dari kecanduan pujian.
· 🌱 Bikin kita selalu sadar kalo Allah lagi lihat dan dengerin kita.
· 🌱 Ngerubah shalat dari rutinitas jadi quality time dengan-Nya.
· 🌱 Nenangin hati yang lelah gegara sibuk cari pengakuan.
Tujuan utamanya tuh apa? Biar kita jadi pribadi yang cukup didengar sama Allah aja, udah bahagia.
Doa Penutup (Tetap Pakai Bahasa Aslinya ya, biar Khusyuk)
Allāhumma ij‘alnā minal ḥāmidīn aṣ-ṣādiqīn.
Allāhumma ṭahhir qulūbanā minar riyā’, wa a‘malanā minal ‘ujb, wa alsinatanā minal kadzib.
Allāhumma kamā asma‘tanā tasmi‘, aj‘alnā mimman sami‘ta ḥamdahum faraḍīta ‘anhum.
Ucapan Terima Kasih
· Makasih ya Allah, buat mulut yang masih bisa memuji-Mu dan hati yang selalu diajak balik.
· Makasih buat Rasulullah ﷺ yang ngajarin shalat sebagai jalannya self-healing dan penyucian jiwa.
· Makasih buat para sahabat, terutama Abu Bakar, yang dengan ketulusannya, kisahnya jadi pelajaran berharga buat kita sampe sekarang.
---

