Monday, January 19, 2026

918. SAM’IALLĀHU LIMAN ḤAMIDAH : Seruan Langit untuk Jiwa yang Memuji.



 buluqul maram.

Dari Abu Hurairah berkata, "Rasulullah apabila melaksanakan beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika rukuk membaca, samiallahu liman hamidah, artinya: Allah mendengar orang memuji-Nya' ketika beliau mengangkat tulang punggungnya dari ruku, d membaca ketika berdiri, 'rabbana walakal hamdu, artinya: Ya Rabb kami hanya bagimu segala puji, kemudian bertakbar ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepadanya dari sujud, dan melakukan demikian seluruhnya dalam shalat dan bertakbir ketika bangkit dari dua rakaat setelah duduk tahiyyat (Muttafaq Alaihi).

Ini Awal-awal Baca Sami'allah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku'.
Dalam shalat dikenal istilah takbir intiqâl, yakni kesunahan mengucapkan kalimat takbir الله اكبر setiap kali perpindahan gerak. Ada satu yang berbeda, yakni ketika bangun dari ruku’, bukanlah kalimat takbir yang sunah diucapkan, melainkan kalimat tasmi’  سمع الله لمن حمده.Syekh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi dalam kitab I’anatut Thalibin (Beirut: Darul Fikr, 1997) meriwayatkan sebuah kisah yang menjadi penyebab perbedaan kesunahan ucapan ketika bangun dari ruku’ ini sebagai berikut.

“Sebab kesunahan ucapan سمع الله لمن حمده ialah bahwasanya sahabat Abu Bakar As-Shiddiq RA tidak pernah sama sekali tertinggal shalat berjama’ah di belakang Rasulullah SAW. Hingga pada suatu ketika, saat shalat ashar, Sahabat Abu Bakar RA tertinggal shalat bersama Rasulullah SAW. Sahabat Abu Bakar sangat bersedih dan bergegas masuk masjid.Sampai di masjid, ia masih bisa menemui ruku‘ Rasulullah, maka ia berucap: “Alhamdulillah” sebagai bentuk pujian terhadap Allah, lantas takbiratul ihram dan shalat di belakang Rasulullah SAW.Jibril kemudian turun saat Nabi sedang ruku‘ sambil berkata: “Wahai Muhammad, ucapkan سمع الله لمن حمده . ‘Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.’ …baca kalimat itu setiap shalat saat bangun dari ruku‘.Sebelum kejadian ini setiap akan ruku‘ dan bangun dari ruku‘ yang dibaca adalah takbir. Berkah dari Sahabat Abu Bakar RA membuat tasmi’ jadi disunahkan.”
.........

SAM’IALLĀHU LIMAN ḤAMIDAH : Seruan Langit untuk Jiwa yang Memuji.

Intisari Isi

Tasmi‘ (سمع الله لمن حمده) bukan sekadar bacaan shalat, tetapi pendidikan jiwa agar hidup dalam kesadaran bahwa Allah benar-benar mendengar setiap pujian, rintihan, dan bisikan hati. Ia lahir dari peristiwa ruhani yang mengajarkan bahwa pujian yang ikhlas mengangkat derajat hamba dan mengundang perhatian langit.

Latar Belakang & Sebab Terjadinya

Dalam shalat dikenal takbir intiqāl (takbir setiap perpindahan gerak). Namun bangun dari rukuk memiliki bacaan khusus: “Sami‘allāhu liman ḥamidah.”

Menurut riwayat yang dinukil dalam I‘ānatuṭ Ṭālibīn, asal perbedaannya dikaitkan dengan peristiwa Abu Bakar ash-Shiddiq RA yang datang terlambat shalat, lalu memuji Allah dengan spontan. Pujian tulus itu menjadi sebab diturunkannya perintah agar Nabi ﷺ mengucapkan tasmi‘ setiap bangun dari rukuk.

Secara tazkiyah, ini menunjukkan bahwa pujian yang keluar dari hati yang jujur lebih dahulu sampai ke langit daripada suara lisan.

Landasan Al-Qur’an

Allah Maha Mendengar

“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(QS. Asy-Syūrā: 11)

Perintah Memperbanyak Tahmid

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu.”

(QS. Al-Hijr: 98)

Pujian adalah ibadah para makhluk langit dan bumi

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

(QS. Ibrāhīm: 34)

Allah mendengar suara hati sebelum suara lisan

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.”

(QS. Qāf: 16)

Tafsir Tazkiyatun Nufūs Dalam perspektif penyucian jiwa:

Rukuk adalah simbol kehancuran ego.

Bangun dari rukuk adalah momen kebangkitan ruhani.

Maka tidak pantas diisi dengan sekadar “Allahu Akbar” (keagungan), tetapi dengan pernyataan relasi:

👉 Allah mendengar siapa yang memuji-Nya.

Tasmi‘ mendidik hati agar:

Tidak mencari pujian makhluk.

Tidak menggantungkan nilai diri pada penilaian manusia.

Tetapi yakin: satu helaan pujian yang ikhlas lebih berharga daripada seribu sanjungan manusia.

Analisis & Argumentasi Ruhani

Tasmi‘ membersihkan penyakit riya’

Karena ia menanamkan keyakinan bahwa yang mendengar bukan manusia, tapi Allah.

Tasmi‘ menghidupkan muraqabah (merasa diawasi Allah)

Orang yang yakin Allah mendengar, akan malu beribadah dengan hati lalai.

Tasmi‘ melatih syukur eksistensial

Bukan hanya bersyukur atas nikmat, tapi bersyukur karena masih diberi kesempatan memuji Allah.

Tasmi‘ adalah jembatan antara kehinaan dan kemuliaan

Dari rukuk (kerendahan) menuju qiyam (tegak sebagai hamba).

Motivasi Ruhani

Jangan ucapkan “Sami‘allāhu liman ḥamidah” dengan lisan saja.

Ucapkan dengan perasaan:

“Ya Allah, aku tidak butuh didengar manusia. Cukuplah Engkau mendengarku.”

Orang yang shalatnya hidup dengan tasmi‘:

Tidak mudah kecewa karena tidak dihargai.

Tidak gelisah ketika amalnya tidak terlihat.

Tidak haus pengakuan.

Muhasabah & Caranya

Tanya pada diri saat bangun dari rukuk:

Apakah aku lebih senang dipuji manusia atau diridhai Allah?

Jika semua makhluk diam, apakah aku masih mau memuji-Nya?

Latihan Tazkiyah:

Saat mengucap tasmi‘, berhenti sekejap dalam hati:

“Allah sedang mendengarku sekarang.”

Ingat satu dosa yang belum ditaubati, lalu puji Allah atas kesempatan kembali.

Rasakan bahwa yang mengangkat tubuhmu dari rukuk bukan kakimu, tapi rahmat-Nya.

Hikmah, Tujuan & Manfaat

🌱 Menumbuhkan ikhlas.

🌱 Membersihkan hati dari cinta pujian.

🌱 Menghidupkan rasa diawasi Allah.

🌱 Menjadikan shalat sebagai dialog, bukan rutinitas.

🌱 Menenangkan jiwa yang lelah mencari pengakuan.

Tujuan terdalamnya adalah:

melahirkan hati yang hanya ingin didengar oleh Allah.

Doa

Allāhumma ij‘alnā minal ḥāmidīn aṣ-ṣādiqīn.

Allāhumma ṭahhir qulūbanā minar riyā’, wa a‘malanā minal ‘ujb, wa alsinatanā minal kadzib.

Allāhumma kamā asma‘tanā tasmi‘, aj‘alnā mimman sami‘ta ḥamdahum faraḍīta ‘anhum.

“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang memuji dengan jujur. Sucikan hati kami dari riya’, amal kami dari ujub, dan lisan kami dari dusta. Ya Allah, sebagaimana Engkau ajarkan kami tasmi‘, jadikan kami hamba yang Engkau dengar pujiannya lalu Engkau ridai.”

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada Allah yang masih memberi kita lisan untuk memuji dan hati untuk kembali.

Terima kasih kepada Rasulullah ﷺ yang mewariskan shalat sebagai jalan penyucian jiwa.

Terima kasih kepada para sahabat yang dengan keikhlasan mereka, Allah abadikan pelajarannya sampai hari ini.

.......

SAMIALLAHU LIMAN HAMIDAH: Panggilan Langit Buat Hati yang Bersyukur


Intinya gini...


"Sami'allahu liman hamidah" itu bukan cuma bacaan shalat biasa. Itu seperti reminder buat jiwa kita, bahwa Allah bener-bener dengerin setiap pujian, keluh kesah, bahkan bisikan hati kita. Bacaan ini muncul dari moment spiritual yang keren, yang ngajarin kita bahwa pujian yang tulus bisa naikin derajat kita dan narik perhatian langit.


Asal Mula & Cerita Di Baliknya


Di shalat, kan biasa ada takbir setiap ganti gerakan (takbir intiqal). Nah, pas bangun dari rukuk, bacaan nya beda, nggak pakai Allahu Akbar, tapi "Sami'allahu liman hamidah".


Ada cerita menarik nih, seperti yang diceritain di kitab I'anatut Thalibin. Suatu hari, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, yang biasanya nggak pernah absen shalat berjamaah, telat datang buat shalat Ashar. Dia sedih banget, buru-buru ke masjid. Pas sampai, Nabi lagi rukuk. Abu Bakar spontan berucap "Alhamdulillah" sebagai bentuk syukur karena masih kebagian, lalu langsung ikut shalat. Trus, malaikat Jibril turun ke Nabi yang lagi rukuk dan bilang, "Ya Muhammad, ucapin Sami'allahu liman hamidah" setiap bangun dari rukuk. Sebelum kejadian ini, yang dibaca pas bangun dari rukuk juga takbir. Berkah dari kesungguhan Abu Bakar ini bikin bacaan tasmi' jadi disunahin.


Dasar-Dasar Qur'annya Tetap Kuat


· Allah Maha Mendengar: "Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Asy-Syura: 11)

· Perintah Banyak-Banyak Memuji: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu." (QS. Al-Hijr: 98)

· Pujian itu Ibadahnya Seluruh Makhluk: "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34)

· Allah Dengar Hati Sebelum Lisan: "Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya." (QS. Qaf: 16)


Makna Buat "Me-time" Jiwa Kita (Tazkiyatun Nufus)


Kalau dipikir-pikir:


· Rukuk tuh simbol merendahkan diri, let go ego kita.

· Bangun dari rukuk tuh moment kebangkitan spiritual kita.


Jadi, pas bangun, nggak cuma bilang "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar), tapi kita diingetin sama sebuah relationship yang dalam: Allah mendengar orang yang memuji-Nya.


Tasmi' itu kayak latihan hati biar:


· Nggak hidup buat cari pujian orang lain.

· Nggak nentuin harga diri dari penilaian manusia.

· Tapi yakin, satu kalimat pujian ikhlas buat Allah lebih berarti daripada seribu sanjungan manusia.


Analisis & "Mindset"-nya Buat Gen Z/Milenial


· Obat Riya' & Cari Perhatian: Tasmi' ngingetin kita bahwa yang dengerin tu Allah, bukan followers atau orang sekitar. Jadi ibadah fokusnya lurus.

· Ngingetin Kita Selalu Diawasi (Muraqabah): Kalo yakin Allah lagi dengerin, kita jadi malu kalo shalatnya asal-asalan, mind ke mana-mana.

· Latihan Syukur Level Tinggi: Bukan cuma syukur karena dikasih nikmat, tapi juga bersyukur karena masih dikasih kesempatan dan hati buat memuji-Nya.

· Jembatan dari "Rendah Hati" ke "Berdiri Teguh": Dari posisi merendah (rukuk), kita bangkit tegak (berdiri) sebagai hamba yang percaya diri karena didengar-Nya.


Boost Motivasi & Self-Reminder


Jangan cuma ngucapin "Sami'allahu liman hamidah" pake mulut doang. Rasain dalem hati: "Ya Allah, aku nggak butuh diakui sama siapa pun. Yang penting, Engkau yang dengerin aku."


Orang yang shalatnya hidup dengan tasmi' biasanya:


· Nggak gampang kecewa kalo karyanya nggak diapresiasi orang.

· Nggak galau kalo amal baiknya nggak ada yang liat.

· Nggak haus validasi dari orang lain.


Cek Diri Sebentar (Muhasabah ala-ala)


Pas bangun dari rukuk, tanya hati kecil:


· "Aku lebih senang dipuji orang atau diridhai Allah?"

· "Kalo semua orang di dunia ini nggak ada yang puji aku, apakah aku tetep mau memuji Allah?"


Tips Praktis Ngerasain Tasmi':


· Pas ngucapin "Sami'allahu...", jeda sebentar dalem hati, bilang: "Allah lagi dengerin gue nih, sekarang."

· Inget satu kesalahan yang belum bener-bener ditaubatin, trus puji Allah karena masih dikasih kesempatan perbaikin diri.

· Rasain kalo yang ngangkat badan kita dari rukuk itu bukan kekuatan kaki kita sendiri, tapi karena rahmat dan pertolongan-Nya.


Manfaat & Tujuannya Buat Hidup Kita Sekarang


· 🌱 Ngebangun keikhlasan.

· 🌱 Ngebebasin hati dari kecanduan pujian.

· 🌱 Bikin kita selalu sadar kalo Allah lagi lihat dan dengerin kita.

· 🌱 Ngerubah shalat dari rutinitas jadi quality time dengan-Nya.

· 🌱 Nenangin hati yang lelah gegara sibuk cari pengakuan.


Tujuan utamanya tuh apa? Biar kita jadi pribadi yang cukup didengar sama Allah aja, udah bahagia.


Doa Penutup (Tetap Pakai Bahasa Aslinya ya, biar Khusyuk)


Allāhumma ij‘alnā minal ḥāmidīn aṣ-ṣādiqīn.

Allāhumma ṭahhir qulūbanā minar riyā’, wa a‘malanā minal ‘ujb, wa alsinatanā minal kadzib.

Allāhumma kamā asma‘tanā tasmi‘, aj‘alnā mimman sami‘ta ḥamdahum faraḍīta ‘anhum.


Ucapan Terima Kasih


· Makasih ya Allah, buat mulut yang masih bisa memuji-Mu dan hati yang selalu diajak balik.

· Makasih buat Rasulullah ﷺ yang ngajarin shalat sebagai jalannya self-healing dan penyucian jiwa.

· Makasih buat para sahabat, terutama Abu Bakar, yang dengan ketulusannya, kisahnya jadi pelajaran berharga buat kita sampe sekarang.


---

 qotrul ghaits.

Ketahuilah bahwasanya iman terhadap Allah ada tiga macam. Yaitu: Iman taqlidy, iman tahqiqy dan iman istidlaly.


Iman Taqlidy : Seseorang ber-i’tiqad (berkeyakinan) terhadap ke-esa-an Allah dengan cara mengikuti perkataan ulama’ tanpa mengetahui dalilnya. Iman seperti ini tidak akan terbebas dari keterombang-ambingan yang disebabkan oleh adanya sesuatu yang mendatangkan keraguan.

Iman Tahqiqy : Sebuah bisikan atau kata hati seseorang terhadap ke-esa-an Allah, dengan sekiranya seandainya penduduk alam berbeda dengannya dalam apa yang telah dibisikan hatinya, niscaya tidak akan terdapat kegoyahan dihatinya.

Iman Istidlaly : Seseorang menjadikan dalil atau petunjuk dari sesuatu yang diciptakan terhadap yang menciptakan, dari suatu bekas terhadap yang menjadikan bekas. Misalnya, adanya bekas pasti menunjukkan terhadap adanya yang membekaskan, adanya bangunan tentu menunjukkan adanya yang membangun, adanya suatu yang diciptakan pasti menandakan terhadap adanya yang menciptakan, dan adanya ba’roh (kotoran unta) tentu menunjukkan tehadap adanya ba’iir (unta), karena adanya bekas tanpa adanya yang membekaskan adalah mustahil.

........


1917. HAKIKAT IMAN DAN TAZKIYATUN NUFŪS



 qotrul ghaits.

PERMASALAHAN I

APA YANG BERHUBUNGAN DENGAN HAKIKAT IMAN?

Jika ditanyakan kepadamu: ” Apa sajakah yang berhubungan dengan hakikat iman yang disebut dengan tashdiq?

Maka hendaklah kamu berkata: Aku percaya, aku membenarkan dan aku mengakui terhadap Allah, terhadap para malaikat, kitab-kitab, para utusan, terhadap hari akhir dan qadar baik dan buruknya dari Allah. Ini seperti yang telah dikatakan oleh Imam Muslim dari Sayyidina Umar dari hadits Jibril. Apabila kamu mengambil dari riwayat Imam Bukhari yang juga dari hadits Jibril, maka hendaklah kamu berkata: Aku percaya terhadap Allah para malaikat, dan berjumpa dengan-Nya, terhadap para utusan, dan ba’ats (pembangkitan). Maksudnya, aku percaya terhadap adanya Allah, sifat-sifat yang wajib bagi-Nya, terhadap para malaikat, sesungguhnya mereka adalah para hamba yang dimuliakan, terhadap melihat Allah kelak dakhirat bagi orang mukmin, terhadap para utusan, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang benar dalam setiap apa yang mereka sampaikan dari Allah, dan terhadap ba’ats dari kubur.

Sebagian ulama’ mengatakan, barang siapa yang dimasa kecilnya telah mempelajari “Aku percaya terhadap Allah, para malaikat, kitab-kitab, para utusan, hari akhir dan qadar baik dan buruknya dari Allah”, dan dia tahu bahwa itu yang disebut iman, hanya saja dia tidak bisa memperbaik tafsirannya, maka dia tidak dihukumi beriman. Sebagian ulama’ juga mengatakan, iman seseorang diwaktu ya’su, yaitu diwaktu sakaratil maut saat ia melihat tempatnya di surga dan neraka imannya tidak diterima. Sesungguhnya seorang hamba pada waktu itu akan melihat tempatnya, sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Nabi saw.:

رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّه قَالَ أَنَّ العَبْدَ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَرَى مَوْضِعَََهُ فِى الْجَنَّةِ اَوْ فِى النَّارِ

“Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwasanya beliau bersabda: Sesungguhnya seorang hamba tidak akan mati hingga ia melihat tempatnya di surga atau di neraka”.

Lain halnya dengan taubat orang yang sedang sakaratil maut, taubatnya diterima setelah imannya sah. Karena ada sebuah keterangan yang diriwayatkan dari Ibnu Umar:

رُوِيَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ للهِ صَلَّى اللهُ عَلََيْهِ وَسَلَّمَ تُُُقْبَلُ تَوْبَةُ العَبْدِ المُؤْمِنِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ (اي مَََََا لَمْ تَبْلُغْ) رُوْحُهُ الحُلْقُومَ

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya beliau berkata, Rasulullah saw. bersabda: Taubat seorang hamba yang beriman akan diterima selagi nyawanya belum sampai ke tenggorokan”.

.........

HAKIKAT IMAN DAN TAZKIYATUN NUFŪS

Dari Tashdîq Lisan Menuju Penyucian Jiwa dan Kesaksian Hati

INTISARI ISI

Hakikat iman adalah tashdîq — membenarkan dengan hati, mengakui dengan lisan, dan membuktikan dengan amal. Iman bukan sekadar hafalan rukun iman, tetapi kesaksian batin yang hidup, yang melahirkan rasa takut, harap, cinta, dan tunduk kepada Allah. Tazkiyatun nufūs bertujuan membersihkan hati dari keraguan, kesombongan, dan kelalaian, agar iman tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menjadi cahaya yang menuntun seluruh gerak hidup.

LANDASAN QUR’AN DAN HADIS

Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

(QS. Asy-Syams: 9–10)

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ…

“Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang beriman…”

(QS. Al-Baqarah: 285)

Hadis Jibril menjelaskan rukun iman sebagai fondasi tashdîq.

Dan Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, jika rusak maka rusaklah seluruh jasad; ketahuilah ia adalah hati.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan: iman berpusat di hati, dan tazkiyah adalah penjaganya.

ANALISIS DAN ARGUMENTASI (PERSPEKTIF TAZKIYATUN NUFŪS)

Iman sebagai cahaya batin

Tashdîq bukan sekadar “percaya”, tetapi pembenaran eksistensial yang menundukkan ego. Hati yang belum disucikan mudah mengucap iman, namun sulit tunduk ketika hawa nafsu datang.

Bahaya iman di saat ya’su (putus harap)

Iman yang baru muncul ketika sakarat, setelah tabir gaib terbuka, bukan iman pilihan, tetapi iman keterpaksaan. Ia tidak membuahkan tazkiyah, karena ladang amal telah tertutup.

Taubat dan iman

Taubat diterima selama ruh belum sampai tenggorokan. Ini menegaskan urgensi tazkiyah sejak hidup: membersihkan hati sebelum dibersihkan secara paksa oleh kematian.

Tazkiyah menjaga iman dari formalitas

Banyak orang mengenal rukun iman, namun hatinya penuh riya’, hasad, cinta dunia berlebihan. Di sinilah tazkiyatun nufūs bekerja: mengembalikan iman dari wacana ke kesadaran.

RELEVANSI DI ZAMAN TEKNOLOGI DAN KEHIDUPAN MODERN

Teknologi & komunikasi

Informasi melimpah, iman bisa dangkal. Banyak tahu, sedikit tunduk. Tazkiyah mengubah scrolling mind menjadi remembering heart — hati yang hidup dengan dzikir.

Transportasi & kecepatan hidup

Dunia makin cepat, hati makin lelah. Iman tanpa tazkiyah menjadi identitas, bukan ketenangan. Penyucian jiwa membuat perjalanan hidup kembali bermakna, bukan sekadar berpindah.

Kedokteran modern

Tubuh dirawat dengan detail, jiwa sering diabaikan. Padahal penyakit terbesar adalah penyakit hati: sombong, cemas, iri, putus asa. Iman yang disucikan menumbuhkan ketenangan eksistensial.

Kehidupan sosial

Media sosial menumbuhkan pencitraan. Tazkiyah memurnikan niat agar iman tidak berubah menjadi pertunjukan.

HIKMAH, TUJUAN, DAN MANFAAT

Hikmah:

Iman hidup menumbuhkan muraqabah (merasa diawasi Allah).

Hati bersih menjadikan ibadah manis, bukan beban.

Tujuan Tazkiyah:

Memurnikan tashdîq dari keraguan dan kemunafikan.

Menjadikan iman sebagai penggerak akhlak.

Manfaat:

Tenang saat diuji

Tawadhu’ saat dipuji

Kuat saat sendiri

Lembut saat bersama

MOTIVASI DAN MUHASABAH

Renungkan:

Apakah imanku hanya hafalan atau sudah menjadi rasa?

Apakah aku semakin tunduk, atau hanya semakin banyak bicara?

Jika hari ini tabir dibuka, siapkah hatiku?

Cara Muhasabah Tazkiyah:

Muhasabah malam – hitung dosa sebelum tidur.

Dzikir harian – terutama istighfar dan shalawat.

Muraqabah – latih kesadaran bahwa Allah melihat.

Mujahadah – lawan satu penyakit hati setiap pekan.

Khalwah ringan – 10 menit sehari tanpa gadget, hanya hati dan Allah.

DOA

اللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.

“Ya Allah, sucikanlah jiwa-jiwa kami dengan ketakwaannya. Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Penolongnya.”

“Ya Allah, jadikan iman kami iman yang hidup, bukan iman yang menunggu kematian untuk yakin.”

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih telah menghadirkan tema yang sangat dalam ini. Semoga tulisan ini menjadi wasilah tazkiyah, menghidupkan iman bukan hanya di pikiran, tetapi di relung jiwa. Semoga Allah memberkahi langkah Anda dalam menyebarkan ilmu dan menghidupkan hati umat.

.........

HAKIKAT IMAN DAN BERSIH-BERSIH HATI: DARI NGOMONG SAMPE NGERASAIN


Oke, jadi intinya iman tuh apa sih? Yang namanya iman tuh tashdîq — yang artinya bener-bener ngeyakinin dalam hati, ngucapin dengan lisan, dan ngebuktiin dengan perbuatan.


Kalo ada yang nanya, “Apa aja sih yang termasuk hakikat iman yang disebut tashdîq itu?”


Jawabnya: “Aku percaya, aku benerin, dan aku ngakuin: sama Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, sama takdir baik dan buruk yang dari Allah.” Ini kayak yang dijelasin di hadits Jibril yang diriwayatin Imam Muslim dari Sayyidina Umar.


Kalo lo ambil versi Imam Bukhari juga dari hadits Jibril, jadi: “Aku percaya sama Allah, para malaikat-Nya, (aku percaya) bakal ketemu Allah (di akhirat), para rasul-Nya, sama hari kebangkitan.” Maksudnya, percaya sama adanya Allah, sifat-sifat wajib-Nya, percaya para malaikat itu hamba yang dimuliain, percaya orang mukmin bakal liat Allah di akhirat, percaya para rasul itu orang-orang yang jujur nyampein wahyu, dan percaya bakal dibangkitin dari kubur.


Nah, ada yang perlu diinget. Para ulama bilang, kalo ada orang dari kecil udah hafal dan tau kalimat “Aku percaya sama Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, sama takdir baik dan buruk dari Allah” dan tau itu adalah iman, tapi cuma hafal doang, gak paham makna dalemnya, ya imannya belom sah. Iman bukan cuma hafalan teori.


Ada juga nih yang serem: imannya orang pas lagi ya’su (putus asa, pas sakaratul maut) pas dia udah liat tempat duduknya di surga atau neraka, gak diterima. Soalnya waktu itu dia udah liat realitasnya, kayak kata Nabi ﷺ:


“Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwasanya beliau bersabda: Sesungguhnya seorang hamba tidak akan mati hingga ia melihat tempatnya di surga atau di neraka.”


Tapi, beda sama taubat! Taubat orang beriman masih diterima sampe detik-detik akhir, selama nyawanya belum sampe ke tenggorokan. Kata Rasulullah ﷺ:


“Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya beliau berkata, Rasulullah saw. bersabda: Taubat seorang hamba yang beriman akan diterima selagi nyawanya belum sampai ke tenggorokan.”


---


HAKIKAT IMAN & BERSIH-BERSIH HATI (TAZKIYATUN NUFŪS): DARI SEKEDAR NGOMONG SAMPE NGERASAKAN DI DALEM HATI


Intisarinya gini:

Iman yang bener tuh bukan cuma hapal rukun iman. Iman tuh pengakuan hati yang hidup, yang bikin kita ngerasa takut, harap, cinta, dan tunduk sama Allah. Nah, bersih-bersih hati (tazkiyah) tuh wajib supaya iman kita gak cuma teori, tapi jadi cahaya yang ngewarnai hidup kita sehari-hari.


Dasarnya dari mana?

Allah bilang:

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)


Nabi ﷺ juga bilang:

“Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, jika rusak maka rusaklah seluruh jasad; ketahuilah ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Jelas banget kan? Iman pusatnya di hati. Kalo hatinya kotor, iman cuma jadi formalitas.


Analisis & Relevansinya Buat Kita Sekarang:


1. Iman itu cahaya hati. Bukan cuma “percaya”, tapi pembenaran yang bikin kita legowo sama kehendak Allah. Kalo hati lagi berantakan, ngomong “iman” gampang, tapi pas ujian dateng, langsung keluar sifat asli.

2. Bahaya iman “dadakan” pas sakarat. Iman yang muncul pas udah liat “spoiler” surga/neraka itu iman terpaksa, bukan pilihan. Gak ada nilainya, soalnya udah gak ada kesempatan buat berbuat baik lagi.

3. Makanya, taubat dan bersihin hati dari SEKARANG. Jangan nunggu jantung mau berenti. Taubat itu diterima sampe detik terakhir, itu menunjukkan betapa pentingnya kita maintenance hati kita setiap hari.

4. Tazkiyah itu supaya iman gak cuma jadi label. Banyak orang pinter ngomongin tauhid, tapi hatinya penuh drama: iri, pamer, cinta dunia. Bersihin hati bikin iman dari wacana jadi kesadaran batin yang bikin hidup tenang.


Relevansi di Era Gadget & Hidup Cepat:


· Medsos & Info: Kita kebanjiran info agama, tapi bisa jadi cuma pinter scroll, bukan pinter ngerasain. Tazkiyah bikin kita mindful, ganti scrolling dengan remembering (ingat Allah).

· Hidup Serba Cepat: Semua serba instan, bikin hati lelah dan kosong. Iman bisa jadi sekadar identitas di bio medsos. Tazkiyah bikin perjalanan hidup kita ada maknanya, gak caju numpuk aktivitas.

· Kesehatan: Kita rajin check-up fisik, tapi lupa check-up hati. Padahal penyakit hati (sombong, gampang nyinyir, anxious) lebih bahaya. Iman yang bersih ngebangun ketenangan mental.

· Lingkungan Sosial: Dunia pencitraan bikin kita mudah pamer ibadah. Tazkiyah bikin niat kita murni, ibadah untuk Allah, bukan untuk likes.


Manfaat & Tujuannya Buat Hati:


· Hikmah: Hati yang bersih bikin kita selalu ngerasa diawasi Allah (muraqabah). Ibadah terasa nyaman, bukan beban.

· Manfaatnya: Kita jadi lebih tenang waktu susah, low profile waktu dipuji, kuat waktu sendiri, dan lembut waktu bersama orang lain.


Yuk, Muhasabah Diri!


· Iman kita masih sebatas hafalan, atau udah jadi “rasa” yang ngena di hati?

· Kita makin tunduk sama aturan Allah, atau makin pinter aja ngeles?

· Kalo tiba-tiba besok kita mati, udah siap belum bawa “iman” sebagai bekal?


Tips Praktis Bersihin Hati (Tazkiyah):


· Evaluasi harian: Sebelum tidur, hitung dosa-dosa kecil, minta maaf sama Allah.

· Dzikir rutin: Perbanyak istighfar dan shalawat, sesimple apa pun.

· Latihan sadar: Selalu inget kalo Allah lagi liat kita (muraqabah), terutama pas lagi sendirian.

· Lawan 1 penyakit hati per minggu: Misal minggu ini fokus ngurangin iri, minggu depan ngurangin ghibah.

· Me-time sama Allah: Sisihkan 10 menit sehari, jauh dari gadget, cuma berbicara sama-Nya dalam hati.


Doa Penutup:

“Ya Allah, sucikanlah jiwa-jiwa kami dengan ketakwaannya. Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Penolongnya.”

“Ya Allah, jadikan iman kami iman yang hidup, bukan iman yang menunggu kematian untuk yakin.”


---


Akhir kata, thanks banget udah baca sampe sini! Semoga tulisan santai ini bikin kita semua makin semangat buat ngurusin hati, biar iman kita gak cuma jadi bahan obrolan, tapi jadi energi positif yang ngewarnai setiap hal yang kita lakuin. Semoga Allah berkahi selalu! 🙏✨