Tuesday, November 17, 2009

Tanda-tanda Kehamilan

Tanda-tanda Kehamilan


Apa gejala seseorang hamil atau mengandung? Berikut adalah enam tanda kehamilan yang perlu Anda ketahui:

1. Tidak menstruasi adalah tanda awal kehamilan. Perlu diingat bahwa penggunaan pil KB seringkali juga menyebabkan tidak datang bulan.

2. Tanda lainnya yang tidak selalu dirasakan/terjadi pada setiap wanita:

  • Payudara membesar dan menjadi sensitif
  • Peningkatan frekuensi buang air kecil
  • Rasa mudah lelah dan mengantuk.
  • Lebih sensitif terhadap bau
  • Sedikit pendarahan (semburat merah atau merah kecoklatan) yang berlangsung dalam 1-2 hari. Pendarahan ini mungkin disebabkan oleh perlekatan bakal janin ke dinding rahim yang penuh pembuluh darah.
  • “Morning sickness” yang ditandai sakit kepala, mual dan muntah-muntah

3. Tes kehamilan adalah cara yang lebih akurat untuk memastikan kehamilan. Tes kehamilan yang menggunakan indikator serum hCG (human chorionic gonadotropin ) sangat akurat bila dilakukan dalam beberapa hari setelah pembuahan.

4. Detak jantung janin dapat didengar melalui Doppler dalam 10-12 minggu setelah hari terakhir menstruasi (HTM). Detak jantung janin yang normal berkisar antara 120-160 detak per menit.

5. Gerakan janin mulai dapat dirasakan oleh ibunya dalam 17-19 minggu.

6. Ultrasonografi dapat melihat janin yang berusia 5-6 minggu serta mampu mendeteksi gerakan dan detak jantung saat masih berusia 7-8 minggu.

Artikel Terkait:

  1. 10 Masalah Kehamilan
  2. Tiga Trimester Kehamilan
  3. Bagaimana Mencegah Keguguran Kandungan
  4. Mengatasi “Morning Sickness”
  5. 4 Indikasi Medis Aborsi

Mengatasi “Morning Sickness”

Mengatasi “Morning Sickness”


“Morning sickness” adalah pening, mual dan muntah-muntah yang biasanya terjadi di pagi hingga siang hari. Pada beberapa wanita, gejala “morning sickness” bahkan berlanjut hingga sepanjang hari. “Morning sickness” muncul pada minggu ke 4-6 kehamilan dan terus berlanjut hingga maksimal minggu ke-16. Lama dan derajat “morning sickness” berbeda pada setiap wanita.

Penyebab “morning sickness”

Penyebab yang pasti mengenai “morning sickness” tidak diketahui. Namun para dokter menduga bahwa peningkatan hormon progesteron kemungkinan menjadi pemicunya.

Progesteron (hormon kehamilan) membuat otot-otot menjadi lemas agar memudahkan perlekatan embrio, namun juga berefek memperlambat kerja lambung dan pencernaan. Perlambatan kerja lambung tersebut mengakibatkan asam lambung berlebih karena tidak diimbangi pergerakan sistem pencernaan dalam mengangkut makanan. Asam lambung yang berlebih membuat rasa mual dan ingin muntah.

Kemungkinan penyebab lain adalah karena peningkatan serum hCG (human chorionic gonadotopin) dalam tubuh. Serum hCG diproduksi oleh tubuh setelah terjadinya perlekatan embrio dan terus meningkat kadarnya hingga minggu ke-12 kehamilan. Itulah mengapa pada kebanyakan wanita “morning sickness” menghilang setelah minggu ke-12.

Bagaimana mengatasinya?

“Morning sickness” adalah hal yang normal dalam kehamilan. Beberapa dokter memberikan vitamin B6 dan multivitamin untuk meringankan gejala “morning sickness”. Namun, sampai sejauh ini belum ada bukti medis yang menunjukkan korelasi antara pemberian vitamin dan pengurangan “morning sickness”. Suplemen vitamin tampaknya hanya bertujuan agar si calon ibu tidak kekurangan vitamin akibat berkurangnya selera makan dan muntah-muntah.

Istirahat, minum, dan makan makanan kecil sebagai pengimbang sudah cukup untuk mengatasi “morning sickness”. Tentu saja, diimbangi dengan berdoa agar si buah hati bisa berkembang secara normal!

Artikel Terkait:

  1. 10 Masalah Kehamilan
  2. Tiga Trimester Kehamilan
  3. Hubungan Seks Saat Hamil, Amankah?
  4. Kesehatan Gigi pada Masa Kehamilan
  5. Bagaimana Mencegah Keguguran Kandungan

Sekilas Tentang Histerektomi

Sekilas Tentang Histerektomi


abdominal hysterectomyHisterektomi adalah bedah pengangkatan rahim (uterus) yang sangat umum dilakukan. Ada beberapa tingkatan histerektomi, yaitu:

  • Histerektomi total: pengangkatan rahim dan serviks, tanpa ovarium dan tuba falopi
  • Histerektomi subtotal: pengangkatan rahim saja, serviks, ovarium dan tuba falopi tetap dibiarkan.
  • Histerektomi total dan salpingo-oporektomi bilateral: pengangkatan rahim, serviks, ovarium dan tuba falopi.

Penyakit yang diterapi dengan histerektomi

Histerektomi memang sesuatu yang sangat tidak diharapkan, terutama bagi wanita yang masih mendambakan memiliki anak. Namun demikian, seringkali dokter tidak memiliki pilihan lain untuk menangani penyakit secara permanen selain dengan mengangkat rahim. Beberapa jenis penyakit yang mungkin mengharuskan histerektomi antara lain:

  • Fibroids (tumor jinak yang tumbuh di dalam dinding otot rahim)
  • Kanker serviks, rahim atau ovarium
  • Endometriosis, kondisi berupa pertumbuhan sel endometrium di bagian lain dari rahim
  • Adenomyosis, kelainan di mana sel endometrium tumbuh hingga ke dalam dinding rahim (sering juga disebut endometriosis interna)
  • Prolapsis uterus, kondisi di mana rahim turun ke vagina karena ligamen yang kendur atau kerusakan pada otot panggul bawah
  • Inflamasi Pelvis karena infeksi

Setelah menjalani histerektomi, seorang wanita tidak lagi mendapatkan ovulasi dan menstruasi. Hal ini juga berarti berkurangnya produksi hormon estrogen dan progesteron yang dapat menyebabkan kekeringan pada vagina, keringat berlebihan, dan gejala-gejala lain yang umumnya terjadi pada menopause normal. Wanita yang menjalani salpingo-oporektomi bilateral atau pengangkatan kedua ovarium biasanya juga diberi terapi pengganti hormon untuk menjaga tingkat hormon mereka.

Prosedur Histerektomi

Histerektomi dapat dilakukan melalui sayatan di perut bagian bawah atau vagina, dengan atau tanpa laparoskopi. Histerektomi lewat perut dilakukan melalui sayatan melintang seperti yang dilakukan pada operasi sesar. Histerektomi lewat vagina dilakukan dengan sayatan pada vagina bagian atas. Sebuah alat yang disebut laparoskop mungkin dimasukkan melalui sayatan kecil di perut untuk membantu pengangkatan rahim lewat vagina.

Histerektomi vagina lebih baik dibandingkan histerektomi perut karena lebih kecil risikonya dan lebih cepat pemulihannnya. Namun demikian, keputusan melakukan histerektomi lewat perut atau vagina tidak didasarkan hanya pada indikasi penyakit tetapi juga pada pengalaman dan preferensi masing-masing ahli bedah.

Histerektomi adalah prosedur operasi yang aman, tetapi seperti halnya bedah besar lainnya, selalu ada risiko komplikasi. Beberapa diantaranya adalah pendarahan dan penggumpalan darah (hemorrgage/hematoma) pos operasi, infeksi dan reaksi abnormal terhadap anestesi.

Pemulihan dan Diet Pasca Operasi

Pemulihan dari operasi histerektomi biasanya berlangsung dua hingga enam minggu. Selama masa pemulihan, pasien dianjurkan untuk tidak banyak bergerak yang dapat memperlambat penyembuhan bekas luka operasi. Dari segi makanan, disarankan untuk menghindari makanan yang menimbulkan gas seperti kacang buncis, kacang panjang, brokoli, kubis dan makanan yang terlalu pedas. Seperti setelah operasi lainnya, makan makanan yang kaya protein dan meminum cukup air akan membantu proses pemulihan.

Artikel Terkait:

  1. Sakit Ketika Berhubungan Seks: Apa Sebabnya?
  2. Mengapa Sebaiknya Tidak Memilih Operasi Caesar?
  3. Sterilisasi Wanita (Tubektomi)
  4. 4 Indikasi Medis Aborsi
  5. Tiga Tahap Persalinan Normal