Kamis, 25 November 2010

Kuning Karena Wortel?

Kuning Karena Wortel?

Dokter, putri pertama saya (8 bulan) lahir lewat operasi sesar. Saat ini BB 8 kg dan PB 67 cm. Sejak lahir sampai sekarang sudah minum susu formula, kemudian usia 6 bulan diberi makan bubur saring yang campurannya terdiri dari ayam, ikan salmon, hati ayam, dan wortel. Pada usia 7;6 bulan saya bawa ke dokter untuk imunisasi. Kemudian dokter tersebut menanyakan apakah anak saya dikasih wortel? Kemudian saya jawab ya. Lantas dokter menyarankan agar anak saya tidak diberikan wortel dan pepaya dahulu karena mengandung zat karoten yang menyebabkan anak saya jadi kuning. Dokter juga menyarankan agar setiap pagi dijemur di bawah sinar matahari. Saya sudah melakukan instruksi dokter namun kuningnya belum hilang juga. Apa betul kuningnya karena makan wortel? Sampai kapan harus menghindari wortel dan pepaya? Apa ada kaitan dengan orangtua yang pernah sakit kuning? Makanan apa lagi yang mengandung karoten yang harus dihindari? Terima kasih atas jawabannya.

Angelina, Jateng

Beberapa makanan kaya akan betakaroten, seperti wortel, pepaya, dan tomat. Jika diberikan berlebih akan menimbulkan timbunan betakaroten di kulit. Sebaiknya tidak diberi setiap hari apalagi jika digabung dan dalam jumlah cukup banyak. Dapat diberikan, misalnya 2 kali seminggu.

Kuning karena betakaroten beda dengan "penyakit kuning". Kuning karena betakaroten akan tampak agak kemerahan, juga tampak pada mata. Jika karena kelebihan betakaroten, mata tidak akan kuning sedangkan pada "penyakit kuning", mata akan tampak kuning.

Tidak ada hubungan dengan sakit kuning pada orangtua. Setelah makanan yang kaya betakaroten dihentikan, biasanya akan butuh waktu beberapa minggu sampai kuning hilang. Jika kuning sudah hilang, boleh diberi kembali, tapi cukup sekitar 2 kali seminggu saja dan jangan berlebih.

Cabut Gigi Pengaruhi Mata

Cabut Gigi Pengaruhi Mata

Saat ini, anak saya berusia 5 tahun 3 bulan. Gigi bagian atasnya sudah rusak dan hitam-hitam (tinggal tanggal). Sebenarnya hingga kini, ia belum pernah merasakan keluhan-keluhan pada giginya. Sebagai informasi, di tengah-tengah gigi paling atasnya, timbul gigi baru yang menonjol keluar. Rencananya saya ingin mencabut gigi-gigi tersebut, termasuk gigi yang hitam dan yang menonjol tersebut.

Pertanyaan saya:

1. Apakah gigi tersebut boleh dicabut (apakah ada masalah dengan mata kalau gigi paling atas dicabut). Pernah saya mendengar kalau gigi paling atas dicabut akan berakibat pada mata.

2. Pernah saya periksakan dia ke dokter gigi, hanya diberi semacam vitamin dan disuruh datang 2 minggu lagi (baru dicabut). Sampai sekarang saya belum kembali ke dokter gigi tersebut sehingga gigi anak saya pun belum dicabut.

Terima kasih atas jawaban yang diberikan.

Husen - Medan

Mengenai kepercayaan bila gigi paling atas dicabut dapat berakibat pada mata, sebaiknya Bapak abaikan saja, karena hanya merupakan mitos turun menurun dan jelas tidak terbukti secara medis.

Umumnya gigi tetap pengganti gigi susu atas baru akan tumbuh antara usia 7-8 tahun. Jadi ada dua kemungkinan yang terjadi pada anak Bapak (berdasarkan keterangan yang diberikan). Pertama, gigi susunya telah mengalami lubang (karies) cukup dalam sehingga mematikan persarafan gigi yang ada (infeksi). Dengan demikian tulang alveolar di sekitar ujung akar gigi susu mengalami pengurangan. Adanya pengurangan tulang dapat menyebabkan benih gigi tetap pengganti keluar lebih cepat. Kemungkinan kedua, yaitu adanya gigi berlebih (supernumerary teeth). Berdasarkan tanda klinis yang Bapak sebutkan, seperti timbulnya gigi baru di tengah-tengah gigi paling atas.

Untuk menjawab dua kemungkinan tersebut, sebaiknya periksakan gigi si kecil ke dokter gigi spesialis gigi anak. Dokter nanti akan melakukan pengambilan foto keseluruhan gigi (rontgen foto panoramik). Bila kemungkinan pertama yang terjadi maka hanya gigi susu yang akan digantikan yang dicabut, sedang gigi lainnya dipertahankan dengan perawatan saraf gigi. Bila kemungkinan kedua yang terjadi, maka gigi yang berlebih saja yang dicabut, sedangkan gigi susunya tetap dipertahankan dengan perawatan saraf gigi.

Berbintik Merah dan Terkelupas

Berbintik Merah dan Terkelupas

Saya baru punya satu anak,laki-laki (2) dengan BB 15 kg. Saat ini anak saya bermasalah dengan kesehatan kulit, badannya merah-merah seperti biang keringat. Kalau mau sembuh kulitnya akan menghitam dulu (seperti terbakar), tapi seminggu kemudian bintik merah itu timbul lagi. Sejak usia 1,5 tahun, masalah kulit itu hilang bersamaan dengan saya hentikannya penggunaan minyak telon setiap kali habis mandi. Sekarang saya ganti dengan balsam khusus untuk anak-anak. Tapisejak sebulan lalu gejala tersebut timbul lagi.

Kulit telapak tangannya, termasuk ruas jarinya, mengelupas. Sejak dia mulai bisa pipis sendiri, saya ajarkan untuk cuci kemaluannya dan sehabis itu cuci tangan dengan sabun khusus untuk anak-anak. Sampai sekarang kalau cuci tangan dia terbiasa harus pakai sabun. Kalau hanya dibilas air saja dia tidak mau. Dokter, apakah karena dia sering cuci tangan dengan sabun, maka kulit tangannya terkelupas? Ataukah ini gejala suatu penyakit? Benarkah anak saya kekurangan vitamin? Apakah ada obat untuk menormalkan kembali kulit anak saya? Mohon bantuan Dokter untuk menangani masalah ini. Terima kasih.

Didit -­ via email

Tampaknya kulit putra Anda sensitif sehingga mudah timbul reaksi di kulit atau iritasi kalau terkena sesuatu bahan dan zat tertentu. Sebaiknya jangan menggunakan minyak telon atau obat gosok apa pun setiap hari karena tidak jelas dasar medisnya. Bagi yang sensitif malah dapat menimbulkan berbagai reaksi di kulit. Kita tinggal di daerah tropis dan bukan daerah dingin jadi tidak perlu penghangat setelah mandi.

Bagi yang sensitif, minimalkan penggunaan sabun. Tidak perlu setiap kali pipis harus cuci tangan dengan sabun. Jika terpaksa, gunakan sabun bayi yang lembut dan jangan termakan iklan sabun antiseptik. Sabun antiseptik mengandung bahan kimia antikuman yang belum tentu dapat ditoleransi oleh anak yang berkulit sensitif. Jika ia berkeringat, seka dengan lap basah (bukan lap kering) baru kemudian diseka dengan lap kering. Ada baiknya Anda membawanya ke dokter spesialis kulit untuk pemeriksaan dan pengobatan selanjutnya.

Pentingnya Lemak Esensial Buat Si Kecil

Pentingnya Lemak Esensial Buat Si Kecil

Foto: Romy Palar

Banyak orang yang masih salah persepsi mengenai lemak. Padahal, lemak, khususnya lemak esensial, ternyata sangat penting untuk tumbuh kembang anak.

Anak membutuhkan kombinasi karbohidrat, protein, dan lemak untuk tumbuh kembang secara optimal. Cadangan kalori yang dibutuhkan adalah 15% protein, 30% lemak, dan sisanya dari karbohidrat.

Saat ini, beredar persepsi yang salah tentang lemak. Padahal, peran lemak sebenarnya sangat penting untuk pertumbuhan, yaitu sebagai sumber energi dan pertumbuhan sel-sel tubuh. Oleh karena itu, ibu perlu mendapat pengetahuan lebih mengenai jenis lemak untuk tumbuh kembang anak.

Menurut dr. Fiastuti Witjaksono M.S., Sp.GK , setiap hari anak membutuhkan komposisi seimbang antara karbohidrat (50%-60%), protein (15%-20%), lemak (30%) dan berbagai macam vitamin. "Zaman sekarang banyak orang yang fobia pada kata lemak. Ini pendekatan yang salah,” kata dokter spesialis gizi klinik yang akrab dipanggil Fia ini dalam sebuah media workshop di Jakarta.

Persepsi keliru tentang lemak sebaiknya mulai diubah, karena tidak semua lemak jahat untuk tubuh. Bahkan, asupan lemak sebetulnya sangat dibutuhkan tubuh, terutama untuk anak usia 1 hingga 5 tahun supaya pertumbuhannya lebih optimal. Lemak berperan penting sebagai sumber energi dan pertumbuhan sel-sel tubuh, termasuk perkembangan sel otak.

Usia nol hingga tiga tahun merupakan masa paling penting dalam pertumbuhan anak. Perkembangan otak lebih pesat daripada fisik pada masa ini. Bahkan pertumbuhannya mencapai 80 persen dari otak orang dewasa.

Tumbuh Kembang Optimal

Agar tumbuh-kembang anak lebih optimal, asupan lemak sebaiknya memenuhi komposisi 30 persen. Menurut dr. Fia, sangatlah penting mengerti mengenai jenis lemak yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak. Dari total 30% lemak yang dikonsumsi, sebaiknya tidak lebih dari 7% lemak adalah lemak jenuh (SAFA); dan 25% adalah lemak tidak jenuh.

Lalu 25% dari lemak tidak jenuh tadi, 6%-10% adalah lemak tidak jenuh ikatan ganda (PUFA) dan 15% adalah lemak tidak jenuh ikatan tunggal (MUFA). PUFA dan MUFA penting untuk pertumbuhan, PUFA atau lemak esensial yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan yaitu omega 3 dan omega 6.

Asupan lemak esensial yang seimbang merupakan hal yang mendasar bagi tumbuh kembang optimal anak karena dapat membantu membentuk dan mengintegrasi sel-sel membran, sehingga sel membran lebih lentur dan mampu menyerap nutrisi lebih baik dan mempermudah sisa pembuangan keluar dari sel. Lemak esensial juga mempunyai peran dalam sistem saraf dan pembentukan hormon.

Yang tak kalah penting, lemak esensial mempunyai dampak positif terhadap kesehatan kardiovaskular. Pernyataan ini memang sebaiknya mendapatkan perhatian khusus mengingat faktor penyebab penyakit kardiovaskular semakin meningkat di zaman modern ini, dan upaya pencegahannya harus dimulai dari usia dini.

"Anak yang gemuk pun tetap membutuhkan lemak esensial, karena lemak esensial merupakan salah satu komponen dalam pembentukan sel, jadi kalau lemak esensial tidak mencukupi, sel-sel tubuh lebih mudah rusak sehingga dapat menimbulkan berbagi masalah kesehatan," kata dr. Fia menambahkan.

Ada di Air Susu Ibu

Menjaga asupan lemak esensial yang cukup bagi anak tidaklah mudah karena lemak esensial tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh sehingga harus melalui makanan yang dikonsumsi. Oleh karena itu, hendaknya para orang tua mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai sumber makanan yang mengandung lemak esensial sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan lemak esensial anak sehari-hari.

Sayangnya, tambah dr. Ratna Djuwita Hatma, MPH., perwakilan dari PDGMI (Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia) , data yang menjelaskan akan konsumsi lemak esensial anak sangatlah minim, padahal hal ini sangat penting untuk menjadi bahan evaluasi seberapa jauh masyarakat dunia menyadari pentingnya lemak esensial bagi pertumbuhan optimal.

Dari data umum yang dimiliki, terlihat bahwa asupan lemak masyarakat Indonesia khususnya PUFA masih jauh dibawah jumlah yang disarankan, dengan demikian karena lemak esensial adalah bagian dari PUFA, maka dapat disimpulkan konsumsinya pun juga rendah. Penyebabnya bisa dikarenakan asupan makanan yang dikonsumsi tidak banyak mengandung lemak esensial.

Selain dari jenis-jenis makanan tertentu, seperti ikan salmon, alpukat, kacang-kacangan, dan telur, air susu ibu (ASI) ternyata juga mengandung lemak esensial cukup, yakni sekitar 10 persen dari total 30 persen asupan lemak setiap harinya. “ASI sendiri sudah mengandung lemak esensial, namun ibunya juga harus mengonsumsi makanan yang memenuhi asupan pufa yang cukup,” jelas dr. Fia.

Selepas menyusu dengan ASI eksklusif, anak usia 2 tahun ke atas mulai dioptimalkan dengan makanan yang mengandung Pufa. “Anak usia 6 bulan hingga 2 tahun sebenarnya sudah dikenalkan makanan pendamping selain ASI. Selama ASI, asupan lemak esensial masih terpenuhi. Namun, lewat usia dua tahun, konsumsi asupan omega-3 dan omega-6 yang mengandung lemak esensial harus lebih optimal,” jelasnya.
Hasto Prianggoro

Menu Ibu Hamil Penderita Hipertensi

Menu Ibu Hamil Penderita Hipertensi

Halo Dok, saya (31) dengan BB 64 kg dan TB 162 cm. Dalam waktu dekat ini, saya berencana hamil. Tapi ada hal yang cukup mengganggu pikiran saya. Kedua orang tua saya menderita hipertensi. Apakah saya kemungkinan juga menderita penyakit yang sama? Perlu dokter ketahui, saya belum pernah memeriksakan diri pada dokter untuk mengetahui apakah saya hipertensi atau tidak.

Kalau saya ternyata hipertensi juga, apakah saya bisa menjalani kehamilan dengan lancar? Apa menu makanan yang baik buat saya dan janin saya kelak? Adakah makanan yang pantang dikonsumsi? Saya mohon bantuan Dokter dan terima kasih atas penjelasannya.

Ririh ­- Semarang

Ibu Ririh di Semarang, saat ini keadaan gizi Ibu dalam keadaan normal dan sudah siap bila Ibu ingin merencanakan kehamilan. Namun, saya sangat memahami apabila saat ini Ibu mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya hipertensi, mengingat kedua orang tua Ibu menderita hipertensi. Kekhawatiran Ibu memang beralasan karena gejala hipertensi bisa diturunkan dari orang tua.

Untuk itu, apabila Ibu memang merencanakan kehamilan, sebaiknya Ibu memeriksakan tekanan darah Ibu terlebih dahulu sebelum hamil dan pada saat hamil kelak. Kenaikan tekanan darah selagi hamil apabila tidak disertai gejala-gejala lainnya merupakan keadaan yang biasa terjadi selama kehamilan. Namun, apabila kenaikan tekanan darah tersebut disertai dengan bengkak di pergelangan kaki dan air kencing yang keruh (karena ada protein), maka keadaan tersebut preeklamsia. Perlu diwaspadai karena dapat mengancam keselamatan ibu dan Untuk menghindari terjadinya preeklamsia sebaiknya Ibu banyak istirahat selama kehamilan. Lakukan kontrol kesehatan secara rutin sesuai anjuran dokter/bidan yang menangani supaya bisa menjalani kehamilan dengan lancar. Pantang mengonsumsi garam, minum obat-obat tertentu, suplementasi kalsium dan lainnya ternyata tidak memberikan efek yang menguntungkan untuk mencegah terjadinya preeklamsia. Sekali lagi, yang terpenting adalah dengan melakukan kunjungan ke klinik terdekat untuk memeriksakan kesehatan Ibu secara teratur. Jadi, jangan terlalu dikhawatirkan ya Ibu.