Wednesday, April 9, 2025

847u. Seorang Pendosa yang Selamat Berkat Tauhidnya


HADITS KE-2 : LARANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH.

b. Seorang Pendosa yang Selamat Berkat Tauhidnya


Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bahwa beliau bersabda, “Ada seorang laki-laki yang tidak pernah melakukan suatu amal kebaikan sama sekali. Hanya saja ia memiliki tauhid. Ketika kematian akan mendatanginya, ia berwasiat kepada keluarganya, “Hai keluargaku! Ketika aku telah mati nanti maka bakarlah jasadku di atas api sampai kalian melihatnya telah berubah menjadi abu. Kemudian tebarkanlah abu jasadku ke laut di musim angin.” Setelah ia benar-benar mati, keluarganya pun melakukan apa yang ia wasiatkan. Tiba-tiba ia berada dalam kuasa Allah.


“Apa yang membuatmu berwasiat seperti apa yang telah kamu wasiatkan (meminta di bakar dst)?” tanya Allah.


“Aku melakukannya karena takut kepada-Mu,” jawab si laki-laki.


Kemudian Allah mengampuninya karena rasa takutnya kepada-Nya. Padahal ia tidak memiliki amal kebaikan sama sekali kecuali tauhid.



Surah Al-Baqarah ayat 258

Surah Al-Baqarah ayat 258 berisi tentang dialog antara Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan seorang raja yang mengaku sebagai tuhan. Ayat ini bukan hanya narasi, tapi juga mengandung pelajaran, perintah, larangan, dan nasihat yang sangat dalam.

Bunyi ayatnya (QS. Al-Baqarah: 258):
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepadanya kerajaan? Ketika Ibrahim berkata, ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’ dia berkata, ‘Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu bingunglah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”


Perintah dalam ayat ini:

  1. Gunakan akal untuk berpikir dan memperhatikan kisah-kisah orang terdahulu (termasuk debat Nabi Ibrahim).
  2. Berdakwah dengan hikmah dan logika yang kuat, seperti Nabi Ibrahim berdiskusi dengan hujjah yang jelas.

Larangan yang dapat diambil dari ayat ini:

  1. Larangan sombong karena kekuasaan, seperti raja yang merasa dirinya bisa "menghidupkan dan mematikan".
  2. Larangan mendebat kebenaran dengan kesombongan, karena itu hanya akan membawa kesesatan.
  3. Larangan berlaku zalim, karena Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Nasihat dan pelajaran:

  1. Jangan tertipu oleh kekuasaan dunia — itu hanyalah ujian.
  2. Kebenaran pasti menang jika disampaikan dengan bijak dan benar.
  3. Manusia tidak bisa menandingi kekuasaan Allah, meski mereka mengaku bisa.
  4. Allah memberi contoh nyata dalam alam semesta (matahari, hidup-mati) sebagai bukti keesaan-Nya.



819u. Ali dan Laki-Laki Tua Nasrani


HADITS KE-3 : ANJURAN BAGI ORANG YANG BERUMUR UNTUK KEMBALI KEPADA ALLAH.

A. Ali dan Laki-Laki Tua Nasrani 

Diceritakan bahwa suatu ketika Ali rodhiyallahu ‘anhu pergi berjalan cepat untuk menunaikan sholat berjamaah Subuh. Di tengah-tengah jalan, ia melihat orang yang sudah tua tengah berjalan pelan dan tenang di depannya. Ali radhiyallahu ‘anhu tidak mau mendahuluinya karena memuliakan dan mengagungkan orang tua itu karena ubannya. Ali sabar menanti hingga waktu terbit matahari akan menjelang. Ketika orang tua itu sudah sampai di depan pintu masjid, ia tidak masuk ke dalamnya. Ali radhiyallahu ‘anhu tahu kalau orang tua itu ternyata adalah orang Nasrani. Setelah itu, Ali segera masuk masjid dan melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sedang rukuk. Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama    memperlamakan rukuknya seukuran waktu melakukan dua rukuk hingga akhirnya Ali pun mendapati rukuknya shollallahu ‘alaihi wa sallama. Ketika Ali radhiyallahu ‘anhu selesai dari sholatnya, ia bertanya kepada Rasulullah SAW

“Wahai Rasulullah! Mengapa anda tadi memperlamakan rukuk? Padahal anda biasanya tidak seperti itu?” tanya Ali.

Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallama menjawab, “Ketika aku rukuk    dan    membaca

Subhanarobbiya    al-‘Adzimi sebagaimana bacaan rutinku, kemudian aku mau bangun dari rukuk, maka tiba-tiba Malaikat Jibril 14datang dan meletakkan sayapnya di punggungku dan menahannya lama. Ketika Jibril telah mengangkat sayapnya, maka aku pun bangun dari rukukku.

Kemudian orang-orang bertanya ‘Mengapa anda memperlamakan rukuk?’.

Rasulullah SAW menjawab, “Aku tidak mempertanyakan kepada Jibril tentang mengapa ia menahanku. Kemudian Jibril datang dan berkata, ‘Hai Muhammad! Sesungguhnya Ali tengah cepat-cepat pergi untuk berjamaah. Hanya saja, di tengah jalan, ia melihat orang tua Nasrani yang berjalan pelan di depannya sedangkan ia sendiri tidak tahu kalau orang tua itu adalah orang Nasrani. Ia pun tidak mau mendahuluinya demi memuliakan orang tua itu karena ubannya. Ia mengedepankan hak orang tua itu. Kemudian Allah memerintahku untuk menahanmu saat rukuk agar Ali mendapati jamah sholat Subuh bersamamu. Ini bukanlah hal yang aneh. Yang lebih anehnya adalah Allah memerintahkan Mikail menahan matahari agar tidak terbit terlebih dahulu demi Ali.”

 Cerita di atas menunjukkan betapa tingginya derajat atau keutamaan memuliakan orang yang sudah tua padahal orang tua itu adalah orang Nasrani.