Friday, December 11, 2009

LENA, Piranti Deteksi Dini Autisme

LENA, Piranti Deteksi Dini Autisme

Email Cetak PDF

JAKARTA--Gejala autisme mulai tampak pada anak sebelum berusia 3 tahun. Namun, gejala umum yang paling jelas terlihat antara umur 2 - 5 tahun. Namun, pada kasus tertentu, gejala autisma baru terlihat saat si kecil memasuki jenjang sekolah.

Sejumlah riset deteksi dini autisma baru bisa dilakukan pada bayi berumur 18 bulan ke atas. Sehingga orang tua kerap terlambat menyadari bahwa anak-anak mereka menyandang autisma.


Kini, kecenderungan terlambat menyadari bisa dikurangi. Lembaga non profit di AS, Lena Foundation menemukan metode baru untuk mendeteksi gejala dini tiga tahun lebih cepat.

Metode ini bernama LENA Autism Screening Service, sebuah sistem yang merekam keseharian anak dengan menggunakan alat perekam khusus. Alat ini bukan alat biasa, karena mampu menangkap tanda-tanda dari prilaku anak tiga tahun lebih awal. Artinya, bayi berusia setahun mampu dianalis LENA untuk mengetahui apakah prilaku si kecil menunjukan gejala autisma.

Frank J. Sulloway, doktor dari Institute of Personality and Social Research, University of California, Berkeley menilai LENA merupakan metode radikal yang begitu potensial mengubah gaya pengasuhan dan pendidikan anak sekaligus pula sebagai pionir pengembangan teknologi yang begitu bernilai.

Sementara itu, John H.L Hanses dari Erik Jonsson School of Engineering and Computer Science berpendapat," Keberadaan LENA seperti pisau Swiss Army yang membantu peneliti atau ahli bahasa untuk menangani anak atau bayi."

Kehadiran LENA tentu berdampak strategis. Keterlambatan penanganan dapat dicegah sehingga orang tua dapat fokus memberikan anak-anak pelatihan berbicara dan berbahasa dengan tepat dan cepat. Apalagi akurasi alat ini diklaim mencapai 90%.

Cara menggunakannya pun cukup mudah. Orang tua cukup mengikuti tiga langkah sederhana untuk bayi mereka yang berusia 2-3 bulan.

Pagi hari, selipkan Prosesor Bahasa Digital LENA (DLP) ke dalam saku yang didesain khusus untuk baju LENA. Di akhir hari, colokkan DLP ke komputer anda.

Data audio akan menransfer dan software di komputer anda segera menganalisa. Perhatikan laporan tersebut untuk menganalisa percakapan yang dilakukan si kecil sekaligus untuk mengidentifikasi pola bicara di sepanjang hari. Dari laporan tersebut anda juga memperoleh informasi dalam prosentase.

LENA sudah beredar di AS dengan banderol harga 130 Pounds, atau setara dengan 1. 8 juta rupiah. Selain di AS, LENA bakal diperkenalkan kepada publik Inggris dalam waktu dekat.

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Rep: cr2/LenaFoindation/Telegraph

Bayi Lahir Prematur Rentan Autisme

Bayi Lahir Prematur Rentan Autisme

Email Cetak PDF

Bayi-bayi yang lahir di minggu ke 37 hingga minggu 39 memiliki risiko tinggi.

Petti Lubis, Anda Nurlaila

VIVAnews - Walaupun penyebab pasti autisme belum dapat diketahui, sebuah penelitian terbaru menemukan bayi yang lahir lebih cepat satu minggu memiliki risiko mengidap masalah autisme dan gangguan pendengaran.

Bayi lahir pada minggu ke-39 -titik di mana sebagian besar bedah caesar dilakukan- mengalami kesulitan belajar daripada bayi yang lahir pada minggu ke-40.


Seperti yang dikutip dari Telegraph, peneliti menganalisis sejarah kelahiran 400 ribu anak sekolah yang lahir pada minggu ke-37 hingga 39. Mereka yang lahir pada rentang waktu ini berisiko 5,1 persen mengalami kesulitan belajar dan membutuhkan pendidikan khusus. Sementara mereka yang lahir pada minggu ke-40 memiliki tingkat risiko lebih rendah, empat persen.

Jill Pell, profesor kesehatan masyarakat dan kebijakan kesehatan Universitas Glasgow, mengemukakan para dokter dan calon orangtua harus mempertimbangkan risiko kesulitan belajar saat merencanakan operasi caesar.

"Bedah caesar saat ini sering dilakukan lebih cepat seminggu dari waktu lahir. Maka itu, jika membuat keputusan tersebut, pertimbangkan risiko dan manfaat potensialnya," katanya.

Adapun bahaya pada bayi yang lahir dalam 24 minggu pertama memiliki risiko kesehatan autisme dan gangguan perilaku yang sangat tinggi. Dari studi yang sama ditemukan sepertiga bayi lahir pada minggu ke-37 hingga minggu ke-39.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, jumlah orangtua yang memilih operasi caesar meningkat secara signifikan. Dari 400 ribu anak yang diteliti, 18 ribu tergolong memiliki kebutuhan khusus termasuk gangguan perilaku hiperaktif, autis disleksia, tuli serta memiliki penalaran rendah.

Studi ini diterbitkan dalam jurnal Public Library of Science Medicine. (umi)

Awas, Lantai Berbahan PVC Tingkatkan Risiko Autis

.Amelia Ayu Kinanti - detikhot
Autis Child Jakarta Perhatian bagi Anda para orang tua. Sebuah penelitian mengejutkan membuktikan bahwa lantai berbahan PVC dapat meningkatkan risiko anak terkena autis.

PVC atau Vinyl merupakan bahan yang telah dikenal sejak dulu. Biasanya PVC digunakan untuk alat-alat rumah tangga seperti pipa hingga bahan dasar lantai. Namun peneliti asal Swedia, Denmark serta Amerika Serikat menemukan sesuatu yang berbeda.

Dikutip dari Independent, Selasa (14/4/2009) para peneliti tersebut bermaksud menemukan penyebab penyakit autis pada anak-anak. Di Inggris, jumlah anak yang menderita autis sudah mencapai 200 ribu. Oleh karena itu, para peneliti merasa perlu mengetahui penyebab gangguan tersebut.

Selain faktor genetik, para peneliti juga menganggap autis dapat disebabkan oleh faktor eksternal, misalnya racun dari polusi.

Dari penelitian itu terbukti bahwa lantai vinyl yang biasa dipakai di rumah-rumah sangat berbahaya. Dalam lantai tersebut bisa terjadi endapan debu yang mengandung phthalates.

Phthalates merupakan bahan kimia yang dapat membuat plastik menjadi lembut dan fleksibel dan telah digunakan selama bertahun-tahun. Di beberapa negara maju, pemakaian bahan kimia ini sudah dilarang karena efeknya yang buruk bagi kesehatan.

Yang berbahaya, debu yang mengandung Phthalates itu bisa tersedot melalui saluran pernapasan. Debu tadi akan berpengaruh pada kandungan di ibu hamil. Dan kebanyakan, mereka kemudian melahirkan anak yang menderita autis.

Phthalates tak hanya ada di lantai PVC, beberapa barang seperti mainan anak, kosmetik, kemasan makanan, farmasi dan perangkat, serta produk pembersih rumah dan bangunan juga mengandung zat kimia berbahaya tersebut. Ayo lebih hati-hati memilih produk rumah tangga Anda!
(kee/kee)

Pantang Menyerah Menemani Anak Autis

.Nurul Ulfah - detikHealth
Autism Child Jakarta, Tidak ada satu orang tua pun yang menginginkan anaknya terlahir sebagai anak autis. Namun ketika hal itu benar-benar menimpa mereka, tidak ada sikap yang lebih baik lagi selain menerima keadaan mereka apa adanya.

Autis merupakan gejala yang timbul karena adanya gangguan atau kelainan saraf pada otak seseorang. Autis bukanlah suatu penyakit, tapi gejala

Saat ini, banyak orang tua yang khawatir ancaman autis bakal menimpa anaknya. Mereka mulai panik ketika bayi mereka tidak bereaksi keika dipanggil, sering menangis, tidak ada eye contact, tidak tersenyum dan kadang terpukau dengan suatu benda.

Dra. Louisa Maspaitella, M.Psi dari RSAB Harapan Kita pun memaklumi kekhawatiran para orang tua tersebut.

"Saat ini jumlah anak autis di Indonesia banyak sekali, dan wajar saja orang tua ketakutan karena banyak faktor yang dapat menyebabkan seorang anak terkena autis, kita tidak pernah tahu, " ujar psikolog berdarah campuran Jawa dan Ambon tersebut dalam perbincangannya dengan detikhealth.

Dra. Louisa menyebutkan beberapa faktor penyebab autis, diantaranya faktor makanan, psikologi ibu, kurangnya oksigen, bahan-bahan kimia atau obat-obatan dan juga faktor genetik.

"Saya punya seorang pasien anak autis, ironisnya kedua orang tuanya seorang dokter, yang notabennya ahli di bidang medis. Lebih ironisnya lagi, ketiga anak mereka terlahir dalam keadaan autis semua," ungkap wanita yang sehari-harinya disibukkan di RSAB Harapan Kita sebagai ketua tim Poliklinik Parent Education.

Selidik punya selidik, ternyata sang ibu doyan makan kerang yang banyak tercemar oleh limbah zat-zat kimia. "Konsumsi seafood memang sah-sah saja, tapi segala sesuatu yang berlebih memang berakibat buruk," ucap Dra. Louisa.

Dra. Louis, begitu sapaan akrabnya, mengingatkan bahwa ibu hamil memang sangat rentan terhadap berbagai faktor resiko, kesehatan fisik dan psikis pun menjadi dua hal yang harus tetap dijaga.

Terkait dengan autis, gejala lain yang sering menyertai anak autis adalah ADHD. Berbeda dengan autis, Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD ditandai dengan gejala hiperaktif, tidak bisa fokus pada satu kegiatan, tidak bisa diam, sering mengganggu teman dan melakukan akivitas yang jarang dilakukan anak lain pada umumnya.

Anak autis memang bermasalah dalam hal komunikasi dan interaksi sosial, sepertinya mereka memiliki dunianya sendiri. Gejala ADHD pun terkadang hinggap pada mereka, namun tidak semua anak autis disertai dengan gejala ADHD.

"Anak autis belum tentu ADHD, dan begitu pula sebaliknya. Kedua gejala tersebut berbeda satu sama lain. Jika kita ingin tahu apakah seorang anak memiliki gejala ADHD atau tidak, coba dudukkan selama 5 menit saja di depan televisi, pasti ia tidak bisa dan langsung beranjak pergi jika memiliki gejala ADHD," ujar Dra. Louis.

Jika perilaku seorang anak sudah dicurigai sebagai autis atau ADHD, Dra. Louis menyarankan untuk membawanya segera ke dokter atau psikolog.

Orang tua pun harus lebih pintar dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya, faktor apa saja yang memicu perilakunya, tetap menjalin komunikasi dengan anak dan jangan membiarkannya hidup dalam ketidakwajaran.

Namun Dra. Louis pun mengingatkan untuk tidak cepat-cepat memvonis seorang anak hiperaktif. "Tapi jangan salah tanggap juga, anak hiperaktif tidak selalu ADHD. Seorang anak TK umur 5 tahun yang memiliki kemampuan mental sama dengan anak umur 7 tahun, cerdas, aktif dan cepat respon tidak dapat divonis sebagai anak ADHD," ujarnya.

"Yang penting orang tua maupun guru harus tahu apakah perilaku si anak sesuai atau tidak dengan standar usianya. Thomas Alfa Edison aja dianggap bodoh dan dikeluarkan dari sekolah oleh gurunya karena berperilaku aneh, namun justru dialah yang menemukan lampu," tambahnya.

Banyak terapi yang dapat dilakukan untuk menangani anak-anak autis maupun ADHD, diantaranya terapi bicara, okupasi, sensori, diet makanan, floor time, dan lainnya. Namun yag paling penting adalah memberikan terapi sesuai
permasalahannya.

Salah satu cara kreatif yang coba diterapkan Dra. Louis untuk menangani anak ADHD adalah dengan membuat rekaman video. "Orang tua merekam perilaku si anak, kemudian memutarnya kembali untuk membuat si anak tertarik. Lewat video itu, si anak diajarkan perilaku mana yang baik dan mana yang tidak. Bakat, kepribadian dan emosinya pun dapat lebih terpantau. Terapi ini cukup berhasil membuat anak fokus sekaligus mengedukasi anak lewat media yang menarik," ujarnya.

"Orang tua harus kenal dulu penyebabnya apa, dan jangan malu berkomunikasi dengan dokter. Tidak jarang orang tua yang merasa malu dengan keadaan anaknya sehingga membiarkannya begitu saja," ucap wanita yang juga tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) tersebut.

Penanganan autis memang membutuhkan waktu yang lama, ada yang dapat sembuh dan ada juga yang sulit disembuhkan. "Salah satu pasien saya dapat kembali normal ketika sudah mencapai sarjana. Saya tahu dan melihat sendiri, dibalik kesembuhannya itu ada pengorbanan yang luar biasa dari orang tuanya," ujar Dra. Louis.

"Setiap manusia pasti punya kekurangan, tapi jangan terpaku pada kekurangan itu, lihatlah kelebihannya," demikian ucap Dra. Louis.

Cara berpikir para orang tua pun harus diubah, jangan melihat dari sisi negatifnya saja, tapi lihatlah keadaan tersebut sebagai ladang bagi mereka untuk lebih sabar dan ikhlas.

"Anak autis harus diterima apa adanya, hanya dengan mencintai, menghargai dan dorongan untuk terus belajar, ia akan merasa dicintai pula," ucapnya.