π JENAZAH YANG TERASINGKAN
Penulis: M. Djoko Ekasanu
Ada sebuah cerita yang berkaitan dengan hadis di atas bahwa ada seorang laki-laki fasik yang mati pada zaman Nabi Musa ‘alaihi as-salam. Pada saat itu, orang-orang enggan memandikan dan menguburkan jenazahnya karena kefasikannya. Kemudian mereka memegang kakinya, menyeretnya dan membuangnya di tempat kotoran. Kemudian Allah memberikan wahyu kepada Musa ‘alaihi as-salam:
“Hai Musa! Ada seorang laki-laki yang telah mati di kampung ini dan dibuang di tempat kotoran ini. Ia adalah salah satu kekasih-Ku. Orang-orang enggan memandikan, mengkafani, dan menguburkan. Pergilah! Mandikanlah ia! Kafanilah ia! Sholatilah ia! Dan kuburkanlah ia!” perintah Allah.
Kemudian Musa ‘alaihi as-salam mendatangi kampung tersebut dan bertanya kepada penduduk tentang mayit laki-laki itu.
“Laki-laki itu telah mati dalam keadaan demikian dan demikian. Ia adalah orang fasik dan terlaknati,” kata penduduk.
Musa ‘alaihi as-salam bertanya, “Dimana tempat mayitnya? Allah telah memberiku wahyu untuk mengurusnya. Beritahu aku dimana mayit itu berada?”
Lalu penduduk memberitahu dan mengantarkan Musa ke tempat mayit laki-laki itu berada. Akhirnya, Musa pergi ke tempat itu.
Sesampainya Musa di tempat yang diberitahukan oleh penduduk, ia pun melihat mayit laki-laki itu terbuang di tempat kotoran. Penduduk memberitahu kepada Musa tentang keburukan perbuatan-perbuatan si mayit ketika ia masih hidup.
Setelah mereka selesai menjelaskan, Musa bermunajat kepada Allah:
“Ya Allah! Engkau memerintahku untuk mengubur dan mensholati mayit laki-laki itu. Sedangkan orang-orang telah memberikan kesaksian keburukan atasnya. Engkau adalah Dzat yang lebih tahu daripada mereka tentang perihal memuji dan merendahkan,” kata Musa.
Lalu Allah berfirman, “Hai Musa! Benar apa yang telah dikatakan oleh penduduk tentang keburukan perbuatan-perbuatan laki-laki itu, hanya saja laki-laki itu meminta syafaat dari-Ku pada waktu kematiannya dengan merayu-Ku melalui tiga hal yang mana andai seluruh pendosa meminta-Ku dengan rayuan tiga hal tersebut, maka Aku akan memberikannya. Lantas bagaimana bisa Aku tidak mengasihi laki-laki itu? Padahal ia meminta kepada-Ku dengan hatinya. Sedangkan Aku adalah Allah Dzat Yang Maha Paling Mengasihi.”
Musa bertanya, “Apa tiga hal tersebut? Ya Allah!”
Allah menjelaskan, “(Pertama) Ketika ajal laki-laki itu telah dekat. Ia berkata, ‘Ya Allah! Engkau adalah lebih mengetahui daripadaku. Sesungguhnya aku telah melakukan kemaksiatan dengan keadaan hatiku membenci kemaksiatan tersebut. Akan tetapi, ada tiga hal yang terdapat pada diriku hingga aku berani melakukan kemaksiatan itu dengan kondisi hati yang membencinya. Pertama adalah hawa nafsu. Kedua adalah teman buruk. Ketiga adalah Iblis, Semoga laknat Allah menimpanya. Tiga hal ini telah menjerumuskanku ke dalam lubang kemaksiatan. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang mengetahui apa yang aku ucapkan.
Oleh karena itu ampunilah aku!’. (Kedua) Ketika ajal laki-laki itu telah dekat, ia berkata, ‘Sesungguhnya Engkau mengetahui kalau aku telah melakukan kemaksiatan- kemaksiatan dimana posisiku saat itu adalah bersama orang-orang fasik. Akan tetapi aku senang berteman dengan orang-orang sholih dan aku menyukai kezuhudan meraka.
Posisiku bersama mereka adalah lebih aku sukai daripada bersama orang- orang fasik’. (Ketiga) Ketika ajal laki-laki itu telah dekat, ia berkata, ‘Ya Allah! Sesungguhnya Engkau tahu daripadaku kalau orang- orang sholih adalah lebih aku sukai daripada orang-orang fasik hingga andai ada dua orang, yang satu adalah orang sholih dan yang satunya adalah orang buruk, mendatangiku, maka aku akan mendahulukan memenuhi hajat orang satu yang sholih dan mengakhirkan hajat orang satunya yang buruk.’”
(Dalam riwayat Wahab bin Munabbah, perkataan laki-laki yang ketiga adalah) “Ya Allah! Andai Engkau memaafkan dan mengampuni dosa-dosaku maka para wali dan para nabi-Mu akan senang dan setan, musuhku dan musuh-Mu, akan bersedih. Tetapi apabila Engkau menyiksaku, maka setan dan teman-temannya akan senang dan para nabi dan para wali-Mu akan bersedih. Dan aku tahu kalau rasa senang para wali kepada-Mu adalah lebih Engkau sukai daripada rasa senang setan dan teman-temannya.
Oleh karena itu ampunilah aku! Ya Allah! Sungguh Engkau mengetahui apa yang aku ucapkan. Kasihilah aku! Dan maafkanlah aku!” Kemudian Allah berkata, “Aku telah mengasihinya, memaafkannya dan mengampuninya. Sesungguhnya Aku adalah Dzat Yang Pengasih dan Penyayang, terutama kepada orang yang mengakui dosanya di hadapan-Ku. Oleh karena laki-laki ini telah mengakui dosanya maka Aku mengampuni dan memaafkannya. Hai Musa! Lakukanlah apa yang telah Aku perintahkan! Sesungguhnya Aku akan mengampuni orang-orang yang mau mensholati jenazah laki- laki itu dan menghadiri penguburannya dengan perantara kemuliaannya”
Ringkasan Redaksi Aslinya
Kisah ini menceritakan seorang laki-laki fasik di zaman Nabi Musa ‘alaihi as-salΔm yang setelah wafatnya dibuang oleh masyarakat karena kefasikannya. Namun Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa agar memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkannya, sebab Ia adalah kekasih Allah. Ternyata, sebelum meninggal, laki-laki itu telah bertobat dengan penuh keikhlasan, mengakui dosa-dosanya, dan meminta ampun dengan tiga rayuan yang lembut dan jujur. Allah mengampuninya dan memuliakannya karena ketulusan taubatnya.
Latar Belakang Masalah di Jamannya
Pada masa Nabi Musa, hukum syariat dan penegakan moral sangat ketat. Seorang fasik akan dijauhi masyarakat. Namun sering kali manusia menilai dengan pandangan lahiriah, bukan dengan pandangan hati yang hanya dimiliki oleh Allah. Kisah ini muncul untuk menegur umat agar tidak mudah menghakimi dosa orang lain, karena rahmat Allah jauh lebih luas dari dosa hamba-Nya.
Sebab Terjadinya Masalah
Masalah bermula dari sikap masyarakat yang menolak memandikan dan menguburkan jenazah seorang fasik. Mereka hanya melihat keburukan masa lalunya tanpa mengetahui isi hatinya di akhir hayat. Padahal, di saat sekarat, laki-laki itu bertaubat dengan penuh penyesalan dan cinta kepada Allah.
Intisari Judul
“Jenazah yang Terasingkan” adalah simbol dari manusia yang dijauhi karena dosa masa lalu, namun justru mendapatkan rahmat karena keikhlasan taubatnya. Ia bukan hanya terasing dari manusia, tetapi sekaligus dekat dengan Allah.
Tujuan dan Manfaat
- Menumbuhkan rasa tawadhu’ dan kasih sayang terhadap sesama pendosa.
- Mengingatkan bahwa taubat sejati dapat menghapus dosa sebesar apa pun.
- Mengajarkan bahwa penilaian manusia tidak menentukan derajat seseorang di sisi Allah.
- Menjadi pelajaran bagi masyarakat modern agar tidak cepat menghakimi.
Dalil: Al-Qur’an dan Hadis
-
QS. Az-Zumar: 53
“Katakanlah (Muhammad): Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” -
Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim:
“Sesungguhnya Allah lebih gembira terhadap taubat seorang hamba daripada seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.”
Analisis dan Argumentasi
Allah mengajarkan kepada Nabi Musa bahwa rahmat-Nya melampaui keadilan manusia. Walaupun laki-laki itu fasik, ia memiliki hati yang mencintai orang saleh, membenci dosa, dan berharap ampunan. Tiga hal ini menjadi dasar makrifat taubat, di mana pengakuan dosa, cinta kebaikan, dan penyesalan menjadi sebab turunnya rahmat.
Kisah ini juga menunjukkan prinsip “La taqnatu min rahmatillah” — jangan berputus asa dari rahmat Allah. Siapa pun yang kembali dengan hati tulus, akan disambut oleh kasih Allah.
Keutamaan-keutamaannya
- Orang yang bertaubat dengan tulus mendapat ampunan dan kemuliaan di sisi Allah.
- Orang yang menyalatkan dan menguburkan jenazah orang bertaubat akan ikut mendapat ampunan.
- Mengingatkan umat agar berhenti menilai orang dari masa lalunya, sebab mungkin di akhir hidupnya ia menjadi kekasih Allah.
Relevansi di Zaman Teknologi dan Kehidupan Modern
Di era digital, penghakiman sosial begitu mudah — reputasi seseorang bisa hancur karena satu kesalahan yang viral. Kisah ini mengingatkan bahwa fitnah digital dan cyber judgment bisa lebih kejam dari masyarakat zaman dahulu.
Dalam komunikasi dan media sosial, kita perlu menahan diri dari menghina atau menghakimi, sebab hanya Allah yang tahu isi hati manusia.
Dalam dunia kedokteran, kisah ini juga menegaskan pentingnya merawat jenazah dengan penuh hormat, karena kehormatan manusia tidak hilang meski ia berdosa.
Dalam kehidupan sosial, kisah ini mengajarkan rehabilitasi moral, bukan pengucilan.
Hikmah
- Allah melihat hati, bukan sejarah.
- Taubat sejati adalah rahasia antara hamba dan Rabb-nya.
- Rahmat Allah selalu lebih besar daripada dosa manusia.
- Jangan pernah menutup pintu maaf bagi siapa pun.
Muhasabah dan Caranya
- Renungkan dosa pribadi dan akui dengan jujur di hadapan Allah.
- Berhenti menghakimi orang lain.
- Perbanyak dzikir istighfar dan doa agar hati lembut.
- Berteman dengan orang saleh, karena cinta kepada mereka adalah tanda iman.
- Gunakan media dan teknologi untuk kebaikan, bukan untuk menghina orang lain.
Doa
Allahumma inni a’Ε«dzu bika min qalbin laa yakhsha’, wa min nafsin laa tasba’, wa min du’a’in la yusma’, wa min ‘ilmin la yanfa’.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak puas, dari doa yang tidak didengar, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
“Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang senantiasa beristighfar dan menerima kasih-Mu sebelum ajal menjemput.”
Nasihat Para Sufi Besar
-
Hasan al-Bashri:
“Taubat yang benar adalah yang membuatmu malu mengulangi dosa, bukan sekadar menyesal di lisan.” -
Rabi‘ah al-‘Adawiyah:
“Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena aku mencintai-Nya.” -
Abu Yazid al-Bistami:
“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan melihat kehinaannya dan memuliakan Tuhannya.” -
Junaid al-Baghdadi:
“Tanda orang bertobat ialah ketika dosa menjadi beban dan taat menjadi kenikmatan.” -
Al-Hallaj:
“Cinta kepada Allah membakar segala dosa dan menyisakan cahaya ma’rifat.” -
Imam al-Ghazali:
“Jangan lihat siapa yang berkata, tetapi lihat apa yang dikatakan. Sebab kebenaran dapat lahir dari lisan pendosa.” -
Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
“Seandainya engkau jatuh seribu kali dalam dosa, jangan berhenti mengetuk pintu ampunan Allah.” -
Jalaluddin Rumi:
“Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.” -
Ibnu ‘Arabi:
“Rahmat Allah mencakup segala sesuatu, bahkan dosa yang kau sesali adalah tanda rahmat itu telah bekerja dalam dirimu.” -
Ahmad al-Tijani:
“Jangan hina orang berdosa, sebab mungkin di akhir hayatnya Allah menutupnya dengan husnul khatimah, sedangkan engkau belum tahu akhir hidupmu.”
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim.
- Tafsir Ibn Katsir, Juz 23.
- Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam al-Ghazali.
- Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari.
- Risalah al-Qusyairiyah – Imam al-Qusyairi.
- Qashash al-Anbiya’ – Wahab bin Munabbah.
- Diwan Rumi – Jalaluddin Rumi.
- Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi.
Ucapan Terima Kasih
Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang terus mencari hikmah dari kisah para nabi dan orang saleh. Semoga tulisan ini menjadi cermin hati, penguat iman, dan pengingat agar kita tidak menilai seseorang dari masa lalunya, melainkan dari harapan dan taubatnya kepada Allah.
Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang sopan dan santai dari teks tersebut, sambil tetap menjaga kesakralan ayat Al-Qur'an dan Hadits.
π JENAZAH YANG DI-SINGLE OUT
Penulis: M. Djoko Ekasanu Versi: Gaul & Santai
Jadi, ada cerita nyata nih yang relate banget sama sebuah hadits. Alkisah, di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, ada seorang lelaki yang terkenal banget karena kelakuannya yang toxic banget. Pas dia meninggal, warga sekitar pada nggak ada yang mau urus jenazahnya, dari memandikan sampai nguburin, alesannya karena dia dianggep orang fasik.
Akhirnya, mereka main seret aja jenazahnya, dibawa pake narik kakinya terus dibuang ke tempat sampah. Yikes, banget kan?
Tiba-tiba, Allah kasih wahyu ke Nabi Musa: "Hai Musa, ada seorang hamba-Ku yang meninggal di kampung itu dan dibuang ke tempat sampah. Dia itu ternyata salah satu bestie-Ku. Orang-orang pada enggak mau urusin jenazahnya. Cepetan, lu mandiin, lu kafanin, lu sholat-in, lu kuburin!" perintah Allah.
Nabi Musa pun langsung gerak cepat datengin kampung itu dan nanya ke penduduk, "Eh, ada mayat lelaki di mana sih?"
Penduduknya pada jawab, "Oh, yang itu... dia tuh meninggal dalam keadaan toxic banget. Dia orang fasik dan terlaknat."
Nabi Musa langsung klarifikasi, "Bukan, gitu. Dimana mayatnya? Allah baru aja kasih perintah ke gue buat urusin dia. Kasih tau lokasinya dong!"
Akhirnya, penduduk ngasih tau dan ngajak Musa ke tempat si mayat dibuang. Sesampainya di sana, Musa liat sendiri tuh mayat tergeletak di tempat sampah. Penduduk sekitar juga pada nggosipin dan expose semua kesalahan dan keburukan si mayat pas masih hidup.
Setelah dengerin semua tea itu, Musa curhat sama Allah: "Ya Allah, Kamu suruh gue urusin dan sholat-in mayat ini. Tapi semua orang pada kasih testimonial buruk tentang dia. Emang sih, Kamu yang Maha Tahu segalanya."
Allah pun berfirman, "Hai Musa, bener kok apa yang mereka bilang tentang keburukan lelaki ini. Tapi, ada satu hal. Pas lagi sekarat, dia minta ampun sama Aku pake tiga alasan yang bikin Aku luluh. Kalo semua pendosa minta ampun pake tiga alasan kayak gini, pasti Aku kabulin. Masak iya Aku nggak kasih sayang dia? Dia minta pake hati yang tulus, dan Aku kan Allah, Zat yang Paling Kasih Sayang."
Musa penasaran banget, "Apa sih tiga alasannya, Ya Allah?"
Allah jelasin:
1. Alasan #1: Ngaku Salah & Nyalahin "The Real Culprits". Pas udah mau meninggal, dia bilang: "Ya Allah, Kamu lebih tau dari gue. Gue emang sering maksiat, tapi hati gue sebenernya benci banget sama maksiat itu. Cuma, gue kemakan sama tiga hal ini: (1) Hawa nafsu gue yang gue ikutin, (2) Teman-teman toxic yang nyuruh gue, dan (3) Iblis (semoga Allah melaknatnya). Tiga aktor inilah yang ngerusak gue. Kamu kan tau apa yang gue omongin, jadi please, ampunin gue!"
2. Alasan #2: Cinta yang Beda Frekuensi. Dia juga bilang: "Ya Allah, Kamu tau gue sering maksiat dan gue bergaul sama orang-orang fasik. Tapi, hati kecil gue sebenernya kepo dan respect banget sama orang-orang sholeh dan gaya hidup sederhana mereka. Buat gue, vibe bareng mereka tuh lebih healing dan bikin tenang daripada nongkrong sama squad yang fasik."
3. Alasan #3 (Versi Wahab bin Munabbih): "Ya Allah, kalo Kamu ngasih ampun buat gue, para nabi dan wali-Mu pasti senang. Tapi, kalo Kamu nyiksa gue, setan dan kroni-kroninya yang jadi musuh Kamu dan gue malah senang. Dan gue yakin, Kamu lebih suka liat para wali-Mu senang daripada liat setan-setan pada happy. Makanya, ampunin gue dong, Ya Allah! Kasihani gue, maafin gue!"
Allah pun declare: "Gue udah kasih sayang, maafin, dan ampuni dia. Soalnya, Aku emang Maha Pengasih, apalagi buat hamba yang ngaku dosanya di hadapan-Ku. Nah, Musa, sekarang lakuin yang gue suruh! Dan gue janji, gue bakal ngampunin juga orang-orang yang mau ikutan sholat dan nguburin lelaki ini, all because of his honor."
---
π INTISARI CERITA (Versi Singkat)
Cerita ini highlight seorang lelaki fasik di zaman Nabi Musa. Pas meninggal, dia dibuang masyarakat karena reputasi buruknya. Eh taunya, Allah malah nyuruh Nabi Musa urusin jenazahnya karena dia ternyata kekasih Allah. Rahasianya? Sebelum meninggal, dia tobat beneran dengan tiga curhat dari hati yang bikin Allah luluh. Kesimpulannya, jangan nilai orang dari masa lalunya, karena taubat nasuha itu powerful banget.
π‘ HIKMAH & TAKE AWAY BUAT KITA
· Jangan Judge a Book by Its Cover: Jangan asal label orang "fasik" atau "buruk" trus putusin buat ngucilin mereka. Bisa aja di detik-detik terakhir, hatinya berubah dan dia dapet title "kekasih Allah". Hanya Allah yang tau isi hati.
· Taubat Itu Nggak Ada Batasnya: Separah apapun masa lalumu, selama lo tobat beneran dari hati, Allah siap welcome dan kasih second chance. Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah.
· Dalil: QS. Az-Zumar: 53: "Katakanlah (Muhammad): Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."
· Allah Lebih Seneng Lagi Kita Tobat: Bayangin, Allah lebih seneng waktu kita tobat daripada kita yang nemuin barang hilang di padang pasir. That's how much He loves us!
· Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim: "Sesungguhnya Allah lebih gembira terhadap taubat seorang hamba daripada seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir."
· Relevan di Zaman Now: Di era medsos yang penuh cancel culture dan cyberbullying, cerita ini ngingetin kita buat berhenti jadi judge orang lain. Sebelom comment nyinyir atau expose kesalahan orang, inget bahwa kita nggak tau perjalanan hidup mereka sampai akhir. Mind your own business, focus on your own journey.
π️ QUOTES BIKIN HEMAT (Dari Para Sufi)
· Hasan al-Bashri: "Tobat yang bener itu yang bikin lo malu buat ngulangin dosanya, bukan cuma sekedar bilang 'maaf ya Allah' di bibir doang."
· Jalaluddin Rumi: "Luka itu tempat cahaya masuk ke dalam dirimu." (Maksdunya, dari kesalahan dan penyesalan, kita bisa dapet hikmah dan pencerahan).
· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Kalo lo jatuh ke dalam dosa seribu kali, jangan berhenti buat knock-knock pintu ampunan Allah."
· Imam al-Ghazali: "Jangan liat siapa yang ngomong, tapi liat apa yang diomongin. Soalnya, kebenaran bisa aja keluar dari mulut orang yang pernah salah."
π€² DOA PENUTUP (Buat Kamu Baca)
Allahumma inni a’Ε«dzu bika min qalbin laa yakhsha’, wa min nafsin laa tasba’, wa min du’a’in la yusma’, wa min ‘ilmin la yanfa’.
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang nggak khusyuk, dari jiwa yang nggak pernah puas, dari doa yang nggak didenger, dan dari ilmu yang nggak bermanfaat."
"Ya Allah, jadikan kita hamba-hamba-Mu yang rajin minta ampun dan selalu bisa ngerasain kasih sayang-Mu sebelum ajal dateng."
---
Ucapan terima kasih buat lo yang udah baca sampe abis! Semoga kisah ini bikin kita semua makin rendah hati, makin gampang ngasih maaf, dan nggak gampang judge orang lain. Stay humble and keep learning! ππ
