Bab 33 Pemasangan Mizan (Neraca Amal).
Telah datang keterangan didalam hadits: Ketika terjadi kiamat, maka datanglah (sekelompok) umat, tatkala umat ini naik diatas shirath, Nabi saw. menengok kepada mereka, seraya bertanya: Siapa kalian semua?” Mereka menjawab: “Kami adalah umatmu.” Nabi saw bertanya (lagi): “Apakah kamu (menjalankan) atas sariatku?” Maka mereka menjawab: “Tidak.” Lalu Nabi saw. melepaskan mereka dan meninggalkannya. Selanjutnya umat ini ama jatuh ke dalam neraka Jahannam.
Kemudian datanglah umat yang lain, maka Nabi saw. bertanya: Apakah kamu (menjalankan) atas syari’at Nabimu, dan apakah kamu melakukanjalannya Nabi?” Kalau umat ini menjawab dengan: “Ya ” maka mereka akan lewat shirath, dan kalau mereka menjawab: “Tidak,” maka mereka akan jatuh kedalam neraka. Setelah umat Ini masuk kedalam neraka, rnereka lalu mengharapkan syafa’atnya Nabi saw.
........
BERPEGANG TEGUH PADA SYARIAT, MENITI SHIRATH MENUJU KESELAMATAN
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Perlu dicatat terlebih dahulu bahwa riwayat yang Anda kutip tidak dikenal sebagai hadis sahih dalam kitab-kitab hadis utama. Kandungannya dapat dijadikan sebagai nasihat (targhīb wa tarhīb) apabila tidak diyakini sebagai sabda Nabi ﷺ yang pasti, dan selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an serta hadis-hadis sahih. Makna utamanya sejalan dengan ajaran Islam bahwa keselamatan di akhirat bergantung pada iman, keikhlasan, dan mengikuti syariat Rasulullah ﷺ.
Nasehat Tasawuf (Tazkiyatun Nufus)
Dalam pandangan tasawuf, shirath bukan hanya jembatan di atas neraka pada hari kiamat, tetapi juga gambaran jalan lurus yang sedang kita tempuh setiap hari di dunia. Barang siapa istiqamah menempuh jalan Allah, membersihkan hati dari syirik, riya', sombong, hasad, dan maksiat, maka Allah akan memudahkan langkahnya di atas shirath kelak.
Banyak orang mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi cinta sejati dibuktikan dengan mengikuti sunnah beliau. Tasawuf mengajarkan bahwa penyucian hati harus berjalan seiring dengan ketaatan kepada syariat. Tidak ada hakikat tanpa syariat.
Orang yang hanya mengandalkan syafaat, tetapi meremehkan amal saleh dan syariat, telah tertipu oleh angan-angan. Syafaat adalah rahmat Allah yang diberikan kepada hamba yang beriman, bukan alasan untuk bermalas-malasan dalam beribadah.
Dalil Al-Qur'an
1. QS. Ali 'Imran: 31
"Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu."
2. QS. Al-Ahzab: 21
"Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang terbaik bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir."
3. QS. Al-Fatihah: 6
"Tunjukilah kami jalan yang lurus."
Doa ini kita baca setiap hari agar tetap istiqamah di jalan Allah hingga akhir hayat.
Hadis Sahih yang Berkaitan
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini yang bukan darinya, maka ia tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda:
"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara; kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya." (Maknanya masyhur dalam banyak riwayat.)
Hadis Qudsi
Allah Ta'ala berfirman:
"Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya..." (HR. Bukhari)
Hadis qudsi ini menunjukkan bahwa keselamatan dimulai dari ketaatan terhadap syariat, lalu disempurnakan dengan amal-amal sunnah dan keikhlasan.
Muhasabah
Renungkanlah pertanyaan berikut:
- Apakah aku benar-benar mengikuti syariat Rasulullah ﷺ atau hanya mengaku mencintainya?
- Apakah ibadahku dilakukan dengan ikhlas atau demi pujian manusia?
- Apakah lisanku, hartaku, dan waktuku digunakan untuk menaati Allah?
- Jika hari ini aku dipanggil Allah, siapkah aku melintasi shirath?
Cara Bermuhasabah
- Membaca Al-Qur'an setiap hari dan mentadabburinya.
- Menjaga shalat lima waktu berjamaah bagi laki-laki.
- Memperbanyak istighfar dan taubat sebelum tidur.
- Menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ.
- Memilih lingkungan yang mengingatkan kepada Allah.
- Menjauhi maksiat, sekecil apa pun.
- Berdoa agar diwafatkan dalam keadaan istiqamah.
Doa
Allahumma ihdinā ṣ-ṣirāṭal mustaqīm, wa thabbit qulūbanā 'alā dīnik. Allāhumma ajirnā minan nār, wa adkhilnā al-jannata ma'al abrār. Allāhumma arzuqnā ittibā'a sunnati nabiyyika Muḥammadin ﷺ, wa lā taj'alnā minal ghāfilīn. Āmīn.
Artinya:
"Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus dan teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang saleh. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad ﷺ, dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai. Amin."
Penutup
Semoga Allah membersihkan hati kita (tazkiyatun nafs), meneguhkan langkah kita di atas syariat Rasulullah ﷺ, memudahkan kita melewati shirath pada hari kiamat, serta mengumpulkan kita bersama Nabi Muhammad ﷺ di surga Firdaus tanpa hisab dan tanpa azab.
Terima kasih. Semoga Allah membalas perhatian dan semangat Anda dalam menyebarkan ilmu dan nasihat dengan pahala yang berlipat ganda, menjadikannya sebagai amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat. Jazakumullāhu khairan katsīrā. Aamiin.
......
No comments:
Post a Comment