Bab 33 Pemasangan Mizan (Neraca Amal).
Pasal : Keutamaan Mencintai Ulama
Diceritakan didalam hadits: Sesungguhnya Allah Ta’ala ketika menghisab seorang hamba, maka keburukan hamba tersebut lebih berat (daripada) kebaikannya, lalu Allah Ta’ala memerintahkan dengan membawa hamba ini ke neraka, tatkala hamba itu pergi, Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril as.: “Temukan hamba-Ku dan tanyalah dia, apakah ia pernah duduk bersama para ulama sewaktu di dunia, maka Aku akan mengampuni dirinya dengan syafaatnya para ulama itu.” Lalu malaikat Jibril bertanya kepadanya, maka hamba itu menjawab: “Tidak.” Selanjutnya Jibril as. melaporkan (kepada Allah): “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau Dzat Yang lebih Mengetahui tentang keadaan hambamu.” Lalu Allah Ta’ala berfirman: “Tanyakan dia, apakah ia mencintai ulama?” Maka Jibril bertanya kepadanya. Hamba itu menjawab: “Tidak.” Maka Allah Ta’ala berfirman: “Tanyakan dia, apakah dia pernah duduk diatas hidangan para ulama?” Lalu Jibril bertanya kepadanya. Hamba itu menjawab: “Tidak pernah.” Allah berfirman: “Apakah ia pernak bertempat di suatu tempat yang ditempati oleh orang yang alim?” Lalu Jibril bertanya kepadanya. Hamba itu menjawab: “Tidak pernah.” Allah berfirman kepada Jibril: “Tanyakan dia, apakah ia mencintai seseorang yang mencintai ulama?” Hamba itu menjawab: “Ya” Maka Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril: “Ambillah tangannya dan masukkanlah dia ke surga. Sesungguhnya hamba tersebut mencintai seseorang sewaktu dunia, dan orang (yang dicintai) itu menyenangi ulama, maka Aku mengampuni dirinya, sebab barakahnya lelaka (yang dicintai) itu.”
......
MENCINTAI ULAMA, MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH
Menumbuhkan Mahabbah kepada Pewaris Para Nabi dalam Perspektif Tasawuf dan Tazkiyatun Nufūs
Catatan: Riwayat yang Anda kutip dikenal beredar dalam beberapa kitab nasihat dan targhīb, namun para ulama hadis tidak menetapkannya sebagai hadis sahih dari . Oleh karena itu, lebih tepat dijadikan sebagai kisah motivasi (faḍā'il al-a'māl), bukan sebagai dalil pokok akidah. Makna yang dikandungnya tetap selaras dengan banyak dalil sahih tentang kemuliaan ilmu dan para ulama.
Nasehat Tasawuf (Tazkiyatun Nufūs)
Dalam perjalanan menuju Allah, hati tidak akan hidup tanpa cahaya ilmu. Ulama yang ikhlas adalah pewaris para nabi yang membimbing manusia menuju jalan Allah. Mencintai ulama bukanlah sekadar mengagumi pribadi mereka, tetapi mencintai ilmu, akhlak, dan petunjuk yang mereka wariskan.
Orang yang duduk di majelis ilmu akan memperoleh ketenangan hati, keberkahan hidup, dan kelembutan jiwa. Bahkan seseorang yang belum mampu menjadi ulama, namun mencintai orang-orang saleh dan para pencinta ilmu dengan ikhlas, akan mendapatkan limpahan rahmat Allah.
Dalam tasawuf diajarkan bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Karena itu, tanamkan cinta kepada Allah, Rasul-Nya, para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan orang-orang saleh. Cinta yang benar akan melahirkan keteladanan, bukan sekadar kekaguman.
Dalil Al-Qur'an
1. QS. Al-Mujādilah: 11
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
2. QS. Fāṭir: 28
"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
3. QS. At-Taubah: 119
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar."
Hadis yang Berkaitan
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi."
(HR. , )
Beliau juga bersabda:
"Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya."
(HR. dan )
Hadis Qudsi yang Berkaitan
Allah Ta'ala berfirman:
"Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sungguh Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasnya..."
(HR. )
Hadis qudsi ini menunjukkan betapa mulianya orang-orang yang dekat kepada Allah. Ulama yang ikhlas termasuk golongan wali Allah karena ilmu, amal, dan ketakwaannya.
Relevansi di Zaman Sekarang
Di era media sosial, kecerdasan buatan (AI), dan banjir informasi, banyak orang lebih mengenal influencer daripada ulama yang lurus ilmunya. Akibatnya, hati mudah bingung karena mengikuti pendapat yang tidak berdasar.
Tazkiyatun nufūs mengajarkan agar kita memilih guru yang berakhlak, berilmu, dan mengajak kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Jadikan majelis ilmu sebagai kebutuhan hati sebagaimana makanan menjadi kebutuhan jasad.
Muhasabah
Renungkanlah beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah aku telah meluangkan waktu menghadiri majelis ilmu?
- Apakah aku mencintai ulama karena Allah atau hanya karena popularitas?
- Apakah aku mengamalkan ilmu yang telah kupelajari?
- Siapakah orang-orang yang paling memengaruhi hatiku setiap hari?
- Apakah media sosial lebih banyak memenuhi hatiku daripada Al-Qur'an dan majelis ilmu?
Cara Bermuhasabah
- Luangkan waktu 10–15 menit setiap malam untuk mengevaluasi diri.
- Perbanyak membaca Al-Qur'an dan memahami maknanya.
- Hadiri majelis ilmu secara rutin.
- Hormati dan doakan para ulama yang istiqamah.
- Berteman dengan orang-orang saleh yang mencintai ilmu.
- Amalkan satu ilmu setiap hari walaupun sedikit.
- Mohon kepada Allah agar diberi hati yang mencintai orang-orang saleh.
Doa
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ كُلِّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا مُحِبَّةً لِلْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالثَّبَاتَ وَحُسْنَ الْخَاتِمَةِ. آمِينَ.
Artinya:
"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami cinta kepada-Mu, cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada setiap amal yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah hati kami mencintai ilmu dan para ulama yang saleh, anugerahkan kepada kami keikhlasan, keteguhan dalam iman, dan husnul khatimah. Āmīn."
Ucapan Terima Kasih
Jazakumullāhu khairan katsīrā kepada seluruh pembaca. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mencintai ilmu, memuliakan para ulama yang mengamalkan ilmunya, istiqamah menghadiri majelis ilmu, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ, para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh di surga-Nya. Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.
.......
No comments:
Post a Comment