29. Maksiat.
Pasal: Maksiat Badan.
Diantara maksiat badan, antara lain:
54. Menangani (mengurus) anak yatim, atau masjid atau menjabat sebagai juru putus dan lain sebagainya, tapi sebenarnya dia tahu bahwa dia tidak mampu memangku tugas tersebut.
............
Amanah Bukan Kehormatan, tetapi Tanggung Jawab di Hadapan Allah
Bismillahirrahmanirrahim.
Dalam perspektif Tasawuf dan Tazkiyatun Nufus, menerima amanah yang kita ketahui tidak mampu mengembannya bukanlah tanda kemuliaan, melainkan dapat menjadi sebab kehinaan di sisi Allah jika didasari ambisi, cinta jabatan, riya', atau mengutamakan kepentingan dunia.
Seorang salik (penempuh jalan menuju Allah) lebih takut terhadap amanah daripada gembira mendapat kedudukan. Sebab setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat. Hati yang bersih selalu bertanya, "Apakah aku mampu menunaikan hak Allah dan hak manusia dalam amanah ini?"
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya amanah itu pada hari kiamat menjadi penyesalan dan kehinaan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajibannya." (HR. Muslim)
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya..." (QS. An-Nisa': 58)
Muhasabah Diri
Renungkanlah beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah saya menerima amanah karena ingin dipuji manusia atau karena mengharap ridha Allah?
- Apakah saya telah memiliki ilmu dan kemampuan yang memadai?
- Apakah saya telah berusaha belajar agar mampu menjalankan amanah dengan benar?
- Apakah saya menjaga hak orang-orang yang berada dalam tanggung jawab saya?
Cara Membersihkan Jiwa (Tazkiyatun Nufus)
- Ikhlaskan setiap amanah hanya karena Allah.
- Jangan mengejar jabatan, tetapi bersiaplah bila amanah datang kepada kita.
- Terus menuntut ilmu agar mampu menjalankan tugas dengan benar.
- Bersikap jujur mengakui keterbatasan diri dan tidak malu meminta bantuan kepada orang yang lebih ahli.
- Perbanyak istighfar, doa, dan tawakal agar Allah memberi kekuatan serta petunjuk.
Doa
Allahumma inni as'aluka al-huda wat-tuqa wal-'afafa wal-ghina. Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang amanah, ikhlas, jujur, dan mampu menunaikan setiap tanggung jawab yang Engkau titipkan. Jangan Engkau bebankan kepadaku amanah yang aku tidak mampu memikulnya, dan ampunilah segala kelalaianku. Aamiin.
Penutup
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tidak silau oleh kedudukan, tetapi selalu takut kepada hisab-Nya. Semoga setiap amanah menjadi jalan mendekat kepada Allah, bukan menjadi sebab penyesalan pada Hari Akhir.
Jazakumullahu khairan katsiran. Terima kasih atas perhatian dan kesediaan meluangkan waktu untuk membaca. Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat, hati yang bersih, amal yang ikhlas, serta istiqamah dalam menjalankan setiap amanah. Aamiin ya Rabbal 'alamin. :::
..............Maksiat Badan & Amanah
---
29. Maksiat.
Pasal: Maksiat Badan.
Nah, di antara maksiat badan itu ada:
54. Ngurus anak yatim, atau masjid, atau jadi hakim (juru putus), padahal sebenarnya dia tahu kalau dirinya nggak mampu buat ngemban tugas itu. Nah, ini termasuk maksiat badan, lho.
---
Amanah Bukan Kehormatan, Tapi Tanggung Jawab di Hadapan Allah
Bismillahirrahmanirrahim.
Gini, dalam pandangan Tasawuf dan Tazkiyatun Nufus, kalau kita nerima amanah padahal tahu nggak sanggup, itu bukan tanda kemuliaan, ya. Malah bisa jadi penyebab kehinaan di sisi Allah, apalagi kalau didorong ambisi, cinta jabatan, riya', atau kepentingan duniawi.
Seorang salik (pejalan rohani) itu lebih takut sama amanah daripada seneng dapet jabatan. Soalnya, setiap amanah pasti bakal dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat. Hati yang bersih pasti bertanya, "Aku mampu nggak sih nunaikan hak Allah dan hak manusia dalam amanah ini?"
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya amanah itu pada hari kiamat menjadi penyesalan dan kehinaan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajibannya." (HR. Muslim)
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya..." (QS. An-Nisa': 58)
---
Muhasabah Diri: Yuk Renungkan!
Coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini, ya:
· Apakah njenengan menerima amanah karena ingin dipuji manusia, atau karena mengharap ridha Allah?
· Apakah njenengan telah memiliki ilmu dan kemampuan yang memadai?
· Apakah njenengan telah berusaha belajar agar mampu menjalankan amanah dengan benar?
· Apakah njenengan menjaga hak orang-orang yang berada dalam tanggung jawab njenengan?
---
Cara Bersihin Jiwa (Tazkiyatun Nufus)
Biar jiwa kita bersih, lakuin ini:
1. Ikhlasin semua amanah cuma karena Allah.
2. Jangan ngejar jabatan, tapi siap-siap aja kalau amanah datang ke kita.
3. Terus belajar biar makin mampu jalani tugas dengan benar.
4. Jujur ngakuin keterbatasan, dan nggak malu minta bantuan ke ahlinya.
5. Perbanyak istighfar, doa, dan tawakal, biar Allah kasih kekuatan dan petunjuk.
---
Doa
Allahumma inni as'aluka al-huda wat-tuqa wal-'afafa wal-ghina. Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang amanah, ikhlas, jujur, dan mampu menunaikan setiap tanggung jawab yang Engkau titipkan. Jangan Engkau bebankan kepadaku amanah yang aku tidak mampu memikulnya, dan ampunilah segala kelalaianku. Aamiin.
---
Penutup
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang nggak silau sama kedudukan, tapi selalu takut sama hisab-Nya. Semoga setiap amanah jadi jalan buat makin deket ke Allah, bukan malah jadi penyesalan di Hari Akhir.
Jazakumullahu khairan katsiran. Makasih banyak udah meluangkan waktu buat baca. Semoga Allah kasih ilmu yang bermanfaat, hati yang bersih, amal yang ikhlas, dan istiqamah dalam menjalani setiap amanah. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
..........

No comments:
Post a Comment