Senin, 29 September 2025

787qot. CARA BERIMAN TERHADAP HARI AKHIR.



CARA BERIMAN TERHADAP HARI AKHIR? 

Jika ditanyakan kepadamu: "Bagaimana cara kamu iman terhadap adanya hari akhir?". Permulaannya adalah dari tiupan sangkakala yang kedua, tiupan itu adalah tiupan pembangkitan, diberi nama hari akhir karena hari itu adalah hari terakhir dari kehidupan dunia, dan juga dinamakan Kiamat, karena pembangkitan manusia pada hari itu dari kuburnya. 

Maka hendaklah kamu barkata: Sesungguhnya Allah swt. akan mematikan para makhluk yang berupa hayawanat yang mempunyai ruh, kesemuanya. Firman Allah: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati". 

Kematian tidak akan terjadi kecuali dengan Ajal, yaitu waktu yang mana Allah telah menetapakan di Azal akan akhir kehidupan sesuatu, maka sesuatu tidak akan mati tanpa Ajal baik secara dibunuh atau lainnya. Firman Allah: "Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya". Yaitu, sesuatu tidak akan mati kecuali dengan ketetapan dan kehendak Allah, atau dengan izin-Nya kepada malaikat maut dalam mencabut nyawanya. Allah telah menetapkan kematian itu dengan ketetapan yang telah ditentukan waktunya, yang tidak akan didahulukan dan tidak pula diakhirkan. Kecuali (dari yang tidak akan dimatikan) orang yang berada di surga dan neraka, kemudian Allah akan menghidupkan mayit dengan mengembalikan ruh pada semua badan guna pertanyaan dua malaikat Mungkar dan Nakir, setelah pertanyaan tersebut Allah megeluarkan ruh dari mayit tersebut, dan Allah akan meng-adzab orang yang dikehendaki untuk diadzab-Nya, dengan menciptakan pada si mayit suatu bentuk kehidupan dengan disebabkan berhubungannya ruh dengan jasad, sebagaimana berhubungannya sinar matahari dengan bumi, dengan ukuran sakit yang dirasakan, maka tersiksalah ruh bersama jasad meskipun ia berada di luar jasad.

Adapun orang kafir adzabnya kekal sampai hari kiamat, dan adzab akan diangkat dari orang mukmin pada hari Jum'at dan bulan Ramadlan karena penghormatan pada nabi Muhammad saw., jika orang mukmin tersebut mati pada hari atau malam jum'at maka adzabnya hanya seketika (satu saat) begitu juga dengan kesempitan kubur, lalu akan dihentikan dan tiadak akan terulang kembali sampai hari kiamat. Allah akan menghidupkan mereka setelah binasanya mereka dengan mengembalikan ruh-ruh pada jasad-jasadnya. Allah berfirman : "Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah Kehidupan tersebut dengan tiupan pembangkitan setelah kematian mereka, dengan tiupan yang mengagetkan/mencengangkan, jarak antara kedua tiupan tersebut adalah empat puluh tahun. Firman Allah : "Dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)". 

Setelah kehidupan tersebut mereka akan digiring dalam keadaan tidak memakai alas kaki dan telanjang bulat ke padang mahsyar, yaitu Ardlun Baidla' (bumi yang putih) yang tidak sedikitpun kamu melihat padanya tempat yang rendah dan tempat yang tinggi, dan Allah akan menggumpulkan mereka unuk pertanggung jawaban dan hisab (perhitungan). Firman Allah : "(ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan". 

Dan Allah akan menghisab (membuat perhitungan) mereka. Firman Allah : "Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan". 

Diantara mereka ada yang dimintai perhitungan dengan berat secara terbuka (didepan umum) karena kehinaannya, dialah orang yang pada hari itu diberi kitab amal yang telah ditulis malaikat Hafadhah selama masa hidupnya dari belakang punggungnya, orang tersebut adalah orang kafir atau orang munafik yang tangan kanannya dibelenggukan pada leher dan tangan kirinya diletakkan dibelakang punggungnya, dengan tangan kiri itulah ia akan mengambil kitab amalnya. 

Diantaranya lagi terdapat orang yang Allah tidak membuat perhitungan padanya dihadapan para malaikat dan yang lainnya, dengan menutupi terhadap orang tersebut, akan tetapi Allah membuat perhitungan padanya secara langsung, dan Allah akan mmperlihatkan amalnya pada orang tersebut dengan berfirman: ”Ini amal-amalmu yang telah kamu kerjakan di dunia, dan Aku telah menutupinya atasmu, dan hari ini Aku telah mengampunimu", dialah orang yang pada hari itu diberi kitab amal dari depan, orang tersebut adalah orang mukmin yang taat. 

Adapun kitab amal diciptakan setelah pemiliknya mati yang berada disebuah lemari dibawah Arsy, apabila mereka telah berada di Mauqif (tempat menunggu) maka Allah mengutus angin lalu angin tersebut menerbangkannya, tiap-tiap lembaran akan menempel pada leher pemiliknya yan tidak akan luput pada pemiliknya, kemudian malaikat mengambil lembaran-lembaran tersebut dari leher-leher pemiliknya dan menyerahkannya pada tangan-tangan mereka lalu mereka mengambilnya.

.........

KEUTAMAAN SHALAT DUA RAKAAT UMAT NABI MUHAMMAD SAW



📰 RAHASIA KEUTAMAAN SHALAT DUA RAKAAT UMAT NABI MUHAMMAD SAW.

Penulis: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Aslinya

Shalat dua rakaat yang dilakukan oleh umat Nabi Muhammad SAW, meski tampak ringan, memiliki rahasia keutamaan yang agung di sisi Allah. Shalat itu dapat mengungguli dunia dan seisinya, karena ia mengandung ikatan langsung antara hamba dan Tuhannya. Para ulama sufi menyingkap rahasia spiritual di balik ibadah singkat tersebut sebagai jalan menuju ma’rifatullah.


Maksud dan Hakekat

Maksud pembahasan ini adalah menyingkap nilai hakiki ibadah kecil namun ikhlas. Hakekat shalat dua rakaat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan pengakuan hamba atas kebesaran Allah dan kerendahan dirinya.


Tafsir dan Makna Judul

“Rahasia Keutamaan Shalat Dua Rakaat Umat Nabi Muhammad SAW” berarti: ada dimensi tersembunyi di balik ibadah sederhana yang hanya dilakukan oleh umat beliau. Satu rakaat bernilai cahaya, dan dua rakaat menjadi gerbang menuju kesempurnaan iman.


Tujuan dan Manfaat

  1. Meneguhkan keyakinan bahwa amal kecil bernilai besar bila ikhlas.
  2. Mengajarkan kesederhanaan dalam ibadah sebagai pintu menuju Allah.
  3. Memberikan motivasi kepada umat agar tidak meremehkan ibadah ringan.
  4. Menumbuhkan cinta kepada sunnah Nabi SAW.

Latar Belakang Masalah di Jamannya

Di masa Nabi SAW, orang-orang kafir Quraisy sering meremehkan ibadah shalat yang dianggap tidak masuk akal. Sebaliknya, Nabi SAW menegaskan bahwa shalat adalah tiang agama. Dua rakaat yang ringan bahkan lebih berharga dari dunia.


Intisari Masalah

Nilai shalat bukan terletak pada panjang atau pendeknya, tetapi pada keikhlasan dan kehadiran hati.


Sebab Terjadinya Masalah

Manusia cenderung mengukur nilai ibadah dari besar kecilnya bentuk lahiriah. Padahal, Allah menilai hati dan niat.


Dalil Qur’an dan Hadis

  • Al-Qur’an:
    وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
    “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)

  • Hadis:
    “Shalat dua rakaat yang dilakukan oleh seorang mukmin lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Ibnu Hibban)


Analisis dan Argumentasi

Secara teologis, shalat adalah sarana tahqiq tauhid. Secara psikologis, shalat dua rakaat menenangkan jiwa. Secara sosial, ia mengingatkan umat bahwa hubungan dengan Allah lebih utama daripada kenikmatan dunia.


Relevansi Saat Ini

Di zaman materialisme, manusia sibuk mengejar dunia. Shalat dua rakaat dapat menjadi rem spiritual agar manusia tidak terjerumus dalam keserakahan.


Hikmah

  1. Shalat dua rakaat dapat membuka pintu ma’rifat.
  2. Ia menjadi tanda cinta Allah kepada hamba-Nya.
  3. Menjaga keistiqamahan dalam amal kecil lebih mudah daripada amal besar.

Muhasabah dan Caranya

  • Muhasabah: tanyakan pada diri sendiri, apakah shalatku sudah khusyuk? Apakah dua rakaatku bernilai ikhlas?
  • Caranya: lakukan dengan penuh wudhu, tenang, tidak terburu-buru, hadirkan hati, niatkan lillahi ta‘ala.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلاَتَنَا نُوْرًا لِقُلُوْبِنَا، وَسَبَبًا لِقُرْبِنَا إِلَيْكَ، وَمَغْفِرَةً لِذُنُوْبِنَا.

(Ya Allah, jadikanlah shalat kami cahaya bagi hati kami, sebab kedekatan kami kepada-Mu, dan penghapus dosa-dosa kami).


Nasehat Ulama Sufi

  • Hasan al-Bashri: “Shalatlah seakan-akan engkau berpamitan dengan dunia.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau ingin surga, melainkan karena cinta-Mu.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Dalam dua rakaat aku menemukan Allah memenuhi hatiku.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Shalat adalah mi‘raj ruhani seorang mukmin.”
  • Al-Hallaj: “Dalam sujud aku lenyap, hanya Allah yang nyata.”
  • Imam al-Ghazali: “Rahasia shalat adalah khusyuk, inti khusyuk adalah hadirnya hati.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan lalaikan dua rakaat, karena di situlah Allah menyingkap rahasia-Nya.”
  • Jalaluddin Rumi: “Shalat adalah tarian jiwa bersama Sang Kekasih.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Setiap rakaat adalah perjalanan menuju hakikat wujud.”
  • Ahmad al-Tijani: “Shalat kecil sekalipun, bila ikhlas, lebih mulia dari amal besar tanpa ikhlas.”

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Shahih Bukhari & Muslim
  3. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  4. Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah
  6. Diwan Rumi – Jalaluddin Rumi
  7. Risalah al-Qusyairiyah – Imam al-Qusyairi
  8. Tazkirat al-Auliya – Fariduddin Attar

Ucapan Terima Kasih

Karya ini penulis persembahkan kepada para guru, ulama, dan sufi yang telah membuka jalan cahaya. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin dan menambah kecintaan kepada shalat.


🖊 Penulis: M. Djoko Ekasanu