Sabtu, 19 April 2025

827u. Ali dan 6 Dirham

 HADITS KE-11 : ANJURAN ZUHUD TERHADAP DUNIA.


a. Ali dan 6 Dirham

Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa ia berkata kalau Ali memberitahunya, “Suatu ketika, Ali pulang dari menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama dan menuju rumahnya sampai ia menemui Fatimah, putri Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Ali melihatnya tengah duduk sambil memintal bulu dan Salman al-Farisi berada di depannya sambil mengulurkan bulu kepadanya.

‘Hai wanita mulia! Apakah kamu memiliki sesuatu yang dapat diberikan untuk makanan untamu?’ 70tanya Ali.

“Demi Allah! Aku tidak memiliki apa-apa. Tetapi ini ada 6 (enam) dirham yang aku dapatkan dari Salman karena memintal bulu dan aku berencana menggunakannya membeli makanan untuk Hasan radhiyallahu ‘anhu dan Husain radhiyallahu ‘anhu,” jawab Fatimah.

“Hai wanita mulia! Berikanlah 6 dirham itu kepadaku,” pinta Ali Karramallahu Wajhahu.

Kemudian Fatimah memberikan 6 dirham itu di telapak tangan Ali. Kemudian Ali pergi keluar membeli makanan. Tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri dan berkata:

“Siapa yang akan menghutangi Allah Yang Maha Mengatur Segala Urusan dan Yang Memenuhi Janji?”

Kemudian Ali mendekati laki-laki itu dan memberikan 6 dirham itu kepadanya.

Ali pun kembali pulang ke rumah Fatimah dengan tangan kosong. Ketika Fatimah melihatnya tanpa membawa apa-apa, ia pun menangis.

“Wahai wanita mulia! Apa yang membuatmu menangis?” 71tanya Ali.

“Mengapa kamu 71datang kembali dengan tangan kosong?” 71tanya Fatimah.

“Wahai wanita mulia! Aku telah menghutangkan 6 dirham itu kepada Allah,” jawab Ali.

“Sungguh kamu telah diberi taufik,” kata Fatimah.

Kemudian Ali keluar rumah hendak pergi menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Tiba-tiba ada seorang Baduwi yang sedang menuntun unta. Kemudian Ali mendekatinya.

“Hai bapak Hasan! Belilah untaku ini!”

“Aku tidak punya harta buat membelinya,”

“Aku menjual unta ini kepadamu dengan transaksi jual beli ta’khir (membayar belakangan).”

“Berapa harganya?” 

100 dirham.” “Baiklah! Aku beli.”

Setelah unta itu terbeli, tiba-tiba ada Baduwi lain mendatangi Ali dan berkata:

“Hai bapak Hasan! Apakah kamu menjual untamu?”

“Iya! Aku menjualnya” “Berapa harganya?” “300 dirham.”

“Baiklah! Aku membeli untamu.”

Kemudian Baduwi itu membayar kontan 300 dirham kepada Ali. Kemudian Ali memegang tali

kendali yang terpasang pada unta dan menyerahkannya kepada Baduwi.

Setelah menerima 300 dirham, Ali kembali ke rumah Fatimah radhiyallahu ‘anhu. Sesampai di rumah, Fatimah melihatnya dan ia tersenyum, kemudian berkata:

“300 dirham apa ini? Hai bapak Hasan!”

“Hai putri Rasulullah! Aku membeli unta dengan membayar belakangan dengan harga 100 dirham. Kemudian aku menjual unta itu dengan harga 300 dirham dan dibayar kontan,” jelas Ali.

“Sungguh kamu diberi taufik” lanjut Fatimah.

Setelah itu, Ali keluar hendak menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Ketika ia sampai di pintu masjid, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama melihatnya dan tersenyum kepadanya. Ketika sudah saling berhadapan, beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata:

“Hai bapak Hasan! Akankah kamu yang bercerita kepadaku atau aku yang bercerita kepadamu?”

“Anda yang bercerita kepadaku. Wahai Rasulullah!” jawab Ali

Rasulullah bertanya, “Hai bapak Hasan! Apakah kamu mengenal orang Baduwi yang menjual unta kepadamu dan orang Baduwi yang membeli unta darimu?”

“Allah dan Rasul-Nya adalah lebih tahu,” jawab Ali.

Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallama menjelaskan, “Beruntung sekali kamu! Hai Ali! Kamu menghutangi Allah 6 dirham. Kemudian Allah memberimu 300 dirham sebagai ganti dari masing- masing 6 dirham adalah 50 dirham. Baduwi yang pertama adalah Jibril ‘alaihi as-salam dan Baduwi yang kedua adalah Isrofil ‘alaihi as-salam.”

Dalam riwayat lain disebutkan “Baduwi yang kedua adalah Mikail ‘alaihi as-salam.”


Kamis, 17 April 2025

Rahasia istighfar.

 

InsyaaAllah, tulisan dan pengingat yang sangat indah dan penuh hikmah. Istighfar memang bukan sekadar ucapan, tapi ia adalah kunci pembuka rahmat Allah ﷻ. Ada rahasia besar di balik istighfar yang mungkin jarang kita sadari.

Apa rahasia besar di balik istighfar hingga bisa membuka empat jalan keluar seperti dalam QS. Nuh?

  1. Istighfar adalah pengakuan bahwa kita hamba yang lemah dan penuh dosa
    Ketika seseorang beristighfar, itu tanda ia tawadhu' (rendah hati), menyadari bahwa dirinya butuh Allah. Ini adalah bentuk ketundukan yang paling dasar—dan Allah sangat mencintai hamba-Nya yang datang dalam keadaan hina dan bersalah, lalu memohon ampun.

  2. Istighfar membuka pintu rahmat
    Dalam banyak ayat, Allah menggandengkan antara ampunan dan rahmat. Ketika kita diampuni, bukan hanya dosa yang dihapus, tapi juga hati kita dibersihkan, hidup kita dilapangkan, dan rahmat Allah dicurahkan dalam bentuk yang nyata: hujan, rezeki, keturunan, dan keberkahan alam.

  3. Istighfar mengundang cinta Allah
    Dalam QS. Al-Baqarah: 222, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.”
    Siapa yang dicintai Allah, maka tidak ada satu makhluk pun yang bisa menahannya dari limpahan nikmat dan pertolongan.

  4. Istighfar menyelesaikan masalah yang bahkan belum kita sadari
    Kadang kita tidak tahu bahwa kesulitan hidup yang kita alami adalah akibat dosa-dosa yang belum kita sadari. Istighfar membersihkan jalan hidup kita dari penghalang-penghalang yang tak kasat mata.

Maka, rahasianya adalah karena istighfar menghubungkan langsung seorang hamba dengan sumber segala kebaikan: Allah Azza wa Jalla.

Semoga kita dimudahkan untuk menjadikan istighfar sebagai amalan harian. Cukuplah kita meneladani Nabi Muhammad ﷺ yang beristighfar lebih dari 70 kali sehari, padahal beliau maksum.