Jumat, 11 Desember 2009

Bayi Lahir Prematur Rentan Autisme

Bayi Lahir Prematur Rentan Autisme

Email Cetak PDF

Bayi-bayi yang lahir di minggu ke 37 hingga minggu 39 memiliki risiko tinggi.

Petti Lubis, Anda Nurlaila

VIVAnews - Walaupun penyebab pasti autisme belum dapat diketahui, sebuah penelitian terbaru menemukan bayi yang lahir lebih cepat satu minggu memiliki risiko mengidap masalah autisme dan gangguan pendengaran.

Bayi lahir pada minggu ke-39 -titik di mana sebagian besar bedah caesar dilakukan- mengalami kesulitan belajar daripada bayi yang lahir pada minggu ke-40.


Seperti yang dikutip dari Telegraph, peneliti menganalisis sejarah kelahiran 400 ribu anak sekolah yang lahir pada minggu ke-37 hingga 39. Mereka yang lahir pada rentang waktu ini berisiko 5,1 persen mengalami kesulitan belajar dan membutuhkan pendidikan khusus. Sementara mereka yang lahir pada minggu ke-40 memiliki tingkat risiko lebih rendah, empat persen.

Jill Pell, profesor kesehatan masyarakat dan kebijakan kesehatan Universitas Glasgow, mengemukakan para dokter dan calon orangtua harus mempertimbangkan risiko kesulitan belajar saat merencanakan operasi caesar.

"Bedah caesar saat ini sering dilakukan lebih cepat seminggu dari waktu lahir. Maka itu, jika membuat keputusan tersebut, pertimbangkan risiko dan manfaat potensialnya," katanya.

Adapun bahaya pada bayi yang lahir dalam 24 minggu pertama memiliki risiko kesehatan autisme dan gangguan perilaku yang sangat tinggi. Dari studi yang sama ditemukan sepertiga bayi lahir pada minggu ke-37 hingga minggu ke-39.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, jumlah orangtua yang memilih operasi caesar meningkat secara signifikan. Dari 400 ribu anak yang diteliti, 18 ribu tergolong memiliki kebutuhan khusus termasuk gangguan perilaku hiperaktif, autis disleksia, tuli serta memiliki penalaran rendah.

Studi ini diterbitkan dalam jurnal Public Library of Science Medicine. (umi)

Awas, Lantai Berbahan PVC Tingkatkan Risiko Autis

.Amelia Ayu Kinanti - detikhot
Autis Child Jakarta Perhatian bagi Anda para orang tua. Sebuah penelitian mengejutkan membuktikan bahwa lantai berbahan PVC dapat meningkatkan risiko anak terkena autis.

PVC atau Vinyl merupakan bahan yang telah dikenal sejak dulu. Biasanya PVC digunakan untuk alat-alat rumah tangga seperti pipa hingga bahan dasar lantai. Namun peneliti asal Swedia, Denmark serta Amerika Serikat menemukan sesuatu yang berbeda.

Dikutip dari Independent, Selasa (14/4/2009) para peneliti tersebut bermaksud menemukan penyebab penyakit autis pada anak-anak. Di Inggris, jumlah anak yang menderita autis sudah mencapai 200 ribu. Oleh karena itu, para peneliti merasa perlu mengetahui penyebab gangguan tersebut.

Selain faktor genetik, para peneliti juga menganggap autis dapat disebabkan oleh faktor eksternal, misalnya racun dari polusi.

Dari penelitian itu terbukti bahwa lantai vinyl yang biasa dipakai di rumah-rumah sangat berbahaya. Dalam lantai tersebut bisa terjadi endapan debu yang mengandung phthalates.

Phthalates merupakan bahan kimia yang dapat membuat plastik menjadi lembut dan fleksibel dan telah digunakan selama bertahun-tahun. Di beberapa negara maju, pemakaian bahan kimia ini sudah dilarang karena efeknya yang buruk bagi kesehatan.

Yang berbahaya, debu yang mengandung Phthalates itu bisa tersedot melalui saluran pernapasan. Debu tadi akan berpengaruh pada kandungan di ibu hamil. Dan kebanyakan, mereka kemudian melahirkan anak yang menderita autis.

Phthalates tak hanya ada di lantai PVC, beberapa barang seperti mainan anak, kosmetik, kemasan makanan, farmasi dan perangkat, serta produk pembersih rumah dan bangunan juga mengandung zat kimia berbahaya tersebut. Ayo lebih hati-hati memilih produk rumah tangga Anda!
(kee/kee)