Pembaca Alqur-an yang Mengabaikan Halal dan Haram
Hai, Ali, barangsiapa yang membaca Alqur-an tetapi enggan menghalalkan (mengamalkan) apa yang dihalalkan di dalamnya dan tidak mengharamkan (menjauhi) apa yang diharamkan di dalamnya, maka dia termasuk golongan orang-orang yang melemparkan kitab Allah ke belakang punggung mereka.
Keterangan:
Dalam hadis Nabi Muhammad saw. dijelaskan:
Demi Dzat Yang Menguasai diri Muhammad, sesungguhnya Malaikat Zabaniyyah itu lebih mendahulukan menyambar orang-orang yang hafal Alqur-an daripada para penyembah patung. Para penghafal Alqur-an itu dicampakkan ke dalam neraka bersama para penyembah patung. Mereka, orang-orang yang hafal Alqur-an, protes kepada Allah seraya berkata: Hai, Tuhan kami, mengapa Engkau mencampurkan kami semua ke dalam neraka bersama orangorang yang telah memakan rezeki-Mu, tetapi menyembah selain Kamu? Padahal kami ketika hidup membaca kitabMu. Allah swt. berfirman: Benar hamba-hamba-Ku yang jelek. Kamu semua memang membaca kitab-Ku (Alqur-an), tetapi kamu semua tidak menghalalkan apa yang dihalalkan, tidak mengharamkan apa yang Aku haramkan, tidak mau merenungkan keajaiban-keajaibannya, dan tidak pula mengamalkan hukum-hukumnya. Orang yang alim itu tidaklah sama dengan orang bodoh, maka rasakanlah siksaan ini, sebab apa yang telah kamu perbuat sendiri. (Al-Washoya: 153).
........
Buletin Tauziah Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs
“Membaca Al-Qur’an, Tetapi Membuang Hukumnya di Belakang Punggung”
“Barangsiapa membaca Al-Qur’an tetapi tidak menghalalkan apa yang dihalalkan di dalamnya dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan di dalamnya, maka ia termasuk golongan orang-orang yang melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka.”
Makna (Tafsir) Isi Redaksi
Peringatan ini bukan ditujukan kepada orang yang tidak bisa membaca Al-Qur’an, tetapi kepada orang yang membaca, menghafal, bahkan mengajarkan Al-Qur’an, namun hidupnya menentang isi Al-Qur’an.
Dalam perspektif tasawuf, penyakit terbesar bukan kebodohan, melainkan kerasnya hati setelah datang ilmu. Lidah membaca ayat-ayat Allah, tetapi anggota badan berjalan menuju maksiat. Mata membaca mushaf, tetapi hati mencintai dunia lebih daripada kebenaran.
Allah Ta’ala berfirman:
“Apakah kamu menyuruh manusia berbuat kebajikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab?”
(QS. Al-Baqarah: 44)
Ayat ini menegur orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak menjalankannya.
Dalam Tazkiyatun Nufūs, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan cahaya yang harus masuk ke hati, akhlak, muamalah, makanan, pekerjaan, pergaulan, dan seluruh kehidupan.
Orang yang membaca Al-Qur’an tetapi tetap memakan riba, menipu, membuka aurat, zalim, memfitnah, atau mencari harta haram, maka hakikatnya ia belum memuliakan Al-Qur’an.
Hukum (Ahkam)
1. Wajib Mengamalkan Isi Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an tanpa usaha mengamalkan hukumnya termasuk dosa besar bila dilakukan dengan sengaja dan meremehkan syariat.
Allah berfirman:
“Dan hendaklah orang-orang takut kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 150)
2. Haram Menghalalkan yang Haram
Menganggap dosa sebagai hal biasa adalah tanda matinya hati.
3. Ilmu Menjadi Hujjah
Ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi saksi yang memberatkan di hari kiamat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Al-Qur’an itu menjadi hujjah bagimu atau hujjah atasmu.”
(HR. Muslim)
Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)
1. Kemuliaan Tidak Diukur dari Banyaknya Hafalan
Banyak orang hafal ayat, tetapi sedikit yang tunduk kepada ayat.
2. Bahaya Ilmu Tanpa Amal
Dalam tasawuf disebut:
“Ilmu tanpa amal adalah kesombongan yang tersembunyi.”
3. Dosa Orang Berilmu Lebih Berat
Karena ia mengetahui jalan kebenaran tetapi tetap menyimpang.
4. Al-Qur’an Diturunkan untuk Diamalkan
Bukan sekadar diperlombakan, dibaca saat acara, atau dijadikan hiasan suara.
Dalil Al-Qur’an, Hadis, dan Hadis Qudsi
Allah Ta’ala berfirman:
“Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
(QS. Ash-Shaff: 2-3)
“Dan Rasul berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.”
(QS. Al-Furqan: 30)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Banyak pembaca Al-Qur’an yang dilaknat oleh Al-Qur’an.”
(HR. Ad-Dailami)
Hadis lain:
“Pada hari kiamat, didatangkan seseorang lalu dilemparkan ke neraka. Ususnya terburai. Ia dahulu menyuruh manusia berbuat baik tetapi dirinya tidak melakukannya.”
(HR. Bukhari-Muslim)
Dalam hadis qudsi Allah berfirman:
“Wahai hamba-Ku, Aku tidak menerima ucapan tanpa amal.”
Analisis dan Argumentasi Tasawuf
Dalam ilmu tasawuf, penyakit terbesar manusia modern adalah:
- pandai berbicara agama,
- tetapi miskin muraqabah,
- banyak konten dakwah,
- tetapi sedikit taubat,
- banyak membaca,
- tetapi sedikit menangis karena takut kepada Allah.
Teknologi membuat Al-Qur’an mudah diakses:
- mushaf digital,
- aplikasi tafsir,
- video ceramah,
- AI,
- media sosial Islami.
Namun ironisnya:
- maksiat juga makin mudah,
- riba digital merajalela,
- fitnah tersebar cepat,
- aurat diumbar,
- perjudian online,
- pinjaman ribawi,
- konten haram,
- pencitraan agama demi popularitas.
Ini tanda bahwa banyak manusia “membaca” Al-Qur’an tetapi belum “ditundukkan” oleh Al-Qur’an.
Imam Al-Ghazali menjelaskan:
“Hakikat membaca Al-Qur’an adalah ketika akhlakmu berubah setelah membacanya.”
Amalan (Implementasi)
1. Membaca Al-Qur’an dengan Tadabbur
Bukan hanya mengejar khatam.
2. Setiap Membaca Ayat, Cari Amalannya
Misalnya:
- ayat sedekah → langsung bersedekah,
- ayat taubat → segera istighfar,
- ayat neraka → menangis,
- ayat surga → berharap kepada Allah.
3. Menjaga Makanan Halal
Hati sulit menerima cahaya Al-Qur’an jika dipenuhi harta haram.
4. Mengurangi Maksiat Mata dan Lisan
Karena dosa menggelapkan hati.
5. Membiasakan Muhasabah Setelah Membaca Al-Qur’an
Tanya diri:
“Sudahkah ayat ini hidup dalam diriku?”
Relevansi yang Viral di Zaman Sekarang
Teknologi
Banyak orang membaca ayat Al-Qur’an di media sosial, tetapi tetap menyebarkan hoaks, fitnah, dan kebencian.
Komunikasi
Lisan digital lebih berbahaya daripada lisan nyata:
- komentar kasar,
- ghibah online,
- penghinaan anonim.
Transportasi
Mudah pergi ke majelis ilmu, tetapi juga mudah menuju tempat maksiat.
Kedokteran
Tubuh makin sehat dengan teknologi medis, tetapi hati makin sakit oleh syahwat dan cinta dunia.
Kehidupan Sosial
Agama kadang dijadikan simbol pencitraan:
- konten sedekah demi views,
- tilawah demi popularitas,
- ceramah demi uang dan pujian.
Padahal Allah melihat hati, bukan tampilan.
Motivasi
Jangan putus asa jika merasa belum sempurna mengamalkan Al-Qur’an. Yang berbahaya adalah berhenti berusaha.
Orang terbaik bukan yang tidak pernah berdosa, tetapi yang terus kembali kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)
Mulailah dari:
- satu ayat,
- satu perubahan,
- satu taubat,
- satu amal ikhlas.
Muhasabah dan Caranya
Pertanyaan Muhasabah
- Apakah Al-Qur’an hanya menjadi suara di bibirku?
- Apakah hartaku halal?
- Apakah shalatku benar?
- Apakah aku masih menikmati maksiat?
- Apakah aku membaca Al-Qur’an untuk Allah atau pujian manusia?
Cara Muhasabah
- Duduk sendirian sebelum tidur.
- Ingat dosa-dosa hari itu.
- Baca istighfar 100 kali.
- Baca beberapa ayat Al-Qur’an.
- Menangislah walau sedikit.
- Niat memperbaiki diri esok hari.
Kemuliaan dan Kehinaan
Kemuliaan bagi Pengamal Al-Qur’an
Di Dunia
- hati tenang,
- wajah bercahaya,
- hidup penuh keberkahan,
- dicintai orang saleh.
Di Alam Kubur
Kubur dilapangkan dan diterangi cahaya amal.
Di Hari Kiamat
Al-Qur’an menjadi syafaat.
Di Akhirat
Derajatnya dinaikkan sesuai amal dan bacaannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah dan naiklah.”
(HR. Abu Dawud)
Kehinaan bagi yang Mengabaikan Al-Qur’an
Di Dunia
- hati keras,
- hidup gelisah,
- ilmu tidak berkah,
- mudah terjatuh dalam dosa.
Di Alam Kubur
Mendapat himpitan dan penyesalan.
Di Hari Kiamat
Al-Qur’an menjadi saksi yang memberatkan.
Di Akhirat
Mendapat kehinaan karena mengetahui kebenaran tetapi menolaknya.
Doa
Ya Allah, jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hati kami, penyejuk dada kami, penghapus dosa kami, dan pemimpin hidup kami.
Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang membaca ayat-Mu tetapi melanggar hukum-Mu.
Ya Allah, lembutkan hati kami untuk menerima nasihat-Mu.
Bersihkan jiwa kami dari riya, nifaq, cinta dunia, dan kerasnya hati.
Karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan husnul khatimah.
آمين يا رب العالمين
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para pembaca yang masih mencintai majelis ilmu, dzikir, dan Al-Qur’an di tengah fitnah zaman yang begitu besar. Semoga setiap huruf yang dibaca menjadi cahaya di dunia, penerang kubur, dan pemberat timbangan amal di akhirat.
.........“Ya Allah, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami.”
(QS. Ali ‘Imran: 8)
No comments:
Post a Comment