Friday, May 15, 2026

149was. Kemuliaan Dekat dengan Ulama

 Kedudukan Ulama

Ada sebuah riwayat dari Ka’ab bin Al-Ahbar r.a., ia berkata: Sesungguhnya Allah di hari kemudian nanti akan menghisab semua amal hamba. Apabila kejelekannya lebih berat dari amal baiknya, maka diperintahkan ke neraka. Ketika mereka, para hamba, itu berjalan menuju neraka, Allah berkata kepada Malaikat Jibril: Hai, Jibril, temuilah hamba-Ku ….. dan tanyakanlah kepadanya, apakah dia saat hidup di dunia pernah mendatangi majelis seorang ulama, agar Aku dapat mengampuninya, dengan syafaat si ulama tersebut? Malaikat Jibril melaksanakan perintah itu dan si hamba tersebut menjawab: Tidak pernah mendatangi majelis (pengajian) ulama. Malaikat Jibril lalu kembali menghadap kepada Allah dan berkata: Ya, Robbi, Engkau Maha Mengetahui tentang keadaan hamba-Mu, dia menjawab tidak pernah mendatangi majelis (pengajian) ulama. Allah swt. memerintahkan kepada Malaikat Jibril, bertanyalah kepada hamba itu: Apakah dia pernah mencintai seorang ulama? Malaikat Jibril pergi melaksanakan perintah itu, tetapi hamba itu menjawab tidak pernah mencintai seorang ulama. Malaikat kembali kepada Allah. Allah berfirman kepada Jibril: Tanyakanlah kepada hamba-Ku itu: Apakah dia pernah duduk makan yang dihadiri oleh seorang ulama. Malaikat Jibril pergi melaksanakan tugas tersebut. Tetapi si hamba itu menjawab tidak. Allah kemudian memerintah Jibril agar bertanya kembali kepada hamba tersebut: Apakah dia pernah tinggal di sebuah perkampungan yang di situ terdapat seorang ulama’ Malaikat Jibril melaksanakan perintah itu. Setelah ditanya tentang ini ternyata si hamba itu menjawab tidak. Allah kemudian berkata kepada Jibril, tanyakanlah kepadanya, apakah namanya sama dengan nama seorang ulama. Malaikat pergi dan menanyakan hal itu kepadanya. 

.........

Buletin Tauziah

“Kemuliaan Dekat dengan Ulama”

Dalam Perspektif Tasawuf dan Tazkiyatun Nufūs


Pendahuluan

Manusia sering mencari kemuliaan melalui harta, jabatan, popularitas, dan kekuatan dunia. Namun dalam pandangan Allah, kemuliaan sejati justru dekat dengan ilmu dan para pewaris nabi, yaitu ulama yang mengajarkan jalan menuju Allah.

Riwayat tentang seorang hamba yang hampir masuk neraka, lalu Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk menanyakan apakah ia pernah dekat dengan ulama, menunjukkan betapa agungnya kedudukan ulama di sisi Allah. Bahkan sekadar mencintai, duduk bersama, atau tinggal di lingkungan orang saleh dan ulama menjadi sebab datangnya rahmat Allah.

Dalam tasawuf, kedekatan dengan ulama bukan hanya hubungan jasad, tetapi hubungan hati yang dapat membersihkan jiwa (Tazkiyatun Nufūs), melembutkan hati, dan menghidupkan ruh yang mati oleh dosa.


Makna (Tafsir) Isi Redaksi

Riwayat tersebut mengandung isyarat bahwa:

  1. Ulama adalah pintu rahmat Allah Orang yang dekat dengan ulama akan terkena percikan cahaya ilmu dan keberkahan.

  2. Majelis ilmu adalah taman surga Duduk di majelis ilmu bukan sekadar mendengar ceramah, tetapi sedang mendekat kepada ampunan Allah.

  3. Cinta kepada ulama termasuk tanda kebaikan hati Sebab hati yang bersih akan condong kepada orang-orang saleh.

  4. Lingkungan mempengaruhi keselamatan akhirat Tinggal di tempat yang ada ulama dan orang salehnya mendatangkan keberkahan.

  5. Allah mencari alasan untuk mengampuni hamba-Nya Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dibanding murka-Nya.

Dalam perspektif tasawuf, ulama bukan hanya pengajar hukum, tetapi dokter hati yang membimbing manusia keluar dari penyakit riya’, sombong, cinta dunia, dengki, dan kerasnya hati.


Hukum (Ahkam)

1. Wajib memuliakan ulama yang lurus

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati ulama.”

(HR. Ahmad)

2. Sunnah menghadiri majelis ilmu

Majelis ilmu termasuk amal yang sangat dicintai Allah.

3. Haram merendahkan ulama saleh

Meremehkan ulama dapat menghilangkan keberkahan ilmu dan menyebabkan keras hati.

4. Wajib berhati-hati terhadap ulama palsu

Tasawuf tidak mengajarkan fanatik buta. Ulama yang diikuti harus:

  • berakhlak baik,
  • berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah,
  • tidak menjual agama demi dunia.

Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)

1. Dekat dengan orang saleh menyelamatkan hati

Sebagaimana besi yang dingin menjadi panas saat dekat api, hati yang lalai akan hidup saat dekat ulama.

2. Ilmu lebih mulia dari harta

Harta menjaga dunia, ilmu menjaga akhirat.

3. Cinta kepada ulama dapat menjadi syafaat

Walau amal sedikit, kecintaan kepada ahli ilmu dapat menjadi sebab rahmat Allah.

4. Lingkungan menentukan arah hidup

Lingkungan buruk memudahkan maksiat, sedangkan lingkungan ilmu mendekatkan kepada taubat.


Dalil Al-Qur’an

Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”
(QS. Fathir: 28)

Allah juga berfirman:

“Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)

Dan firman Allah:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)


Hadis dan Hadis Qudsi

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Tirmidzi)

Sabda Nabi ﷺ:

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

Dalam hadis qudsi Allah berfirman:

“Wajib kecintaan-Ku bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku.”
(HR. Malik)


Analisis dan Argumentasi

Di zaman sekarang, manusia lebih mengenal artis daripada ulama. Banyak orang hafal nama selebritas, tetapi tidak mengenal para pewaris nabi.

Media sosial menjadikan manusia:

  • cepat terkenal,
  • cepat viral,
  • tetapi miskin adab dan ilmu.

Akibatnya:

  • fitnah mudah tersebar,
  • manusia merasa pintar sendiri,
  • enggan belajar kepada guru,
  • lebih percaya konten pendek daripada ilmu mendalam.

Dalam tasawuf, ini disebut:

“Penyakit ujub intelektual”

yaitu merasa cukup dengan pengetahuan sendiri tanpa bimbingan ahli ilmu.

Padahal teknologi tanpa iman akan melahirkan:

  • kecerdasan tanpa akhlak,
  • ilmu tanpa takut kepada Allah,
  • komunikasi tanpa adab,
  • kekayaan tanpa keberkahan.

Relevansi di Zaman Sekarang

1. Teknologi

Kini kajian ulama dapat diakses melalui:

  • YouTube,
  • podcast,
  • livestream,
  • aplikasi Al-Qur’an.

Namun teknologi juga menjadi fitnah jika dipakai untuk:

  • menghina ulama,
  • memotong ceramah,
  • menyebar kebencian.

2. Komunikasi

Dulu orang menempuh perjalanan jauh untuk belajar. Sekarang ilmu datang ke genggaman tangan, tetapi banyak hati justru makin jauh dari adab.

3. Transportasi

Mudahkan menghadiri majelis ilmu, safari dakwah, silaturahmi dengan guru.

4. Kedokteran

Tubuh manusia makin sehat, tetapi banyak jiwa:

  • gelisah,
  • depresi,
  • kosong spiritual.

Tasawuf mengajarkan bahwa hati juga membutuhkan obat:

  • dzikir,
  • ilmu,
  • majelis saleh,
  • taubat.

5. Kehidupan Sosial

Masyarakat modern sering mengukur kemuliaan dengan:

  • followers,
  • jabatan,
  • kendaraan,
  • kekayaan.

Padahal di sisi Allah, kemuliaan diukur dengan ketakwaan.


Amalan (Implementasi)

Amalan harian:

  1. Hadiri majelis ilmu walau sebentar.
  2. Dengarkan tausiah ulama yang lurus.
  3. Hormati guru dan orang saleh.
  4. Perbanyak membaca kitab ulama.
  5. Doakan para ulama.
  6. Jaga adab saat berbeda pendapat.
  7. Bersihkan hati dari kebencian kepada ahli ilmu.

Motivasi

Jangan malu duduk di majelis ilmu meski merasa penuh dosa.

Karena:

  • orang sakit datang kepada dokter,
  • hati yang sakit datang kepada ulama.

Boleh jadi satu nasihat ulama:

  • mengubah hidup,
  • menyelamatkan rumah tangga,
  • menghapus dosa,
  • menjadi sebab husnul khatimah.

Muhasabah

Tanyakan kepada diri sendiri:

  • Apakah aku mencintai ulama?
  • Apakah aku lebih sering membuka hiburan daripada ilmu?
  • Apakah aku menjaga adab kepada guru?
  • Apakah aku mencari ilmu karena Allah atau demi pujian?

Cara Muhasabah:

  1. Kurangi maksiat mata dan telinga.
  2. Perbanyak dzikir.
  3. Pilih lingkungan saleh.
  4. Catat dosa harian.
  5. Luangkan waktu tafakur sebelum tidur.

Kemuliaan dan Kehinaan

Kemuliaan di Dunia

Orang yang dekat ilmu:

  • hatinya tenang,
  • lisannya lembut,
  • hidupnya berkah,
  • dihormati manusia.

Kehinaan di Dunia

Orang yang membenci ilmu:

  • keras hati,
  • mudah sombong,
  • hidup gelisah,
  • kehilangan adab.

Di Alam Kubur

Ahli ilmu dan pecinta ulama:

  • kuburnya lapang,
  • ditemani amal saleh,
  • mendapat cahaya.

Pembenci ilmu:

  • gelap kuburnya,
  • menyesal,
  • sulit menjawab pertanyaan malaikat.

Di Hari Kiamat

Ahli ilmu akan mendapat:

  • syafaat,
  • kemuliaan,
  • naungan Allah.

Sedangkan orang sombong terhadap ilmu akan dibangkitkan dalam kehinaan.


Di Akhirat

Kemuliaan:

  • surga,
  • ridha Allah,
  • melihat wajah Allah.

Kehinaan:

  • penyesalan abadi,
  • jauh dari rahmat,
  • siksa yang pedih.

Doa

Ya Allah…
Jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang mencintai ilmu dan ulama yang saleh.

Ya Allah…
Bersihkan hati kami dari kesombongan, riya’, dan kebencian terhadap ahli ilmu.

Ya Allah…
Karuniakan kepada kami hati yang lembut, lisan yang berdzikir, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang ikhlas.

Ya Allah…
Wafatkan kami dalam keadaan mencintai orang-orang saleh, kumpulkan kami bersama para nabi, syuhada, shiddiqin, dan ulama yang Engkau ridai.

Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.


Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada:

  • para guru,
  • ulama,
  • ustadz,
  • orang tua,
  • dan seluruh penyampai ilmu,

yang telah menjadi jalan sampainya hidayah kepada umat manusia.

Semoga Allah membalas seluruh kebaikan mereka dengan rahmat, keberkahan, dan surga-Nya yang luas.

Āmīn.

........

No comments: