Bismillahirahmanirrahim.
Senin, Apr. 2025
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Buat njenengan penikmat ilmu, terkirim dari Peantren Darul Falah oleh oleh maghriban nyantri bareng Ust. Maskuri kupas tipis tipis kitab Mashaihul Ibad (Karya Nawawi bin Umar al-Bantani Al-Jawi Al-Indunisi) Edisi 02:
..............
BAB I: NASIHAT YANG BERISI DUA PERKARA
7. Orang Mulia dan Orang Bijaksana
Dari Yahya bin Mu'adz ra:
“Orang mulia tidak berani berbuat maksiat kepada Allah dan orang yang bijaksana tidak akan mementingkan dunia atas akhirat.”
Orang yang mulia adalah orang yang
baik perbuatannya, yang memuliakan dirinya dengan cara mempertebal ketakwaan dan kewaspadaan – dalam menghadapi maksiat.
Sedangkan orang bijaksana adalah orang yang tidak mendahulukan mengutamakan dunia dan yang menahan nafsunya dari perbuatan yang menyeleweng dari petunjuk akalnya yang sehat.
.........
Kemuliaan Sejati Lahir dari Takwa, Kebijaksanaan Sejati Memilih Akhirat
Renungan Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Yahya bin Mu'adz rahimahullah berkata:
"Orang mulia tidak berani berbuat maksiat kepada Allah dan orang yang bijaksana tidak akan mementingkan dunia atas akhirat."
Ucapan ini merupakan pelajaran yang sangat dalam dalam jalan tazkiyatun nufūs (penyucian jiwa). Kemuliaan seseorang bukan diukur dari harta, jabatan, keturunan, atau pujian manusia, melainkan dari rasa malu kepada Allah sehingga ia menjauhi maksiat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Orang yang telah mengenal Allah (ma'rifat) akan merasa bahwa setiap maksiat adalah noda yang menggelapkan hati. Ia lebih takut kehilangan kedekatan dengan Allah daripada kehilangan seluruh kenikmatan dunia.
Demikian pula orang yang bijaksana menyadari bahwa dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal. Karena itu ia menjadikan dunia sebagai sarana beribadah, bukan tujuan hidup.
Allah Ta'ala berfirman:
"Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."
(QS. Al-A'la: 17)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati." (HR. Tirmidzi)
Dalam pandangan para sufi, akar maksiat adalah hati yang terlalu mencintai dunia, sedangkan akar ketaatan adalah hati yang dipenuhi cinta kepada Allah. Jika hati dipenuhi cahaya dzikir, taubat, muraqabah, dan ikhlas, maka maksiat akan terasa pahit, sedangkan ibadah menjadi nikmat.
Muhasabah Diri
Renungkanlah beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah aku masih berani bermaksiat ketika menyadari Allah selalu melihatku?
- Apakah aku lebih sibuk mengejar dunia daripada memperbaiki amal akhirat?
- Apakah aku merasa sedih ketika kehilangan harta, tetapi tidak sedih ketika kehilangan kekhusyukan ibadah?
- Sudahkah aku menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dalam setiap langkah?
Muhasabah yang jujur adalah awal dari perubahan yang besar.
Cara Melatih Jiwa (Tazkiyatun Nufūs)
- Perbanyak taubat dan istighfar setiap hari.
- Biasakan berdzikir agar hati selalu merasa diawasi Allah (muraqabah).
- Kurangi kecintaan kepada kemewahan yang berlebihan dan perbanyak hidup sederhana.
- Perbanyak membaca Al-Qur'an serta mentadabburinya.
- Berkumpullah dengan orang-orang saleh yang dapat mengingatkan kepada akhirat.
- Biasakan bertanya sebelum bertindak: "Apakah ini mendekatkanku kepada Allah atau justru menjauhkan-Nya?"
Orang yang setiap hari membersihkan hatinya akan semakin mudah meninggalkan maksiat dan semakin ringan melakukan ketaatan.
Doa
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Allāhumma yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī 'alā dīnik. Allāhumma ṭahhir qalbī minan nifāq, wa 'amalī minar riyā', wa lisānī minal kadzib, wa 'ainī minal khiyānah. Allāhumma lā taj'alid dunyā akbara hamminā wa lā mablagha 'ilminā, waj'alil ākhirata hiya hammanā wa maqṣadanā. Wa a'innā 'alā dzikrika wa syukrika wa husni 'ibādatik. Āmīn.
Artinya:
"Ya Allah, Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Sucikan hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya, lisan kami dari dusta, dan pandangan kami dari pengkhianatan. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, tetapi jadikanlah akhirat sebagai cita-cita utama kami. Bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. Aamiin."
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk merenungi nasihat para ulama salaf. Semoga Allah membersihkan hati kita, memuliakan kita dengan ketakwaan, menghiasi kita dengan akhlak yang mulia, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang lebih mencintai akhirat daripada dunia. Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.
......
No comments:
Post a Comment