KETIKA LAUT JADI TINTA DAN POHON JADI PENA
............
Menata Hati, Menjernihkan Jiwa, Mendekat kepada Allah.
.............
Bismillahirahmanirrahim.
Ahad, 6 Sep. 2025
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Buat njenengan penikmat ilmu, terimalah oleh oleh maghriban tempo hari dari Pesantren Darul Falah tempo hari, nyantri bareng Ust. Maskuri kupas tipis tipis kitab Mashaihul Ibad (Karya Nawawi bin Umar al-Bantani Al-Jawi Al-Indunisi) :
..............
BAB I: NASIHAT YANG BERISI DUA PERKARA
4. Umar dan Abu Bakar r.a.
Mengutip dari Syekh Abdul Mur’thi As Samlawi, diriwayatkan dari Umar r.a., sesungguhnya Nabi saw. bertanya kepada Malaikat Jibril a.s.:
“Kemukakan kepadaku tentang kebaikan Umar, lalu Jibril menjawab: Andaikata lautan menjadi tintanya dan pohon-pohon menjadi penanya, niscaya aku tidak akan mampu menghitungnya. Lalu Nabi bertanya lagi kepadanya: Sekarang, kemukakanlah kebaikan Abu Bakar! Berkata Jibril: Umar adalah salah satu kebaikan dari beberapa kebaikan “Abu Bakar.”
Dalam hal ini dinyatakan sebagai berikut:
“Keluhuran dunia dicapai dengan harta, sedang keluhuran akhirat dicapai dengan amal saleh.”
Urusan dunia tidak akan menjadi kuat dan maslahat melainkan dengan harta, seperti halnya urusan akhirat akan menjadi kuat dan maslahat hanya jika dicapai dengan amal saleh.
.............
1. Hikmah (Intisari, Maksud, Tujuan)
Kisah ini mengajarkan satu hal yang bikin merinding: betapa kecilnya kita di hadapan kebesaran Allah dan betapa luasnya rahmat-Nya. Kalau kebaikan Umar yang segudang itu aja masih dianggap "sebagian kecil" dari kebaikan Abu Bakar, berarti bukan soal siapa yang lebih hebat—tapi soal seberapa besar ruang hati kita buat menerima kebaikan dari orang lain.
Intinya: Iman bukanlah kompetisi. Ini soal perjalanan masing-masing hamba. Harta itu alat untuk dunia, amal itu bekal buat akhirat. Keduanya penting, tapi skala prioritasnya harus jelas. Dunia bisa dikelola pakai harta, tapi hati dan akhirat cuma bisa dibersihkan pakai amal dan keikhlasan. Hikmah paling dalem di sini adalah jangan pernah meremehkan kebaikan orang lain, karena kebaikan Umar sekalipun adalah bagian dari kebaikan Abu Bakar. Ini mengajarkan kerendahan hati yang sejati.
---
2. Nasehat : Ayat Qur'an dan Hadis
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah (2:261): "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."
Rasulullah saw. bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (HR. Ahmad, Thabrani, Daruquthni). Ini mengingatkan kita bahwa amal saleh yang diterima di sisi Allah bukan cuma yang besar, tapi yang konsisten dan berdampak pada sesama.
Juga hadis qudsi: Allah berfirman, "Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya. Dan tidak ada yang lebih Aku cintai bagi hamba-Ku yang mendekat kepada-Ku, melebihi apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya..." (HR. Bukhari). Ini inti dari tasawuf: mendekat bukan karena mau dilihat orang, tapi karena cinta.
---
3. Makrifatnya, Hakekatnya, Tarekahnya yang Relevan Saat Ini
Di era viral dan pamer pencapaian di media sosial, kita sering lupa bahwa Allah nggak lihat highlight reel kita. Dia lihat hati. Makrifat di sini adalah menyadari bahwa semua kebaikan yang kita punya adalah titipan dan anugerah-Nya. Bukan hasil usaha semata.
Hakekatnya, kita ini hina di hadapan-Nya. Tapi justru karena sadar akan kehinaan itu, kita jadi berharga di sisi-Nya. Tarekah (jalan spiritual) di zaman sekarang adalah:
· Menahan jari dari scroll yang sia-sia dan menggantinya dengan dzikir.
· Menahan mulut dari ghibah dan menggantinya dengan doa untuk orang lain.
· Menahan hati dari iri dan menggantinya dengan mengakui bahwa kebaikan orang lain adalah bagian dari rahmat Allah untuk kita juga.
Bukan tentang jadi paling alim, tapi tentang jadi paling sadar bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk kembali ke jalan-Nya.
---
4. Tasawuf, Muhasabah dan Caranya
Secara tasawuf, ini namanya tazkiyatun nufus—penyucian jiwa. Langkahnya:
1. Muhasabah harian (introspeksi). Luangkan waktu 5 menit tiap malam. Cek: "Amal apa yang sudah aku lakukan hari ini? Ada yang ikhlas? Ada yang karena riya? Ada yang menyakiti hati orang lain? Lalu, mohon ampun dan perbaiki niat untuk esok hari."
2. Menjaga adab kepada Allah, Rasul, dan sesama—termasuk adab dalam bermedia sosial. Jangan sampai fitnah dan ujaran kebencian jadi "amal" kita.
3. Memperbanyak istighfar dan shalawat. Ini membersihkan hati dari penyakit ujub dan takabbur.
4. Melihat kelebihan orang lain sebagai cerminan kasih sayang Allah, bukan sebagai ancaman ego.
5. Bersedekah—baik harta, ilmu, maupun senyuman. Ini adalah bentuk konkret amal saleh yang jadi bekal akhirat. Karena keluhuran akhirat memang digapai dengan amal, bukan pujian.
---
5. Doa
Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Tahu isi hati kami. Ampuni kami jika selama ini kami lebih sibuk menakar kebaikan orang lain daripada membenahi diri kami sendiri. Jangan biarkan kami terjebak dalam kesombongan karena amal kami yang kecil. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang selalu rindu kembali kepada-Mu, yang bersyukur atas nikmat-Mu, dan yang mengakui bahwa semua kebaikan hanyalah dari-Mu semata. Ya Allah, bersihkan jiwa kami, luruskan niat kami, dan matikan kami dalam keadaan cinta kepada-Mu dan Rasul-Mu. Aamiin.
---
6. Ucapan Terimakasih dan Ma'af
Terima kasih kepada para ulama dan guru yang telah mewariskan ilmu. Terima kasih untuk sahabat dan keluarga yang selalu jadi cermin kebaikan buat aku. Mohon maaf lahir dan batin jika renungan singkat ini banyak kekurangan. Khususnya buat siapa pun yang membacanya: semoga Allah membalas kebaikan njenengan semua dengan kebaikan yang lebih banyak.
---
Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa-siapa. Terutama untuk mengingatkan diri saya sendiri.
.........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar