GHIBAH: KETIKA HATI MULAI BERDEBU
.................
Menata Hati, Menjernihkan Jiwa, Mendekat kepada Allah.
...................
Bismillahirahmanirrahim.
Jum'at, 09 Okt. 2026
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Buat njenengan penikmat ilmu, terimalah oleh oleh shubuh'an, dari masjid Al Ittichaad nyantri bareng ust. Maslam kupas tipis tipis kitab Tanbihul Ghafilin (Abul Laits as-Samarqandi) :
.............
Bab : Ghbah.
Ada tiga efek negatif, akibat ghibah, salah satunya yaitu:
Kufur, mengungkap kejelekan seorang muslim, lalu ketika diingatkan, Jawabnya: Ini kan bukan ghibah, mengungkap kenyataan yang ada padanya, maka dengan demikian dia berani menghalalkan sesuatu yang telah diharamkan olah Allah dan hukumnya kafir.
.............
1. Rahasia Hikmah (Intisari, Maksud, Tujuan)
Intinya, hati itu ibarat gelas berisi air. Kalau gelasnya kotor, airnya ikut keruh. Begitu juga hati. Kalau hati dipenuhi rasa "paling benar" dan suka membicarakan kejelekan orang lain, jangan heran kalau hidup terasa gersang dan gelisah. Tujuan dari renungan ini sederhana saja: bukan buat jadi manusia sempurna, tapi buat terus memperbaiki diri di hadapan Allah, karena kita semua masih dalam proses.
2. Nasehat (Ayat & Hadis)
Allah sudah tegas berfirman dalam Al-Qur'an:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, Sungguh, Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengingatkan:
"Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai." Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanaakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?" Rasulullah berkata, "Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya. Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya." (HR. Muslim)
3. Makrifatnya, Hakekatnya, Tarekahnya
Hakekatnya, ghibah itu bukan soal "benar atau tidak" informasinya. Itu cuma alasan yang aku pakai buat membenarkan diri sendiri. Hakekatnya adalah ketika aku merasa nyaman membicarakan kejelekan orang lain, di situ ada bagian dari hatiku yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Tarekahnya di zaman viral ini simpel: sebelum jempol bergerak atau mulut terbuka, tanya diri sendiri, "Kalau aku ada di posisi dia, aku suka nggak dibicarakan kayak gini?" Kalau jawabannya tidak, ya sudah. Tahan.
4. Tasawuf, Muhasabah dan Caranya
Dalam tasawuf, menjaga lisan itu bukan cuma soal etika sosial, tapi soal kebersihan jiwa. Para sufi mengajarkan bahwa lisan itu cerminan hati . Muhasabah-nya bisa dilakukan dengan cara: setiap malam sebelum tidur, hitung dalam hati—hari ini berapa kali aku membicarakan orang lain? Berapa kali aku merasa "benar" saat menjatuhkan orang di obrolan tongkrongan? Kalau ada, istighfar. Bukan buat drama, tapi buat membersihkan kaca hati yang mulai berdebu.
5. Doa
Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Ya Allah, bersihkan hatiku dari rasa suka membicarakan kejelekan orang lain. Jadikan lisanku basah dengan dzikir kepada-Mu, bukan dengan gunjingan. Aamiin.
6. Ucapan Terima Kasih
Terima kasih buat njenengan yang sudah menyempatkan membaca sampai di sini. Mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan. Ini semua murni buat mengingatkan diri sendiri, dan semoga ada manfaatnya buat kita semua.
---
Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa-siapa. Terutama untuk mengingatkan diri saya sendiri.
#Ghibah #TazkiyatunNufus #Muhasabah #JagaLisan #Tasawuf #RenunganHati #MenataHati
.............
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga bermanfa'at selalu.
—M. Djoko ekasanU—

Tidak ada komentar:
Posting Komentar