Thursday, June 4, 2026

312irs. Menjaga Lisan, Memuliakan Ulama, dan Memurnikan Iman

 1072

Pasal Murtad.

Atau berkata: ‘Semoga Allah swt mengutuk kepada ulama.’ Apabila dia berkata: “Seluruh ulama semoga terkutuk maka dia akan kafir sekalipun tidak dengan nada menghina. Sebab pengertian ulama adalah mencakup para nabi dan malaikat. Atau dia mengetawakan para ulama, muballigh dan guru-guru dengan nada yang menghina di muka orang banyak agar mereka juga turut mengetawakannya.

Atau tidak bermaksud mengetawakan tapi membikin permainan saja. Atau bila dia membuang fatwa seorang ‘alim dan berkata: ‘Untuk apa fatwa ini?’ Dia bermaksud menghinanya. Seorang muslim akan menjadi kafir pula bila berharap untuk keluar dari agama Islam atau bila beragama Islam maka dia minta agar diberi beberapa dirham.

.........

Menjaga Lisan, Memuliakan Ulama, dan Memurnikan Iman

Sebuah Renungan Tasawuf dalam Tazkiyatun Nufus

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Seorang salik (penempuh jalan menuju Allah) tidak hanya menjaga amal lahir, tetapi juga menjaga lisan, hati, dan keyakinannya. Dalam dunia tasawuf, lisan adalah cerminan hati. Apabila hati dipenuhi cahaya iman, maka lisan akan mengucapkan kalimat yang penuh adab. Sebaliknya, apabila hati dipenuhi kesombongan, kebencian, dan kelalaian, maka lisan dapat mengucapkan perkataan yang membahayakan agama.

Perkataan yang merendahkan ulama, menghina guru agama, mempermainkan fatwa syariat, atau berharap keluar dari Islam adalah perkara yang sangat berbahaya. Sebagian bentuk ucapan semacam itu bahkan dapat termasuk kekufuran apabila memenuhi syarat-syarat yang telah dijelaskan oleh para ulama akidah, terutama jika disertai penghinaan terhadap agama atau syiar-syiar Allah. Karena itu, seorang mukmin hendaknya sangat berhati-hati dalam menjaga lisannya.

Dalam pandangan tasawuf, menghormati ulama bukanlah mengkultuskan manusia, melainkan menghormati ilmu yang mereka bawa. Para ulama adalah pewaris para nabi. Menghinakan mereka karena ilmu agama yang mereka sampaikan berarti merendahkan kemuliaan ilmu yang Allah muliakan.

Dalil Al-Qur'an

Allah Ta'ala berfirman:

"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
(QS. Al-Mujādilah: 11).

Allah juga berfirman:

"Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
(QS. Fāṭir: 28).

Dan firman-Nya:

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain."
(QS. Al-Ḥujurāt: 11).

Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi."
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Beliau juga bersabda:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sabda beliau pula:

"Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah tanpa ia menganggapnya berbahaya, sehingga Allah menjatuhkannya ke dalam neraka."
(HR. Al-Bukhari).

Hadis Qudsi

Allah Ta'ala berfirman dalam hadis qudsi:

"Barang siapa memusuhi seorang wali-Ku, maka Aku telah menyatakan perang kepadanya."
(HR. Al-Bukhari).

Para ulama yang ikhlas termasuk golongan wali Allah karena ilmu, amal, dan ketakwaannya.

Hikmah Tasawuf (Tazkiyatun Nufus)

  • Jagalah lisan, karena satu kalimat dapat mengangkat derajat atau menghancurkan iman.
  • Hormatilah ulama karena mereka membimbing manusia menuju Allah, meskipun mereka tetap manusia yang tidak luput dari kekeliruan.
  • Jika tidak sepakat dengan pendapat seorang ulama, sampaikan dengan adab dan ilmu, bukan dengan celaan.
  • Bersihkan hati dari sifat sombong, karena kesombongan sering melahirkan penghinaan kepada orang-orang saleh.
  • Perbanyak istighfar apabila pernah mengucapkan kata-kata yang menyakiti ulama atau meremehkan syariat.

Relevansi di Zaman Sekarang

Di era media sosial, banyak orang dengan mudah membuat konten yang menghina ustaz, kiai, guru agama, atau menjadikan fatwa sebagai bahan candaan demi memperoleh perhatian. Padahal, setiap ucapan dan tulisan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Seorang mukmin hendaknya menjadikan media sosial sebagai sarana menyebarkan ilmu, adab, dan kasih sayang, bukan tempat merendahkan kemuliaan agama.

Muhasabah

Renungkanlah:

  • Apakah lisanku lebih sering berdzikir atau mencela?
  • Apakah aku menghormati ulama atau justru mudah merendahkan mereka?
  • Pernahkah aku mempermainkan hukum agama demi candaan?
  • Apakah aku menerima nasihat dengan rendah hati atau menolaknya karena ego?

Cara Bermuhasabah

  1. Perbanyak membaca istighfar setiap hari.
  2. Biasakan berpikir sebelum berbicara atau menulis.
  3. Duduk di majelis ilmu agar hati semakin lembut.
  4. Hormati guru dan para ulama meskipun berbeda pendapat.
  5. Mohon kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah dan tetap istiqamah dalam Islam.

Doa

Allāhumma yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī 'alā dīnik. Allāhumma aḥyinā 'alal īmān, wa amitnā 'alal īmān, waj'al ākhira kalāminā lā ilāha illallāh Muḥammadur Rasūlullāh. Allāhumma ṭahhir qulūbanā min al-kibri, wal-ḥasadi, wan-nifāq, waḥfaẓ alsinatanā min kulli qawlin yuskhithuka. Āmīn.

Artinya:

"Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Hidupkan kami dalam keimanan, wafatkan kami dalam keimanan, dan jadikan ucapan terakhir kami Lā ilāha illallāh Muḥammadur Rasūlullāh. Ya Allah, sucikan hati kami dari kesombongan, kedengkian, dan kemunafikan, serta jagalah lisan kami dari setiap ucapan yang mendatangkan murka-Mu. Aamiin."

Ucapan Terima Kasih

Jazakumullāhu khairan katsīrā kepada seluruh pembaca. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang menjaga lisan, memuliakan ilmu dan para ulama, membersihkan hati dengan tazkiyatun nufus, serta mengakhiri kehidupan kita dengan husnul khatimah dalam iman dan Islam. Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.

......


No comments: