1073
Pasal Murtad.
Atau dia berkata: Hendaknya Allah swt tidak mengharamkan untuk zaman tertentu, sehingga zina diperbolehkan sementara, begitu juga menganiaya orang, membunuh atau dia menyatakan bahwa Allah swt menyimpang dan berbuat kezaliman atau mengatakan Allah swt dalam mengharamkan sesuatu penuh dengan kedzaliman.
Atau orang yang menyatakan bahwa pajak itu hak pemerintah, sehingga pengambilan pajak itu dianggapnya benar, orang-orang yang mengenakan pakaian khusus bagi orang-orang kafir dengan catatan orang muslim yang memakainya itu lantaran condong kepada agama kufur.
.......
Judul:
Menjaga Kemurnian Akidah dan Mensucikan Hati di Tengah Fitnah Zaman
(Perspektif Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs)
Segala bentuk penyimpangan dalam keyakinan bermula dari hati yang tidak lagi tunduk kepada Allah SWT. Dalam ilmu tasawuf, akar segala kebinasaan bukan hanya dosa lahir, tetapi juga penyakit hati seperti kesombongan, hawa nafsu, cinta dunia, dan merasa lebih benar daripada syariat Allah. Ketika seseorang mulai menganggap halal apa yang Allah haramkan, atau menuduh hukum Allah tidak adil, sesungguhnya ia sedang memperturutkan hawa nafsunya, bukan mencari kebenaran.
Seorang salik (penempuh jalan menuju Allah) diajarkan untuk selalu berkata sebagaimana firman Allah:
"Kami dengar dan kami taat."
(QS. Al-Baqarah: 285)
Allah SWT juga berfirman:
"Tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian mereka mempunyai pilihan yang lain."
(QS. Al-Ahzab: 36)
Dan Allah berfirman:
"Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim."
(QS. Al-Ma'idah: 45)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Beliau juga bersabda:
"Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas..."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis qudsi Allah berfirman:
"Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi."
(HR. Muslim).
Hadis qudsi ini menegaskan bahwa Allah Mahasuci dari segala bentuk kezaliman. Semua hukum-Nya dibangun di atas hikmah, keadilan, kasih sayang, dan kemaslahatan manusia.
Hikmah Tazkiyatun Nufūs
Orang yang hatinya bersih tidak akan sibuk mengoreksi hukum Allah, tetapi sibuk mengoreksi dirinya sendiri. Ia yakin bahwa keterbatasan akalnya tidak mampu menjangkau seluruh hikmah syariat.
Imam-imam tasawuf mengajarkan bahwa adab tertinggi kepada Allah adalah ridha terhadap seluruh ketetapan-Nya, sekalipun belum memahami seluruh hikmahnya.
Relevansi Zaman Sekarang
Di era media sosial, kecerdasan buatan, dan derasnya arus informasi, banyak pendapat yang berusaha mengubah standar halal-haram sesuai keinginan manusia. Kebenaran sering diukur dengan suara mayoritas, popularitas, atau kepentingan ekonomi, bukan lagi dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
Seorang mukmin hendaknya tetap teguh memegang syariat, namun juga berhati-hati dalam memberi penilaian terhadap persoalan yang membutuhkan penjelasan para ulama. Misalnya, persoalan perpajakan dalam negara modern merupakan masalah fikih dan tata negara yang memiliki pembahasan luas di kalangan ulama, sehingga tidak semestinya disederhanakan menjadi vonis akidah. Yang wajib dijaga adalah keyakinan bahwa Allah Mahaadil dan hukum-Nya adalah yang paling benar.
Muhasabah
Renungkanlah setiap hari:
- Apakah aku menerima hukum Allah dengan hati yang lapang?
- Apakah aku lebih mengikuti Al-Qur'an atau hawa nafsuku?
- Apakah aku pernah meremehkan dosa karena dianggap sudah biasa?
- Apakah aku mencari ilmu kepada ulama yang terpercaya sebelum berbicara tentang agama?
- Apakah aku menjaga identitas sebagai seorang muslim dengan penuh kemuliaan?
Cara Bermuhasabah
- Perbanyak membaca Al-Qur'an dengan tadabbur.
- Istighfar minimal 100 kali setiap hari.
- Duduk bersama para ulama dan orang-orang saleh.
- Menahan diri dari menyebarkan pendapat agama tanpa ilmu.
- Berdoa agar Allah menetapkan hati di atas iman dan hidayah.
- Memperbanyak zikir "Yā Muqallibal-Qulūb, tsabbit qalbī 'alā dīnik."
Doa
Allāhumma yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā 'alā dīnik. Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā'ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnā ijtinābah. Allāhumma ṭahhir qulūbanā minasy-syirki wan-nifāqi wal-kibri wal-'ujbi war-riyā', waj'alnā min 'ibādikaṣ-ṣāliḥīn. Āmīn.
Artinya:
"Ya Allah, Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar dan karuniakanlah kami kemampuan mengikutinya, serta tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu batil dan karuniakanlah kami kemampuan menjauhinya. Ya Allah, sucikan hati kami dari syirik, nifak, kesombongan, ujub, dan riya, serta jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh. Aamiin."
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih atas semangat Anda dalam mempelajari ilmu agama dan tazkiyatun nufūs. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita hati yang bersih, akidah yang lurus, ilmu yang bermanfaat, amal yang ikhlas, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ, para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh di surga-Nya. Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.
......
No comments:
Post a Comment