Thursday, August 13, 2026

1418djo. SABAR: JALAN MEMBERSIHKAN JIWA, MENUNDUKKAN NAFSU, DAN MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH

 Tentu. Saya susun dalam corak Tazkiyatun Nufūs—bukan sekadar “menahan diri ketika susah”, tetapi membersihkan hati agar tetap bersama Allah ketika diuji, ketika keinginan tidak terpenuhi, ketika disakiti, bahkan ketika mendapatkan kesenangan.

Catatan penting: untuk bagian para sufi dan para ustadz, saya membedakan antara kutipan yang dapat dilacak dan “intisari pemikiran”. Saya tidak akan membuat seolah-olah sebuah kalimat adalah ucapan asli seorang tokoh jika sumbernya tidak cukup kuat.

.........

SABAR

“SABAR: JALAN MEMBERSIHKAN JIWA, MENUNDUKKAN NAFSU, DAN MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH”

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Sabar bukan berarti tidak boleh menangis.
Sabar bukan berarti tidak boleh sedih.
Sabar bukan berarti diam terhadap kezaliman.
Sabar adalah ketika hati tetap memilih Allah, meskipun keadaan tidak sesuai dengan keinginan kita.

Dalam perspektif Tazkiyatun Nufūs, sabar adalah latihan jiwa untuk membebaskan diri dari perbudakan hawa nafsu.

Orang yang belum terlatih akan berkata:

“Aku ingin semuanya terjadi sesuai kehendakku.”

Sedangkan hati yang telah ditempa oleh sabar akan berkata:

“Aku tetap berikhtiar sekuat tenaga, tetapi hasil akhirnya aku serahkan kepada Allah.”


1. INTISARI, MAKSUD DAN TUJUAN

A. Intisari

Sabar adalah kemampuan jiwa untuk tetap berada di jalan Allah ketika menghadapi sesuatu yang tidak disukai.

Sabar mempunyai sekurang-kurangnya tiga bentuk:

1. Sabar dalam ketaatan

Tetap mendirikan salat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, bekerja halal, dan berbuat baik meskipun hati sedang malas.

2. Sabar meninggalkan maksiat

Mampu berkata “tidak” kepada hawa nafsu.

Marah tetapi tidak menghina.

Mampu membalas tetapi memilih memaafkan.

Mendapat kesempatan bermaksiat tetapi memilih meninggalkannya.

Mendapat kesempatan menyebarkan aib orang tetapi memilih diam.

3. Sabar menghadapi ujian

Ketika kehilangan, sakit, gagal, dihina, dikhianati, kehilangan pekerjaan, mengalami masalah keluarga atau menghadapi ketidakpastian hidup, hati tidak berpaling dari Allah.


B. Maksud

Sabar bertujuan mendidik nafs agar tidak menjadi penguasa hati.

Karena sering kali masalah terbesar manusia bukanlah peristiwa yang terjadi, tetapi reaksi nafsunya terhadap peristiwa tersebut.

Peristiwa hanya terjadi sekali.

Tetapi kemarahan yang kita pelihara dapat berlangsung berhari-hari.

Perkataan orang mungkin hanya beberapa detik.

Tetapi dendam dapat kita simpan bertahun-tahun.


C. Tujuan Tazkiyatun Nufūs

Tujuan sabar adalah:

dari marah → menjadi mampu menahan diri

dari mengeluh → menjadi munajat

dari kecewa → menjadi tawakal

dari merasa paling benar → menjadi rendah hati

dari mengejar dunia → menjadi mengejar ridha Allah

dari “mengapa aku?” → menjadi “apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku?”


2. AYAT AL-QUR'AN, HADIS SHAHIH DAN HADIS QUDSI

A. QS. Al-Baqarah: 153

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Baqarah: 153)

Ayat ini luar biasa.

Allah tidak mengatakan:

“Allah bersama orang yang paling kaya.”

Tidak pula:

“Allah bersama orang yang selalu menang.”

Tetapi:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Maka sabar bukan sekadar sikap psikologis.

Sabar adalah jalan memperoleh ma'iyyatullah—pertolongan dan kebersamaan Allah.


B. QS. Az-Zumar: 10

Allah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

(QS. Az-Zumar: 10)

Ini adalah salah satu janji Allah yang paling menguatkan:

Pahala sabar tidak dihitung seperti amal biasa.

Ada amal yang pahalanya diketahui jumlahnya.

Tetapi untuk orang yang sabar:

بِغَيْرِ حِسَابٍ

tanpa batas/perhitungan.


C. QS. Al-Baqarah: 155–157

Allah mengingatkan bahwa manusia akan diuji dengan:

  • rasa takut,
  • kelaparan,
  • kekurangan harta,
  • kehilangan jiwa,
  • dan kekurangan buah-buahan/hasil kehidupan.

Kemudian Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

Mereka adalah orang-orang yang ketika ditimpa musibah mengatakan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”


D. HADIS SHAHIH

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa berusaha untuk bersabar, Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Dan tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Maknanya sangat dalam:

Sabar bukan hanya bakat. Sabar dapat dilatih.

Awalnya kita mudah marah.

Kemudian belajar diam.

Besok belajar memaafkan.

Kemudian belajar mendoakan.

Lama-lama hati menjadi lapang.

Itulah proses riyāḍatun-nafs—melatih jiwa.


E. HADIS TENTANG KEADAAN ORANG MUKMIN

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya...”

Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur.

Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar.

Dan kedua keadaan itu baik baginya.

(HR. Muslim)

Jadi seorang mukmin tidak mudah hancur hanya karena keadaan berubah.

Ketika mendapat nikmat → syukur.

Ketika mendapat ujian → sabar.

Inilah keseimbangan jiwa.


F. HADIS QUDSI

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari, Allah Ta'ala berfirman bahwa apabila Allah menguji seorang hamba dengan kehilangan dua perkara yang sangat dicintainya—ditafsirkan sebagai kedua matanya—kemudian ia bersabar, Allah memberikan balasan berupa surga.

Perhatikan:

Allah tidak mengatakan bahwa orang tersebut tidak boleh merasa sedih.

Tetapi:

kesedihan tidak boleh memutus hubungan hati dengan Allah.


3. ANALISA DAN ARGUMENTASI TASAWUF

A. Mengapa manusia sulit bersabar?

Karena manusia mempunyai:

akal, hati, nafsu dan keinginan.

Nafsu berkata:

“Aku ingin sekarang!”

Sabar berkata:

“Tunggu.”

Nafsu berkata:

“Balas!”

Sabar berkata:

“Pertimbangkan akibatnya.”

Nafsu berkata:

“Tunjukkan kepada semua orang bahwa kamu benar!”

Sabar berkata:

“Tidak semua kebenaran harus dipamerkan.”

Nafsu berkata:

“Sebarkan!”

Sabar berkata:

“Tabayyun dahulu.”


B. Sabar adalah pendidikan bagi nafsu

Imam Al-Ghazali menjelaskan pembahasan sabar dalam Iḥyā' 'Ulūmiddīn sebagai bagian dari pembinaan akhlak dan jiwa. Beliau membahas sabar dalam menghadapi penderitaan, dalam ketaatan, dalam menahan dorongan hawa nafsu, mengendalikan kemarahan, serta menjaga amal agar tidak rusak oleh keinginan mendapatkan pujian.

Maka sabar bukan hanya:

“Saya tahan sakit.”

Tetapi juga:

“Saya tahan ego.”

Ini jauh lebih sulit.


C. SABAR DI ZAMAN VIRAL

Kita hidup di zaman yang sangat cepat.

Satu berita bisa viral dalam beberapa menit.

Satu video dapat membuat seseorang dipuji.

Video lain dapat menghancurkan nama seseorang.

Satu komentar dapat menimbulkan ribuan komentar.

Di sinilah sabar menjadi sangat penting.

Sebelum SHARE → SABAR.

Sebelum COMMENT → SABAR.

Sebelum MARAH → SABAR.

Sebelum MEMBALAS → SABAR.

Sebelum MENUDUH → SABAR.

Sebelum MEMBUKA AIB → SABAR.

Sebelum MEMVIRALKAN → SABAR.


D. “JEMPOL” JUGA HARUS PUNYA SABAR

Dahulu orang harus berjalan untuk menyebarkan berita.

Sekarang cukup satu sentuhan.

Karena itu dosa juga dapat menyebar dengan sangat cepat.

Maka:

Jangan sampai jempol lebih cepat daripada akal.

Dan:

Jangan sampai emosi lebih cepat daripada tabayyun.

Sabar di zaman digital berarti:

mampu menunda respons sampai hati menjadi jernih.


E. Jangan salah memahami sabar

Sabar bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar.

Jika sakit:

sabar + berobat.

Jika miskin:

sabar + bekerja.

Jika gagal:

sabar + belajar.

Jika dizalimi:

sabar + mencari jalan keadilan.

Jika ada fitnah:

sabar + tabayyun.

Jika kehilangan:

sabar + menerima takdir + melanjutkan kehidupan.

Jadi:

Sabar bukan berhenti berusaha.

Sabar adalah berusaha tanpa memberontak kepada Allah.


4. MUHASABAH DAN CARANYA

Setiap malam, sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri:

Pertanyaan pertama

Hari ini, apa yang membuatku marah?

Pertanyaan kedua

Apakah kemarahanku lebih besar daripada masalahnya?

Pertanyaan ketiga

Apakah lisanku menyakiti seseorang?

Pertanyaan keempat

Apakah jempolku menyebarkan sesuatu yang belum pasti?

Pertanyaan kelima

Ketika diuji, apakah aku mendekat kepada Allah atau justru menjauh?

Pertanyaan keenam

Apakah aku sabar terhadap manusia tetapi tidak sabar terhadap kehendak Allah?

Pertanyaan ketujuh

Apakah aku ingin Allah mengubah keadaan, tetapi aku sendiri tidak mau berubah?


LATIHAN SABAR 7 LANGKAH

1. Berhenti

Jangan langsung bereaksi.

2. Diam

Tahan lisan.

3. Tarik napas

Tenangkan tubuh dan pikiran.

4. Berdzikir

Ucapkan:

حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”

5. Berwudhu

Terutama ketika kemarahan meningkat.

6. Tanyakan

“Apa respons yang paling diridhai Allah?”

7. Baru bertindak

Bukan berdasarkan emosi, tetapi berdasarkan iman dan hikmah.


5. NASIHAT PARA TOKOH TASAWUF

1. HASAN AL-BASHRI رحمه الله

Hasan al-Bashri menjelaskan sabar dalam dua sisi: sabar menghadapi musibah dan sabar menahan diri dari sesuatu yang diharamkan. Ada pula riwayat dari beliau yang menyebut sabar sebagai “harta karun dari berbagai kebaikan” yang Allah berikan kepada hamba yang mulia di sisi-Nya.

Pesannya:

Jangan hanya sabar ketika tertimpa musibah.

Sabar juga diperlukan ketika:

  • ada kesempatan bermaksiat,
  • ada kesempatan membalas,
  • ada kesempatan mengambil hak orang,
  • ada kesempatan mengejar dunia secara berlebihan.

2. RABI'AH AL-'ADAWIYAH رحمه الله

Intisari spiritual dari jalan Rabi'ah adalah:

Jangan menjadikan hubungan dengan Allah hanya berdasarkan keuntungan yang kita inginkan.

Sabar tertinggi adalah ketika seorang hamba tetap mencintai Allah:

bukan hanya ketika diberi, tetapi juga ketika diuji.

Maka:

“Ya Allah, jika Engkau memberi, aku bersyukur. Jika Engkau menahan, aku tetap percaya kepada-Mu.”


3. ABU YAZID AL-BISTAMI رحمه الله

Pelajaran tasawuf dari jalan Abu Yazid adalah melampaui ego diri.

Sabar berarti:

menundukkan “aku”.

Selama manusia selalu berkata:

“Aku harus dihormati.”

“Aku harus menang.”

“Aku harus dipuji.”

maka nafsunya belum selesai dididik.


4. JUNAID AL-BAGHDADI رحمه الله

Dalam literatur tasawuf, Junaid memberikan definisi sabar sebagai memikul beban demi Allah sampai masa kesulitan berlalu.

Ini adalah definisi yang sangat kuat:

Sabar bukan hanya menunggu.

Sabar adalah tetap membawa amanah Allah sampai ujian itu selesai.


5. AL-HALLAJ رحمه الله

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah Al-Hallaj adalah tentang keteguhan hati ketika seseorang menghadapi tekanan dan penderitaan.

Namun perkataan-perkataan mistik Al-Hallaj perlu ditempatkan dalam konteks sejarah dan ajaran tasawufnya, bukan dijadikan pengganti Al-Qur'an dan Sunnah.

Pesan praktisnya:

Ketika manusia tidak memahami kita, jangan sampai ketidakpahaman manusia membuat kita kehilangan Allah.


6. IMAM AL-GHAZALI رحمه الله

Al-Ghazali menempatkan sabar sebagai bagian penting dari perjuangan melawan hawa nafsu.

Beliau membahas sabar dalam:

  • ketaatan,
  • menghadapi penderitaan,
  • menahan syahwat,
  • menahan amarah,
  • menghadapi perubahan keadaan,
  • dan menjaga amal dari riya serta mencari pujian.

Pesan Al-Ghazali yang sangat relevan:

Sabar bukan hanya menahan penderitaan dari luar, tetapi juga mengendalikan gejolak dari dalam.


7. SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI رحمه الله

Dalam corak pendidikan ruhani beliau, sabar berkaitan erat dengan:

tawakal, zuhud, ikhlas dan penyerahan diri kepada Allah.

Pesannya dapat dirangkum:

Jangan menjadikan keadaan sebagai Tuhan baru.

Ketika keadaan baik:

Allah tetap tujuan.

Ketika keadaan buruk:

Allah tetap tujuan.


8. JALALUDDIN RUMI رحمه الله

Dalam tradisi Rumi, penderitaan dapat menjadi ruang transformasi jiwa.

Bukan berarti kita harus mencari penderitaan.

Tetapi ketika penderitaan datang:

jangan sia-siakan pelajaran ruhani yang dibawanya.

Kesedihan dapat menjadi pintu:

kesadaran → taubat → kedekatan → kematangan jiwa.

Karena Rumi sangat kuat dalam bahasa simbolik dan puitis, kutipan-kutipan populer di internet perlu diverifikasi; banyak terjemahan modern telah mengalami parafrase yang jauh dari teks aslinya.


9. IBNU 'ARABI رحمه الله

Dalam perspektif tasawuf Ibnu 'Arabi, seorang hamba belajar melihat keterbatasan dirinya dan kebesaran Allah.

Maka sabar membawa manusia dari:

“Aku mengendalikan semuanya”

menuju:

“Aku adalah hamba; tugasku berikhtiar, sedangkan Allah menentukan.”

Ini bukan alasan untuk malas.

Justru karena Allah adalah Rabb, seorang hamba harus menjalankan adab kehambaan:

ikhtiar + doa + tawakal + ridha.


10. AHMAD AL-TIJANI رحمه الله

Dalam tradisi Tarekat Tijaniyyah, pembinaan ruhani menekankan dzikir, adab, istiqamah dan keterikatan hati kepada Allah.

Dalam konteks sabar, pelajaran yang dapat diambil:

Kesabaran bukan hanya ketika mendapat musibah, tetapi juga istiqamah dalam perjalanan spiritual.

Karena terkadang manusia ingin hasil ruhani yang cepat.

Padahal:

hati tidak dibersihkan dalam satu malam.

Nafsu tidak ditundukkan dalam satu majelis.

Istiqamah membutuhkan:

sabar + dzikir + taubat + mujahadah.


6. “TESTIMONI” DAN PELAJARAN DARI PARA USTADZ

Catatan:

Bagian ini sebaiknya disebut “Intisari pesan/kajian”, bukan kutipan langsung, kecuali terdapat rekaman atau transkrip yang jelas.

GUS BAHA'

Corak dakwah Gus Baha' dikenal menekankan pemahaman agama yang menenangkan, argumentatif, dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tidak mudah menjadikan agama sebagai sumber keputusasaan.

Intisari untuk tema sabar:

Jangan membuat masalah dunia menjadi lebih besar daripada rahmat Allah.

Sabar bukan berarti kehilangan rasa humor dan harapan.

Sabar adalah:

tetap waras, tetap beragama, tetap berbuat baik meskipun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan.


USTADZ ADI HIDAYAT

Intisari yang dapat digunakan:

Ketika diuji, jangan hanya bertanya “mengapa saya?” tetapi carilah petunjuk Allah tentang apa yang harus dilakukan.

Sabar harus disertai:

ilmu → doa → ikhtiar → tawakal.


USTADZ BUYA YAHYA

Pesan yang sangat relevan:

Jangan biarkan ujian membuat hati berburuk sangka kepada Allah.

Kita boleh menangis.

Kita boleh merasa sakit.

Tetapi jangan sampai hati berkata:

“Allah tidak sayang kepada saya.”

Karena bisa jadi sesuatu yang kita anggap musibah justru menjadi jalan keselamatan kita.


USTADZ ABDUL SOMAD

Dalam konteks dakwah yang praktis:

Sabar harus menghasilkan tindakan.

Jika menghadapi masalah:

jangan hanya mengeluh.

Berdoa.

Belajar.

Berusaha.

Bersedekah.

Memperbaiki hubungan.

Meminta nasihat.

Dan terus berjalan.


BUYA ARRAZY HASYIM

Ada penjelasan Buya Arrazy Hasyim yang sangat relevan: beliau membedakan pembahasan sabar yang bersifat nafsiah dengan sabar ruhiah, dan menekankan pentingnya meminta kesabaran ruhani yang berkaitan dengan keikhlasan.

Ini sangat indah untuk Tazkiyatun Nufūs:

Sabar yang hanya menahan emosi bisa melelahkan.

Tetapi:

sabar yang disertai ikhlas dapat menjadi ibadah.


7. IMPLEMENTASI SABAR DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Ketika pasangan membuat kita kecewa

Jangan langsung membalas.

Diam → tenangkan diri → bicara baik-baik → cari solusi.

Ketika anak melakukan kesalahan

Jangan langsung melabeli:

“Kamu memang anak nakal!”

Tetapi:

“Kesalahanmu harus diperbaiki.”

Bedakan:

anaknya dengan kesalahannya.

Ketika seseorang menghina kita

Jangan buru-buru membalas.

Tanyakan:

“Apakah membalas akan memperbaiki keadaan atau justru memperpanjang masalah?”

Ketika bisnis rugi

Jangan mengatakan:

“Aku gagal.”

Katakan:

“Aku sedang belajar melalui kegagalan.”

Ketika doa belum terkabul

Jangan berkata:

“Allah tidak mendengar doaku.”

Tetapi:

“Allah mendengar. Aku belum mengetahui kapan dan dalam bentuk apa jawaban-Nya.”


8. SABAR TINGKAT TINGGI

Ada sabar karena:

takut hukuman Allah.

Ada sabar karena:

mengharapkan pahala Allah.

Dan ada sabar yang semakin tinggi:

karena cinta dan percaya kepada Allah.

Pada tingkat ini, seorang hamba berkata:

“Ya Allah, aku tidak selalu memahami takdir-Mu, tetapi aku percaya kepada-Mu.”

Inilah salah satu ruh terdalam dari Tazkiyatun Nufūs.


9. MUHASABAH TERDALAM

Mari bertanya kepada hati:

Apakah saya benar-benar sabar?

Ataukah saya hanya diam sementara, lalu menyimpan dendam?

Apakah saya sabar?

Ataukah saya hanya menunggu kesempatan membalas?

Apakah saya tawakal?

Ataukah saya hanya menyerah karena sudah lelah?

Apakah saya ridha?

Ataukah saya sebenarnya masih terus memprotes Allah dalam hati?

Apakah saya sudah membersihkan jiwa?

Ataukah saya hanya sibuk membersihkan citra diri di hadapan manusia?


10. KALIMAT RENUNGAN

Jika seseorang menyakitimu, jangan biarkan dia menentukan kualitas akhlakmu.

Jika seseorang menghina dirimu, jangan izinkan lisannya mengubahmu menjadi orang yang buruk.

Jika dunia tidak memberimu apa yang kamu inginkan, jangan kehilangan apa yang paling penting: hubunganmu dengan Allah.

Karena:

Tidak semua yang hilang adalah musibah.

Tidak semua yang datang adalah nikmat.

Dan tidak semua yang tertunda adalah penolakan Allah.

Kadang-kadang Allah menunda karena sedang mendidik.

Kadang Allah mengambil karena sedang menyelamatkan.

Kadang Allah menguji karena sedang meninggikan.

Dan kadang Allah membuat kita menangis agar hati kita kembali kepada-Nya.


11. KESIMPULAN

SABAR ADALAH KEKUATAN ORANG YANG BERIMAN.

Sabar ketika:

taat.

Sabar ketika:

meninggalkan maksiat.

Sabar ketika:

dihina.

Sabar ketika:

kehilangan.

Sabar ketika:

menunggu.

Sabar ketika:

mendapat nikmat.

Sabar ketika:

tidak dipahami manusia.

Dan yang paling tinggi:

sabar dalam perjalanan menuju Allah.

Karena manusia yang sabar tidak selalu memiliki kehidupan yang mudah.

Tetapi ia memiliki:

hati yang lebih kuat.


12. DOA

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ صَبْرًا جَمِيلًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا، وَنَفْسًا مُطْمَئِنَّةً، وَرِضًا بِقَضَائِكَ، وَتَوَكُّلًا عَلَيْكَ.

Allāhumma innā nas'aluka ṣabran jamīlan, wa qalban salīman, wa nafsan muṭma'innah, wa riḍan biqaḍā'ika, wa tawakkulan 'alaik.

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kesabaran yang indah, hati yang bersih, jiwa yang tenang, keridhaan terhadap ketetapan-Mu, dan tawakal kepada-Mu.”

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِالصَّبْرِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْغَضَبِ وَالْحَسَدِ وَالْحِقْدِ وَالْكِبْرِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ الشَّاكِرِينَ الرَّاضِينَ.

“Ya Allah, hiasilah kami dengan kesabaran. Bersihkan hati kami dari kemarahan, iri hati, dendam dan kesombongan. Jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang sabar, bersyukur dan ridha.”

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri kepada-Mu.”

Aamiin Yā Rabbal 'Ālamīn.


13. PENUTUP DAN UCAPAN TERIMA KASIH

Jazakumullāhu khairan katsīran kepada para ustadz, kyai, guru, mursyid, ulama dan seluruh pembimbing yang senantiasa mengingatkan kita tentang pentingnya membersihkan hati dan mendidik jiwa.

Terima kasih pula kepada seluruh pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan tulisan ini.

Semoga tulisan ini bukan hanya menjadi bahan bacaan, tetapi menjadi bahan muhasabah.

Jangan sampai kita hanya pandai berbicara tentang sabar,

tetapi mudah marah.

Jangan sampai kita sering menasihati orang tentang sabar,

tetapi hati kita sendiri penuh dendam.

Jangan sampai kita mengajarkan tawakal,

tetapi selalu mengeluh kepada manusia.

Semoga Allah menjadikan kita:

orang yang sabar ketika diuji,

bersyukur ketika diberi,

ikhlas ketika beramal,

memaafkan ketika disakiti,

dan tetap dekat kepada Allah dalam setiap keadaan.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang sabar.”

Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.


DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Qur'an al-Karim, khususnya QS. Al-Baqarah: 153, 155–157; QS. Az-Zumar: 10; QS. Ali 'Imran: 200.
  2. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Maraḍ dan hadis-hadis tentang kesabaran.
  3. Ṣaḥīḥ Muslim, hadis tentang keadaan orang mukmin dan kesabaran.
  4. Al-Ghazali, Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn, khususnya Kitāb al-Ṣabr wa al-Syukr.
  5. Ibn Abi al-Dunya, al-Ṣabr wa al-Thawāb 'Alayh.
  6. Al-Sarraj al-Tusi, Al-Luma' fi al-Tasawwuf, pembahasan maqām al-ṣabr.
  7. Literatur biografis dan karya-karya yang membahas Hasan al-Bashri, Rabi'ah al-'Adawiyah, Abu Yazid al-Bistami, Junaid al-Baghdadi, Al-Hallaj, Abdul Qadir al-Jailani, Jalaluddin Rumi, Ibn 'Arabi dan Ahmad al-Tijani.
  8. Kajian-kajian kontemporer para ulama dan pendakwah Indonesia mengenai sabar, tawakal, ikhlas dan Tazkiyatun Nufūs.

KALIMAT PENUTUP UNTUK DIBAWA PULANG

“SABARLAH…

bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena kita tahu kepada siapa kita berserah.

Menangislah jika perlu, berdoalah jika lemah, beristirahatlah jika lelah, tetapi jangan pernah meninggalkan Allah.

Sebab boleh jadi ujian yang hari ini membuat kita menangis, justru menjadi jalan yang kelak membuat kita bersyukur.”

...........

No comments: