Bismillahirahmanirrahim.
Sabtu, 20 Jun 1026
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Buat njenengan penikmat ilmu, terimalah oleh oleh maghrib'an dari Masjid Nurul Huda, nyantri bareng Ust. Farid A. kupas tipis tipis kitab Usfuriyah karya Muhammad bin Abu Bakar bin Usfuri :
HADITS KE-22 : HAL-HAL YANG MEMBUAT WAJIB MEMPEROLEH AMPUNAN.
a. Memikirkan Keluarga adalah Pelebur Dosa.
Diriwayatkan dari Said bin Musayyab radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:
Pada suatu hari, Ali bin Abi Tholib keluar dari rumahnya. Kemudian ia ditemui oleh Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu.
“Bagaimana kabarmu pagi hari ini? Wahai Abu Abdillah,” tanya Ali kepada Salman.
“Wahai Amirul Mukminin! Aku sedang merasakan 4 (empat) kesedihan,” jawab Salman.
“4 (empat) kesedihan apa itu?” tanya Ali.
“(1) Kesedihan memikirkan keluarga yang memerlukan makanan, (2) kesedihan dari Allah yang memerintahkanku bertaat,
(3) kesedihan dari setan yang merayu melakukan kemaksiatan, dan (4) kesedihan dari Malaikat Maut yang menuntut nyawaku,” jelas Salman.
Ali berkata, “Bahagialah! Wahai Abu Abdillah! Karena masing-masing kesedihan itu memiliki derajat bagimu karena pada suatu hari aku pernah menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama dan beliau bertanya kepadaku, ‘Hai Ali! Bagaimana kabarmu pagi ini?’ Kemudian aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku sedang merasakan 4 (empat) kesedihan. Kesedihan karena di rumah tidak ada makanan kecuali hanya air dan aku mengkhawatirkan keluargaku, kesedihan tentang ketaatan kepada Allah, kesedihan tentang bagaimana nanti akhir hidupku (membawa keimanan atau tidak), dan kesedihan tentang Malaikat Maut.’
Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata, ‘Bahagialah! Hai Ali! Karena sedih memikirkan keluarga adalah pelindung dari api neraka. Kesedihan tentang ketaatan kepada Allah adalah kesejahteraan dari siksa. Kesedihan tentang akhir kehidupan adalah jihad dan lebih utama daripada ibadah selama 60 tahun. Dan kesedihan tentang Malaikat Maut adalah pelebur seluruh dosa. Ketahuilah! Hai Ali! Sesungguhnya rizki-rizki hamba adalah tanggungan Allah sedangkan kesedihanmu itu tidak akan memberikan mara bahaya atau manfaat bagimu tetapi kamu diberi pahala karenanya. Oleh karena itu, jadilah orang yang bersyukur, yang taat, yang bertawakkal maka kamu akan menjadi salah satu dari golongan kekasih-Nya.’ Kemudian aku bertanya, ‘Atas apa aku bersyukur kepada Allah?’ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, ‘Atas Islam’. Aku bertanya, ‘Dengan apa aku bertaat?’ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, ‘Ucapkanlah Laa Haula Walaa Quwwata Illa billahi al-‘Aliyyi al- ‘Adzim.’ Aku bertanya, ‘Apa yang harus aku tinggalkan?’ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, ‘Kemarahan. Karena meninggalkan kemarahan dapat meredam kemarahan Allah Yang Maha Agung, dapat memberatkan timbangan amal kebaikanmu dan dapat menuntunmu menuju surga.’
Salman berkata, “Semoga Allah menambahkan kemuliaanmu. Wahai Ali! Karena aku sungguh bersedih memikirkan itu semua, terutama karena keluarga.”
Ali berkata, “Hai Salman al-Farisi! Aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Barang siapa tidak bersedih memikirkan tentang keluarga maka ia tidak memiliki bagian dari surga’.”
Salman berkata, “Benarkah? Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama pernah bersabda, ‘Orang yang memiliki tanggungan keluarga tidak akan bahagia selamanya’.”
Ali berkata, “Hai Salman! Bukan begitu maksudnya. Apabila pekerjaanmu itu halal maka kamu akan bahagia. Hai Salman! Surga itu merindukan orang-orang yang kuatir dan bersedih hati memikirkan hal yang halal.”
.........
Empat Kesedihan yang Mengantarkan kepada Kemuliaan
Dalam Perspektif Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs
Muqaddimah
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Di antara tanda hidupnya hati seorang mukmin adalah adanya kesedihan yang terpuji (al-ḥuzn al-maḥmūd). Kesedihan yang lahir bukan karena kehilangan dunia, tetapi karena memikirkan amanah keluarga, ketaatan kepada Allah, keselamatan iman, dan datangnya kematian.
Kisah dialog antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidina Salman Al-Farisi radhiyallāhu ‘anhumā mengajarkan bahwa tidak semua kesedihan adalah keburukan. Dalam pandangan tasawuf, sebagian kesedihan justru merupakan cahaya yang membangunkan hati dari kelalaian.
1. Makna (Tafsir) Isi Redaksi
Dalam perspektif Tazkiyatun Nufūs, empat kesedihan tersebut adalah:
1. Sedih Memikirkan Nafkah Keluarga
Bukan karena cinta dunia, tetapi karena takut lalai menunaikan amanah Allah.
Keluarga adalah titipan Allah yang wajib dipelihara lahir dan batin.
Kesedihan seperti ini menunjukkan adanya sifat:
- Rahmah (kasih sayang)
- Amanah
- Tanggung jawab
Bukan kesedihan yang tercela, tetapi ibadah hati.
2. Sedih Memikirkan Ketaatan kepada Allah
Seorang salik (penempuh jalan menuju Allah) selalu merasa amalnya kurang.
Ia takut:
- Shalatnya tidak khusyuk
- Zikirnya tidak ikhlas
- Amalnya tercampur riya
Kesedihan ini melahirkan istiqamah.
3. Sedih Memikirkan Akhir Kehidupan (Husnul Khatimah)
Inilah kesedihan para wali.
Mereka tidak tertipu oleh banyaknya amal.
Mereka khawatir:
"Bagaimana jika hidup panjang tetapi wafat tanpa iman?"
Karena itu mereka selalu memperbaharui taubat.
4. Sedih Mengingat Malaikat Maut
Kesedihan ini memutus angan-angan dunia.
Orang yang banyak mengingat mati:
- tidak sombong,
- tidak rakus,
- tidak zalim.
Ia sadar bahwa semua akan ditinggalkan.
2. Hukum (Ahkam)
Wajib
- Menafkahi keluarga dengan cara halal.
- Menjaga iman hingga wafat.
- Mentaati Allah dan Rasul-Nya.
Sunnah
- Memperbanyak muhasabah.
- Mengingat kematian.
- Memikirkan keadaan akhirat.
Haram
- Berputus asa dari rahmat Allah.
- Menafkahi keluarga dengan cara haram.
- Merasa aman dari makar Allah.
3. Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)
A. Kesedihan dapat menjadi ibadah
Tidak semua kesedihan tercela.
Kesedihan yang mendorong ketaatan adalah pahala.
B. Orang beriman selalu memiliki rasa takut dan harap
Takut kepada siksa Allah.
Berharap kepada rahmat-Nya.
C. Nafkah halal adalah jalan menuju surga
Bekerja mencari nafkah bukan hanya urusan dunia tetapi ibadah.
D. Husnul khatimah harus diperjuangkan
Iman bukan hanya saat hidup, tetapi harus dibawa sampai mati.
4. Dalil Al-Qur'an, Hadis dan Hadis Qudsi
Al-Qur'an
Allah berfirman:
"Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
(QS. At-Tahrim: 6)
Allah berfirman:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Allah berfirman:
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."
(QS. Ali Imran: 185)
Allah berfirman:
"Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
(QS. Ali Imran: 102)
Hadis
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati."
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian."
Hadis Qudsi
Allah berfirman:
"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku."
Maka seorang mukmin takut akan dosa-dosanya tetapi tetap berharap rahmat Allah.
5. Analisis dan Argumentasi Tasawuf
Empat kesedihan ini sesungguhnya merupakan empat penjaga hati:
| Kesedihan | Menjaga |
|---|---|
| Nafkah keluarga | dari kezaliman |
| Ketaatan | dari kemaksiatan |
| Husnul khatimah | dari ujub |
| Kematian | dari cinta dunia |
Tasawuf tidak mengajarkan kegelisahan yang membuat putus asa.
Tasawuf mengajarkan:
Khauf (takut) yang melahirkan amal.
Bukan takut yang melahirkan keputusasaan.
Orang yang tidak pernah sedih terhadap akhirat biasanya terlalu sibuk dengan dunia.
Sebaliknya, orang yang hanya sedih terhadap dunia tetapi tidak sedih terhadap agamanya menunjukkan lemahnya iman.
6. Amalan (Implementasi)
Harian
- Shalat lima waktu berjamaah.
- Membaca Al-Qur'an.
- Zikir:
Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil ‘Azhiim.
Mingguan
- Sedekah walau sedikit.
- Menyantuni keluarga.
- Ziarah kubur.
Bulanan
- Muhasabah amal.
- Menghitung pemasukan halal dan pengeluaran.
- Memastikan zakat dan sedekah ditunaikan.
7. Relevansi di Zaman Sekarang
Teknologi
Di era AI, internet, dan media sosial:
- banyak orang khawatir kehilangan sinyal,
- tetapi tidak khawatir kehilangan iman.
Komunikasi
Cepatnya komunikasi sering digunakan untuk:
- ghibah,
- fitnah,
- pamer.
Padahal seharusnya digunakan untuk dakwah.
Transportasi
Perjalanan semakin cepat.
Namun perjalanan menuju kubur tetap semakin dekat.
Kedokteran
Rumah sakit semakin canggih.
Tetapi tidak ada dokter yang mampu menolak datangnya Malaikat Maut.
Kehidupan Sosial
Banyak orang mengejar:
- followers,
- popularitas,
- jabatan.
Namun lupa mempersiapkan bekal akhirat.
8. Motivasi
Wahai saudaraku,
Jika hari ini engkau masih memikirkan:
- halal haram nafkahmu,
- kualitas ibadahmu,
- keselamatan imanmu,
- kematianmu,
maka jangan putus asa.
Itu tanda bahwa hati masih hidup.
Yang berbahaya bukanlah banyaknya kesedihan akhirat.
Yang berbahaya adalah hati yang tidak lagi peduli terhadap akhirat.
9. Muhasabah dan Caranya
Tanyakan setiap malam kepada diri sendiri:
Tentang keluarga
- Sudahkah aku memberi nafkah halal?
Tentang ibadah
- Sudahkah shalatku lebih baik dari kemarin?
Tentang iman
- Apakah hari ini aku bertambah dekat kepada Allah?
Tentang kematian
- Jika malam ini aku wafat, apakah aku siap?
Kemudian:
- istighfar 100 kali,
- membaca shalawat 100 kali,
- memperbaharui taubat sebelum tidur.
10. Kemuliaan dan Kehinaan
Kemuliaan
Di Dunia
- Hati tenang.
- Rezeki lebih berkah.
- Dicintai keluarga.
- Dipandang sebagai orang amanah.
Di Alam Kubur
- Mendapat rahmat Allah.
- Kubur dilapangkan.
Di Hari Kiamat
- Mendapat naungan rahmat.
- Timbangan amal berat.
Di Akhirat
- Husnul khatimah.
- Ampunan Allah.
- Surga yang penuh kenikmatan.
Kehinaan
Bagi yang lalai terhadap empat perkara ini:
Di Dunia
- Hati keras.
- Rakus dunia.
- Gelisah tanpa sebab.
Di Alam Kubur
- Penyesalan yang panjang.
Di Hari Kiamat
- Hisab yang berat.
Di Akhirat
- Terhalang dari berbagai kemuliaan yang Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang taat.
11. Doa
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Allāhumma yā Muqallibal-qulūb tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik.
Allāhumma arzuqnā rizqan ḥalālan ṭayyiban mubārakan fīh.
Allāhumma a‘innā ‘alā dzikrika wa syukrika wa ḥusni ‘ibādatik.
Allāhumma ij‘al ākhira kalāminā minad-dunyā Lā ilāha illallāh Muḥammadur Rasūlullāh.
Allāhumma hawwin ‘alainā sakarātal-maut, wa anwirlana fil-qubūr, wa najjinā yaumal-ba‘tsi wan-nusyūr.
Rabbana ātinā fid-dunyā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah wa qinā ‘adzāban-nār.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada seluruh kaum muslimin yang senantiasa berusaha membersihkan hati, mencari rezeki yang halal, mendidik keluarga dalam ketaatan, dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu takut kepada-Nya, berharap kepada rahmat-Nya, memperoleh husnul khatimah, serta dikumpulkan bersama Nabi Muhammad ﷺ, para sahabat, para shalihin, dan para pecinta Allah di surga-Nya yang abadi.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.

No comments:
Post a Comment