Senin, 21 September 2026

1582tan. KAYA HATI, BUKAN KAYA HARTA



KAYA HATI, BUKAN KAYA HARTA

................

Menata Hati, Menjernihkan Jiwa, Mendekat kepada Allah

..................

Bismillahirahmanirrahim.

Senin, 21. Sep. 2026

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Buat njenengan penikmat ilmu, terimalah oleh oleh shubuh'an, dari masjid Al Abror  nyantri bareng ust. A. Zubaidi kupas tipis tipis kitab Tanbihul Ghafilin (Abul Laits as-Samarqandi)  :

.............

BAB 24 Tentang Rakus dan Berkhayal.

Rakus ada dua macam, yaitu:

Yang tercela, hingga melupakan kewajibannya, menghimpun harta untuk kesombongan.

Yang tidak tercela, tidak sampai meninggalkan kewajibannya dan tidak untuk kesombongan, karena di antara para sahabat ada juga yang kaya raya, Rasulullah tidak mencela (tidak melarang)nya, (demikian penjelasan Al Faqih).

.........

1. Rahasia Hikmah

Ada dua macam "rakus". Yang pertama tercela: menghimpun harta sampai lupa kewajiban, menjadikannya alat kesombongan. Yang kedua tidak tercela: tetap menjalankan kewajiban, tidak untuk berbangga. Para sahabat ada yang kaya raya, dan Rasulullah tidak mencela mereka. Inilah rahasianya: hati bisa tetap bersih meski tangan penuh harta. Kuncinya bukan seberapa banyak, tapi seberapa terikat.

2. Nasehat

Firman Allah: "Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku aniaya terhadap mereka. Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, 'Janganlah engkau terlalu bangga. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.'" (QS Al-Qashash: 76) 

Sabda Nabi ﷺ: "Kemuliaan adalah pakaian-Ku, dan kebesaran adalah selendang-Ku. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam salah satunya, maka Aku pasti akan menyiksanya." (HR Muslim) 

3. Makrifatnya

Makrifatnya simpel: harta itu cuma alat. Bukan identitas, bukan ukuran kemuliaan. Allah nggak lihat saldo rekening, Allah lihat isi hati. Di zaman viral sekarang, semua orang pamer. Tapi yang benar-benar kaya adalah yang hatinya nggak goyah saat lihat orang lain lebih, dan nggak sombong saat punya lebih.

4. Tasawuf, Muhasabah, dan Caranya

Imam Al-Ghazali bilang, tanda zuhud itu tiga: Pertama, nggak bangga saat punya, nggak sedih saat kehilangan . Kedua, pujian dan hinaan sama saja rasanya . Ketiga, hati senang dengan Allah, bukan dengan dunia .

Muhasabahnya: tiap malam, tanya diri. Hari ini, aku ngejar harta karena Allah atau karena gengsi? Saat lihat orang kaya, aku iri atau ikut senang? Saat punya lebih, aku bersyukur atau pamer?

Caranya: mulai dari yang kecil. Sedekah diam-diam. Syukuri apa yang ada. Nggak usah jadi sempurna, yang penting terus memperbaiki diri.

5. Doa

Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad ini sekadar kebutuhan pokok (kecukupan).  Jangan biarkan harta membuat kami lupa pada-Mu. Jangan biarkan kemiskinan membuat kami iri dan sombong. Jadikan hati ini tenang hanya karena mengingat-Mu.

6. Ucapan Terima Kasih

Terima kasih untuk semua yang pernah mengingatkan. Maaf kalau ada salah kata. Terutama untuk diri sendiri: ayo, terus belajar.

---

Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa-siapa. Terutama untuk mengingatkan diri saya sendiri.

#TazkiyatunNufus #Muhasabah #Zuhud #MenataHati #MendekatKepadaAllah

................................

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga bermanfa'at selalu.

—M. Djoko ekasanU—


Tidak ada komentar: