bab 22 menahan marah.
Seseorang memuji Ulama Tabi’in, lalu ia diminta alasan Nyata tentang pujiannya itu, katanya:
Kau pernah mengujiku tengah marah, hingga nyata kesabarankus Jawabnya belum.
Kau pernah mengujiku, di dalam perjalanan, hingga nyata padamu kebaikan akhlakku? Jawabnya: Belum,
Kau pernah mengujiku tentang amanatku, hingga nyata padamu aku orang terpercaya? Jawabnya: Belum, kata Ulama tersebut.
Celaka kau, seseorang tidak boleh memuji lain orang, sebelum nyata padanya 3 perkara tersebut di atas.
.....
JUDUL:
Jangan Tergesa Memuji Manusia, Perbaikilah Diri Hingga Akhlakmu Teruji
Kisah ulama tabi'in di atas mengajarkan adab yang sangat agung dalam Islam. Seseorang tidak layak dipuji hanya karena penampilan, kepandaian berbicara, banyaknya ilmu, atau ramainya pengikut. Kemuliaan seseorang baru tampak ketika ia telah teruji dalam tiga perkara, yaitu:
- Saat marah, apakah ia tetap sabar dan mampu menahan hawa nafsu.
- Saat bepergian atau bermuamalah, apakah akhlaknya tetap baik dalam berbagai keadaan.
- Saat memegang amanah, apakah ia benar-benar jujur dan dapat dipercaya.
Inilah jalan tasawuf (Tazkiyatun Nufus), yaitu membersihkan hati agar penilaian kita tidak didasarkan pada prasangka, penampilan, atau kekaguman sesaat, melainkan pada akhlak yang telah terbukti.
Allah lebih melihat hati dan amal daripada penampilan. Seorang hamba hendaknya lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari pujian manusia. Orang yang ikhlas tidak mengejar sanjungan, tetapi mengejar keridaan Allah. Sebab pujian manusia tidak akan menambah kemuliaan di sisi Allah apabila tidak disertai keikhlasan dan akhlak yang benar.
Rasulullah ﷺ dan para salafus shalih sangat berhati-hati dalam memuji seseorang, karena pujian yang berlebihan dapat menimbulkan ujub, riya', dan kesombongan.
Dalil Al-Qur'an
1. QS. Al-Hujurat: 12
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka..."
Ayat ini mengajarkan agar tidak mudah menilai seseorang tanpa bukti yang nyata.
2. QS. An-Najm: 32
"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa."
3. QS. Al-Ahzab: 70
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."
Hadis Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. dan )
Beliau juga bersabda:
"Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu." (HR. dan )
Dan beliau bersabda:
"Janganlah kalian saling memuji secara berlebihan." (HR. )
Hadis Qudsi
Allah Ta'ala berfirman:
"Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah pakaian-Ku. Barang siapa menyaingi-Ku dalam salah satunya, Aku akan mengazabnya." (HR. )
Hadis ini mengingatkan agar seseorang tidak terlena oleh pujian sehingga tumbuh kesombongan dalam dirinya.
Relevansi di Zaman Sekarang
Di era media sosial, banyak orang dipuji hanya karena viral, pandai berbicara, memiliki gelar, atau banyak pengikut. Padahal belum tentu akhlaknya telah teruji.
Tasawuf mengajarkan agar kita:
- Tidak mudah mengidolakan seseorang.
- Tidak mudah memuji sebelum mengenal akhlaknya.
- Tidak mudah mencela hanya karena kesalahan sesaat.
- Lebih sibuk memperbaiki diri daripada menilai orang lain.
Orang yang matang jiwanya tidak mencari popularitas, tetapi mencari keberkahan.
Muhasabah
Renungkanlah:
- Apakah aku mampu menahan marah?
- Apakah akhlakku tetap baik ketika safar, bekerja, atau bermuamalah?
- Apakah aku benar-benar amanah terhadap titipan Allah dan manusia?
- Apakah aku senang dipuji?
- Apakah aku mudah memuji seseorang hanya karena penampilannya?
Cara Bermuhasabah (Tazkiyatun Nufus)
- Latih diri menahan marah dengan banyak berzikir dan berwudu.
- Biasakan berakhlak baik kepada semua orang, terutama keluarga dan orang yang sering bersama kita.
- Jaga setiap amanah, sekecil apa pun.
- Kurangi mencintai pujian manusia.
- Perbanyak istighfar dan berdoa agar diberi keikhlasan.
- Jadikan setiap ujian sebagai sarana membersihkan hati, bukan melampiaskan hawa nafsu.
Doa
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ، وَعَمَلِي مِنَ الرِّيَاءِ، وَلِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ، وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ، وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الْأُمَنَاءِ الصَّابِرِينَ.
Artinya:
"Ya Allah, sucikanlah hatiku dari kemunafikan, amalanku dari riya', lisanku dari dusta, mataku dari khianat, dan jadikanlah aku termasuk hamba-Mu yang saleh, amanah, dan sabar."
Penutup
Janganlah kita berlomba mencari pujian manusia, tetapi berlombalah menjadi hamba yang diridhai Allah. Sebab akhlak yang sejati bukan tampak ketika keadaan mudah, melainkan ketika marah, ketika diuji dalam perjalanan hidup, dan ketika memegang amanah. Semoga Allah menghiasi hati kita dengan keikhlasan, kesabaran, amanah, dan husnul khuluq, sehingga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dicintai di dunia dan dimuliakan di akhirat.
Jazakumullahu khairan katsiran.
Semoga Allah SWT menerima setiap amal ibadah kita, membersihkan hati kita, memperindah akhlak kita, dan mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi'in, orang-orang saleh, di surga Firdaus. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
........
No comments:
Post a Comment