Bab : 29
Tanda Tanda Bahagia dan Celaka.
Inilah beberapa tanda orang yang bahagia dan diikuti tanda orang yang celaka yang diambil dari Kitab Duratun Nasihin sebagai berikut:
Sedikit atau mengurangi berbicara yang tidak penting, sedang celakanya banyak bicara yang cenderung menggunjing orang lain.
......
Bahagia dengan Menjaga Lisan, Celaka karena Banyak Bicara
Bismillahirrahmanirrahim.
Dalam Kitab Duratun Nasihin disebutkan bahwa di antara tanda orang yang berbahagia adalah sedikit berbicara pada perkara yang tidak bermanfaat, sedangkan tanda orang yang celaka adalah banyak berbicara hingga terjatuh dalam ghibah (menggunjing), fitnah, dusta, dan menyakiti orang lain.
Dalam perspektif tasawuf (Tazkiyatul Nufus), lisan adalah cermin hati. Hati yang bersih akan melahirkan ucapan yang baik, lembut, jujur, dan penuh hikmah. Sebaliknya, hati yang dipenuhi penyakit seperti riya', hasad, dendam, dan cinta dunia akan mudah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti sesama.
Para ulama tasawuf berkata:
"Hati adalah raja, sedangkan lisan adalah penerjemahnya."
Karena itu, orang yang sedang menyucikan jiwanya tidak hanya memperbanyak dzikir kepada Allah, tetapi juga menjaga lisannya dari segala perkataan yang tidak bermanfaat.
Di zaman sekarang, menjaga lisan bukan hanya ketika berbicara secara langsung, tetapi juga ketika mengetik di media sosial, grup WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, maupun platform digital lainnya. Jari-jari kita bisa menjadi "lisan kedua" yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Dalil Al-Qur'an
1. QS. Qaf: 18
"Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat."
2. QS. Al-Hujurat: 12
"...Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya..."
3. QS. Al-Isra': 53
"Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik..."
Hadis Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
(HR. melalui dan )
Hadis lainnya:
"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah sehingga Allah mengangkat derajatnya. Dan seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah sehingga ia dilemparkan ke dalam neraka."
(HR. )
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Barang siapa dapat menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan dua kakinya, maka aku menjamin baginya surga."
(HR. )
Hadis Qudsi
Allah Ta'ala berfirman dalam hadis qudsi:
"Wahai anak Adam, apabila engkau mengingat-Ku dalam dirimu, Aku mengingatmu dalam diri-Ku..."
(HR. )
Hadis ini mengajarkan bahwa lisan yang dipenuhi dzikir akan menghidupkan hati dan mendekatkan seorang hamba kepada Allah.
Hikmah Tazkiyatul Nufus
Orang yang sedikit bicara bukan berarti tidak peduli kepada orang lain, tetapi ia memilih perkataan yang bernilai ibadah.
Lisan yang dijaga akan:
- Menenangkan hati.
- Memperbanyak dzikir.
- Mengurangi dosa.
- Menjaga persaudaraan.
- Mendekatkan diri kepada Allah.
Sebaliknya, banyak bicara tanpa kendali akan:
- Menimbulkan ghibah dan fitnah.
- Memutus silaturahmi.
- Mengeraskan hati.
- Menghapus pahala amal.
- Mengundang penyesalan pada Hari Kiamat.
Muhasabah Diri
Renungkanlah setiap hari:
- Apakah lisanku hari ini lebih banyak berdzikir atau bergunjing?
- Apakah perkataanku membawa manfaat atau justru melukai hati orang lain?
- Apakah komentar dan pesan yang kutulis bernilai pahala atau dosa?
- Seandainya semua ucapanku diperdengarkan pada Hari Kiamat, apakah aku akan merasa malu?
Cara Mengamalkannya
- Awali hari dengan niat menjaga lisan karena Allah.
- Perbanyak membaca istighfar dan dzikir.
- Biasakan berpikir sebelum berbicara.
- Tinggalkan majelis yang dipenuhi ghibah.
- Gunakan media sosial untuk menyebarkan ilmu dan kebaikan.
- Biasakan diam ketika pembicaraan tidak bermanfaat.
- Setiap malam evaluasi ucapan yang telah keluar dari lisan.
Doa
Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik. Allahumma tahhir qalbi minan nifaq, wa lisani minal kadzib, wa a'mali minal riya', waj'al lisani rathban bidzikrik. Allahumma ihfazh lisani min kulli qaulin la yurdhika, waj'al kalami nuran wa hidayatan wa sababari ridhaka. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Artinya:
"Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, sucikanlah hatiku dari kemunafikan, lisanku dari dusta, amalanku dari riya', dan jadikan lisanku senantiasa basah dengan mengingat-Mu. Ya Allah, peliharalah lisanku dari setiap ucapan yang tidak Engkau ridhai, dan jadikan setiap perkataanku sebagai cahaya, petunjuk, dan sebab turunnya keridaan-Mu. Aamiin."
Penutup
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu menjaga lisan, memperbanyak dzikir, mengurangi perkataan yang sia-sia, serta dijauhkan dari ghibah, fitnah, dan segala ucapan yang mengundang murka-Nya.
Jadikan diam sebagai ibadah, dzikir sebagai kebiasaan, dan ucapan sebagai jalan menuju surga.
Jazakumullahu khairan katsiran.
Terima kasih atas kesediaan meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan nasihat ini. Semoga Allah SWT memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya, menyucikan hati, menjaga lisan, serta menghimpun kita bersama orang-orang saleh di dunia dan akhirat. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
.......
No comments:
Post a Comment