Tuesday, July 7, 2026

243irs. Menangislah Sebelum Diadili: Keikhlasan Seorang Dai dalam Timbangan Allah

 Bab : Ilmu

Sayyidina Malik bin Dinar bila berbicara di waktu berkhutbah menangis, lalu berkata: ‘Apakah kamu mengira bahwa aku merasa tenang hatiku dengan apa yang kuketengahkan padamu, bukankah aku telah mengetahui bahwa Allah swt yang akan mempertanggung jawabkan padaku tentang isi khutbah yang kusampaikan kali ini.

Apakah yang kamu kehendaki dengan penyampaian itu? Lalu aku berkata: “Sesungguhnya engkau sebagai saksi yang mengetahui seluk beluk hatiku, seandainya aku tidak mengetahui bahwa apa yang kusampaikan ini lebih kamu cintai aku tak akan menyampaikannya kepada dua orang selamanya.

.........

Penggalan kisah ini mengandung pelajaran besar tentang keikhlasan, rasa takut kepada Allah (khauf), muraqabah (merasa diawasi Allah), dan amanah dalam menyampaikan ilmu.

....

Menangislah Sebelum Diadili: Keikhlasan Seorang Dai dalam Timbangan Allah

Bismillahirrahmanirrahim

Sayyidina Malik bin Dinar rahimahullah adalah salah seorang ulama dan ahli zuhud yang terkenal dengan kelembutan hati dan kedalaman rasa takutnya kepada Allah SWT. Ketika beliau berkhutbah, air matanya sering mengalir. Beliau berkata:

"Apakah kalian mengira hatiku tenang dengan apa yang kusampaikan kepada kalian? Demi Allah, aku mengetahui bahwa Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban dariku atas setiap kalimat yang aku ucapkan."

Beliau tidak berbicara untuk mencari pujian, kedudukan, atau popularitas. Beliau hanya berharap ridha Allah. Bahkan beliau berkata bahwa seandainya Allah tidak mencintai penyampaian kebenaran, niscaya beliau tidak akan berbicara kepada seorang pun.

Inilah akhlak para salihin. Mereka lebih takut terhadap hisab atas lisannya daripada gembira karena banyaknya pendengar.

Dalam perspektif Tasawuf dan Tazkiyatun Nufus, setiap ilmu adalah amanah. Lisan bukan sekadar alat berbicara, tetapi juga akan menjadi saksi di hadapan Allah. Karena itu seorang mukmin hendaknya selalu membersihkan niat sebelum berbicara, mengajar, berdakwah, maupun menulis.

Di zaman sekarang, ceramah, tulisan, dan dakwah dapat tersebar ke seluruh dunia melalui media sosial hanya dalam hitungan detik. Namun semakin luas jangkauan dakwah, semakin besar pula tanggung jawabnya. Jangan sampai semangat ingin terkenal mengalahkan keikhlasan. Jangan sampai banyaknya "like", "subscriber", atau pujian manusia menghapus pahala di sisi Allah.

Seorang sufi berkata:

"Amal yang kecil karena ikhlas lebih besar nilainya daripada amal besar yang dicampuri riya'."

Maka setiap kali hendak berbicara, bertanyalah kepada hati:

  • Apakah ini karena Allah?
  • Apakah ucapan ini membawa manusia lebih dekat kepada-Nya?
  • Apakah aku sendiri telah berusaha mengamalkannya?

Allah SWT berfirman:

"Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Allah juga berfirman:

"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat."
(QS. Qaf: 18)

Dan Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan."
(QS. Ash-Shaff: 2–3)

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis qudsi Allah berfirman:

"Aku adalah Dzat Yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal lalu ia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku di dalam amal itu, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya."
(HR. Muslim)

Muhasabah

Renungkanlah:

  • Sudahkah aku menjaga keikhlasan ketika berbicara?
  • Apakah aku lebih senang dipuji manusia daripada diridhai Allah?
  • Apakah ilmu yang kusampaikan telah kuamalkan?
  • Apakah lisanku lebih banyak mengingat Allah daripada membicarakan kekurangan orang lain?

Cara Bermuhasabah

  1. Perbarui niat sebelum berbicara atau berdakwah.
  2. Perbanyak istighfar setelah menyampaikan ilmu.
  3. Biasakan berdoa agar dijauhkan dari riya', ujub, dan sum'ah.
  4. Perbanyak dzikir agar hati tetap hidup.
  5. Jadikan amal tersembunyi sebagai penyeimbang amal yang tampak.
  6. Terus belajar dan mengamalkan ilmu sebelum mengajarkannya kepada orang lain.

Doa

Bismillahirrahmanirrahim.

Ya Allah, sucikanlah hati kami dari riya', ujub, sum'ah, dan cinta kepada pujian manusia. Jadikan setiap ilmu yang kami pelajari dan kami sampaikan semata-mata karena mengharap wajah-Mu.

Ya Allah, jagalah lisan kami agar hanya mengucapkan kebenaran, bimbinglah kami untuk mengamalkan ilmu sebelum mengajarkannya kepada orang lain, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami hati yang lembut, mata yang mudah menangis karena takut kepada-Mu, serta husnul khatimah ketika kembali menghadap-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Terima kasih.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas dalam beramal, amanah dalam menyampaikan ilmu, lembut hatinya, bersih jiwanya, dan memperoleh ridha-Nya di dunia maupun di akhirat. Aamiin. :::

......

No comments: