Tuesday, July 7, 2026

253irs. Meraih Ridha Allah dengan Pengorbanan dan Keikhlasan Jiwa

 Bab : Mandi

Syekh Al-Yafi’i pernah bercerita bahwa Syekh Izzuddin bin Abdissalam pernah bermimpi mengeluarkan air mani pada malam amat dingin, lalu pergi ke air, tahu-tahu airnya membeku, lalu dicairkan hingga bisa dibuat mandi jinabat. Dalam keadaan dingin yang sedemikian rupa ini hampir saja tidak panjang umurnya, lantaran udara yang amat dingin mencekik pernafasannya.

Setelah itu, bermimpi mengeluarkan air mani lagi, lalu datang ke tempat air, lalu mandi, namun kali ini dia pingsan. Setelah sadar ia mendengar suara yang mengatakan: ‘Sungguh aku akan menggantimu kemuliaan dunia dan akhirat karena usahamu untuk memperoleh ridha-Ku.

.......

Meraih Ridha Allah dengan Pengorbanan dan Keikhlasan Jiwa

(Nasihat Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs)

Kisah yang dinukil oleh Syekh Al-Yafi'i tentang Syekh Izzuddin bin Abdissalam mengajarkan bahwa seorang hamba yang benar-benar mencintai Allah akan berusaha melaksanakan perintah-Nya, sekalipun harus menghadapi kesulitan yang sangat berat. Dalam mimpi tersebut, beliau tetap berusaha mandi janabah meskipun air membeku dan udara sangat dingin hingga hampir merenggut nyawanya. Kemudian Allah memberikan kabar gembira bahwa usaha tersebut diganjar dengan kemuliaan dunia dan akhirat.

Dalam perspektif tasawuf, kisah ini bukan sekadar tentang mandi janabah, melainkan tentang keikhlasan, kesungguhan (mujāhadah), dan pengorbanan jiwa dalam mencari ridha Allah. Orang yang telah membersihkan hatinya tidak lagi menghitung berat-ringannya ibadah, tetapi memandang setiap ketaatan sebagai bentuk cinta kepada Rabbnya.

Allah menguji hamba-hamba-Nya bukan untuk menyulitkan mereka, tetapi agar hati mereka menjadi bersih, kuat, dan semakin dekat kepada-Nya. Semakin besar perjuangan seorang hamba dalam menaati Allah, semakin besar pula limpahan rahmat dan kemuliaan yang Allah anugerahkan.

Dalil Al-Qur'an

1. QS. Al-'Ankabut: 69

"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan."

2. QS. At-Taubah: 20

"Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah yang memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah."

3. QS. Al-Baqarah: 286

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Hadis Terkait

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka."

(HR. )

Beliau juga bersabda:

"Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (berat bagi hawa nafsu), sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat."

(HR. )

Hadis Qudsi

Allah Ta'ala berfirman:

"Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya..."

(HR. )

Hadis qudsi ini menunjukkan bahwa kesungguhan dalam menaati Allah akan mengantarkan seorang hamba kepada derajat mahabbah (cinta Allah).


Hikmah Tazkiyatun Nufūs

  1. Keikhlasan lebih berharga daripada kenyamanan. Orang yang ikhlas rela meninggalkan kenyamanan demi ridha Allah.

  2. Mujahadah melahirkan futuh (pertolongan Allah). Setelah perjuangan yang berat, Allah membukakan pintu kemuliaan.

  3. Ibadah yang berat bagi hawa nafsu menjadi cahaya bagi hati.

  4. Ridha Allah adalah kemuliaan terbesar, bukan pujian manusia.

  5. Kesabaran dalam taat akan mengangkat derajat seorang mukmin.


Relevansi di Zaman Sekarang

Di era teknologi modern, ujian bukan lagi sekadar dinginnya air, tetapi:

  • Berat bangun malam untuk tahajud karena terlalu lama bermain gawai.
  • Berat menjaga pandangan di tengah media sosial.
  • Berat menjaga kejujuran ketika peluang berbuat curang terbuka.
  • Berat melaksanakan shalat tepat waktu di tengah kesibukan pekerjaan.
  • Berat meninggalkan maksiat digital yang mudah diakses.

Semua itu merupakan bentuk mujahadah zaman ini. Barang siapa bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya karena Allah, maka Allah akan membukakan jalan kemuliaan baginya.


Muhasabah

Renungkanlah:

  • Apakah aku lebih memilih kenyamanan daripada ketaatan?
  • Sudahkah aku bersungguh-sungguh mencari ridha Allah?
  • Ketika ibadah terasa berat, apakah aku tetap istiqamah?
  • Apakah aku rela berkorban demi agama sebagaimana para ulama salaf?

Cara Bermuhasabah

  1. Evaluasi ibadah setiap malam.
  2. Perbanyak istighfar dan taubat.
  3. Biasakan melakukan ibadah meski terasa berat.
  4. Kurangi mengikuti hawa nafsu.
  5. Mohon kepada Allah agar diberi kekuatan untuk istiqamah.
  6. Berkumpul dengan orang-orang saleh agar semangat ibadah tetap terjaga.

Doa

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ وَالنِّفَاقِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالثَّبَاتَ عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْ رِضَاكَ أَعْظَمَ مَقْصُودِنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ. آمِينَ.

Artinya:

"Ya Allah, bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. Sucikanlah hati kami dari riya, ujub, dan nifak. Anugerahkanlah kepada kami keikhlasan dan keteguhan dalam menaati-Mu. Jadikanlah ridha-Mu sebagai tujuan terbesar hidup kami, dan wafatkanlah kami dalam husnul khatimah. Aamiin."


Terima Kasih

Terima kasih atas kesempatan untuk bersama-sama menelaah hikmah para ulama salaf. Semoga kisah ini membangkitkan semangat kita untuk terus menyucikan jiwa (tazkiyatun nufūs), memperkuat keikhlasan, dan mengutamakan ridha Allah di atas segala kepentingan dunia. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah dalam ketaatan, memperoleh kemuliaan di dunia dengan ilmu dan amal, serta kemuliaan di akhirat dengan rahmat-Nya. Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.

.....

No comments: