Nab : Ilmu.
Dalam kitab Al-Ghayah karangan Al-Hishni terdapat keterangan bahwa Dhirar bin Amar berkata: Sesungguhnya ada suatu kaum yang enggan menuntut ilmu, tidak sudi duduk bersama ahlul ilmi, baik pelajar atau ulama, lalu mereka hanya membikin kamar khusus, melakukan shalat, berpuasa sehingga kurus kering, kulitnya telah melekat pada tulangnya.
Tindakan mereka ini ternyata bertentangan dengan ajaran agama, akhirnya kebinasaanlah yang mereka terima. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Allah, tidak seorangpun yang beribadah dengan kebodohan, kecuali yang merusak lebih banyak daripada yang memperbaiki. Oleh karena itu, dia menyatakan bahwa mereka akan menemui kebinasaan.
.........
Ilmu Sebagai Cahaya Ibadah: Tazkiyatun Nufus agar Amal Tidak Tersesat oleh Kebodohan.
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menjadikan ilmu sebagai cahaya bagi hati, petunjuk bagi akal, dan pembimbing bagi amal. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Dalam Al-Ghayah, Al-Hishni mengutip perkataan Dhirar bin 'Amr bahwa ada sekelompok orang yang tekun beribadah, memperbanyak shalat dan puasa hingga tubuh mereka kurus kering. Namun mereka enggan menuntut ilmu, tidak mau duduk bersama ulama dan para penuntut ilmu. Akibatnya, ibadah mereka tidak dibangun di atas ilmu, sehingga justru membawa mereka kepada kebinasaan.
Inilah pelajaran besar dalam tasawuf (tazkiyatun nufus). Penyucian jiwa tidak cukup hanya dengan banyaknya amal, tetapi harus disertai ilmu yang benar. Ilmu adalah cahaya yang membimbing hati agar ikhlas, lurus, dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Tanpa ilmu, seseorang mudah tertipu oleh hawa nafsu, bisikan setan, bahkan merasa dirinya telah dekat kepada Allah padahal sedang menyimpang dari jalan-Nya.
Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
(QS. Az-Zumar: 9).
Allah juga berfirman:
"Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
(QS. Fathir: 28).
Dan Allah memerintahkan:
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui."
(QS. An-Nahl: 43).
Rasulullah SAW bersabda:
"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim."
(HR. Ibnu Majah)
Beliau juga bersabda:
"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis qudsi Allah Ta'ala berfirman:
"Hamba-Ku tidaklah mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya."
(HR. Bukhari)
Hadis qudsi ini menunjukkan bahwa ibadah yang paling dicintai Allah adalah ibadah yang sesuai syariat. Untuk mengetahui syariat dengan benar, seseorang wajib belajar kepada ahlinya.
Relevansi pada zaman sekarang
Di era media sosial dan kecerdasan buatan, banyak orang merasa cukup belajar dari potongan video, kutipan singkat, atau pendapat yang belum jelas sanad ilmunya. Bahkan ada yang lebih percaya kepada konten viral daripada kepada ulama yang terpercaya. Fenomena ini dapat melahirkan semangat beragama tanpa ilmu, sehingga mudah menyalahkan orang lain, mudah terjebak bid'ah, ekstrem, atau bahkan meninggalkan tuntunan Rasulullah SAW.
Tasawuf mengajarkan keseimbangan antara ilmu, amal, ikhlas, adab, dan bimbingan guru yang saleh. Hati yang bersih akan semakin tunduk untuk belajar, bukan merasa paling benar.
Muhasabah
Renungkanlah beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah aku lebih rajin beribadah daripada belajar memahami agamaku?
- Apakah aku mau menerima nasihat ulama, atau lebih mengikuti pendapat yang sesuai hawa nafsuku?
- Apakah ibadahku sudah sesuai sunnah Rasulullah SAW?
- Apakah aku masih rendah hati untuk terus belajar hingga akhir hayat?
Cara Bermuhasabah dan Mengamalkannya
- Niatkan belajar agama sebagai ibadah kepada Allah.
- Luangkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Qur'an beserta tafsirnya dan mempelajari hadis.
- Hadiri majelis ilmu bersama ulama yang berakidah dan berakhlak lurus.
- Amalkan setiap ilmu yang telah dipelajari sebelum mencari ilmu berikutnya.
- Perbanyak doa agar Allah memberikan ilmu yang bermanfaat, hati yang ikhlas, dan amal yang diterima.
- Hindari merasa paling benar, serta biasakan bertanya kepada ahlinya ketika belum memahami suatu persoalan.
Doa
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang Engkau terima."
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
"Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan anugerahkanlah kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan anugerahkanlah kemampuan untuk menjauhinya."
Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, terangilah hati kami dengan cahaya ilmu, hiasilah kami dengan keikhlasan, istiqamahkan kami di atas Al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Mu, serta wafatkan kami dalam husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada seluruh kaum muslimin yang senantiasa menghadiri majelis ilmu, menghormati para ulama, mencintai para penuntut ilmu, serta berusaha mengamalkan ilmu dengan ikhlas. Semoga Allah SWT menjadikan setiap langkah menuju majelis ilmu sebagai jalan menuju surga, melimpahkan keberkahan kepada kita semua, serta mengumpulkan kita kelak bersama Rasulullah SAW, para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Aamiin.
.......
No comments:
Post a Comment