Tiga akhlak terpuji, tidak mungkin tercapai, kecuali penghuni sorga, yaitu:
Memaafkan penganiaya (orang yang zalim) pada dirinya,
Murah hati terhadap orang yang kikir kepadanya,
Menolong orang yang menyalahi dirinya. Yafsiran ayat (di bawah) ini, ditanyakan Rasulullah kepada Jibril, Jawabnya: “Kutanyakan dulu kepada Allah Yang Maha Tahu, Tidak lama kemudian ia datang dan berkata: “Hai Muhammad, bahwasanya Allah memerintah kepadamu agar menyambung kembali saudara atau famili yang memutuskan ikatan persaudaraan denganmu, dan bermurah hati terhadap orang yang kikir kepadamu, serta memaafkan orang yang pernah menganiaya dirimu.
.........
Tiga Akhlak Ahli Surga: Jalan Penyucian Jiwa Menuju Ridha Allah
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Segala puji bagi Allah SWT yang menghiasi hati para hamba-Nya dengan iman, sabar, kasih sayang, dan akhlak yang mulia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam kelembutan hati dan keluhuran akhlak.
Tiga akhlak mulia yang disebutkan di atas merupakan derajat yang sangat tinggi. Seseorang mungkin mampu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Namun, hanya hati yang telah dibersihkan (tazkiyatun nafs) yang mampu:
- Memaafkan orang yang menzaliminya.
- Bermurah hati kepada orang yang pelit kepadanya.
- Menolong orang yang pernah menyakitinya.
Inilah akhlak para nabi, para shiddiqin, para wali Allah, dan calon penghuni surga. Nafsu selalu mengajak membalas keburukan dengan keburukan, sedangkan ruh yang hidup karena cahaya iman mengajak membalas keburukan dengan kebaikan.
Allah SWT berfirman:
"Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fussilat: 34)
Allah juga berfirman:
"Orang-orang yang menahan amarahnya, memaafkan kesalahan orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan." (QS. Ali 'Imran: 134)
Dan firman-Nya:
"Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barang siapa memaafkan dan berdamai, maka pahalanya atas tanggungan Allah." (QS. Asy-Syura: 40)
Rasulullah SAW bersabda:
"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda:
"Sedekah tidak akan mengurangi harta, Allah tidak menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim)
Dalam hadis lain beliau bersabda:
"Sambunglah hubungan dengan orang yang memutuskanmu, berilah orang yang tidak memberimu, dan maafkanlah orang yang menzalimimu." (HR. Ahmad, dengan makna yang juga diriwayatkan dalam beberapa jalur)
Hadis Qudsi
Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan memberi kepadamu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis qudsi lainnya Allah berfirman:
"Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku." (HR. Bukhari dan Muslim)
Seorang salik (penempuh jalan menuju Allah) hendaknya menjadikan rahmat Allah sebagai teladan dalam memperlakukan sesama manusia.
Perspektif Tasawuf – Tazkiyatun Nufus
Menurut para ulama tasawuf, musuh terbesar bukanlah orang yang menyakiti kita, melainkan nafsu yang ingin membalas dendam.
Memaafkan berarti mengalahkan ego.
Murah hati berarti mengalahkan cinta dunia.
Menolong orang yang pernah menyakiti kita berarti menghancurkan kesombongan diri.
Semakin seseorang mampu mengalahkan hawa nafsunya, semakin dekat ia kepada Allah SWT.
Orang yang masih mudah marah, sulit memaafkan, dan enggan berbagi menunjukkan bahwa jiwanya masih membutuhkan penyucian. Sebaliknya, hati yang dipenuhi dzikir akan menjadi lapang, lembut, dan penuh kasih.
Relevansi di Zaman Sekarang
Di era media sosial, seseorang mudah tersinggung oleh komentar, mudah membalas dengan kata-kata kasar, memutus silaturahmi karena perbedaan pendapat, bahkan menyebarkan kebencian hanya karena masalah kecil.
Islam mengajarkan kebalikannya.
Jadilah penyejuk ketika banyak orang menyulut api permusuhan.
Jadilah pemaaf ketika banyak orang menuntut balas.
Jadilah dermawan ketika banyak orang menghitung untung-rugi.
Jadilah penolong meskipun pernah disakiti.
Inilah dakwah akhlak yang sangat dibutuhkan pada zaman ini.
Muhasabah
Renungkanlah dalam hati:
- Sudahkah aku memaafkan orang yang pernah menyakitiku?
- Apakah aku masih menyimpan dendam bertahun-tahun?
- Apakah aku hanya berbuat baik kepada orang yang baik kepadaku?
- Sudahkah aku menyambung silaturahmi yang terputus?
- Apakah aku mampu mendoakan orang yang pernah menzalimiku?
Jika masih berat, jangan putus asa. Teruslah memohon kepada Allah agar membersihkan hati.
Cara Mengamalkannya
- Perbanyak istighfar setiap hari.
- Biasakan mendoakan orang yang menyakiti kita.
- Bersedekahlah, terutama kepada orang yang pernah berbuat kurang baik kepada kita jika memungkinkan.
- Sambung kembali silaturahmi yang terputus.
- Perbanyak dzikir "Yā Latīf", "Yā Rahmān", dan membaca shalawat kepada Nabi SAW.
- Latih diri menahan marah dan tidak tergesa-gesa membalas keburukan.
Doa
Allāhumma ṭahhir qalbī minan nifāq, wa 'amalī minar riyā', wa lisānī minal kadzib, wa 'ainī minal khiyānah. Allāhumma arzuqnī qalban salīman, wa nafsan muṭma'innah, wa akhlāqan karīmah. Allāhumma a'innī 'alā an a'fu 'amman ẓalamanī, wa u'ṭiya man ḥaramanī, wa aṣila man qaṭa'anī, wabārik lī fid-dunyā wal-ākhirah. Āmīn.
Artinya:
"Ya Allah, sucikanlah hatiku dari kemunafikan, amalanku dari riya, lisanku dari dusta, dan pandanganku dari khianat. Anugerahkanlah kepadaku hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan akhlak yang mulia. Ya Allah, bantulah aku untuk memaafkan orang yang menzalimiku, memberi kepada orang yang tidak memberiku, menyambung hubungan dengan orang yang memutuskannya, serta limpahkan keberkahan kepadaku di dunia dan akhirat. Aamiin."
Ucapan Terima Kasih
Jazakumullāhu khairan katsīrā kepada seluruh pembaca. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang berakhlak mulia, memiliki hati yang bersih, mudah memaafkan, gemar berbagi, serta mampu membalas keburukan dengan kebaikan. Semoga kita termasuk golongan yang dipanggil memasuki surga dengan penuh kemuliaan karena rahmat dan ridha-Nya.
Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.
.......
No comments:
Post a Comment