Kamis, 22 Januari 2026

575tan. Dua Macam Rakus: Rakus kepada Ilmu atau Rakus kepada Dunia?

 tanbihul ghofilin. 2 BAB 56 Tentang Keutamaan Menimba Ilmu.

Al Faqih meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Masud, katanya: “Ada dua macam rakus yang tidak pernah memuaskan, yaitu: 1. Penimba ilmu, 2. Penghimpun harta dunia, tetapi keduanya jauh berbeda (yakni), yang pertama selalu menambah rida Allah, sedangkan yang kedua, semakin jauh tersesat. Lalu ia membaca:

Artinya:

“Para Ulama-lah hamba-hamba Allah yang paling takwa kepadaNya”.

Juga membaca ayat:

Artinya:

“Tidak, tidaklah demikian, tetapi manusia terlalu melungguar batas jika ia merasa kaya (cukup)”.

......

Dua Macam Rakus: Rakus kepada Ilmu atau Rakus kepada Dunia?

Menata Hati dalam Perspektif Tasawuf (Tazkiyatun Nufūs)

Al-Faqih meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa ada dua macam orang yang tidak pernah merasa puas: penimba ilmu dan penghimpun harta dunia. Namun, keduanya memiliki arah yang sangat berbeda. Orang yang rakus mencari ilmu yang bermanfaat akan semakin dekat kepada ridha Allah, sedangkan orang yang rakus mengumpulkan dunia tanpa batas akan semakin jauh dari Allah.

Inilah hakikat yang diajarkan para ulama tasawuf: bukan semangat mencari yang tercela, tetapi tujuan dari pencarian itulah yang menentukan kemuliaan atau kehancuran seseorang.

Orang yang mencari ilmu dengan niat ikhlas akan semakin mengenal Allah, semakin takut kepada-Nya, semakin rendah hati, dan semakin bermanfaat bagi sesama. Sebaliknya, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama akan semakin sibuk mengejar kenikmatan yang tidak pernah memuaskan, hingga lupa akhirat.

Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
(QS. Fathir: 28)

Allah juga berfirman:

"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup."
(QS. Al-'Alaq: 6–7)

Dalil Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga."

Dan beliau ﷺ bersabda:

"Seandainya anak Adam memiliki dua lembah penuh harta, niscaya ia menginginkan lembah yang ketiga. Tidak ada yang memenuhi mulut anak Adam selain tanah, dan Allah menerima tobat orang yang bertobat."

Hadis Qudsi

Allah Ta'ala berfirman dalam hadis qudsi:

"Wahai anak Adam, beribadahlah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku tutupi kefakiranmu. Tetapi jika tidak, Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutupi kefakiranmu."

Hikmah Tasawuf (Tazkiyatun Nufūs)

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa penyakit terbesar hati adalah hubbud dunya (cinta dunia yang berlebihan). Dunia bukan untuk dimusuhi, tetapi jangan sampai menguasai hati.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu adalah cahaya yang menghidupkan hati, sedangkan cinta dunia adalah kegelapan yang mematikannya.

Dalam kitab-kitab seperti Nashaihul 'Ibad, Durratun Nasihin, Tanbihul Ghafilin, dan Irsyadul 'Ibad dijelaskan bahwa orang yang mencintai ilmu karena Allah akan diangkat derajatnya, sedangkan orang yang tenggelam dalam kecintaan kepada dunia akan dihisab dengan sangat berat.

Maka seorang salik hendaknya memiliki "kerakusan" yang benar, yaitu:

  • Rakus menambah ilmu.
  • Rakus memperbanyak amal saleh.
  • Rakus memperbanyak zikir.
  • Rakus mencari ridha Allah.
  • Bukan rakus terhadap pujian, jabatan, dan kekayaan.

Relevansi di Zaman Sekarang

Di era teknologi modern, banyak orang berlomba mengumpulkan kekayaan, pengikut media sosial, popularitas, dan kemewahan hidup. Namun tidak sedikit yang kehilangan ketenangan, keluarga, bahkan agamanya.

Sebaliknya, orang yang terus belajar ilmu agama, memperbaiki akhlak, dan membersihkan hati akan memperoleh ketenangan yang tidak dapat dibeli oleh harta sebanyak apa pun.

Kemajuan teknologi hendaknya menjadi sarana menambah ilmu dan amal, bukan menambah cinta kepada dunia.

Muhasabah

Renungkanlah:

  • Apakah aku lebih bersemangat mencari ilmu agama daripada mencari keuntungan dunia?
  • Apakah hartaku mendekatkanku kepada Allah atau justru melalaikanku?
  • Apakah ilmuku melahirkan tawadhu' atau kesombongan?
  • Ketika mendapatkan rezeki, apakah syukurku bertambah atau justru lalai?

Cara Bermuhasabah

  1. Luruskan niat sebelum mencari ilmu dan bekerja.
  2. Luangkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Qur'an dan ilmu agama.
  3. Perbanyak zikir dan istighfar agar hati tidak diperbudak dunia.
  4. Biasakan bersedekah agar sifat kikir dan cinta dunia berkurang.
  5. Berkumpullah dengan para ulama dan orang-orang saleh.
  6. Ingatlah kematian setiap hari agar dunia tetap berada di tangan, bukan di hati.

Doa

Allahumma inni as'aluka 'ilman nafi'an, wa rizqan thayyiban, wa 'amalan mutaqabbalan. Allahumma la taj'alid-dunya akbara hammina, wa la mablagha 'ilmina, waj'alil-akhirata hiya darana wa qararana. Allahumma tahhir qulubana min hubbid-dunya, wa zayyinha bi hubbika wa hubbi Rasulika, warzuqna ikhlasan fi thalabil 'ilmi wa jami'il a'mal. Âmîn.

Artinya:

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang Engkau terima. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan batas ilmu kami. Jadikanlah akhirat sebagai negeri dan tujuan kami. Ya Allah, sucikan hati kami dari cinta dunia yang berlebihan, hiasilah dengan cinta kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, serta anugerahkan keikhlasan dalam mencari ilmu dan seluruh amal kami. Aamiin."

Terima Kasih

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca nasihat ini. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang rakus dalam mencari ilmu yang bermanfaat, kaya hati dengan qana'ah, serta dianugerahi husnul khatimah. Semoga setiap langkah kita menuju majelis ilmu menjadi cahaya di dunia, pemberat timbangan amal di akhirat, dan sebab memperoleh ridha Allah Ta'ala. Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.

......

Tidak ada komentar: