tanbihul ghofilin. 9 BAB 56 Tentang Keutamaan Menimba Ilmu.
Anjuran Mw’adz Jabal: “Belajarlah ilmu, sebab belajar itu adalah suatu kebaikan, dan menimbanya adalah ibadat, sedang mengingatnya adalah tasbih, lalu mengadakan penyelidikan padanya berarti jihad, kemudian mengajarkannya berarti sedekah, dan memberikannya kepada orang yang berbak adalah tagarrub, karena ilmu itu adalah cara untuk menempuh tingkatan atau derajat sorga. Ilmu adalah kawan di saat sunyi (kesepian) atau di tengah pengasingan, ia sebagai penunjuk jalan kegembiraan, dan penolong saat kesukaran, penghias di antara kawan, dan senjata penghalau musuh, Allah mengangkat derajat bangsa atau masyarakat dunia dengan ilmu, sehingga menjadi pimpinan yang dapat dicontoh, malaikat senang bersahabat dengan mereka, bahkan mengusap-usap mereka dengan sayapnya, segala benda basah-kering mendoakan mereka yang berilmu, sampai ikan-ikan di laut, serangga dan hewan-hewan buas darat-laut, apalagi ternak. Sebab ilmu adalah penghidup hati dari kebodohan, pelita kegelapan, kekuatan dari segala kelemahan, dan alat menempuh derajat ABRAR (baik) dunia-akhirat. Dan perhatian ditujukan kepadanya serupa dengan puasa, mengingatnya serupa dengan tahajjud, dan dengannya terjalin hubungan sanak saudara, dengannya pula mengetahui halal dari yang haram, dia sebagai pembimbing dalam beramal, dan amal tetap menjadi bimbingannya, Allah memberikan ilmu tertentu kepada orang yang akan bahagia. haram bagi yang rugi dan celaka”.
.......
Meraih Cahaya Ilmu untuk Mensucikan Jiwa dan Mendekat kepada Allah
Nasehat dan Motivasi dalam Perspektif Tasawuf (Tazkiyatun Nufus)
Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu memberikan nasihat yang sangat agung tentang kemuliaan ilmu. Dalam pandangan tasawuf, ilmu bukan sekadar pengetahuan yang memenuhi akal, tetapi cahaya (nūr) yang Allah letakkan di dalam hati yang bersih. Ilmu yang sejati akan melahirkan rasa takut kepada Allah (khasy-yah), keikhlasan, tawadhu', dan amal saleh.
Orang yang hanya mengumpulkan ilmu tanpa membersihkan hati bagaikan membawa pelita tetapi berjalan membelakangi cahaya. Sebaliknya, orang yang memadukan ilmu dengan tazkiyatun nafs akan menjadi hamba yang semakin dekat kepada Allah.
Para ulama tasawuf selalu menekankan bahwa tujuan ilmu bukan untuk dipuji, mengalahkan orang lain dalam perdebatan, atau mencari kedudukan dunia, tetapi agar semakin mengenal Allah (ma'rifatullah) dan memperbaiki akhlak.
Sebagaimana dikatakan oleh para salaf:
"Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah dan memperbaiki amal."
Dalil Al-Qur'an
Allah Ta'ala berfirman:
"...Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama." (QS. Fathir: 28)
Allah juga berfirman:
"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Dan firman-Nya:
"Katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu." (QS. Thaha: 114)
Hadis Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
Dan sabdanya:
"Apabila anak Adam meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)
Hadis Qudsi
Allah Ta'ala berfirman dalam hadis qudsi:
"Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya." (HR. Bukhari)
Ilmu menjadi penuntun agar setiap amal sunnah dilakukan dengan benar, ikhlas, dan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Hikmah Tasawuf
- Ilmu adalah cahaya yang membersihkan hati dari kebodohan.
- Ilmu tanpa amal menjadi hujjah yang memberatkan di akhirat.
- Amal tanpa ilmu mudah tersesat.
- Ikhlas adalah ruh ilmu.
- Tawadhu' adalah buah ilmu.
- Semakin bertambah ilmu, semakin merasa sedikit amal.
Imam-imam tasawuf mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan rasa takut kepada Allah belum sepenuhnya menjadi ilmu yang bermanfaat.
Muhasabah
Renungkanlah setiap hari:
- Apakah aku belajar ilmu karena Allah atau demi pujian manusia?
- Apakah ilmuku membuatku semakin rendah hati?
- Sudahkah ilmu yang kupelajari diamalkan?
- Sudahkah aku mengajarkan ilmu walaupun satu ayat?
- Apakah lisanku lebih banyak berdzikir daripada berdebat?
Cara Bermuhasabah
- Luruskan niat sebelum belajar.
- Berdoa memohon ilmu yang bermanfaat.
- Amalkan satu ilmu sebelum mempelajari ilmu berikutnya.
- Biasakan mengajarkan ilmu kepada keluarga dan masyarakat.
- Perbanyak istighfar agar hati layak menerima cahaya ilmu.
- Bersahabat dengan ulama dan orang-orang saleh.
- Akhiri setiap majelis ilmu dengan rasa syukur dan doa.
Doa
اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا، وَارْزُقْنِي عَمَلًا صَالِحًا وَإِخْلَاصًا فِي كُلِّ عَمَلٍ.
Artinya:
"Ya Allah, berilah aku manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat, tambahkanlah ilmuku, karuniakanlah kepadaku amal yang saleh serta keikhlasan dalam setiap amal."
Penutup
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mencari ilmu karena-Nya, mengamalkan ilmu dengan ikhlas, menyebarkannya dengan kasih sayang, serta menghiasi hati dengan akhlak para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Semoga ilmu yang kita pelajari menjadi cahaya di dunia, penolong di alam kubur, pemberat timbangan amal, dan sebab memperoleh ridha Allah serta surga-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Jazakumullahu khairan katsiran.
Terima kasih atas kesediaan membaca dan mengamalkan nasihat ini. Semoga Allah membalas setiap langkah dalam menuntut dan menyebarkan ilmu dengan pahala yang terus mengalir, menjadikan kita semua ahli ilmu yang berakhlak mulia, bermanfaat bagi umat, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.
.......
No comments:
Post a Comment