irsyadulibad 21. bab. ilmu.
Dalam kitab Al-Ghayah karangan Al-Hishni terdapat keterangan bahwa Dhirar bin Amar berkata: Sesungguhnya ada suatu kaum yang enggan menuntut ilmu, tidak sudi duduk bersama ahlul ilmi, baik pelajar atau ulama, lalu mereka hanya membikin kamar khusus, melakukan shalat, berpuasa sehingga kurus kering, kulitnya telah melekat pada tulangnya.
Tindakan mereka ini ternyata bertentangan dengan ajaran agama, akhirnya kebinasaanlah yang mereka terima. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Allah, tidak seorangpun yang beribadah dengan kebodohan, kecuali yang merusak lebih banyak daripada yang memperbaiki. Oleh karena itu, dia menyatakan bahwa mereka akan menemui kebinasaan.
.....
IBADAH TANPA ILMU: JALAN YANG TAMPAK TERANG, NAMUN BERUJUNG KEBINASAAN
Tazkiyatun Nufūs: Menyucikan Jiwa dengan Cahaya Ilmu dan Keikhlasan
Penulis: M. Djoko Ekasanu
Pendahuluan
Dalam Kitab Al-Ghayah, Imam Al-Hishni mengutip perkataan Dhirar bin 'Amr bahwa ada sekelompok manusia yang tekun beribadah; mereka mengasingkan diri, memperbanyak shalat dan puasa hingga tubuh mereka kurus. Akan tetapi mereka enggan menuntut ilmu, tidak mau duduk bersama para ulama dan penuntut ilmu. Akibatnya, ibadah mereka justru menyimpang dan berakhir pada kebinasaan.
Perkataan beliau sangat mendalam:
"Tidaklah seseorang beribadah kepada Allah dengan kebodohan, melainkan kerusakan yang ditimbulkannya lebih banyak daripada kebaikannya."
Tasawuf yang benar tidak pernah memisahkan antara ilmu, amal, dan ikhlas. Cahaya ilmu adalah penuntun jalan menuju Allah, sedangkan ibadah tanpa ilmu bagaikan berjalan di malam gelap tanpa pelita.
1. Maksud dan Tujuan
Maksud
Menjelaskan bahwa penyucian jiwa (Tazkiyatun Nufūs) harus dibangun di atas ilmu syariat yang benar, bukan semata-mata semangat beribadah.
Tujuan
- Menumbuhkan semangat menuntut ilmu.
- Menjaga umat dari ibadah yang menyimpang.
- Menyatukan ilmu, amal, dan akhlak.
- Membentuk hati yang tawadhu' kepada ulama.
- Menjadikan ilmu sebagai cahaya menuju ma'rifat kepada Allah.
2. Ayat Al-Qur'an, Hadis Shahih, dan Hadis Qudsi
Al-Qur'an
Allah berfirman:
"Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
(QS. Az-Zumar: 9)
Allah juga berfirman:
"Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah hanyalah para ulama."
(QS. Fathir: 28)
Dan:
"Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu apabila kamu tidak mengetahui."
(QS. An-Nahl: 43)
Hadis Shahih
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama."
(HR. **** dan ****)
Beliau juga bersabda:
"Menuntut ilmu adalah jalan menuju surga."
(Maknanya terdapat dalam hadis-hadis shahih tentang keutamaan menempuh jalan ilmu.)
Hadis Qudsi
Allah Ta'ala berfirman:
"Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya..."
(Hadis Qudsi riwayat ****)
Para ulama menjelaskan bahwa amalan sunnah tersebut harus sesuai ilmu dan tuntunan Rasulullah ﷺ.
3. Analisa, Argumentasi, dan Implementasi
Perspektif Tasawuf
Tasawuf bukan sekadar menangis, uzlah, atau memperbanyak wirid.
Tasawuf adalah membersihkan hati agar semakin tunduk kepada syariat.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu adalah imam (pemimpin), sedangkan amal adalah pengikutnya.
Hati yang bersih tetapi tidak berilmu mudah tertipu oleh hawa nafsu dan bisikan setan.
Sebaliknya, ilmu tanpa penyucian hati hanya melahirkan kesombongan.
Maka Tazkiyatun Nufūs selalu berjalan pada tiga pilar:
- Ilmu
- Amal
- Ikhlas
Relevansi di Dunia Viral Saat Ini
Di era media sosial, banyak orang:
- belajar agama hanya dari potongan video singkat;
- merasa cukup dengan kutipan tanpa berguru;
- mudah menghakimi orang lain;
- menyebarkan hadis tanpa memeriksa keshahihannya;
- mengikuti tokoh karena popularitas, bukan karena kedalaman ilmu.
Fenomena ini melahirkan ibadah yang penuh semangat tetapi miskin bimbingan.
Padahal Allah memerintahkan kita untuk bertanya kepada ahlinya.
Media sosial dapat menjadi ladang pahala, tetapi juga dapat menjadi pintu kesesatan apabila digunakan tanpa ilmu.
Implementasi Sehari-hari
- Hadiri majelis ilmu secara rutin.
- Membaca Al-Qur'an beserta tafsirnya.
- Bertanya kepada guru ketika belum paham.
- Tidak tergesa-gesa memberi fatwa.
- Memperbaiki niat setiap belajar.
- Mengamalkan ilmu sedikit demi sedikit.
- Menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat.
4. Muhasabah
Renungkanlah setiap malam:
- Sudahkah aku belajar sebelum beramal?
- Apakah ibadahku sesuai sunnah?
- Apakah aku lebih senang dipuji daripada memperbaiki diri?
- Sudahkah aku duduk bersama ulama?
- Apakah aku membaca kitab atau hanya media sosial?
Cara Bermuhasabah
- Luangkan waktu setelah Isya atau sebelum tidur.
- Istighfar minimal 100 kali.
- Membaca Al-Qur'an.
- Mencatat kesalahan hari itu.
- Memohon petunjuk Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat.
- Bertekad memperbaiki satu amal setiap hari.
5. Nasihat Para Ulama Tasawuf
Hasan Al-Bashri
"Ilmu tanpa amal adalah hujjah atas dirimu, sedangkan amal tanpa ilmu adalah kesesatan."
Rabi'ah al-'Adawiyah
"Cinta kepada Allah harus dibimbing oleh ilmu agar tidak berubah menjadi hawa nafsu."
Abu Yazid al-Bistami
"Semakin bertambah ilmumu, semakin bertambah kerendahan hatimu."
Junaid al-Baghdadi
"Jalan kami terikat oleh Al-Qur'an dan Sunnah."
Al-Hallaj
"Rahasia Allah tidak diberikan kepada hati yang dipenuhi kesombongan."
Imam al-Ghazali
"Ilmu adalah akar, amal adalah buahnya."
Syekh Abdul Qadir al-Jailani
"Jangan berbicara tentang Allah sebelum engkau belajar tentang Allah."
Jalaluddin Rumi
"Luka hati dapat menjadi cahaya apabila diterangi ilmu."
Ibnu 'Arabi
"Ma'rifat tidak lahir dari khayalan, tetapi dari penyaksian hati yang dibimbing wahyu."
Ahmad al-Tijani
"Peganglah syariat, niscaya hakikat akan dibukakan Allah."
Daftar Pustaka
- Al-Qur'an al-Karim.
- .
- .
- Ihya' 'Ulum al-Din – Imam al-Ghazali.
- Al-Ghayah – Imam Al-Hishni.
- Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi.
- Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
- Hilyat al-Auliya' – Abu Nu'aim al-Ashbahani.
Doa
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memberi Cahaya, anugerahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang bersih, amal yang Engkau terima, dan keikhlasan yang sempurna.
Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang yang rajin beribadah tetapi bodoh terhadap agama-Mu, dan jangan pula Engkau jadikan kami berilmu tetapi tidak mengamalkannya.
Bimbinglah kami agar selalu mencintai Al-Qur'an, Sunnah Rasul-Mu, para ulama yang lurus, dan majelis-majelis ilmu yang penuh keberkahan.
Ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan beriman, berilmu, beramal saleh, serta husnul khatimah.
Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.
Ucapan Terima Kasih
Alhamdulillāhi Rabbil 'Ālamīn.
Penulis menyampaikan rasa syukur kepada Allah Subhānahu wa Ta'ālā atas segala nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk terus belajar.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada para ustadz, kiai, guru, dan seluruh ahli ilmu yang dengan penuh kesabaran membimbing umat menuju jalan Allah. Semoga setiap ilmu yang diajarkan menjadi amal jariyah yang tidak pernah terputus.
Terima kasih pula kepada seluruh pembaca. Semoga tulisan sederhana ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ilmu adalah cahaya, amal adalah buahnya, dan keikhlasan adalah ruhnya. Semoga Allah menghimpunkan kita bersama orang-orang yang berilmu, beramal, dan dicintai-Nya.
Āmīn yā Rabbal 'Ālamīn.
.......
No comments:
Post a Comment