Selasa, 26 Oktober 2010

Si Kecil Alergi?


Foto: Getty Images

Banyak mitos dan pertanyaan seputar alergi pada anak. Manakah yang benar?

Pertanyaan seputar alergi pada anak memang kerap menghantui para Ibu dan calon Ibu. Mulai bagaimana mengetahui gejalanya, apakah bisa disembuhkan, hingga bisakah teridentifikasi dari masalah alergi Ibu ketika mengandung.

Agar lebih jelas mengenai alergi pada anak (batita), berikut tanya-jawab yang dihimpun seputar alergi.

1 . Orang awam kerap mengatakan “bayi saya alergi susu”. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan alergi susu?

Alergi susu diartikan bila minum susu timbul reaksi alergi, biasanya mengenai kulit berupa eksim atopi yang disebut dermatitis atopi.

Alergi susu juga dapat mengenai bayi hingga dewasa. Memang, memberikan pengganti berupa susu kedelai adalah salah satu solusi yang bisa dilakukan pada anak dengan alergi susu, namun itu bukan satu-satunya solusi. Bisa juga dengan mengganti susu formula dengan susu yang dihidrolisis misal, Nan HA.

2 . Bahan apa dalam susu yang menyebabkan alergi?

Bahan dalam susu yang menyebabkan alergi adalah proteinnya.

3 . Apakah ASI dapat saja menjadi penyebab alergi susu dan harus dihentikan?

ASI dapat saja menjadi penyebab alergi, oleh karena itu Si Ibu harus diet terhadap makanan yang sering menyebabkan alergi, seperti susu, telur, makanan laut, vetsin, dan makanan lain yang dicurigai.

4. Gejala apa yang bisa dikenali bila anak menderita alergi khususnya makanan?

Gejala umunya, berupa gatal-gatal pada kulit yang disebut dermatitis atopi atau biduran/kaligata yang disebut urtikaria. Namun dapat juga mengenai saluran napas berupa asma.


Si Kecil Alergi? (2)

Foto: Agus Dwianto

5 . Benarkah pada ibu yang memiliki riwayat alergi makanan, terutama pada saat hamil menjadi alergi pada makanan tertentu, anaknya akan menderita alergi pada bahan makanan yang sama?

Belum tentu. Bisa ya, bisa juga tidak. Alergi memang dapat diturunkan secara genetik, tetapi jenis alerginya tidak harus sama, bisa saja ibunya alergi makanan tertentu, anaknya menderita asma atau pilek alergi, atau juga anaknya alergi makanan yang sama jenisnya dengan ibu, tetapi bisa juga berbeda, misalnya anaknya alergi udang, ibunya alergi bukan udang.

6 . Bila anak sudah pernah (terbukti) alergi terhadap produk susu, bisakah Ibu memberikan makanan mengandung susu seperti biskuit, pancake , bubur susu dsb?

Tidak bisa, harus dihindari. Jika anak terbukti memiliki alergi terhadap susu sebaiknya bukan hanya menghindari susu, tetapi harus menghindari produk susunya juga.

7 . Bisakah ibu mencegah anak mewarisi bakat alergi ibu?

Genetik tidak dapat dicegah, tetapi dihindari. Bila orang tua telah diketahui memiliki riwayat alergi dan anak sudah pernah menunjukkan gejala alergi, sebaiknya hindari saja bahan-bahan yang menimbulkan reaksi alergi.

8 . Bahan makanan apa saja yang bisa memicu alergi pada batita?

Alergi pada batita dapat berupa alergi terhadap: susu, telur, kacang, makanan laut/seafood , dan minyak ikan.

9 . Bisakah alergi disembuhkan, atau harus bagaimana bila ibu sudah mengetahui anak punya alergi terhadap bahan makanan tertentu?

Alergi tidak dapat disembuhkan, tetapi dikontrol. Alergi dipengaruhi dua faktor, yaitu faktor genetik yang tidak bisa di-apa-apakan, dan faktor lingkungan yang harus dikontrol.

Jadi alergi dapat diketahui dari pengalaman pasien dan kita dapat melakukan tes alergi melalui uji tusuk kulit atau skin prick test , dan pemeriksaan darah IgE Atopi untuk mengetahui faktor pencetus. Dengan demikian pasien dapat mencegah kambuhnya penyakit alergi dengan cara menghindari penyebabnya.

10 . Usia berapa anak bisa menjalani tes alergi dan bagaimana prosedurnya?

Tes alergi berupa uji tusuk kulit sudah dapat dilakukan pada usia 1 tahun, kurang dari satu tahun juga bisa, hanya saja bayi tersebut belum banyak paparannya, sehingga umumnya dilakukan pada anak usia diatas 1 tahun.

Prosedurnya adalah tidak minum anti alergi atau anti histamin 3 hari sampai dengan 1 minggu (tergantung jenis anti histaminnya). Hal ini untuk menghindari hasil negatif palsu.

Uji tusuk kulit pada anak 1 tahun sering dilakukan di paha, pada usia batita hingga dewasa biasanya dilakukan pada lengan bawah. Alergen ditetes di lengan bawah, kemudian tiap alergen yang ditetes, ditusuk dengan jarum khusus, lalu didiamkan 15 menit untuk menuggu reaksi yang muncul, setelah itu di lap dengan tisu dan tes siap dibaca. Reaksi positif dinyatakan dengan timbulnya bentol yang berukuran diameter minimal 3 mm.

Laili Damayanti

Nara sumber: Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, K-AI, FINASIM, Divisi Alergi Imunologi Klinik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM.

Penyebab dan Penanganan Kram Kaki

Penyebab dan Penanganan Kram Kaki


kram kakiKram kaki adalah nyeri akibat spasme otot di kaki yang timbul karena otot berkontraksi terlalu keras. Daerah yang paling sering kram adalah otot betis di bawah dan belakang lutut. Nyeri kram dapat berlangsung beberapa detik hingga menit dengan keparahan bervariasi.

Kram kaki biasanya terjadi saat kita beristirahat, bahkan mungkin sedang tidur. Orang tua lebih sering terkena kram daripada orang muda. Pada beberapa orang tua, kram bahkan bisa terjadi setiap hari.

Penyebab

Pada umumnya penyebab kram tidak diketahui (idiopatik). Sementara ahli berpendapat bahwa kram terjadi ketika otot yang sudah dalam posisi mengkerut dirangsang untuk kontraksi. Hal ini terjadi saat kita tidur dengan posisi dengkul setengah ditekuk, dan telapak kaki sedikit mengarah ke bawah. Pada posisi ini otot betis agak tertekuk dan mudah terkena kram. Itulah mengapa gerakan pelenturan sebelum tidur dapat mencegahnya.

Pada beberapa kasus, kram mungkin terjadi karena masalah atau kondisi lainnya, misalnya:

  • Beberapa jenis obat dapat memberikan efek samping berupa kram. Golongan obat ini antara lain: diuretik, nifedipine, cimetidine, salbutamol, statins, terbutaline, lithium, clofibrate, penicillamine, phenothiazines, dan nicotinic acid.
  • Dehidrasi
  • Ketidakseimbangan zat garam dalam darah (misalnya, kadar kalsium atau potasium terlalu rendah)
  • Kehamilan, terutama pada trimester akhir
  • Kelenjar tiroid yang kurang aktif
  • Penyempitan arteri kaki yang menghambat sirkulasi
  • Gangguan saraf
  • Sirosis hati

Pada kondisi di atas, kram hanyalah satu dari beberapa gejala lainnya. Bila tidak ada gejala lain, kemungkinan besar kram bersifat idiopatik dan bukan karena kondisi di atas.

Penanganan

Gerakan pelemasan (stretching) dan pemijatan biasanya dapat meredakan serangan kram. Obat pengurang sakit biasanya tidak bermanfaat karena tidak cukup cepat bekerja. Namun, pengurang sakit seperti paracetamol mungkin bermanfaat meringankan nyeri dan lemas otot yang kadang masih berlangsung hingga 24 jam setelah hilangnya kram.

Pencegahan

  • Beritahu dokter bila kram kemungkinan disebabkan oleh konsumsi salah satu obat di atas. Dokter dapat memberikan obat alternatif.
  • Minum setidaknya enam gelas penuh setiap hari, termasuk satu gelas sebelum tidur. Juga perbanyak minum sebelum, selama dan setelah berolah raga.
  • Konsumsi makanan yang kaya kalsium, potasium dan magnesium. Makan satu atau dua buah pisang sehari sudah cukup memenuhi kebutuhan potasium Anda.
  • Bila Anda sering mengalami kram saat tidur, lakukan gerakan pelemasan pada otot-otot betis sebelum tidur. Caranya adalah dengan berdiri sekitar 60-90 cm dari dinding, lalu condongkan badan ke arah dinding dengan telapak kaki tetap di tempat. Lakukanlah beberapa kali. Anda mungkin perlu beberapa hari melakukannya sampai efeknya terasa.
  • Tidurlah dengan posisi yang mencegah otot betis Anda tertekan tanpa disadari:
    • Gunakan bantal untuk menyangga telapak kaki saat Anda tidur telentang.
    • Bila Anda tidur tengkurap, posisikan telapak kaki menggantung di ujung kasur.
    • Usahakan selimut tetap longgar di bagian kaki agar jari-jari dan kaki telapak tidak menghadap ke bawah saat tidur.