📡 LIVE STREAMING
📖 *MENCINTAI DUNIA, MRLUPAKAN AKHIRAT*
🎙 *Ustadz ABU JUNDY HAFIDZAHULLAH*
TANGGAL :
SENIN, 29 MUHARRAM 1448 H / 13 JULI 2026
⏰ BA'DA MAGRIB - SELESAI
TEMPAT :
*MASJID UKHUWAH, JL. WONOKUSUMO TENGAH NO. 1 SURABAYA*
Youtube :
https://www.youtube.com/live/Qdqrts-RO-c?si=trDa8FXUC_ZLYp_0
.........
MENCINTAI DUNIA, MELUPAKAN AKHIRAT
Tazkiyatun Nufūs: Ketika Dunia Berada di Tangan, Bukan di Hati
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
A. MAKSUD
Nasehat ini dimaksudkan sebagai pengingat bahwa dunia adalah tempat singgah, bukan tempat tinggal yang abadi. Dunia boleh dimiliki, dicari, dibangun, dan dinikmati, tetapi jangan sampai dunia menguasai hati hingga manusia melupakan Allah SWT, kematian, pertanggungjawaban amal, dan kehidupan akhirat.
Dalam perspektif tasawuf, penyakit terbesar bukanlah memiliki dunia, tetapi dunia memiliki hati kita.
Seseorang boleh kaya, tetapi hatinya tetap zuhud.
Seseorang boleh memiliki jabatan, tetapi hatinya tetap tawadhu.
Seseorang boleh memiliki harta banyak, tetapi hartanya menjadi jalan menuju Allah.
Yang berbahaya adalah ketika seseorang memiliki dunia, lalu dunia itu membuatnya lupa kepada Dzat yang memberikan dunia.
B. TUJUAN
- Menyadarkan hati bahwa dunia bersifat sementara.
- Menumbuhkan cinta kepada akhirat.
- Membersihkan jiwa dari penyakit hubbud-dunyā atau cinta dunia yang berlebihan.
- Membangun sikap zuhud, yaitu menjadikan dunia sebagai sarana menuju Allah, bukan sebagai tujuan akhir.
- Mengajak umat melakukan muhasabah sebelum datang kematian.
- Menggunakan harta, jabatan, ilmu, kesehatan, dan popularitas untuk beribadah dan memberi manfaat.
C. AYAT-AYAT AL-QUR'AN YANG BERKAITAN
1. Dunia hanyalah permainan dan kesenangan yang menipu
Allah SWT berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan...”
QS. Al-Hadīd: 20
Allah memberikan perumpamaan dunia seperti tanaman yang tumbuh karena hujan, membuat manusia kagum, kemudian tanaman itu mengering, menguning, dan akhirnya menjadi hancur. Demikian pula dunia: datang, berkembang, membuat manusia kagum, lalu pergi meninggalkan manusia.
2. Jangan sampai dunia melalaikan dari mengingat Allah
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.”
QS. Al-Munāfiqūn: 9
Perhatikan: Allah tidak mengatakan bahwa harta dan anak itu haram. Tetapi yang dilarang adalah harta dan anak yang menyebabkan kita lalai dari Allah.
3. Akhirat lebih baik dan lebih kekal
Allah SWT berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
QS. Al-A‘lā: 17
Dunia memiliki batas.
Akhirat tidak memiliki batas.
Dunia memiliki umur.
Akhirat tidak mengenal kematian.
Dunia memiliki kesenangan yang bercampur kesedihan.
Akhirat bagi orang beriman adalah kenikmatan yang sempurna.
4. Carilah negeri akhirat, tetapi jangan melupakan bagianmu di dunia
Allah SWT berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
QS. Al-Qashash: 77
Ayat ini menunjukkan keseimbangan Islam.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi malas, miskin karena tidak mau berusaha, atau meninggalkan keluarga.
Namun Islam mengajarkan:
Gunakan dunia untuk mendapatkan akhirat, jangan gunakan akhirat demi mengejar dunia.
D. HADIS-HADIS NABI ﷺ
1. Dunia adalah penjara bagi orang beriman
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”
HR. Muslim
Maksudnya, seorang mukmin memiliki batasan syariat. Ia tidak boleh melakukan segala sesuatu yang diinginkannya. Sedangkan kenikmatan dunia bagi seorang mukmin tidak sebanding dengan kenikmatan akhirat.
2. Jadilah seperti orang asing atau seorang musafir
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.”
HR. Bukhari
Seorang musafir tidak akan membangun rumah permanen di tengah perjalanan. Ia menggunakan perjalanan sebagai jalan menuju tujuan.
Demikian pula seorang mukmin:
Dunia adalah perjalanan. Akhirat adalah tujuan.
3. Kekayaan sejati adalah kekayaan hati
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.”
HR. Bukhari dan Muslim
Orang yang memiliki sedikit tetapi bersyukur, sebenarnya lebih kaya daripada orang yang memiliki banyak tetapi tidak pernah merasa cukup.
E. HADIS QUDSI YANG BERKAITAN
Allah SWT berfirman dalam Hadis Qudsi:
“Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya...”
HR. Bukhari
Hadis ini mengajarkan bahwa jalan menuju Allah bukanlah dengan meninggalkan tanggung jawab dunia, tetapi dengan menjadikan seluruh kehidupan sebagai ibadah.
Bekerja bisa menjadi ibadah.
Mencari nafkah bisa menjadi ibadah.
Mengurus keluarga bisa menjadi ibadah.
Berdagang bisa menjadi ibadah.
Melayani masyarakat bisa menjadi ibadah.
Syaratnya:
Halal caranya, benar niatnya, dan tidak melalaikan Allah.
Allah juga berfirman dalam Hadis Qudsi:
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku... Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta...”
HR. Bukhari dan Muslim
Artinya, jangan merasa sudah terlalu jauh dari Allah.
Jika seorang hamba kembali kepada Allah dengan taubat, dzikir, shalat, sedekah, dan amal saleh, maka rahmat Allah lebih luas daripada dosa-dosanya.
F. PERSPEKTIF TASAWUF DAN TAZKIYATUN NUFŪS
Dalam tasawuf, penyakit cinta dunia disebut sebagai salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya.
Bukan karena dunia itu haram.
Tetapi karena hati manusia sering menjadikan dunia sebagai:
- tujuan hidup,
- ukuran kemuliaan,
- sumber kebahagiaan,
- tempat bergantung,
- dan sesuatu yang dicintai melebihi Allah.
Dunia di tangan: tidak berbahaya.
Dunia di hati: bisa membinasakan.
Zuhud bukan berarti tidak memiliki harta.
Zuhud adalah:
Tidak menjadikan dunia sebagai sesembahan hati.
Orang zuhud dapat memiliki harta, tetapi harta tidak menguasai dirinya.
Ia menggunakan harta untuk:
- bersedekah,
- menolong fakir miskin,
- membangun masjid,
- membantu pendidikan,
- menolong keluarga,
- memberi makan orang lapar,
- dan mencari ridha Allah.
G. ANALISA DAN ARGUMENTASI RELEVAN DENGAN DUNIA YANG VIRAL SAAT INI
1. Media sosial telah menjadikan kehidupan sebagai perlombaan
Hari ini banyak orang berlomba-lomba menampilkan:
- rumah,
- kendaraan,
- pakaian,
- makanan,
- liburan,
- kekayaan,
- jabatan,
- kesuksesan,
- dan gaya hidup.
Masalahnya bukan pada memiliki semua itu.
Masalahnya adalah ketika seseorang mulai merasa:
“Aku tidak bahagia kalau tidak terlihat berhasil.”
Kemudian manusia hidup bukan untuk Allah, tetapi untuk mendapatkan:
- like,
- komentar,
- followers,
- pujian,
- pengakuan,
- dan popularitas.
Inilah salah satu bentuk modern dari riya dan hubbud-dunyā.
2. Viral tidak selalu berarti bernilai
Sesuatu yang viral belum tentu benar.
Sesuatu yang banyak ditonton belum tentu bermanfaat.
Sesuatu yang banyak dipuji manusia belum tentu dicintai Allah.
Sebaliknya, amal yang tidak pernah diketahui manusia bisa jadi sangat besar di sisi Allah.
Satu rakaat tahajud yang tidak diketahui siapa pun.
Satu sedekah yang dirahasiakan.
Satu air mata karena takut kepada Allah.
Satu dosa yang ditinggalkan karena takut kepada Allah.
Bisa jadi lebih bernilai daripada jutaan pujian manusia.
3. Banyak manusia mengejar popularitas, tetapi melupakan kematian
Hari ini manusia sibuk membangun citra di dunia maya.
Tetapi lupa membangun bekal di alam kubur.
Manusia memikirkan:
“Bagaimana agar aku dikenal manusia?”
Seharusnya kita bertanya:
“Bagaimana agar aku dikenal oleh Allah sebagai hamba yang beriman?”
Manusia takut kehilangan followers.
Tetapi tidak takut kehilangan shalat.
Takut kehilangan jabatan.
Tetapi tidak takut kehilangan iman.
Takut kehilangan uang.
Tetapi tidak takut kehilangan waktu untuk beribadah.
Inilah penyakit hati yang harus segera diobati.
H. HUKUM (AHKAM)
1. Mencari dunia adalah boleh, bahkan bisa menjadi ibadah
Mencari nafkah halal, berdagang, bekerja, membangun usaha, memiliki rumah dan kendaraan, semuanya boleh selama halal dan tidak melanggar syariat.
2. Mencintai dunia secara berlebihan adalah penyakit hati
Apabila cinta dunia menyebabkan seseorang:
- meninggalkan shalat,
- mengambil harta haram,
- menipu,
- riba,
- korupsi,
- merampas hak orang lain,
- memutus silaturahmi,
- sombong,
- riya,
- atau meninggalkan kewajiban,
maka hal tersebut menjadi dosa.
3. Haram menjadikan dunia sebagai tujuan akhir
Seorang muslim boleh memiliki dunia, tetapi tidak boleh melupakan bahwa:
Kita berasal dari Allah, hidup untuk Allah, dan akan kembali kepada Allah.
I. SENTUHAN HATI — MUHASABAH
Wahai diri...
Suatu hari nanti, rumah yang engkau bangun akan ditinggalkan.
Kendaraan yang engkau banggakan akan ditinggalkan.
Pakaian yang engkau kenakan akan dilepas.
Harta yang engkau kumpulkan akan dibagikan.
Jabatan yang engkau banggakan akan berakhir.
Tubuh yang engkau rawat akan kembali menjadi tanah.
Yang akan menemanimu hanyalah:
Iman, amal saleh, dan rahmat Allah.
Maka tanyakan kepada hati:
- Apakah aku lebih sering memikirkan dunia atau akhirat?
- Apakah aku mengejar ridha Allah atau pujian manusia?
- Apakah hartaku membuatku semakin dekat kepada Allah?
- Apakah pekerjaanku menguatkan ibadahku atau justru menjauhkan aku dari Allah?
- Jika malam ini aku meninggal, apa yang paling ingin kuperbaiki?
- Jika malaikat maut datang hari ini, apakah aku sudah siap?
Jangan menunggu tua untuk bertobat.
Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah.
Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur.
Jangan menunggu kematian untuk mencintai akhirat.
Karena kematian tidak pernah menunggu seseorang merasa siap.
J. AMALAN DAN IMPLEMENTASI
1. Perbaiki niat setiap pagi
Ucapkan dalam hati:
“Ya Allah, aku bekerja, berusaha, dan mencari rezeki bukan hanya untuk dunia, tetapi agar aku dapat beribadah, menafkahi keluarga, bersedekah, dan menjadi hamba yang bermanfaat.”
2. Jadikan shalat sebagai pusat kehidupan
Jangan menjadikan shalat sebagai sesuatu yang dilakukan setelah urusan dunia selesai.
Jadikan dunia yang menyesuaikan dengan waktu shalat.
3. Sisihkan harta untuk akhirat
Buatlah kebiasaan:
- sedekah harian,
- sedekah Jumat,
- membantu orang miskin,
- memberi makan,
- membantu masjid,
- membantu anak yatim,
- membantu orang yang membutuhkan.
Karena harta yang kita keluarkan di jalan Allah adalah harta yang benar-benar kita miliki.
4. Batasi konsumsi dunia maya
Sebelum melihat konten, tanyakan:
“Apakah ini mendekatkan aku kepada Allah atau justru membuat hatiku semakin iri, sombong, lalai, dan ingin dipuji?”
Tidak semua yang viral harus dilihat.
Tidak semua yang populer harus diikuti.
Tidak semua yang ramai harus dipercayai.
5. Perbanyak dzikir
Terutama:
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Dzikir adalah makanan bagi hati.
6. Muhasabah sebelum tidur
Sebelum tidur, tanyakan:
“Hari ini apa yang sudah aku lakukan untuk dunia?”
Kemudian tanyakan:
“Hari ini apa yang sudah aku lakukan untuk akhirat?”
Jika hari ini hanya bertambah harta, tetapi tidak bertambah iman, maka kita harus berhati-hati.
Jika hari ini tubuh semakin tua, tetapi hati semakin jauh dari Allah, maka kita harus segera kembali.
K. DOA
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا غَايَةَ رَغْبَتِنَا
Allahumma lā taj‘alid-dunyā akbara hamminā, wa lā mablagha ‘ilminā, wa lā ghāyata raghbatinā.
“Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami, puncak ilmu kami, dan tujuan utama keinginan kami.”
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِينَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا
“Ya Allah, jadikanlah dunia berada di tangan kami, jangan Engkau jadikan dunia menguasai hati kami.”
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا زُهْدًا فِي الدُّنْيَا، وَرَغْبَةً فِي الْآخِرَةِ، وَحُبًّا لَكَ، وَشَوْقًا إِلَى لِقَائِكَ
“Ya Allah, karuniakan kepada kami sifat zuhud terhadap dunia, kerinduan kepada akhirat, cinta kepada-Mu, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.”
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.
PENUTUP
Dunia bukan musuh kita.
Yang menjadi musuh adalah ketika hati kita diperbudak oleh dunia.
Dunia adalah kendaraan.
Akhirat adalah tujuan.
Dunia adalah ladang.
Akhirat adalah tempat panen.
Dunia adalah perjalanan.
Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya.
Maka jangan sampai kita menjadi orang yang:
sibuk membangun rumah di dunia, tetapi lupa membangun rumah di akhirat.
Jangan sampai kita memiliki banyak hal untuk hidup, tetapi tidak memiliki bekal untuk mati.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari cinta dunia yang melalaikan, menanamkan cinta kepada akhirat, menjadikan harta sebagai sarana ibadah, dan menjadikan usia kita sebagai jalan menuju husnul khatimah.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ustadz, kyai, guru, dan para pembimbing umat yang senantiasa mengajarkan ilmu, mengingatkan tentang Allah, menuntun hati kepada taubat, dan mengajak kita untuk tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia.
Terima kasih juga kepada seluruh pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan nasehat ini.
Semoga tulisan sederhana ini menjadi pengingat bagi penulis dan pembaca.
Jika ada kebenaran, semuanya berasal dari Allah SWT.
Jika ada kekurangan dan kesalahan, itu berasal dari kelemahan diri kami.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
........
No comments:
Post a Comment