Monday, July 20, 2026

1219aj. Mereka yang Senantiasa Menjaga Amalan Sunnah dan Nafilah

 📡  LIVE STREAMING


 📖 *KITAB 40 KARAKTERISTIK MEREKA YANG DICINTAI ALLAH : GOLONGAN KE-13, ORANG-ORANG YANG SENANTIASA MELAKSANAKAN AMALAN SUNNAH DAN NAFILAH*(LANJUTAN)


🎙 *Ustadz ABU ASLAM HAFIDZAHULLAH*


TANGGAL :

JUM'AT, 03 SAFAR 1448 H / 17 JULI 2026


⏰  08.30 - SELESAI


TEMPAT  :  

DI TAMAN MOTOR I,   PEPELEGI INDAH H-22 WARU, SIDOARJO


Youtube  :

https://www.youtube.com/live/MIcfdH-o5Qk?si=_HKOHGURCZ4mQRgV

........

🌿 GOLONGAN KE-13 YANG DICINTAI ALLAH

“Mereka yang Senantiasa Menjaga Amalan Sunnah dan Nafilah”

Tazkiyatun Nufūs: Mendekat kepada Allah dengan Cinta, Bukan Sekadar Menggugurkan Kewajiban


🌹 MUQADDIMAH

Dalam pembahasan “40 Karakteristik Mereka yang Dicintai Allah”, salah satu golongan yang sangat mulia adalah:

Orang-orang yang senantiasa melaksanakan amalan sunnah dan nafilah setelah menunaikan amalan-amalan wajib.

Mereka tidak berhenti pada batas “yang penting sudah menggugurkan kewajiban”. Hati mereka terus rindu mendekat kepada Allah.

Mereka menunaikan shalat wajib, lalu menambahnya dengan shalat sunnah.

Mereka berpuasa Ramadan, lalu melanjutkannya dengan puasa sunnah.

Mereka menunaikan zakat, lalu menghiasi hartanya dengan sedekah.

Mereka membaca Al-Qur’an bukan hanya ketika ada kebutuhan, tetapi karena hati mereka membutuhkan cahaya dari Kalamullah.

Inilah perjalanan Tazkiyatun Nufūs: membersihkan jiwa, memperbaiki hati, dan memperbanyak jalan menuju cinta Allah.


🎯 MAKSUD

Maksud dari pembahasan ini adalah:

  1. Menjelaskan keutamaan amalan sunnah dan nafilah.
  2. Menumbuhkan kecintaan kepada ibadah tambahan.
  3. Mengajarkan bahwa seorang hamba yang mencintai Allah tidak merasa cukup hanya dengan kewajiban.
  4. Membersihkan hati dari penyakit malas, lalai, riya, ujub, dan merasa telah banyak beramal.
  5. Menjadikan amalan sunnah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

🎯 TUJUAN

Tujuan akhirnya bukan sekadar memperbanyak jumlah ibadah.

Namun tujuan yang lebih tinggi adalah:

Agar hati semakin dekat kepada Allah, akhlak semakin mulia, dosa semakin ditinggalkan, dan kehidupan semakin dipenuhi dengan keberkahan.

Amalan sunnah yang benar akan melahirkan:

  • hati yang lembut,
  • jiwa yang tenang,
  • rasa takut kepada Allah,
  • cinta kepada Rasulullah ﷺ,
  • kasih sayang kepada sesama,
  • dan kerinduan kepada akhirat.

📖 AYAT-AYAT AL-QUR’AN YANG BERKAITAN

1. QS. Al-Baqarah: 195

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”

Amalan sunnah adalah salah satu bentuk ihsan, yaitu berusaha beribadah lebih baik dan lebih dekat kepada Allah.


2. QS. Ali ‘Imran: 31

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”

Mengikuti Rasulullah ﷺ bukan hanya dalam perkara wajib, tetapi juga berusaha menghidupkan sunnah-sunnah beliau.


3. QS. Adz-Dzariyat: 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Seorang mukmin tidak menjadikan ibadah hanya sebagai beban kewajiban, tetapi sebagai tujuan hidup dan jalan menuju Allah.


🌟 HADIS QUDSI: JALAN MENUJU CINTA ALLAH

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman:

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya...”

Kemudian Allah berfirman bahwa apabila Dia mencintai seorang hamba, Allah memberikan pertolongan dan penjagaan kepadanya.

HR. al-Bukhari.

Hadis Qudsi ini adalah salah satu dalil paling agung tentang:

Wajib sebagai fondasi, sunnah sebagai jalan cinta.

Tidak boleh seseorang sibuk dengan amalan sunnah tetapi meninggalkan kewajiban.

Namun orang yang telah menjaga kewajiban lalu memperbanyak amalan sunnah, ia sedang menapaki jalan menuju mahabbatullah—cinta Allah.


🌹 PERSPEKTIF TASAWUF DAN TAZKIYATUN NUFŪS

Dalam perspektif tasawuf, amalan sunnah bukan sekadar “tambahan”.

Amalan sunnah adalah:

Bahasa cinta seorang hamba kepada Tuhannya.

Orang yang mencintai seseorang biasanya tidak merasa cukup hanya melakukan kewajiban.

Demikian pula seorang hamba yang mencintai Allah.

Ia berkata dalam hatinya:

“Ya Allah, Engkau telah mewajibkan aku shalat lima waktu. Tetapi aku ingin menambah shalat sunnah karena aku ingin lebih dekat kepada-Mu.”

“Ya Allah, Engkau telah mewajibkan puasa Ramadan. Tetapi aku ingin berpuasa sunnah karena aku ingin mendidik nafsuku.”

“Ya Allah, Engkau telah memerintahkan zakat. Tetapi aku ingin bersedekah karena aku ingin membersihkan hatiku dari cinta dunia.”

Inilah hakikat Tazkiyatun Nufūs.


⚖️ AMALAN WAJIB DAN SUNNAH: JANGAN TERBALIK

Dalam perjalanan spiritual, terdapat kaidah penting:

1. Wajib didahulukan daripada sunnah.

Tidak benar seseorang rajin shalat tahajud tetapi meninggalkan shalat wajib.

Tidak benar seseorang rajin bersedekah tetapi menzalimi keluarganya.

Tidak benar seseorang banyak membaca wirid tetapi masih merampas hak orang lain.

Tidak benar seseorang rajin menghadiri majelis ilmu tetapi meninggalkan kewajiban yang jelas.

Maka:

Syariat adalah fondasi. Thariqah adalah perjalanan. Hakikat adalah buahnya.


🌿 CONTOH AMALAN SUNNAH DAN NAFILAH

🕌 Dalam shalat

  • Shalat Rawatib.
  • Shalat Dhuha.
  • Shalat Tahajud.
  • Shalat Witir.
  • Shalat Tahiyyatul Masjid.
  • Shalat Istikharah.
  • Shalat Taubat.

🌙 Dalam puasa

  • Puasa Senin-Kamis.
  • Puasa Ayyamul Bidh.
  • Puasa Arafah.
  • Puasa Asyura.
  • Puasa enam hari di bulan Syawal.

📖 Dalam Al-Qur’an dan dzikir

  • Membaca Al-Qur’an setiap hari.
  • Memperbanyak istighfar.
  • Bershalawat kepada Nabi ﷺ.
  • Berdzikir pagi dan petang.
  • Membaca doa-doa ma’tsur.

🤲 Dalam kehidupan sosial

  • Sedekah.
  • Membantu orang yang kesusahan.
  • Menjenguk orang sakit.
  • Menyambung silaturahmi.
  • Memaafkan kesalahan orang.
  • Menolong tanpa berharap pujian.

Kadang-kadang amal sunnah yang paling besar di sisi Allah adalah:

Membantu seorang manusia yang sedang membutuhkan pertolongan, ketika tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.


🔥 ANALISA DAN ARGUMENTASI DI DUNIA YANG VIRAL SAAT INI

Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu ingin segera viral.

Orang ingin:

  • amalnya dilihat,
  • sedekahnya direkam,
  • kebaikannya dipublikasikan,
  • ibadahnya diketahui,
  • bahkan terkadang kesedihan dan amal sosialnya dijadikan konten.

Di sinilah hati seorang mukmin diuji.

Pertanyaan penting:

Apakah kita beribadah karena Allah, atau karena ingin dilihat manusia?

Amalan sunnah memiliki nilai yang sangat besar ketika dilakukan dengan ikhlas.

Bahkan sebagian amal sunnah lebih indah jika disembunyikan.

Seseorang bisa saja tidak terkenal di dunia, tetapi sangat dikenal oleh penduduk langit.

Ia tidak viral di media sosial, tetapi namanya dikenal oleh para malaikat karena keikhlasannya.

Maka dalam dunia yang mengejar popularitas, seorang salik belajar:

Tidak semua kebaikan harus diketahui manusia.

Ada sedekah yang tidak perlu difoto.

Ada tahajud yang tidak perlu diceritakan.

Ada tangisan dalam doa yang tidak perlu dipublikasikan.

Ada amal yang cukup diketahui oleh:

Allah dan hati kita sendiri.

Namun perlu dipahami, menampilkan amal tidak selalu otomatis haram.

Jika seseorang menampilkan amal untuk:

  • mengajarkan,
  • mengajak orang lain bersedekah,
  • memberikan teladan,
  • menggalang bantuan,
  • atau membangkitkan semangat kebaikan,

maka niatnya harus dijaga.

Karena yang menentukan nilai amal bukan sekadar bentuk lahirnya.

Tetapi:

Apa yang dikehendaki hati ketika amal itu dilakukan.


⚖️ HUKUM (AHKAM)

1. Melaksanakan amalan wajib

Hukumnya wajib.

Meninggalkan kewajiban tanpa uzur syar‘i adalah dosa.


2. Melaksanakan amalan sunnah

Hukumnya pada asalnya sunnah, dan pelakunya mendapatkan pahala.

Meninggalkannya tidak berdosa seperti meninggalkan kewajiban.

Namun, meninggalkan sunnah secara terus-menerus karena meremehkan ajaran Rasulullah ﷺ adalah perkara yang harus diwaspadai.


3. Amalan sunnah tidak boleh mengalahkan kewajiban

Misalnya:

  • sibuk tahajud tetapi meninggalkan shalat Subuh,
  • banyak bersedekah tetapi menelantarkan nafkah keluarga,
  • rajin menghadiri majelis tetapi meninggalkan pekerjaan yang menjadi amanah,
  • banyak beribadah tetapi menyakiti orang tua.

Maka kaidahnya:

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.

Dan:

Kewajiban harus didahulukan daripada amalan sunnah.


4. Riya dapat merusak nilai amal

Amalan sunnah yang dilakukan demi pujian manusia dapat menjadi penyakit hati.

Karena itu, seorang mukmin harus senantiasa memeriksa niatnya:

“Untuk siapa aku melakukan ini?”


💔 SENTUHAN HATI: MUHASABAH

Wahai diri…

Berapa tahun kita hidup?

Sudah berapa banyak shalat yang kita lakukan?

Sudah berapa banyak Al-Qur’an yang kita baca?

Sudah berapa banyak sedekah yang kita berikan?

Tetapi pertanyaan yang lebih penting:

Apakah semua itu telah mendekatkan kita kepada Allah?

Jangan sampai kita banyak melakukan ibadah, tetapi hati semakin keras.

Jangan sampai kita banyak membaca kitab, tetapi semakin mudah merendahkan orang.

Jangan sampai kita banyak berdzikir, tetapi lisan masih suka menyakiti.

Jangan sampai kita rajin shalat sunnah, tetapi masih mengambil hak orang lain.

Karena tujuan ibadah bukan sekadar banyaknya gerakan.

Tujuan ibadah adalah:

Perubahan hati.

Jika dahulu mudah marah, sekarang belajar sabar.

Jika dahulu suka membalas keburukan, sekarang belajar memaafkan.

Jika dahulu cinta dunia berlebihan, sekarang mulai mengenal zuhud.

Jika dahulu mencari pujian manusia, sekarang mulai cukup dengan ridha Allah.

Itulah tanda bahwa ibadah mulai memberikan buah.


🌱 AMALAN IMPLEMENTASI

PROGRAM “1 HARI 1 TAMBAHAN SUNNAH”

Jangan memaksa diri melakukan terlalu banyak sekaligus.

Mulailah dengan istiqamah.

Setiap hari:

✅ Shalat wajib tepat waktu.

✅ Membaca Al-Qur’an minimal beberapa ayat.

✅ Istighfar minimal 100 kali.

✅ Bershalawat kepada Nabi ﷺ.

✅ Sedekah meskipun sedikit.

✅ Menjaga lisan.

✅ Memaafkan satu kesalahan orang lain.

✅ Melakukan satu kebaikan yang tidak diketahui manusia.


PROGRAM MINGGUAN

  • Shalat Dhuha.
  • Tahajud sesuai kemampuan.
  • Puasa Senin atau Kamis.
  • Bersedekah.
  • Mengunjungi orang sakit.
  • Menyambung silaturahmi.
  • Menghadiri majelis ilmu.

PROGRAM MUHASABAH SEBELUM TIDUR

Tanyakan kepada diri sendiri:

  1. Apa dosa yang aku lakukan hari ini?
  2. Apakah ada orang yang aku sakiti?
  3. Apakah aku telah menunaikan kewajibanku?
  4. Apakah ada amal sunnah yang bisa aku tingkatkan?
  5. Apakah hari ini aku lebih dekat kepada Allah daripada kemarin?

🤲 DOA

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allahumma a‘inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.

“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu.”


اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الإِيمَانَ، وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ

“Ya Allah, jadikanlah iman kami sesuatu yang kami cintai. Hiasilah iman itu dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.”


🤲 DOA PENUTUP

Ya Allah…

Jangan jadikan kami hamba yang hanya beribadah ketika membutuhkan-Mu.

Jadikan kami hamba yang senantiasa membutuhkan-Mu dalam setiap keadaan.

Ya Allah…

Berikan kami kekuatan untuk menjaga kewajiban.

Berikan kami kecintaan untuk menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ.

Bersihkan hati kami dari riya, ujub, takabbur, hasad, dan cinta dunia yang berlebihan.

Jadikan amalan sunnah kami sebagai jalan menuju cinta-Mu.

Jadikan shalat kami sebagai ketenangan.

Jadikan dzikir kami sebagai kehidupan hati.

Jadikan sedekah kami sebagai pembersih jiwa.

Jadikan setiap langkah kami sebagai perjalanan menuju ridha-Mu.

Ya Allah…

Jika kami tidak mampu menjadi orang yang terkenal di bumi, maka jadikanlah kami hamba yang dikenal oleh penduduk langit.

Jika amal kami sedikit, terimalah dengan rahmat-Mu.

Jika dosa kami banyak, ampunilah dengan kasih sayang-Mu.

Dan wafatkan kami dalam keadaan:

beriman, bertauhid, mencintai Rasulullah ﷺ, mencintai orang-orang saleh, dan memperoleh husnul khatimah.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ


🌹 PENUTUP

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ustadz, guru, kyai, dan para pembimbing yang senantiasa mengajarkan ilmu, mengingatkan hati, dan membimbing umat untuk mencintai Allah dan Rasulullah ﷺ.

Semoga setiap ilmu yang disampaikan menjadi:

amal jariyah, cahaya di alam kubur, pemberat timbangan amal, dan sebab turunnya rahmat Allah.

Dan terima kasih kepada para pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan nasihat ini.

Semoga tulisan ini bukan hanya dibaca oleh mata, tetapi juga:

masuk ke dalam hati, menggerakkan anggota badan untuk beramal, dan membawa kita semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ تُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَكَ

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai dan mencintai-Mu.”

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

........


No comments: