📡 LIVE STREAMING
📖 *ANTARA YANG DICINTAI DAN YANG DIBENCI*
🎙 *Ustadz ABU JUNDY HAFIDZAHULLAH*
TANGGAL :
SABTU, 04 SAFAR 1448 H / 18 JULI 2026
⏰ BA'DA SUBUH - SELESAI
TEMPAT :
* DI MASJID BAITUL JANNAH, PERUM. CENTRAL PARK A.YANI REGENCY, KETINTANG, SURABAYA
Youtube :
https://www.youtube.com/live/DSeFa1ocBIo?si=jmzA7M_HL4N2pB2X
.........
ANTARA YANG DICINTAI DAN YANG DIBENCI
Tazkiyatun Nufūs: Membersihkan Hati agar Cinta dan Benci Berada di Jalan Allah
A. MAKSUD
Manusia hidup di antara dua perasaan besar: cinta dan benci. Keduanya merupakan bagian dari fitrah manusia. Namun, dalam perspektif tasawuf dan Tazkiyatun Nufūs, cinta dan benci tidak boleh dibiarkan mengikuti hawa nafsu.
Sebab, seseorang bisa mencintai sesuatu yang sebenarnya merusak dirinya. Sebaliknya, seseorang bisa membenci sesuatu yang sebenarnya membawa kebaikan baginya.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Maka, tugas Tazkiyatun Nufūs adalah mendidik hati agar mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah.
B. TUJUAN
- Membersihkan hati dari cinta dunia yang berlebihan.
- Mengendalikan kebencian agar tidak berubah menjadi kezaliman.
- Mendidik jiwa agar cinta dan benci berdasarkan iman.
- Menjadikan cinta kepada Allah sebagai cinta tertinggi.
- Menjadikan kebencian kepada dosa sebagai jalan menuju taubat.
- Mencegah hati dari penyakit hasad, dendam, iri, fanatisme buta, dan permusuhan.
- Membentuk akhlak yang lembut, adil, dan penuh kasih sayang.
C. CINTA YANG PALING TINGGI ADALAH CINTA KEPADA ALLAH
Allah Ta‘ala berfirman:
“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 165)
Cinta kepada Allah bukan sekadar ucapan di lisan. Cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan:
- mencintai shalat,
- mencintai Al-Qur’an,
- mencintai dzikir,
- mencintai orang-orang saleh,
- mencintai kebaikan,
- meninggalkan maksiat,
- dan ridha terhadap ketentuan Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)
Maka ukuran cinta kepada Allah bukan hanya air mata, bukan hanya kata-kata, bukan hanya status di media sosial.
Ukuran cinta adalah ketaatan.
Orang yang mencintai Allah akan berusaha meninggalkan apa yang membuat Allah murka.
D. HADIS SHAHIH TENTANG CINTA KARENA ALLAH
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya...”
Di antara mereka adalah:
“Dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah cinta yang suci.
Bukan cinta karena harta.
Bukan cinta karena jabatan.
Bukan cinta karena kepentingan.
Bukan cinta karena selalu dipuji.
Tetapi cinta karena Allah.
Jika saudaranya berbuat baik, ia bahagia.
Jika saudaranya salah, ia menasihati.
Jika saudaranya jatuh, ia membantu.
Jika saudaranya sukses, ia ikut bersyukur.
E. HADIS QUDSI: CINTA ALLAH BAGI ORANG YANG DICINTAI-NYA
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman:
“Apabila Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya...”
(HR. Bukhari)
Maksudnya bukan Allah menyatu dengan manusia—Maha Suci Allah dari segala penyerupaan—tetapi ini adalah gambaran tentang pertolongan, penjagaan, bimbingan, dan taufik Allah kepada hamba yang dicintai-Nya.
Orang yang dicintai Allah akan berusaha menjaga:
- apa yang didengarnya,
- apa yang dilihatnya,
- apa yang diucapkannya,
- apa yang dilakukan tangannya,
- dan ke mana langkah kakinya.
Karena ia sadar:
“Aku tidak boleh menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada Allah.”
F. TIDAK SEMUA YANG KITA CINTAI BAIK BAGI KITA
Manusia sering mencintai:
- harta,
- popularitas,
- pujian,
- kedudukan,
- kecantikan,
- jabatan,
- kenikmatan,
- dan perhatian manusia.
Padahal semua itu tidak salah selama berada di tangan, bukan di dalam hati.
Yang berbahaya adalah ketika dunia berada di dalam hati sehingga seseorang rela:
- meninggalkan shalat demi pekerjaan,
- berdusta demi keuntungan,
- memutus silaturahmi demi harta,
- menghina orang lain demi popularitas,
- melakukan dosa demi viral,
- dan mengorbankan akhirat demi kesenangan sesaat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang salehah.”
(HR. Muslim)
Dunia bukan untuk dibenci secara mutlak. Dunia adalah amanah.
Namun, hati jangan sampai diperbudak oleh dunia.
G. TIDAK SEMUA YANG KITA BENCI ITU BURUK
Allah Ta‘ala berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Kadang-kadang kita membenci:
- nasihat,
- teguran,
- kesabaran,
- kejujuran,
- kesederhanaan,
- disiplin,
- ibadah,
- dan perjuangan.
Namun ternyata semua itu menyelamatkan kita.
Sakit hati karena nasihat terkadang lebih baik daripada bahagia karena pujian yang menyesatkan.
Kehilangan sesuatu terkadang merupakan cara Allah menyelamatkan kita.
Kegagalan terkadang adalah pintu menuju kedewasaan.
Kesendirian terkadang menjadi jalan agar kita kembali mendekat kepada Allah.
Maka seorang salik tidak hanya bertanya:
“Apa yang aku sukai?”
Tetapi ia bertanya:
“Apa yang Allah sukai dari diriku?”
H. MEMBENCI DOSA, BUKAN MEMBENCI MANUSIANYA
Inilah salah satu keindahan akhlak Islam.
Kita boleh membenci kemaksiatan.
Kita wajib membenci kezaliman.
Kita harus menolak kebohongan.
Kita harus menjauhi kesombongan.
Namun, jangan mudah merasa lebih suci daripada orang lain.
Sebab, kita membenci dosa orang lain, tetapi bisa jadi kita memiliki dosa yang tidak diketahui manusia.
Seseorang yang hari ini melakukan kesalahan, mungkin besok menjadi kekasih Allah karena taubatnya.
Dan seseorang yang hari ini terlihat saleh, belum tentu mengetahui bagaimana akhir hidupnya.
Karena itu, jangan sombong terhadap pendosa.
Bencilah dosanya.
Doakan orangnya.
Nasihati dengan kasih sayang.
Jangan menjadikan agama sebagai alasan untuk menghina manusia.
I. ANALISA DAN ARGUMENTASI RELEVAN DENGAN DUNIA YANG VIRAL SAAT INI
Di zaman media sosial, manusia sering mencintai sesuatu hanya karena sedang viral.
Yang banyak ditonton dianggap benar.
Yang banyak pengikut dianggap hebat.
Yang banyak dibicarakan dianggap penting.
Padahal:
Viral tidak selalu benar.
Terkenal tidak selalu mulia.
Banyak pengikut tidak selalu berarti dekat dengan Allah.
Kadang seseorang menjadi viral karena prestasi.
Namun ada pula yang menjadi viral karena:
- membuka aib,
- menghina orang,
- menyebarkan fitnah,
- mempermalukan orang lain,
- membuat konten kontroversi,
- atau mempertontonkan maksiat.
Maka Tazkiyatun Nufūs mengajarkan:
Jangan mencintai popularitas lebih daripada kebenaran.
Jangan membenci seseorang hanya karena ia berbeda pendapat.
Jangan mencintai seseorang secara berlebihan hingga membenarkan semua kesalahannya.
Jangan membenci seseorang secara berlebihan hingga menolak semua kebenaran yang disampaikannya.
Seorang mukmin harus adil.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Inilah akhlak Islam di zaman viral:
Cinta tidak boleh membutakan.
Benci tidak boleh menzalimi.
J. HUKUM (AHKAM)
1. Mencintai Allah hukumnya wajib
Cinta kepada Allah merupakan bagian dari iman.
2. Mencintai Rasulullah ﷺ adalah kewajiban
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
3. Mencintai kebaikan dan orang saleh adalah perkara terpuji
Karena cinta dapat membawa seseorang untuk mengikuti orang yang dicintainya.
4. Membenci kemaksiatan adalah kewajiban sesuai kemampuan
Namun membenci kemaksiatan tidak boleh menjadikan seseorang melakukan kezaliman yang lebih besar.
5. Membenci manusia karena hawa nafsu dapat menjadi dosa
Terutama apabila kebencian itu menyebabkan:
- fitnah,
- ghibah,
- penghinaan,
- permusuhan,
- pemutusan silaturahmi,
- atau kezaliman.
6. Cinta dan benci harus dikendalikan oleh syariat
Bukan oleh ego.
Bukan oleh fanatisme.
Bukan oleh emosi.
Bukan oleh popularitas.
K. PERSPEKTIF TASAWUF: MENGOBATI PENYAKIT CINTA DAN BENCI
Para ulama tasawuf mengajarkan bahwa hati memiliki penyakit.
Di antara penyakit hati adalah:
1. Hubbud dunya
Cinta dunia secara berlebihan.
2. Hasad
Tidak suka melihat orang lain mendapatkan nikmat.
3. Hiqd
Dendam yang disimpan di dalam hati.
4. Ujub
Kagum kepada diri sendiri.
5. Takabbur
Merasa lebih tinggi daripada orang lain.
6. Riya
Mencari penilaian manusia dalam amal.
Obatnya adalah:
Muraqabah — merasa diawasi Allah.
Muhasabah — mengevaluasi diri.
Mujahadah — melawan hawa nafsu.
Taubat — kembali kepada Allah.
Mahabbah — memperkuat cinta kepada Allah.
Zuhud — tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
L. SENTUHAN HATI (MUHASABAH)
Wahai diri...
Siapa yang paling engkau cintai?
Apakah Allah?
Ataukah dunia?
Apakah engkau lebih sedih ketika kehilangan uang daripada kehilangan shalat?
Apakah engkau lebih takut kehilangan pujian manusia daripada kehilangan ridha Allah?
Apakah engkau lebih cepat marah ketika dihina manusia daripada ketika melihat agama Allah dihina?
Wahai hati...
Siapa yang paling engkau benci?
Apakah dosa?
Ataukah orang yang tidak menyukaimu?
Apakah kemaksiatan?
Ataukah orang yang berbeda pendapat denganmu?
Jangan sampai engkau membenci orang lain karena egomu, sementara engkau mencintai dosa karena hawa nafsumu.
Jangan sampai engkau sibuk menghitung kesalahan orang lain, sementara dosa-dosamu sendiri belum engkau tangisi.
Jangan sampai engkau merasa paling benar, padahal belum tentu engkau menjadi orang yang paling dicintai Allah.
Karena pada akhirnya...
Yang paling penting bukan siapa yang mencintai kita di dunia.
Tetapi:
Apakah Allah mencintai kita?
Dan yang paling menakutkan bukan siapa yang membenci kita di dunia.
Tetapi:
Apakah Allah murka kepada kita?
M. AMALAN DAN IMPLEMENTASI
1. Periksa kembali cinta kita
Setiap hari tanyakan:
“Apa yang paling banyak memenuhi pikiranku?”
Karena sesuatu yang paling sering kita pikirkan biasanya menunjukkan apa yang paling kita cintai.
2. Belajar mencintai ibadah
Jangan hanya beribadah karena takut neraka.
Jangan hanya beribadah karena ingin surga.
Namun, beribadahlah karena kita ingin menjadi hamba yang dicintai Allah.
3. Latih diri untuk tidak membenci secara berlebihan
Jika tidak menyukai seseorang, jangan langsung menghina.
Jika berbeda pendapat, jangan langsung memutus persaudaraan.
Jika kecewa, jangan langsung membalas dengan kezaliman.
4. Jadikan cinta sebagai jalan kebaikan
Cintailah orang tua.
Cintailah keluarga.
Cintailah guru.
Cintailah orang-orang saleh.
Cintailah kaum fakir dan lemah.
Cintailah kebaikan.
5. Jadikan kebencian sebagai pengingat
Bencilah dosa.
Bencilah kemaksiatan.
Bencilah kezaliman.
Namun, jangan sampai kebencian menjadikan kita zalim.
6. Amalkan doa:
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya.”
7. Perbanyak istighfar
Karena hati yang banyak beristighfar akan lebih mudah kembali kepada Allah.
N. DOA
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ
Allahumma innā nas’aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa hubba ‘amalin yuqarribunā ilā hubbik.
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu.”
Ya Allah...
Jadikanlah kami orang-orang yang mencintai-Mu.
Jadikanlah kami mencintai Rasul-Mu ﷺ.
Jadikanlah kami mencintai Al-Qur’an.
Jadikanlah kami mencintai shalat, dzikir, ilmu, sedekah, dan amal saleh.
Ya Allah...
Bersihkan hati kami dari cinta dunia yang melalaikan.
Bersihkan hati kami dari iri, dengki, dendam, sombong, dan benci yang tidak Engkau ridai.
Ya Allah...
Jika kami membenci seseorang karena hawa nafsu kami, maka lembutkanlah hati kami.
Jika kami mencintai sesuatu yang menjauhkan kami dari-Mu, maka lepaskanlah hati kami darinya.
Jika kami mencintai kebaikan, maka kuatkanlah kami untuk mengamalkannya.
Jika kami membenci kemaksiatan, maka jauhkanlah kami dari kemaksiatan itu.
Ya Allah...
Jadikanlah cinta kami karena-Mu.
Jadikanlah benci kami karena-Mu.
Jadikanlah hidup kami dalam ketaatan kepada-Mu.
Dan wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ، وَلَا تَخْتِمْ عَلَيْنَا بِسُوْءِ الْخَاتِمَةِ.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.
PENUTUP
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ustadz, kyai, guru, pembimbing, dan para ulama yang senantiasa memberikan ilmu, nasihat, dan teladan kepada kita.
Semoga setiap ilmu yang disampaikan menjadi amal jariyah.
Semoga setiap nasihat menjadi cahaya bagi hati.
Dan terima kasih kepada seluruh pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan tulisan ini.
Semoga tulisan ini tidak hanya berhenti sebagai bacaan, tetapi menjadi bahan muhasabah, perbaikan diri, dan amal nyata.
Mari kita belajar:
Mencintai karena Allah.
Membenci karena Allah.
Menegur dengan kasih sayang.
Memaafkan dengan keikhlasan.
Dan menjadikan Allah sebagai tujuan tertinggi dari seluruh cinta kita.
“Ya Allah, jangan jadikan hati kami mencintai sesuatu melebihi cinta kami kepada-Mu.”
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
.........
No comments:
Post a Comment