BAB 22 Tentang Mengekang Emosi (Marah.
Lima perkara dapat mengangkat derajat pelakunya, yaitu antara lain:
1. Tidak makan kecuali yang halal,
(Nasihat Abu Dardak).
.........
🌿 MAKANLAH YANG HALAL, NISCAYA JIWAMU TERANG
Tazkiyatun Nufūs: Menjaga Perut, Membersihkan Hati, Mengangkat Derajat
Nasihat Abu Darda’ ra.
“Lima perkara dapat mengangkat derajat pelakunya, di antaranya: tidak makan kecuali makanan yang halal.”
A. MAKSUD DAN TUJUAN
Nasihat ini mengajarkan bahwa makanan bukan sekadar perkara perut, tetapi juga berkaitan erat dengan kesucian hati, kekuatan ibadah, akhlak, doa, dan perjalanan ruhani seorang hamba menuju Allah SWT.
Dalam perspektif Tasawuf dan Tazkiyatun Nufūs, makanan yang masuk ke dalam tubuh akan memberi pengaruh terhadap:
- kebersihan hati;
- ketenangan jiwa;
- kekhusyukan ibadah;
- kelembutan akhlak;
- terkabulnya doa;
- dan keberkahan kehidupan.
Sebab itu, seorang salik—orang yang berjalan menuju Allah—tidak hanya bertanya:
“Apakah makanan ini enak?”
Tetapi juga bertanya:
“Dari mana makanan ini berasal?”
“Dengan cara apa makanan ini diperoleh?”
“Apakah di dalamnya terdapat hak orang lain?”
“Apakah makanan ini mendekatkan aku kepada Allah atau justru menjauhkan hatiku dari-Nya?”
B. AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG MAKANAN HALAL
1. Perintah memakan yang halal dan baik
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
“Wahai manusia! Makanlah dari apa yang terdapat di bumi yang halal lagi baik.”
(QS. Al-Baqarah: 168)
Allah tidak hanya menyebut halal, tetapi juga ṭayyib—baik, bersih, sehat, dan tidak membahayakan.
Maka dalam Tazkiyatun Nufūs, makanan seorang mukmin harus diperhatikan dari dua sisi:
1. Halal zatnya
Bukan makanan yang diharamkan oleh syariat.
2. Halal cara memperolehnya
Tidak berasal dari:
- penipuan;
- korupsi;
- riba;
- pencurian;
- suap;
- manipulasi;
- merampas hak orang lain;
- atau transaksi yang zalim.
Sebab bisa jadi makanan itu secara bentuk tampak halal, tetapi uang yang digunakan untuk membelinya berasal dari jalan yang haram.
2. Perintah kepada para Rasul dan orang beriman
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا
“Wahai para rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh.”
(QS. Al-Mu’minun: 51)
Perhatikan hubungan ayat ini:
Makanan yang baik → amal saleh
Ini menunjukkan bahwa makanan mempunyai hubungan dengan amal.
Perut yang diisi dengan yang halal akan lebih mudah mengantarkan seseorang kepada:
- shalat;
- dzikir;
- sedekah;
- kejujuran;
- kesabaran;
- dan akhlak yang baik.
Sebaliknya, sesuatu yang haram dapat menjadi penghalang batin dalam perjalanan menuju Allah.
C. HADIS SHAHIH TENTANG MAKANAN HALAL
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
Kemudian Rasulullah ﷺ menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, lalu mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa:
“Wahai Rabbku, wahai Rabbku!”
Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dengan sesuatu yang haram.
Lalu Nabi ﷺ bersabda:
فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
“Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”
(HR. Muslim)
Pelajaran Tasawuf
Seseorang mungkin:
- rajin berdoa;
- menangis dalam munajat;
- pergi ke masjid;
- memperbanyak dzikir;
tetapi apabila kehidupannya dibangun di atas harta yang haram, maka ia harus melakukan muhasabah yang sangat dalam.
Bukan berarti kita boleh memastikan seseorang tidak akan dikabulkan doanya. Namun hadis ini memberikan peringatan keras bahwa makanan dan harta haram merupakan penghalang besar bagi keberkahan doa dan ibadah.
D. HADIS TENTANG YANG HALAL DAN HARAM
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah salah satu prinsip besar dalam Tazkiyatun Nufūs:
Orang yang ingin membersihkan hatinya tidak hanya meninggalkan yang haram, tetapi juga berhati-hati terhadap perkara yang meragukan.
Karena hati yang sering diberi makan oleh sesuatu yang syubhat, lama-kelamaan dapat menjadi berani terhadap sesuatu yang haram.
E. HADIS QUDSI YANG BERKAITAN
Dalam Hadis Qudsi, Allah SWT berfirman:
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا
“Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi.”
(HR. Muslim)
Hadis Qudsi ini sangat berkaitan dengan persoalan makanan dan harta.
Sebab terkadang seseorang berkata:
“Saya makan makanan halal.”
Namun pertanyaan yang lebih dalam adalah:
Apakah uang untuk membeli makanan itu diperoleh dengan cara yang tidak menzalimi orang lain?
Jangan sampai:
- kenyang perut kita berasal dari hak orang lain;
- rumah kita dibangun dari air mata orang lain;
- kendaraan kita dibeli dari penipuan;
- keluarga kita diberi makan dari harta yang diperoleh dengan cara zalim.
Secara lahir mungkin tampak sukses.
Namun secara batin, bisa jadi hati sedang kehilangan cahaya keberkahan.
F. ANALISA TASAWUF: PERUT ADALAH PINTU HATI
Para ulama Tasawuf banyak memberikan perhatian terhadap persoalan makanan.
Karena manusia terdiri dari:
- jasad;
- akal;
- nafsu;
- dan ruh.
Makanan masuk ke dalam jasad. Namun pengaruhnya dapat menjalar kepada:
Jasad → darah → kekuatan tubuh → perilaku → hati → ibadah.
Maka seorang ahli Tazkiyatun Nufūs selalu berhati-hati terhadap apa yang masuk ke dalam dirinya.
Bukan hanya “Apa yang saya makan?”
Tetapi:
“Dengan apa saya membeli makanan ini?”
Dan bukan hanya:
“Berapa banyak yang saya makan?”
Tetapi:
“Apakah makanan ini membuat saya semakin dekat kepada Allah?”
G. RELEVAN DENGAN DUNIA YANG VIRAL SAAT INI
Di zaman media sosial, banyak hal dapat menjadi viral:
- gaya hidup mewah;
- pamer kekayaan;
- bisnis yang cepat kaya;
- investasi dengan janji keuntungan besar;
- promosi makanan dan barang;
- jual beli online;
- konten flexing;
- serta berbagai cara memperoleh uang.
Masyarakat sering melihat:
“Yang penting sukses.”
Tetapi Islam mengajarkan:
“Bukan hanya berapa banyak yang diperoleh, tetapi dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan.”
Viral bukan berarti benar.
Banyak pengikut bukan berarti berkah.
Banyak uang bukan berarti halal.
Terkenal bukan berarti mulia.
Ukuran kemuliaan seorang manusia bukan hanya:
- jumlah hartanya;
- jumlah rumahnya;
- jumlah kendaraannya;
- jumlah pengikutnya;
- jumlah penontonnya.
Tetapi:
Seberapa bersih cara ia memperoleh rezeki dan seberapa banyak rezeki itu membawa manfaat bagi orang lain.
H. IMPLEMENTASI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
1. Periksa sumber penghasilan
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah penghasilan saya berasal dari pekerjaan yang halal?”
Jika seorang pedagang, jangan:
- mengurangi timbangan;
- menipu kualitas;
- menyembunyikan cacat barang;
- memalsukan informasi.
Jika seorang pekerja, jangan:
- memalsukan laporan;
- mengambil gaji tanpa bekerja;
- menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Jika seorang pengusaha, jangan:
- menipu pelanggan;
- mengambil hak karyawan;
- melakukan manipulasi.
2. Jangan meremehkan uang kecil
Kadang-kadang manusia berhati-hati terhadap uang besar, tetapi meremehkan uang kecil.
Padahal:
Dosa tidak selalu menjadi kecil hanya karena nilai uangnya kecil.
Maka jangan mengambil:
- uang yang bukan hak kita;
- kembalian yang berlebihan;
- barang milik orang lain;
- fasilitas yang bukan hak kita.
3. Ajarkan keluarga tentang halal
Orang tua hendaknya tidak hanya berkata kepada anak:
“Belajarlah yang rajin agar menjadi sukses.”
Tetapi juga:
“Jadilah manusia yang jujur agar rezekimu berkah.”
Sebab lebih baik hidup sederhana dengan rezeki halal daripada hidup mewah dengan harta yang membuat hati gelap.
4. Berhati-hati terhadap syubhat
Jika ada sesuatu yang meragukan, tanyakan kepada orang yang memiliki ilmu.
Jangan mengikuti prinsip:
“Kalau orang lain boleh, saya juga boleh.”
Tetapi gunakan prinsip:
“Apakah Allah ridha dengan apa yang saya lakukan?”
I. MUHASABAH TAZKIYATUN NUFŪS
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
1. Dari mana makanan yang saya makan hari ini?
2. Dari mana uang yang saya gunakan untuk membeli makanan?
3. Apakah pernah ada hak orang lain yang belum saya kembalikan?
4. Apakah pernah saya mendapatkan keuntungan dengan cara menipu?
5. Apakah saya pernah menganggap remeh perkara haram?
6. Apakah saya pernah berkata:
“Yang penting untung”?
Padahal yang seharusnya kita katakan:
“Yang penting halal dan berkah.”
J. CARA MELAKUKAN MUHASABAH
Langkah Pertama: Berhenti sejenak
Luangkan waktu setiap hari untuk merenung.
Tidak perlu menunggu berada di tempat khusus.
Setelah shalat, sebelum tidur, atau ketika hati sedang tenang, tanyakan:
“Ya Allah, hari ini apa yang telah masuk ke dalam tubuhku?”
Langkah Kedua: Periksa sumber rezeki
Tuliskan sumber penghasilan dan transaksi yang dilakukan.
Kemudian tanyakan:
- Apakah jelas?
- Apakah jujur?
- Apakah ada hak orang lain?
- Apakah ada unsur penipuan?
- Apakah ada sesuatu yang meragukan?
Langkah Ketiga: Kembalikan hak orang lain
Jika pernah mengambil hak seseorang:
- kembalikan;
- minta maaf;
- selesaikan utang;
- perbaiki kesalahan.
Sebab Tazkiyatun Nufūs bukan hanya memperbanyak dzikir, tetapi juga membersihkan hubungan dengan sesama manusia.
Langkah Keempat: Taubat dengan sungguh-sungguh
Taubat bukan hanya:
“Astaghfirullah.”
Tetapi juga:
berhenti dari dosa, menyesal, dan bertekad tidak mengulanginya.
Jika berkaitan dengan hak manusia, maka harus diselesaikan hak tersebut sesuai kemampuan.
Langkah Kelima: Ganti dengan amal halal
Setelah meninggalkan yang haram, isi kehidupan dengan:
- bekerja secara jujur;
- makan dari rezeki halal;
- bersedekah;
- membantu orang lain;
- memperbanyak dzikir;
- dan memperbaiki akhlak.
K. INTI NASIHAT
Seorang manusia dapat memiliki:
perut yang kenyang, tetapi hati yang lapar.
Ia bisa memiliki:
rumah yang besar, tetapi jiwa yang sempit.
Ia bisa memiliki:
harta yang banyak, tetapi tidur yang tidak tenang.
Namun orang yang menjaga kehalalan rezekinya, meskipun hidup sederhana, dapat memiliki:
hati yang tenang, doa yang penuh harapan, dan kehidupan yang penuh keberkahan.
Maka jangan hanya mengejar:
“Berapa banyak yang saya dapatkan?”
Tetapi tanyakan:
“Apakah Allah ridha dengan cara saya mendapatkannya?”
Karena pada akhirnya, yang kita bawa menghadap Allah bukanlah:
- rekening bank;
- rumah;
- kendaraan;
- jabatan;
- popularitas;
- atau jumlah pengikut.
Yang kita bawa adalah:
iman, amal, kejujuran, dan hati yang bersih.
L. DOA
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allahumma-kfinā bihalālika ‘an harāmik, wa aghninā bifadhlika ‘amman siwāk.
“Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram, dan kayakanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak membutuhkan selain-Mu.”
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحَرَامِ وَالشُّبُهَاتِ، وَاجْعَلْنَا عِبَادًا صَالِحِينَ صَادِقِينَ أُمَنَاءَ.
Ya Allah, berilah kami rezeki yang halal, baik, luas, dan penuh keberkahan. Bersihkanlah hati kami dari perkara haram dan syubhat. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang saleh, jujur, dan amanah.
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
PENUTUP
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ustadz, guru, kyai, ulama, dan para pembimbing umat yang senantiasa mengajarkan pentingnya menjaga kehalalan rezeki dan kebersihan hati.
Dan terima kasih kepada seluruh pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan nasehat ini.
Semoga tulisan sederhana ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa:
Makanan yang halal bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi menjadi cahaya bagi hati.
Rezeki yang halal mungkin tidak selalu banyak, tetapi insyaAllah membawa ketenangan.
Harta yang berkah bukanlah harta yang paling banyak, melainkan harta yang paling mampu membawa kita semakin dekat kepada Allah SWT.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
........
No comments:
Post a Comment