SHALAT YANG PANJANG, TETAPI HATI BELUM PULANG
Tazkiyatun Nufūs: Menyempurnakan Gerakan, Menghadirkan Kehambaan
🕌 Pendahuluan
Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda:
“Sungguh, ada seseorang yang shalat selama enam puluh tahun, tetapi tidak ada satu pun shalatnya yang diterima. Ia menyempurnakan rukuknya, tetapi tidak menyempurnakan sujudnya. Kadang ia menyempurnakan sujudnya, tetapi tidak menyempurnakan rukuknya.”
Hadis ini disebutkan oleh Imam al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah.
Hadis ini bukan untuk membuat kita berputus asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, hadis ini adalah alarm bagi hati.
Sebab seseorang bisa saja telah lama beribadah, tetapi belum tentu telah benar-benar belajar menjadi hamba.
Bisa saja seseorang telah bertahun-tahun shalat, tetapi shalatnya masih dikerjakan dengan tergesa-gesa.
Bisa saja tubuhnya berdiri menghadap kiblat, tetapi hatinya menghadap dunia.
Bisa saja dahinya menyentuh sajadah, tetapi kesombongan masih tinggal di dalam dada.
Maka persoalannya bukan hanya:
“Berapa lama kita telah shalat?”
Tetapi:
“Apakah shalat itu telah mengubah kita?”
I. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Mengingatkan pentingnya kualitas ibadah
Islam tidak hanya mengajarkan banyaknya amal, tetapi juga benarnya amal dan hadirnya hati.
Allah ﷻ berfirman:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”
QS. Al-Mulk: 2
Allah tidak mengatakan:
“Siapa yang paling banyak amalnya.”
Tetapi:
أَحْسَنُ عَمَلًا — yang paling baik amalnya.
Para ulama menjelaskan bahwa amal yang baik adalah amal yang ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
2. Menyadarkan bahwa shalat bukan sekadar gerakan
Shalat bukan olahraga lima waktu.
Shalat bukan sekadar berdiri, rukuk, sujud, lalu salam.
Shalat adalah:
- pertemuan seorang hamba dengan Allah;
- tempat merendahkan kesombongan;
- tempat membersihkan hati;
- tempat memohon pertolongan;
- tempat mengembalikan jiwa kepada Allah.
Allah ﷻ berfirman:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
QS. Thaha: 14
Maka apabila seseorang shalat tetapi hatinya tidak pernah mengingat Allah, ia harus bertanya kepada dirinya:
“Apa yang terjadi dengan shalatku?”
II. SHALAT DAN TAZKIYATUN NUFŪS
Dalam perspektif tasawuf, shalat memiliki dua sisi:
1. Sisi lahiriah
Yaitu:
- bersuci;
- menutup aurat;
- menghadap kiblat;
- masuk waktu;
- berdiri;
- rukuk;
- i‘tidal;
- sujud;
- duduk;
- salam.
Semua ini harus sesuai dengan syariat.
2. Sisi batiniah
Yaitu:
- ikhlas;
- khusyuk;
- merasa hina di hadapan Allah;
- menghadirkan hati;
- takut kepada Allah;
- berharap rahmat Allah;
- merasakan bahwa dirinya sedang menghadap Rabbul ‘Alamin.
Inilah yang menjadi perhatian besar dalam Tazkiyatun Nufūs.
Karena penyakit manusia tidak hanya berada pada tubuh.
Penyakit terbesar sering berada di dalam hati:
- riya;
- ujub;
- sombong;
- cinta dunia;
- lalai;
- merasa paling benar;
- meremehkan orang lain;
- merasa amalnya sudah cukup.
Maka shalat seharusnya bukan hanya memperbaiki posisi tubuh.
Shalat juga harus memperbaiki posisi hati.
III. AYAT-AYAT AL-QUR’AN YANG BERKAITAN
1. Shalat harus mencegah kemungkaran
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
QS. Al-‘Ankabut: 45
Maka kita perlu melakukan evaluasi.
Jika seseorang shalat bertahun-tahun, tetapi:
- masih suka menyakiti orang;
- masih mudah memfitnah;
- masih gemar menghina;
- masih suka menipu;
- masih senang menyebarkan berita bohong;
- masih mudah marah;
- masih merasa lebih suci daripada orang lain;
maka ia perlu bertanya:
“Mengapa shalatku belum menjadi cahaya dalam akhlakku?”
Bukan berarti kita boleh meninggalkan shalat karena belum sempurna.
Justru karena belum sempurna, kita harus terus memperbaiki shalat.
2. Shalat dengan lalai adalah bahaya
Allah ﷻ berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.”
QS. Al-Ma‘un: 4–5
Perhatikan.
Ayat ini bukan berbicara tentang orang yang tidak shalat.
Ayat ini juga memperingatkan orang yang shalat tetapi lalai terhadap shalatnya.
Karena bisa saja seseorang:
- tubuhnya berada di masjid;
- lisannya membaca Al-Qur’an;
- tetapi pikirannya berkelana ke mana-mana.
3. Shalat membutuhkan kekhusyukan
Allah ﷻ berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.”
QS. Al-Mu’minun: 1–2
Khusyuk bukan berarti tidak pernah terlintas pikiran lain.
Khusyuk adalah ketika hati kita terus-menerus dikembalikan kepada Allah setiap kali ia lalai.
IV. HADIS-HADIS SHAHIH YANG BERKAITAN
1. Shalat seperti pertemuan dengan Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian berdiri untuk shalat, sesungguhnya dia sedang bermunajat kepada Rabb-nya.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim
Maka shalat bukanlah aktivitas biasa.
Ketika takbir:
الله أكبر
seolah-olah kita mengatakan:
“Ya Allah, untuk sementara aku tinggalkan dunia.”
Namun terkadang baru mengucapkan takbir:
- pikiran sudah memikirkan uang;
- hati memikirkan masalah;
- pikiran mengingat media sosial;
- hati memikirkan komentar orang;
- tubuh menghadap kiblat tetapi jiwa masih berada di dunia.
Maka kita harus belajar kembali.
2. Shalat sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
HR. Al-Bukhari
Ini menunjukkan bahwa shalat harus benar secara lahiriah.
Tasawuf yang benar tidak boleh meninggalkan syariat.
Syariat tanpa penghayatan dapat menjadi kering.
Dan:
Penghayatan tanpa syariat dapat menjadi kesesatan.
Maka seorang Muslim harus menyempurnakan keduanya:
Benar gerakannya, hadir hatinya.
3. Shalat yang paling dicintai Allah
Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang amal yang paling dicintai Allah.
Beliau menjawab:
“Shalat pada waktunya.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim
Ini mengajarkan kepada kita bahwa kualitas ibadah dimulai dari ketaatan.
Jangan berbicara tentang maqam tinggi, sementara shalat masih ditunda-tunda.
Jangan berbicara tentang cinta kepada Allah, sementara panggilan Allah sering diabaikan.
V. HADIS QUDSI YANG BERKAITAN
Allah ﷻ berfirman dalam hadis qudsi:
“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian...”
Kemudian ketika seorang hamba membaca:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Allah berfirman:
“Hamba-Ku telah memuji-Ku.”
Ketika membaca:
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Allah berfirman:
“Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.”
Ketika membaca:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Allah berfirman:
“Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Bayangkan.
Ketika kita membaca Al-Fatihah dengan penuh kesadaran, kita sedang membaca kalimat yang dijawab oleh Allah.
Maka pertanyaannya:
Apakah kita membaca Al-Fatihah dengan hati yang sadar, atau hanya dengan lidah yang otomatis?
VI. ANALISA TASAWUF: RUKUK DAN SUJUD SEBAGAI PERJALANAN JIWA
1. Rukuk: menundukkan ego
Rukuk mengajarkan:
“Ya Allah, aku menundukkan kesombonganku.”
Orang yang benar-benar belajar dari rukuk akan lebih sulit untuk:
- sombong;
- merasa paling hebat;
- merendahkan orang lain;
- merasa paling benar.
Sebab setiap hari ia berulang kali membungkukkan tubuh di hadapan Allah.
Namun sangat ironis jika tubuhnya sering rukuk, tetapi egonya tidak pernah rukuk.
2. Sujud: titik terendah tubuh, tetapi titik tertinggi kedekatan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa.”
HR. Muslim
Sujud mengajarkan:
“Ya Allah, aku bukan siapa-siapa.”
Di luar shalat mungkin seseorang:
- memiliki jabatan;
- memiliki kekayaan;
- memiliki pengaruh;
- memiliki banyak pengikut;
- dipuji manusia.
Tetapi ketika sujud:
Semua kepala sama-sama berada di bawah.
Itulah pendidikan ruhani yang luar biasa.
VII. RELEVANSI DENGAN DUNIA VIRAL SAAT INI
Kita hidup di zaman ketika:
yang viral belum tentu benar,
yang banyak ditonton belum tentu bermanfaat,
yang banyak pengikut belum tentu paling mulia.
Media sosial dapat menjadi:
Cahaya
Jika digunakan untuk:
- menyebarkan ilmu;
- mengingatkan kebaikan;
- membantu orang;
- menyebarkan sedekah;
- mempererat silaturahmi.
Namun dapat menjadi:
Penyakit hati
Jika digunakan untuk:
- pamer ibadah;
- mencari pujian;
- mempermalukan orang;
- menyebarkan fitnah;
- membuat konten provokasi;
- mencari popularitas dengan mengorbankan kehormatan orang lain.
Maka seorang yang telah shalat harus bertanya:
“Apakah shalatku membuat jariku lebih berhati-hati ketika mengetik?”
“Apakah shalatku membuat lisanku lebih berhati-hati ketika berkomentar?”
“Apakah shalatku membuatku takut menyebarkan berita yang belum jelas?”
“Apakah shalatku membuatku malu mempermalukan saudara sesama Muslim?”
Jika iya, maka shalat mulai memberikan pengaruh.
VIII. IMPLEMENTASI PRAKTIS
1. Jangan tergesa-gesa dalam shalat
Berikan kesempatan kepada hati untuk mengikuti tubuh.
Ketika rukuk:
Berhenti sejenak.
Ketika i‘tidal:
Berdiri dengan tenang.
Ketika sujud:
Rasakan kehinaan diri di hadapan Allah.
Jangan menjadikan shalat seperti kewajiban yang ingin segera diselesaikan.
Jadikan shalat sebagai kebutuhan ruhani.
2. Pelajari arti bacaan shalat
Bagaimana mungkin hati dapat khusyuk jika tidak memahami apa yang dibaca?
Pelajari makna:
- takbir;
- doa iftitah;
- Al-Fatihah;
- tasbih rukuk;
- tasbih sujud;
- tahiyyat;
- shalawat;
- salam.
Ketika memahami maknanya, shalat akan berubah dari sekadar bacaan menjadi dialog penghambaan.
3. Persiapkan hati sebelum takbir
Sebelum shalat:
- hentikan sejenak aktivitas;
- letakkan telepon genggam;
- tenangkan pikiran;
- berwudhu dengan kesadaran;
- ingat bahwa kita akan menghadap Allah.
Jangan menunggu hati khusyuk setelah takbir.
Persiapkan hati sebelum takbir.
4. Evaluasi akhlak setelah shalat
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah shalat Subuhku membuatku lebih sabar hari ini?”
“Apakah shalat Zuhurku membuatku lebih jujur dalam bekerja?”
“Apakah shalat Asarku membuatku lebih mampu mengendalikan emosi?”
“Apakah shalat Maghribku membuatku lebih lembut kepada keluarga?”
“Apakah shalat Isyaku membuatku lebih takut kepada Allah?”
Inilah shalat yang mulai hidup.
IX. MUHASABAH DIRI
Luangkan waktu untuk bertanya kepada diri sendiri:
1. Sudah berapa tahun aku shalat?
Namun:
Apakah aku semakin dekat kepada Allah?
2. Sudah berapa kali aku sujud?
Namun:
Apakah aku masih menyimpan kesombongan?
3. Sudah berapa banyak ayat yang kubaca?
Namun:
Apakah Al-Qur’an telah memperbaiki akhlakku?
4. Sudah berapa kali aku mengucapkan Allahu Akbar?
Namun:
Apakah masih ada sesuatu yang lebih besar daripada Allah di dalam hatiku?
5. Sudah berapa kali aku mengucapkan “iyyaka na‘budu”?
“Hanya kepada-Mu kami menyembah.”
Namun:
Apakah aku masih menyembah pujian manusia?
6. Sudah berapa kali aku mengucapkan “iyyaka nasta‘in”?
“Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Namun:
Apakah hatiku sepenuhnya bergantung kepada Allah?
X. CARA MUHASABAH SHALAT
Setiap malam, lakukan tiga langkah:
1. Ingat kembali shalat hari ini
Tanyakan:
- Apakah aku shalat tepat waktu?
- Apakah aku tergesa-gesa?
- Apakah aku menjaga thuma’ninah?
- Apakah aku memahami bacaanku?
- Apakah hatiku hadir?
2. Akui kekurangan
Jangan membela diri di hadapan Allah.
Katakan:
“Ya Allah, shalatku masih banyak kekurangan.”
Pengakuan terhadap kelemahan adalah pintu perbaikan.
3. Buat satu perbaikan untuk esok hari
Jangan ingin memperbaiki semuanya sekaligus.
Misalnya:
Hari ini:
“Besok aku akan memperbaiki thuma’ninah.”
Hari berikutnya:
“Besok aku akan memahami makna Al-Fatihah.”
Hari berikutnya:
“Besok aku akan lebih menjaga hati dari riya.”
Sedikit demi sedikit.
Yang penting istiqamah.
XI. JANGAN BERPUTUS ASA
Hadis tentang shalat yang tidak sempurna bukan berarti kita boleh berkata:
“Kalau shalatku belum sempurna, buat apa shalat?”
Itu bisikan setan.
Justru karena kita belum sempurna, kita harus terus shalat.
Allah tidak meminta kita menjadi malaikat.
Allah meminta kita menjadi hamba yang:
- mau belajar;
- mau memperbaiki diri;
- mau bertaubat;
- tidak sombong dengan amal;
- tidak putus asa dari rahmat-Nya.
Jangan pernah berkata:
“Aku sudah tua, sudah tidak bisa berubah.”
Selama nyawa belum sampai tenggorokan, pintu perbaikan masih terbuka.
Boleh jadi shalat yang kita lakukan hari ini adalah shalat yang paling ikhlas sepanjang hidup kita.
Boleh jadi satu sujud yang benar-benar penuh penyesalan menjadi sebab turunnya rahmat Allah.
Boleh jadi air mata yang jatuh dalam sujud menjadi awal perubahan seluruh kehidupan.
XII. DOA
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kami kepada-Mu.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَنَا صَلَاةً تُقَرِّبُنَا إِلَيْكَ، وَتُطَهِّرُ قُلُوبَنَا، وَتُصْلِحُ أَخْلَاقَنَا.
“Ya Allah, jadikanlah shalat kami sebagai shalat yang mendekatkan kami kepada-Mu, membersihkan hati kami, dan memperbaiki akhlak kami.”
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَطَهِّرْ نُفُوسَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْخَاشِعِينَ.
“Ya Allah, perbaikilah hati kami, sucikanlah jiwa kami, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang khusyuk.”
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ صَلَاتَنَا عَادَةً بِلاَ رُوحٍ، وَلاَ حَرَكَاتٍ بِلاَ خُشُوعٍ، وَلاَ عِبَادَةً بِلاَ إِخْلَاصٍ.
“Ya Allah, jangan jadikan shalat kami sekadar kebiasaan tanpa ruh, gerakan tanpa kekhusyukan, dan ibadah tanpa keikhlasan.”
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
“Ya Allah, tutuplah kehidupan kami dengan iman. Jadikanlah sebaik-baik amal kami adalah amal-amal penutupnya, dan jadikanlah sebaik-baik hari kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu.”
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
PENUTUP
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ustadz, guru, kyai, ulama, dan para pembimbing umat yang senantiasa mengingatkan kita tentang pentingnya memperbaiki shalat, membersihkan hati, dan meningkatkan kualitas ibadah.
Semoga setiap nasihat yang disampaikan menjadi ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah.
Dan terima kasih kepada para pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan nasihat ini.
Semoga kita tidak hanya menjadi orang yang:
“lama berdiri dalam shalat,”
tetapi juga menjadi orang yang:
“semakin tunduk kepada Allah.”
Semoga kita tidak hanya memperbanyak:
rukuk dan sujud,
tetapi juga mampu:
merukukkan kesombongan,
menyujudkan ego,
membersihkan hati,
memperbaiki akhlak,
dan kembali kepada Allah dengan jiwa yang bersih.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan hanya:
berapa lama kita telah shalat,
tetapi:
apakah shalat itu telah menjadikan kita benar-benar seorang hamba.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ، وَمِنَ الْخَاشِعِينَ فِيهَا، وَمِنَ الَّذِينَ تَنْهَاهُمْ صَلَاتُهُمْ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ.
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
No comments:
Post a Comment